1 Agustus 2016

MENUAI "BIBIT UNGGUL" ANAK-ANAK KITA

Mulai pekan kemarin sudah mulai memberlakukan rule 'no gadget' selama hari sekolah. Gadget hanya boleh dimainkan saat hari Jum'at sepulang sekolah sampai Ahad siang. selebihnya, NO. Alhamdulillah Riski mulai bisa memaklumi peraturan ini dan bisa menerimanya walau kadang masih suka sedikit ngambek, tapi its ok, semua masalah bisa teratasi dengan baik. Asal alasan yang kita berikan bisa diterima oleh akal sehatnya, juga disampaikan dengan cara yang santun dan bijak, in sya Allah perlahan tapi pasti anak-anak akan mulai terbiasa dengan sedikit peraturan yang dibuat orang tua demi kebaikan mereka.
Jadi teringat kata-kata Kepala Sekolah Riski pekan lalu saat kami para orang tua diundang rapat di sana, bahwa para orang tua seharusnya tidak melulu 'mengalah' pada anak. Misal, guru bertanya pada orang tua, "Bu, kenapa anaknya terlambat melulu?" Lalu kemudian sang orang tua menjawab tanpa rasa bersalah sedikit pun, "Iya, anak saya kalo udah tidur susah banget dibanguninnya, Pak" atau "Iya, kalo abis sholat Subuh suka tidur lagi, Pak" atau.. ah masih begitu banyak alasan lainnya yang membuat para orang tua seolah ingin terus membenarkan segala tindakannya itu.
Seharusnya, masih kata KepSek Riski, kita para orang tua jangan mau 'diatur' oleh pola hidup anak-anak kita. Sebaliknya, kita lah yang seharusnya mengatur pola hidup mereka dengan baik. Jika anak sulit dibangunkan, maka kita para orang tualah yang seharusnya bertindak tegas membangunkan mereka, pastinya dengan cara yang baik tanpa harus menyakiti mereka. Kitalah para orang tua yang lebih tahu bagaimana cara menghadapi anak-anak kita, sebab kitalah yang sejak kecil merawat mereka, membersamai hari-hari mereka, yang tanpa sadar telah membentuk pola pikir dan pola hidup mereka, sehingga anak yang kita hadapi saat ini adalah hasil 'karbitan' pola asuh kita di masa terdahulu.
Untuk itu, menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya. Tapi seiring berjalannya waktu, seharusnya kita mampu untuk menjadi orang tua yang lebih bijak dalam mengasuh anak-anak kita. Tugas orang tua bukan hanya merawat dan memberi makan mereka dengan asupan yang bergizi, tapi juga memberikan segala input-input positif ke dalam diri mereka. Laksana kita menanam benih di dalam tanah, di mana jika kita ingin mendapatkan tanaman yang bagus, maka kita senantiasa menyiram dan memberinya pupuk, maka seorang anak juga ibarat sebuah bibit unggul yang sedang kita tanam sejak kecil. Kelak mereka akan tumbuh, tergantung bagaimana kita membentuk kepribadian mereka sedari kecil.

19 Juli 2016

Hari Pertama Sekolah Dasar

#1stday

Pagi itu, adalah pagi yang sibuk untuk Bunda, Riski. Pagi itu, untuk yang pertama kalinya Bunda menyiapkan segala keperluan sekolahmu di hari pertama sekolah dasarmu. Sebenarnya, malam sebelumnya Bunda juga sudah mempersiapkan beberapa keperluanmu seperti pakaian, snack, dan peralatan sekolahmu, hanya saja pagi itu, seperti lain dari biasanya. Bunda bangun lebih awal, bahkan cenderung tidak bisa tidur dengan nyenyak karena sering terbangun dan mengingat tentang hari pertamamu sekolah nanti. Tak ada lain yang kuharapkan semoga Allah selalu memudahkanmu, memudahkan Bunda, memudahkan kita berdua dalam menjalankan serangkaian kegiatan di sana nantinya.

