Tampilkan postingan dengan label Pesan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan. Tampilkan semua postingan

4 Januari 2011

Ibu Berkarir atau Berkarir sebagai Ibu..???

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak, mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami. Dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada putri kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.

Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal..

Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.

Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu). Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.

Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka.

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya.

Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan. Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? .

Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya. Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.

Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga. Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami..

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi , setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.

Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! Menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis !

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah. Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren..

Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya. Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama..

Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta. Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.

Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah. Maya menulis :

"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..Ya Tuhan, Maya kangen banget sama bik Inah"

Bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya. Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya.

Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya. Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.
Dan disetiap berdoa saya selalu memohon

"YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu". Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

NN


Best Regards,
Mulyana N
==================
PT.OTICS Indonesia
Production Control Dept.
Marketing & Prod. Control Div.

9 September 2009

Jangan Takut Menjadi "Orang Aneh"

Dari sekian lama perjalanan usia kita, mungkin kita pernah mengalami suatu hal yang “aneh” yang kita anggap sebagai sebuah pembelajaran untuk masyarakat kita pada umumnya. Ya, mungkin kita pernah pergi ke sebuah masjid dengan maksud ingin menunaikan shalat maghrib berjamaah dengan penampilan yang sangat rapi. Bagi yang laki-laki, mengenakan kain sarung, baju koko, dan peci. Bagi yang perempuan mungkin mengenakan pakaian muslimah beserta kerudung dan mukena yang ia bawa. Lantas di tengah jalan, kita bertemu dengan seseorang yang dengan enaknya berujar pada kita, “Aduh, tumben nih rapi banget. Kayak Pak Ustadz/Bu Ustadzah. Emang mau kemana sih?”

Mungkin awalnya kita biasa saja dalam menyikapi hal tersebut karena bisa jadi orang yang menegur kita itu tetangga kita, namun menjadi sesuatu yang lain rasanya ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz/Bu Ustadzah. Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan berpakaian rapi dan memang sudah seharusnya seperti itu dikatakan ‘tumben’? Kenapa justru orang yang sedang jalan-jalan sore sambil mengasuh anaknya ditengah kumandang adzan menjadi biasa-biasa saja?

Ya, orang yang pergi ke masjid akan terasa “aneh” dan “asing” ketika orang-orang justru tengah asyik menonton tayangan sinetron atau menyaksikan pertandingan bola. Orang yang pergi ke masjid akan terasa “aneh” bin “asing” ketika melalui kerumunan orang banyak yang sedang mengobrol ngalor ngidul seolah ingin menyaingi suara adzan yang menggema. Dan orang yang pergi ke masjid akan terasa “aneh” binti “asing” ketika orang lain justru tengah sibuk dengan hal-hal keduniawian mereka.

Mungkin kita akan lebih sering menemukan keanehan-keanehan dan rasa keterasingan diri yang lain, disekitar kita. Coba saja ketika kita datang ke kantor. Sebelum memulai aktivitas kerja, kita sempatkan diri untuk melaksanakan shalat dhuha. Pasti akan terasa “aneh” tatkala karyawan-karyawan yang lain tengah sibuk menghabiskan sarapan, kopi, atau hanya sekedar membaca koran pagi sambil ngobrol.

Ketika adzan zuhur atau ashar berkumandang, cobalah kita menunaikan kewajiban itu tepat waktu atau di awal waktu. Pasti akan terasa “aneh” sebab masjid atau mushalla masih kosong karena teman-teman kita biasa shalat di akhir waktu.

Ba’da menunaikan shalat, cobalah kita berdzikir atau membaca selembar dua lembar ayat Al Qur’an, pasti akan terasa sangat “aneh” ditengah dengkuran orang-orang yang tertidur pulas di masjid atau mushalla. Dan akan makin terasa “aneh” dan “terasing” kala kita ingin menunaikan waktu shalat kita di masjid, malah justru lampu masjid nya sudah di matikan agar orang-orang yang tertidur disana tidak terganggu dengan silaunya lampu masjid.