Pagi itu rencananya Bunda akan mengantarmu menggunakan kendaraan umum, dengan diantar oleh A Iing menggunakan motor kita menuju pangkalan kopaja berwarna hijau itu. Namun sayang, yang kita cari tidak kunjung terlihat, akhirnya A Iing berinisiatif mengantarkan kita langsung menuju sekolahmu. Alhamdulillah jalanan lancar, hingga kita pun sampai lebih awal dibanding teman-teman barumu yang lain.

Karena masih ada banyak waktu sebelum kau memulai kegiatan, kita memutuskan untuk jalan-jalan dulu di taman depan sekolahmu. Taman yang cukup luas. Di mana kita bisa temukan banyak tanaman hijau tumbuh subur dan merayap di sana. Kita lihat danau yang cukup besar, namun sayang banyak sekali sampah menggenang di sana. Juga kita lihat tempat sampah berbentuk katak, dan dolphin. Aneka bunga berwarna warni, dan juga ada ayunan di arena bermain anak, yang menarikmu untuk segera menghampirinya, namun sayang waktu kita semakin sempit, Nak. Kita harus segera kembali ke sekolah. Di sana sudah banyak teman-temanmu yang datang, juga beberapa gurumu.

Saat waktunya tiba, kau dan teman-temanmu disambut dengan meriah oleh guru-guru di sana. Mereka menggunakan berbagai asesoris lucu yang membuatmu tertawa riang. Ya, mereka adalah guru-guru yang kelak akan mendidik, membimbing, dan membinamu selama 6 tahun ke depan, sayang. Kenalilah mereka. Akrabilah mereka seperti kau mengakrabiku, juga sayangilah mereka sebagaimana kau menyayangiku. Mereka adalah orang tua ketigamu di sekolah, selain aku dan juga almh. ibumu.

Sayang, ini adalah hari pertamamu sekolah di sekolah dasar. Sabarlah, Nak. Perjalananmu masih panjang. Bunda yakin, seiring bertambahnya usia, akan bertambah pula kedewasaanmu sebagai seorang anak yang tangguh dan cerdas. Baik-baik di sana ya, sayang. Semoga Allah berikan sahabat-sahabat terbaik, guru-guru terbaik, pelajaran terbaik, pemahaman terbaik, dan tempat terbaik dalam menjaga fitrahmu sebagai hamba Allah. Doa Bunda tak pernah putus untukmu. 

Love u, Riski sayang :)

BUNDA


27 Juli 2015

Sudah Benarkah Kita Menjalankan Perintah-Nya Dan Menjauhi Larangan-Nya?