Kita yang ingin shalat di masjid jadi serasa “numpang” di tempat orang yang tidur. Bukan sebaliknya, orang yang tidur itu justru numpang di tempat orang shalat. Aneh bukan? Cobalah pekan ini anda shalat Jum’at lebih awal. Pasti akan terasa “aneh” karena masjid masih kosong dan baru akan terisi penuh jika khutbah kedua akan selesai. (Realita di luar Ramadhan, entah kalau di bulan Ramadhan).

Masih banyak keanehan dan keterasingan kita lainnya, tapi sekali lagi jangan takut menjadi orang “aneh” selama keanehan kita itu sesuai dengan tuntunan agama dan norma syariat yang benar. Jangan takut merasa “aneh” jika kita shalat tepat waktu sementara yang lain shalat di akhir waktu sebab shalat adalah kewajiban yang memang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang yang beriman.. Jangan merasa asing menjadi orang “aneh” jika kita melakukan shalat dhuha dikantor sementara yang lain tengah asyik menyantap sarapan paginya sebab itulah yang terbaik. Jangan merasa “terasing” jika anda berada di shaf terdepan ketika shalat Jum’at karena perintahnya pun bersegeralah.

Jangan takut dianggap sok tahu dan sok alim ketika kita sering mengirimkan artikel-artikel islami yang sarat makna sebab memang itu yang diperintahkan oleh Allah dalam surat Al Ashr [103:3] “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (AL 'ASHR (MASA) ayat 3). Toh banyak orang yang saling berkirim artikel-artikel yang hanya berisi humor atau sekedar candaan belaka, mereka biasa-biasa saja, kenapa kita harus merasa “aneh” dan tak enak hati untuk mengirim artikel-artikel islami? Mutiara akan tetap menjadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Dan sampah pun tidak akan pernah menjadi emas walaupun berasal dari istana sekalipun.

Tetap lakukan “keanehan dan keterasingan” kita yang dituntunkan oleh syariat dan manhaj Islam. Kenakan jilbab dengan penuh keistiqomahan, meskipun itu akan terasa sangat aneh ditengah orang-orang yang berpakaian seksi dan mengumbar aurat.

Jangan takut dan cemas mengatakan perkataan yang baik dan benar yang berasal dari Al Qur’an dan Al Hadits meskipun akan terasa sangat aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Kesimpulannya, jangan pernah takut menjadi “orang aneh” atau “manusia langka” atau “manusia asing” jika memang keanehan di mata mereka yang kita lakukan bisa menyelamatkan kita di hari akhir.

Selamat menjadi orang aneh yang sesuai dengan syariat dan manhaj Islam…. :-)

090909
By Nurlaila Zahra - Sarah
Selama hampir enam tahun belajar menjadi "orang aneh"

15 Juli 2009

Manusia dan Logika

Proses manusia dalam pencarian jati dirinya terkadang menemukan kebuntuan. Hal-hal kecil yang menjadi batu sandungan tak jarang membuat manusia itu sulit untuk bangkit kembali dari keterpurukannya. Manusia dengan akal dan logikanya terkadang memandang dunia ini amatlah penting. Bahkan lebih penting dari satu hal yang tidak ia sadari. Baik yang tampak ataupun abstrak.

Sulitkah manusia untuk lebih memilih sesuatu yang lebih baik ketimbang sesuatu yang tak memberikan manfaat untuknya? Mengapa sesuatu yang benar terkadang dibuat semu bahkan hilang dan lenyap dari hadapan, dan menggantinya dengan sesuatu yang tak layak dianggap benar dimata Tuhannya?

Manusia yang seperti itu tak ubahnya seekor hewan yang mencari makan diantara kerasnya arus kehidupan. Hanya untuk sekedar bertahan hidup tanpa pernah tahu apa tujuan dia hidup di dunia ini dan bekal apa yang telah ia kumpulkan semasa hidupnya.

Jati diri yang selama ini dicari dan diidam-idamkan pun seolah hanya menjadi sebuah isapan jempol belaka pada akhirnya. Sebab waktu telah menjemputnya sementara ia tak pernah sadar bahwa semakin hari, usianya semakin menggerogotinya. Tak ada bekal yang ia dapat kecuali apa yang dia usahakan selama di dunia.