Hampir semua dari kita mengaku muslim, mengaku-ngaku menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, namun nyatanya hanya sholat dan puasa wajib saja yang kita lakukan, itu pun kalau ingat. "Yang penting agama saya Islam, dan saya seorang muslim..." demikian hati kita bergumam.
Memang ada sebuah hadits yang mengatakan demikian, Dari Abu Dzar, dia telah  berkata bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda, "Telah datang kepadaku malaikat Jibril dan memberi kabar gembira kepadaku, bahwa barangsiapa yang meninggal di antara umatmu dalam keadaan tanpa mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk surga, walaupun dia berbuat zina dan mencuri." Nabi saw mengulangi sampai dua kali.
Hadits tersebut memang menyampaikan bahwa setiap muslim pasti akan merasakan surga nantinya. Tapi bukan berarti hanya dengan berstatus muslim, lantas Allah membiarkan segala dosa yang telah kita perbuat selama ini di dunia, tanpa adanya perhitungan di akhirat kelak. Status ‘muslim’ itu hanyalah sebuah kunci bahwa pada akhirnya setiap hamba yang muslim pasti akan masuk surga, namun akan tetap mengalami perhitungan dosa di akhirat sebelum pada akhirnya kita bisa mencicipi manisnya surga.
Padahal ‘menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya' banyak sekali maknanya. BANYAK! bukan hanya sekedar berstatus muslim dan mengaku beriman, lantas seolah wajar bila seorang muslimah tidak memakai hijab, jangan mentang-mentang sudah merasa muslim sejak kecil, lantas seolah wajar bila seorang muslim membuang sampah sembarangan, jangan mentang-mentang sudah merasa beriman, lantas seorang muslimah wajar memakai rok mini membentuk tubuh, lantas wajar seorang muslim merokok, lantas wajar seorang muslim tidak membaca Al Qur'an, lantas wajar bila seorang muslim tidak tergugah hatinya saat mendengar azan berkumandang, atau saat melihat saudara seimannya tengah kesusahan. Lantas....
Ah ... terlalu banyak hal yang pada akhirnya kita wajar dan lumrahkan hanya karena berdalih, "Yang penting saya kan Islam, saya sholat, puasa, zakat, saya tidak berzina, tidak mencuri, dan bla bla bla...." Banyak hal yang menjadi toleransi untuk diri kita sendiri, sampai pada akhirnya larangan dariNya menjadi tak berarti apa-apa di hadapan kita.
Padahal...
-          Sholat haruslah diutamakan. Tak boleh diundur-undurkan, apalagi ditinggalkan.
-     Puasa wajib pun juga harus disertai dengan ibadah-ibadah lainnya agar puasanya bernilai lebih di mata Allah.
-   Tidak berzina? Lalu apa artinya pegang-pegangan tangan, berpelukan, cium kening, dan lain sebagainya dengan yang bukan mahrom? Yang disebut zina bukan hanya melakukan hubungan suami istri dengan yang bukan mahrom, tapi hal-hal yang disebutkan di atas juga termasuk ZINA!!
-      Tidak mencuri secara harfiah, mungkin iya. Tapi apakah kita sudah bersikap jujur dengan sebenar-benarnya? Mungkin banyak dari kita yang tanpa sadar mengambil hak orang lain, meskipun hanya sebesar biji zarah. Hal itu tetap saja dikatakan mencuri, meski jumlahnya sedikit namun sayangnya kita tidak menyadari hal itu.
-      Al Qur’an di rumah sebaiknya tidak hanya dijadikan hiasan bufet belaka, namun harus dibaca dan dipahami artinya.
-     Menutup aurat bukan hanya sekedar berpakaian, namun tetap ada adabnya. Bagi wanita adalah menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan dengan pakaian yang longgar. Sesuai dengan QS. An Nur: 31, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” Sementara untuk laki-laki adalah menutup aurat dari pusat ke lutut, longgar dan tidak tipis, serta tidak menyerupai perempuan.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang kita sepelekan hanya karena kita merasa aman dengan status muslim yang kita miliki. Sebab perintahNya bukan hanya sekedar Rukun Islam belaka, tapi lebih dari itu...

30 April 2015

Berani Lebih Dewasa Dalam Hidup

Ada seorang sahabat yang pernah berkata kepada saya: “Menjadi anak-anak adalah sebuah fase kehidupan, itu benar. Tapi kalau menjadi tua adalah sebuah kepastian, itu salah. Bagaimana dengan mereka yang belum mengalami masa tuanya, tapi sudah keburu meninggal? Bukankah tua itu artinya belum pasti?” Saya hanya tersenyum dan membalas kata-katanya dengan jawaban yang intinya begini: Yang disebut tua bukanlah dari lamanya seseorang hidup atau bayaknya angka yang mewakili usianya. Tapi menurut saya, yang disebut tua adalah bertambahnya usia seseorang dari hari ke hari. Sebab tidak ada batasan usia antara yang tua dan yang muda. Seseorang dengan usianya yang 30 tahun akan merasa muda bila dibandingkan dengan mereka yang usianya 50 tahun. Tapi seseorang yang usianya 20 tahun, akan mengatakan bahwa mereka yang berusia 30 tahun sudah terbilang tua. Jadi, yang menjadi masalahnya di sini adalah faktor bertambahnya usia, bukan banyaknya usia.