Ketika waktu telah siap untuk menjemputnya, pada saat itulah hati dan jiwanya tersadar, bahwa ada yang lebih penting dan lebih berharga di dunia ini, yaitu iman. Sesuatu yang selama ini banyak manusia singkirkan dari kehidupannya dan menjualnya dengan sesuatu yang disebut dunia.

Manusia, dengan segala akal dan pikirannya, terkadang begitu sombong, untuk mengakui, bahwa Allah adalah diatas segala-galanya.

NZ (Sarah)

13 Juli 2009

Kado Terakhir Untuk Bapak

Pulang kerja yang cukup melelahkan, sampai dirumah jam lima sore lewat beberapa menit. Untuk melepaskan lelah karena telah seharian bekerja, saya hidupkan televise dan mencari channel yang enak untuk ditonton (yang pasti bukan sinetron, infotainment, atau acara-acara musik karena memang saya kurang suka itu). Mata saya tertuju pada sebuah tayangan menarik di Trans TV. Acara itu berjudul “Kado Istimewa”. Dan sub judul acara itu adalah “Kado Terakhir Untuk Bapak”. Pikiran saya mulai menerawang jauh, wah sub judulnya menarik juga nih. Sayapun mulai menikmati tayangan tersebut.

Acara ini mengisahkan seorang bocah perempuan yang saya perkirakan usianya berkisar antara 9 / 10 tahun (saya lupa karena saya tidak terlalu mengingatnya). Bocah perempuan ini bernama Dina (saya lupa nama panjangnya. Hehehe…). Dia anak ke 14 dari 16 bersaudara. Dina masih mempunyai orang tua, namun bapaknya pada saat itu tengah tergeletak sakit akibat komplikasi gula dan ginjal yang sudah di deritanya selama 1 tahun. Dina mempunyai 1 keinginan yang belum bisa terwujud yaitu membelikan baju koko baru untuk sang bapak. Selama masa sehatnya, bapak Dina itu begitu rajin shalat berjamaah di mushala, maka dari itu Dina ingin membelikan baju koko baru untuk bapaknya dan berharap bapaknya bisa cepat sembuh dan bisa shalat bersama-sama dengan keluarganya di mushala dengan menggunakan baju koko itu.

Dina mencoba mencari akal untuk bisa mengumpulkan uang agar bisa mewujudkan keinginannya itu. Walhasil, dia bersama temannya, Novi, berjualan es blewah. Namun uang yang dikumpulkannya belumlah cukup untuk membeli baju koko. Akhirnya keempat kakaknya mencoba membantu Dina. 1 kakaknya mengamen di lampu merah, 1 kakaknya lagi menjadi kuli panggul di pasar, dan 2 kakaknya menjadi buruh cuci dirumah bu RT.
Hasil jerih payah mereka disatukan dan barulah baju koko itu bisa terbeli. Dina memberikan baju koko itu dengan air mata yang berlinang. Berharap agar bapaknya bisa segera memakai baju koko yang dibelikan anak-anaknya untuk bapak. Namun takdir berkata lain. Sesuai dengan sub judulnya, baju koko itu menjadi kado terakhir untuk bapak. Ya, 4 hari setelah Dina memberikan baju koko itu, bapaknya berpulang ke rahmatullah.

Selesai menyaksikan tayangan itu, air mata saya belum berhenti. Teringat akan orang tua saya, kakek saya yang sedang sakit, dan juga nenek. Saya mulai berpikir, kira-kira apa yang bisa saya perbuat agar mereka bisa bahagia dan bangga mempunyai anak seperti saya?

Dan satu pelajaran yang bisa saya ambil dari tayangan itu adalah, selama orang yang kita sayangi dan kita cintai masih ada disamping kita, berusahalah berbuat yang terbaik untuk mereka sebab kematian itu tidak ada yang tahu datangnya. Jangan sampai kita menyesal seumur hidup, karena kita belum bisa membuat orang tua dan keluarga kita bangga dan bahagia sementara ajal telah menjemput mereka.
Azan maghrib menyadarkan saya. Dengan bergegas saya menyejukkan tubuh dan jiwa ini dengan air wudhu dan menunaikan kewajiban shalat maghrib.