Para orang tua yang seharusnya sudah bisa menjadi dewasa, malah justru terlambat menjadi dewasa. Banyak laki-laki pengecut yang maunya enak sendiri memainkan perasaan perempuan tanpa berani bersikap dewasa untuk mengambil keputusan tanggung jawab pernikahan. Atau pelaku-pelaku kemungkaran yang tak pernah berani bersikap dewasa untuk jujur terhadap hati nuraninya yang dalam, bahwa kemungkaran akan tetap menjadi sebuah tindakan tercela walau ditutupi dengan kebaikan-kebaikan yang semu. Juga pemimpin-pemimpin yang tidak pernah bersikap dewasa menerima takdirnya sebagai pelayan rakyat. Banyak anak-anak yang menghabiskan masa mudanya hanya untuk bersenang-senang tanpa mau bersikap dewasa mengubah paradigma mereka menjadi pemuda/pemudi yang lebih aktif dan produktif. Atau pedagang-pedagang culas yang hanya memikirkan keuntungan pribadi mereka semata tanpa pernah berani dewasa bahwa menerima hukum usaha yang adil adalah lebih baik untuknya. Dan juga orang-orang yang tidak berani dewasa, bila miskin ia mengeluh, angkuh, dan kufur, bila kaya ia tak bersyukur, bila bodoh ia menipu, dan bila pintar ia membodohi orang.

Berani dewasa adalah keputusan jiwa yang tidak sederhana. Sebab seringkali ia berada pada posisi yang sangat kontras dengan fitrah lahiriyah seseorang.

Berani hidup harus berani dewasa. Berani dewasa harus berani mengambil sikap dan keputusan untuk kehidupan yang lebih baik. Berani dewasa juga perlu perngorbanan yang tidak mudah. Harus berani mengalah untuk menang. Harus berani mengambil resiko, menerima tantangan, mencari ilmu yang bermanfaat, memberikan contoh yang baik, berani berbuat tidak hanya bicara, memberikan kebaikan di manapun ia berada dan berani menatap kehidupan di masa mendatang. 

Berani hidup harus #BeraniLebih dewasa. Hidup ini memang tidak mudah. Namun lebih tidak mudah lagi jika hidup tanpa berani menjadi dewasa. Bahwa fase demi fase adalah kepastian. Setiap usia punya jenjangnya, ada situasinya, sulit dan mudahnya. Tapi keberanian menjadi dewasa adalah sebuah keniscayaan yang dengannya kita lalui segala fase itu, kita kejar cita-cita akhir kita, di puncak keridhoan Allah swt.

Jumlah kata: 436
Facebook: Nurlaila Zahra
Twitter:@sarah_kecee



31 Maret 2015

Memetik Pelajaran dari Kepergian Sang Idola

Sahabat saya yang selalu dirahmati Allah SWT,

Beberapa hari terakhir ini kita mungkin telah dikejutkan dengan sebuah kabar duka yang melanda dunia hiburan tanah air. Ya, kabar meninggalnya salah satu artis dan komedian Indonesia, Olga Syahputra, jelas melahirkan sebuah kedukaan yang cukup mendalam, baik bagi keluarga, sahabat, para penggemar, dan juga mungkin hampir seluruh masyarakat Indonesia ikut berduka karenanya. Termasuk saya.

Saya memang bukan penggemar berat Alm. Olga, namun saya salah satu yang termasuk merasa terhibur dengan canda dan humor yang diciptakan olehnya, dan sedikit mengikuti perkembangan beliau semasa hidupnya. Jadi saya rasa wajar apabila untuk saat ini saya cukup merasa kehilangan sosok yang begitu dicintai oleh masyarakat Indonesia.

Kepergian Olga, sudah pasti meninggalkan duka yang mendalam bagi semua orang yang menyayanginya. Baik yang mengenalnya secara langsung, maupun tidak, seperti saya. Namun dalam hal ini, setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa saya petik, baik dari sosok Olga maupun kepergiannya yang terkesan begitu cepat. Yang tentunya sangat mengingatkan saya akan janji-janji yang sudah Allah katakan dalam firman-Nya.

Yang pertama, sosok Olga nampaknya mampu memberikan sebuah pelajaran berharga pada kita yang masih hidup, bahwa semasa hidupnya, Olga selalu berbuat baik pada siapa pun, khususnya pada keluarganya. Kita bisa lihat dalam firman Allah SWT QS. 2 : 83, …..Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa Allah SWT sudah mewajibkan kita untuk selalu menyembahNya, berbuat baik tidak hanya kepada orang tua, tapi juga pada keluarga, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta diperintahkan untuk berkata yang baik pada sesama manusia, mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Tapi di akhir kalimat Allah kembali mengingatkan, bahwa hanya sebagian dari kitalah yang mau mengikuti semua perintah itu, dan sebagian yang lain lebih memilih untuk berpaling mencari kesenangan dunia yang lain. Di sini kita bisa lihat, bahwa semasa hidupnya, -in sya Allah- Olga sudah melaksanakan hampir semua hal yang Allah perintahkan di atas. Dan sudah sepatutnya hal ini menjadi sebuah pembelajaran untuk kita semua agar tidak menjadikan nikmat duniawi sebagai alat untuk menjerumuskan diri kita sendiri ke lembah dosa, melainkan bersyukurlah dengan hal-hal yang baik.

Yang kedua adalah, bahwa kebaikan seseorang, apabila dilakukan secara kontinyu meski kapasitasnya sedikit, akan berdampak sangat luar biasa ketika seseorang itu telah tiada. Seperti apa yang Allah firmankan dalam QS. 2 : 110, “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”

Sekali lagi kita tahu, bahwa apapun yang sudah Olga lakukan semasa hidupnya, jika itu merupakan sebuah kebaikan, maka sejatinya kebaikan itu juga untuk dirinya sendiri. Masalah pahala memang urusan Allah, namun jika melihat lautan manusia yang mengiringi kepergian Olga, jelas menunjukkan bahwa sosok Olga bukan hanya sekedar manusia bernyawa pada umumnya, namun in sya Allah kebaikannya banyak dirasakan oleh banyak orang hingga hal itu menjadi sebuah keberkahan untuk dirinya.

Dan yang ketiga adalah, bahwa kematian sejatinya selalu mengincar kita, kapan pun dan di mana pun. Kita tidak pernah tahu kapan waktu kita harus menghadapNya. Saat ini mungkin Olga yang harus pergi lebih dulu, namun bisa jadi tak lama setelahnya, kita yang akan menyusulnya menghadap Sang Khaliq. Ini jelas tertulis dalam firmanNya QS. 3 : 145, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya……”

Artinya, Allah sudah menentukan kapan waktu kita menghadapNya. JanjiNya yang sudah pasti adalah, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Begitu pun dengan Olga. Terlepas dari perihal apa yang mengantarkan Olga menuju ke haribaanNya, tetap saja bahwa hal ini adalah takdir Allah yang tidak bisa diingkari. Banyak orang mengatakan bahwa Olga adalah orang yang baik, namun bukan berarti Allah tidak punya hak untuk menentukan cara bagaimana ia harus berpulang ke rahmatNya. Semua adalah rahasia Allah. Secara pribadi, saya hanya mampu mendoakan semoga sakit yang dideritanya selama ini, mampu menggugurkan setiap inci dosa yang melekat pada diri Olga. Semoga Allah terima segala amal ibadahnya, dan dilapangkan kuburnya. Aamiin.

Dan salah satu cara mempersiapkan kepulangan kita kelak adalah, dengan senantiasa memperbaiki diri hari demi hari, bermanfaat bagi sesama, dan selalu mendekatkan diri padaNya.