Saat melihatnya ada dan dirasa ia baik-baik saja
Maka keberadaannya adalah wajar adanya
Berharga bersamanya akan sangat terasa
Ketika ia telah tiada
Ketika ia tak lagi membuka matanya

(Renungkanlah)
NZ (Sarah)
Jum'at, 100709

1 Juli 2009

: : Warna Langka : :


Hidup ini penuh dengan warna. Banyak orang yang memilih warna yang sama. Namun tak sedikit pula orang yang memilih warna yang beda dengan orang lain. Warna yang langka. Tak banyak memang yang menyadari, bahwa warna yang langka itu justru membawa banyak keberkahan dan kebaikan. Mungkin karena warna yang langka itu kurang menarik. Namun itulah titik keberhargaannya. Warna yang langka itu sangat mahal. Hanya orang-orang yang memiliki niat yang tulus, yang bisa membelinya. Maka dari itu, tidak semua orang dapat memilikinya. Walaupun harganya mahal, namun jika sudah memilikinya, semua itu takkan terasa mahal.

Untuk bisa memiliki warna langka tersebut, harus ada yang namanya perjuangan dan pengorbanan. Itulah yang aku alami. Namun saat ini, aku tak pernah menganggap bahwa warna langka itu mahal. Karena saat ini, aku sudah memilikinya. Dia seperti intan berlian yang diletakkan didalam tabung berlapis emas dan perak, yang dimasukkan kedalam karung lusuh dan diikat dengan sekuat-kuatnya. Yang tak sembarang orang dapat membuka, melihat, dan menyentuhnya. Aku merasa bangga dapat memilikinya.

Memiliki sebuah "intan berlian yang diletakkan didalam tabung berlapis emas dan perak", yang apabila dilukiskan, hanya orang-orang yang berakal yang dapat melihat dan memprediksikan, apa yang dimaksud dengan "intan berlian yang diletakkan didalam tabung berlapis emas dan perak, yang dimasukkan kedalam karung lusuh dan diikat dengan sekuat-kuatnya".

Renungkanlah....

By Nurlaila Zahra (Sarah)

29 Juni 2009

Memandang Masalah dari Sudut P4nd4ng yang Berbeda

Pernah ga sih kita merasa terganggu atau ngerasa ga nyaman gitu sama seseorang yang kesehariannya selalu bersama kita? Yang cerewetlah, yang bikin kesellah, bikin repot, selalu nyusahin, dan beribu-ribu alasan yang membuat kita jadi bete sama mereka. Padahal sejatinya, apa yang mereka lakukan sebenarnya wajar saja. Tapi karena kita sudah kerap kali berinteraksi atau bahkan hidup dengan mereka, jadi sedikit perbuatan mereka yang menurut kita ga wajar, bisa membuat kita kesal atau bete pada mereka.

Tapi pernah ga sih kita berpikir jauh kedepan, bagaimana kalau suatu hari atau suatu saat nanti, mereka yang kita sempat benci atau bete karena kelakuannya yang selalu membuat kita gerah, hilang dari kehidupan kita alias meninggal?? Padahal sejatinya kita menyayangi mereka?

Kenapa hanya karena hal-hal sepele, kita bisa sebegitu kesalnya pada mereka? Kenapa hanya karena orang tua kita ingin tahu kemana saja kita seharian ini, lantas membuat kita kesal dan membentak jawabannya dengan alasan ibu kita cerewet? Kenapa hanya karena kakek kita kurang mendengar, lantas ketika dia berulang-ulang bertanya kepada kita, kita menjawabnya dengan nada tinggi seolah membentaknya dengan alasan kalau kita capek ngomong panjang lebar? Kenapa hanya karena suami kita tidur mendengkur, lalu kita merasa terganggu dan mengeluh dengan dengkurannya? Kenapa hanya karena orang tua kita mengambil secuil makanan yang kita makan tanpa izin, lantas kita mencaci maki mereka bagaikan maling yang merampas harta kita?? Padahal sekali lagi, sejatinya kita menyayangi mereka bukan??