17 Maret 2015

5 Point Tentang Blog Dija

Jika bicara soal Blog Dija, maka yang ada dalam pikiran saya hanya satu: Pasti selalu ada foto yang membersamai setiap kali Mbak Elsa posting agenda kegiatan Dija. Entah kenapa, saya selalu kepo dengan blog Dija, selalu menanti ada apakah gerangan di postingan Dija selanjutnya. Nah, kali ini, berhubung saya nggak bisa terlalu banyak melakukan mukaddimah atau pembukaan, maka langsung saja saya ingin me-review kelima point penting dari blog Dija yang hampir berusia 5 tahun itu, persis dengan usia Dija yang juga sebentar lagi akan memasuki usia ke 5 tahun.

Dija itu anak yang pintar dan cerdas

di dalam postingan yang ini Dija sudah bisa berhitung angka 1 - 10, meski memang dijelaskan oleh Ola Elsa kalau tulisan angkanya masih sering salah, nggak apa-apa, karena di usia Dija kala itu yang baru mau beranjak 3 tahun, pencapaian seperti itu adalah hal yang sangat luar biasa yang bisa dilakukan oleh seorang anak seperti Dija. Selain itu, di postingan ini Dija juga sudah mampu menghafal surat-surat pendek dalam Al Qur'an di usianya yang masih sangat belia, di mana biasanya anak-anak seusianya di luar sana masih belum mampu menghafal. (saya sedikit iri karena kemampuan Riski sangat berbeda dengan Dija, hehehe)

Dija itu cantik

Mungkin karena salah satu alasan ini yang membuat saya selalu menanti-nanti postingan dari blog Dija yang dibuat oleh Ola Elsa. Foto-foto yang selalu menyertai setiap postingan, selalu membuat saya terkesima dan membuat setiap postingan terkesan sangat hidup. Apalagi teknik pengambilan gambar yang dilakukan Ola Elsa sangat bagus sehingga foto-foto yang ditampilkan di blog selalu menari perhatian pembaca, khususnya saya sebagai pembaca setia blog Dija.

Sekarang tentang blog Dija- nya, yaa...

Blog Dija sangat kreatif sekali

Sejak saya mengenal Blog Dija, saya selalu suka dengan dekorasi blog yang ditampilkan Ola Elsa dalam blog Dija ini. Baik dari segi desain blog nya, maupun setiap gambar dalam postingan yang membutuhkan editan, yang ditampilkan selalu berbeda dari postingan-postingan sebelumnya, dan warna-warna yang ditampilkan juga selalu cerah, menarik hati setiap pembaca untuk selalu berkunjung lagi dan lagi..

contohnya yang ini ...

dan juga yang ini...

kedua gambar di atas menurut saya sangat kreatif dan inspiratif sekali karena kedua tulisan yang mengiringi kedua gambar tersebut selalu mempunyai karakter yang berbeda dan sangat kuat. Mungkin inilah yang membuat blog Dija selalu dinanti oleh para pembacanya.

Foto-foto Dija selalu ciamik

Saya selalu suka dengan foto-foto di dalam Blog Dija. Selain Dija-nya yang cantik dan manis, teknik pengambilan gambar yang dilakukan Ola Elsa juga sangat ciamik. Tapi kalau disuruh milih mana foto yang paling saya suka, semuanyaaaa saya suka. Sukaaaa banget kalau lagi liatin foto-foto yang ada di blog Dija. Sekali lagi, blog Dija sangat inspiratif karena terkadang saat saya menemukan sebuah foto yang bagus, saya seperti menemukan inspirasi baru dalam teknik membidik objek saat memotret.

Yang terakhir.... apa ya...

Blog Dija sangat informatif

Sempet bingung sih sebenarnya saat menentukan point ke lima tentang blog Dija ini, karena menurut saya blog Dija ini udah kayak kue yang enaaakkk banget rasanya, yang siapapun pasti suka. Tapi jujur deh, Blog Dija memang sangat informatif karena di hampir setiap postingan selalu ada catatan Ola Elsa mengenai perkembangan Dija, yang secara tidak langsung juga bisa menjadi pelajaran buat saya dalam mengasuh Riski. Catatannya sangat simple namun pasti sangat berkesan bagi yang membacanya. Hal seperti ini pasti bisa menjadi kesan tersendiri untuk Dija, kelak saat ia sudah mulai paham tentang semua dokumentasi tentang tumbuh kembang dirinya.