Lalu bagaimana jika datang hari dimana mereka harus kembali pada Sang Maha Pencipta? Apa yang akan kita perbuat? Menyesalkah kita atas apa yang telah kita lakukan pada mereka?

Bukankah sebuah pertanyaan dari orang tua kita akan keingintahuan mereka atas kegiatan kita seharian ini, akan menjadi sebuah pertanyaan yang amat sangat kita rindukan tatkala mereka telah tiada? Bukankah pertanyaan yang berulang-ulang yang dilontarkan kakek kita karena mereka kurang mendengar, akan menjadi sebuah kebiasaan yang amat sangat kita kenangkan tatkala mereka telah menutup mata? Bukankah kita akan sangat teramat rela memberikan apa yang kita makan dan kita punya pada orang tua kita, ketika kita hanya ingin melihat mereka bernafas kembali walau hanya sekejap saja, setelah Allah memutuskan untuk memanggil mereka? Bukankah dengkuran sang suami akan menjadi sebuah suara terindah yang akan menjadi sebuah kenangan pada akhirnya, jika ia telah tiada?? Bukankah semau itu hanya akan menjadi sebuah kenangan pada akhirnya???

Lantas mengapa kita tidak pergunakan waktu-waktu itu untuk mensyukuri semuanya? Meskipun kesal karena selalu ditanya kemana kita seharian ini, meskipun kita bete karena harus selalu mengulang-ulang jawaban pada kakek kita yang kurang mendengar, meskipun kita harus selalu berbagi makanan pada orang tua kita, bersyukurlah!!! Karena paling tidak, mereka masih ada dihadapan kita. Bagaimana kalau sudah tidak ada? Bisakah kita menyuruhnya untuk bangun kembali dari tidur panjangnya? Tidak bisa. Dan semua sudah berlalu...

Intinya, kebanyakan dari kita melihat masalah itu dari sudut pandang yang negatif. Cobalah rubah sudut pandang kita terhadap masalah yang kita hadapi. Niscaya, masalah apapun yang kita hadapi, akan menjadi indah pada akhirnya. Karena masalah itu, akan menjadi sesuatu yang akan kita rindukan, saat si pembuat masalah (menurut kita), telah tiada.

Renungkanlah...


NZ (Sarah)
& Yang masih harus banyak belajar dari kehidupan &

16 Juni 2009

Pesan untuk Saudariku....

Saudariku,
Kala malam telah menjemput kita, Kulihat kau masih asyik dengan ponsel ditanganmu. Kau mainkan seluruh jari tanganmu Diatas tombol-tombol yang dapat membawa kabar dan beritamu Pada orang yang ada di seberang sana. Tanpa sadar azan Isya sudah berkumandang Sejak tiga jam yang lalu. Waktu terus saja bergulir namun kau tak sedikitpun beranjak dari peraduanmu kini, untuk menunaikan kewajibanmu sebagai seorang muslim dan hamba Allah atau sekedar menyentuh surat cinta-Nya yang hanya kau jadikan sebagai hiasan belaka. Menit sudah berganti jam dan matamu kini sudah tak dapat lagi dipaksa untuk menatap layar ponselmu. Kau putuskan untuk beralih pergi ke dunia lain dan berharap malam ini bisa menemukan mimpi-mimpi indah di duniamu itu. Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Isya??

Saudariku,
Kala fajar sudah memancarkan sinarnya, kulihat kau masih asyik berkelana di duniamu yang kau bilang indah. Kau tak lagi menghiraukan sang mentari pagi yang sudah hadir untuk kembali menyambut hari. Kau tak lagi menghiraukan pekerjaan rumah yang tengah menanti uluran tanganmu. Begitu sang mentari menggeser sedikit tubuhnya kearah barat, kau baru tersadar dari mimpi-mimpi indahmu. Setelah sebentar menatap sinar sang mentari, kau segera bergegas dari peraduanmu kini. Membersihkan diri, merapikan raga, menata jiwa, untuk kembali mendulang rizki di hari ini.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Shubuh??

Saudariku,
Kala mentari tengah berada di ujung angkasa, kau senantiasa menikmati santap siangmu dengan segala rizki yang kau miliki hari ini. Bersama teman, kawan, sahabat, kerabat. Kau menikmatinya tanpa pernah kau berpikir, ada siapa dibalik semua rizki yang kau miliki kini. Saat kau makan, kau mendengar seruan Tuhanmu tengah memanggilmu untuk bergegas menunaikan kewajiban. Tapi apa yang kau perbuat? Seusai makan siang, kau masih terus berbincang dengan sahabatmu tentang kehidupan yang tak bertujuan. Kau kembali melanjutkan aktivitasmu tanpa menghiraukan seruan Zat penciptamu.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Zuhur??

Saudariku,
Kala senja tengah menaungi langit kita, kau melangkah pulang mendulang banyak uang. Peluh disekujur tubuhmu segera hilang oleh usapan sabun wangi yang baru saja kau beli. Kau kembali membersihkan diri, merapikan raga, menata jiwa. Kau santap hidangan sore sambil menyaksikan tv kita. Kau habiskan kepunyaanmu saat itu, sampai senja kembali meredup di peraduannya. Dari tv kita terdengar lantang azan maghrib berkumandang. Kau beranjak dari tempatmu kini, untuk istirahat barang sejenak.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Ashar dan Maghrib??

saudariku,
Kala malam menjemput kita kembali, Kulihat kau masih asyik berceloteh ria di depan rumah kita dengan beberapa pria. Kau leburkan jiwa ragamu bersama angin malam, tanpa pernah tahu kemana angin itu akan bermuara. Kau terus saja menghabiskan waktu disana tanpa sadar bahwa hari sudah terlalu malam untuk kau berada dibawah naungan langit kelam. Ketika waktu semakin merambat naik, kau tepiskan rasa kantukmu dibawah hangatnya selimut mimpi.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Isya??

Saudariku,
Tak semestinya kau hidup seperti itu. Mengawali hari tanpa doa, dan menutup hari tanpa bekal. Apa kau bisa menjamin bahwa esok masih milikmu? Apa kau bisa menjamin bahwa esok kau masih disini? Hidup tak hanya di dunia. Ada masanya kau mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Disana, di akhirat nanti. Kelak, kau kan menyesali atas apa yang kau lewati dalam mengisi hari-hari. Kau selalu melupakan kewajibanmu, tapi kau selalu menuntut hakmu pada sang pemberi hidup. Kau selalu mengeluh pada-Nya tatkala sulit, namun kau selalu terlupa untuk bersyukur kala bahagia tengah menyambangi hidupmu. Kau selalu tak mau mengingat bahwa kehidupan ini ada akhirnya.

Lalu banyak pertanyaanku untukmu,
Sudahkah kau mengingat Sang Maha Pemberi Hidup??
Sudahkah kau mempunyai bekal untuk menghadap-Nya??
Sudahkah kau bersyukur pada-Nya??
Tak sadarkah kau bahwa nikmat yang kau rasakan selama ini itu datangnya dari zat pencipta Kau dan Aku??
Lantas mengapa kau lupakan Dia dengan kesibukan-kesibukan duniamu??
Tak sadarkah kau bahwa hidup ini akan bermuara pada dua tempat yang rasanya sangat kontras??
Tempat mana yang akan kau pilih saudariku??
Surga yang nikmatnya tiada terkira??
Atau neraka yang panasnya 7000X panas dunia??

Saudariku,
Tak dapatkah aku berharap agar kelak kita bisa memasuki surga-Nya secara beriringan??

Jakarta,
Kamis, Juli 2008, 00:26

(Untuk saudariku yang saat ini entah berada dimana)
Semoga Allah selalu melindungmu. Amin...

NZ (Sarah)