Mungkin segitu aja yang bisa saya tuliskan. Bingung sebenarnya mau nulis apa, karena sebenarnya saya nggak terlalu bisa berceloteh melalui tulisan. Semoga sedikit review ini bisa memberi kesan tersendiri baik untuk Mbak Elsa maupun Dija kelak. Aamiin. 

note:
salam dari Riski untuk Dija :)


6 Maret 2015

Sesuatu dan Kenangan

Sahabat,
Pernahakah kalian merasakan sesuatu yang kalian sendiri tidak bisa menerjemahkan sesuatu itu? Kalian terdiam, seolah tidak melakukan apa-apa, padahal kalian berpikir tentang sesuatu itu. Ada sebuah rasa kehilangan yang menyayat kalbu, namun sebenarnya kalian tidak pernah memiliki kehilangan itu. Ada sebuah ruang yang sedikit hampa karena sudah terlalu lama kosong karena kepergiaan sesuatu itu. Saat diam, yang ada dalam pikiran hanya satu: sesuatu itu! Begitu banyak kenangan yang terlukis di memori, namun sedikit pun tak pernah hilang dalam ingatan. Entah karena apa...

Sahabat,
Sesuatu yang terkadang kita anggap mudah untuk meraihnya, jika Allah tuliskan bahwa sesuatu itu tidak baik adanya untuk kita, maka semua akan terasa sulit untuk digapai, meski pada awalnya terasa sangat mudah. Sebagai manusia biasa, kita wajib berprasangka baik pada-Nya. Bukan karena dipaksa untuk itu, melainkan kita harus yakin bahwa ketetapan Allah lah yang terbaik untuk kehidupan kita selanjutnya.

Kenangan itu boleh saja terus melekat dalam benak kita, laiknya noda yang tidak bisa hilang pada pakaian. Sebab seperti yang disampaikan Pak Mario Teguh, bahwa melupakan sebuah kenangan itu sesulit mengingat sebuah masa yang belum pernah kita alami atau temui.

Mari kita kelola sesuatu dan kenangan masa lalu kita secara bijak, agar hal itu tidak menghambat langkah kita untuk terus bergerak dan meraih masa depan kita....

5 Maret 2015

Penurunan Daya Ingat

Lagi.... dan lagi...

Ini untuk yang kedua kalinya saya mengalami pengalaman tidak mengenakkan saat berada di depan mesin ATM. Bukan, bukan karena tindakan orang yang tidak bertanggung jawab kepada saya, hanya saja... saya yang teramat ceroboh karena telah dua kali melakukan kesalahan yang sama. Yak, hari ini saya lupa mengeluarkan kartu ATM saya dari mesin ATM. Subhanallah, sebelumnya hal ini pernah saya lakukan juga beberapa tahun silam. Entah, apakah waktu itu saya juga menuliskan pengalaman ini di blog atau tidak, saya lupa. Yang pasti saya sudah dua kali melakukan kecerobohan ini. Sampai akhirnya mesin ATM itu berbunyi, dan alhamdulillah nya saya masih ada di lokasi Bank karena hendak menyetorkan uang juga pada teller. Mesin ATM itu berbunyi namun saya masih belum sadar bahwa bunyi itu menandakan bahwa kartu ATM saya masih ada di sana dan belum saya keluarkan.

Ya Allah, lemas sekali rasanya kaki saya kala itu. Membayangkan jika saya langsung bergegas pergi setelah dari ATM dan tidak mampir dulu ke teller, lalu ada oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan hal-hal yang tidak saya inginkan atas kartu ATM saya itu. Meski memang mesin itu pasti akan berbunyi jika kartu yang masih ada di dalamnya tidak diambil dalam waktu beberapa lama. Untung saja teller cantik yang melayani saya segera ngeh dan langsung menegur saya. Tapi karena bingung, saya masih belum sadar kalau saya memang belum mengeluarkan kartu ATM itu. Alhamdulillah Pak Satpam yang ada di sana begitu cekatan sehingga saat mesin ATM itu berbunyi, ia langsung berlari dan menekan tombol cancel, dan akhirnya kartu ATM saya bisa keluar tanpa harus tertelan di dalamnya. Saya mengucapkan terima kasih pada Pak Satpam lalu duduk termenung memkirkan apa yang barusan saja saya lakukan.

Sepanjang perjalanan pulang dari bank, saya terus memikirkan hal itu. Betapa ternyata, mungkin daya ingat saya sudah mulai menurun atau karena memang terlalu banyak to do list hari ini yang menyebabkan saya jadi kurang berkonsentrasi. Tapi paling tidak saya masih bisa bersyukur karena saya tidak harus pusing memikirkan kemana hilangnya kartu ATM saya. Mungkin juga karena masih rezeki, dan hal ini seharusnya bisa menjadi pelajaran yang sangat...sangat berharga buat saya, mengingat hal ini sudah dua kali saya alami.

Entah bagaimana caranya untuk bisa kembali meningkatkan daya ingat. Tapi selama ini saya selalu berusaha untuk senantiasa beristighfar. Sebab kalimat istighfar adalah kalimat permohonan ampun pada Allah Swt, senantiasa mengingat Ia kapan dan di mana pun, sehingga mudah-mudahan bisa membantu saya untuk terus mengingat hal-hal apa saja yang harus saya lakukan, kerjakan, dan segala amanah yang diberikan Allah pada saya.

Aamiin...

27 Februari 2015

Hiatus VS Pencapaian

Sahabat yang tersayang,

entah sudah berapa lama saya mengangguri blog ini sampai saya sendiri tidak ingat tema apa yang saya bahas di postingan terakhir saya dalam blog ini. Terkadang saya merasa sedih melihat semangat diri saya yang terkadang naik turun untuk tetap aktif menulis di blog ini. Saya selalu menyadari bahwa untuk tetap aktif menulis, memang diperlukan kedisiplinan dan kekonsistenan untuk terus mengisi hari dengan menulis. Menulis apa saja, apa pun yang bisa dibahas dan diambil hikmahnya bisa menjadi tema yang menarik untuk dibahas. Dan sebenarnya saya mempunyai prinsip seperti itu sejak beberapa bulan ini. Namun entah apa yang pada akhirnya membuat saya jadi kembali bisu dan bungkam untuk menulis. Berbagai alasan dikemukakan tapi mungkin akhirnya akan menjadi klise. Entah akhir-akhir ini sibuk di kantor lah, di rumah lah, mengajarlah, inilah, itulah, dan berbagai alasan lainnya hingga teramat membuat saya melupakan kejadian atau hikmah apa yang saya dapati setiap harinya. Padahal mestinya saya bisa setiap saat menulis tentang hikmah dan pelajaran apa pun yang saya dapatkan setiap harinya. Tapi yaaa... mungkin inilah sifat kemanusiawian saya, khilaf. Dan kini saya merasa sangat bersalah saat saya harus melalui hari-hari kemarin tanpa pelajaran yang bisa saya goreskan di blog ini.

Tapi paling tidak, saya bisa sedikit menebus rasa bersalah itu dengan satu kebahagiaan yang pada akhirnya menghampiri saya. Beberapa hari yang lalu Buku Kumpulan Cerpen saya sudah terbit di rasibook.com. Berikut penampakan cover yang bisa sahabat lihat...


Saya merasa covernya amat simple, karena memang saya tidak mengambil paket revisi cover. Jadi sekian rupiah yang saya bayarkan, saya sudah terima bersih semua prosesnya. Meski memang ada beberapa kekuranganyang saya sesalkan di akhirnya, namun saya berusaha menerima semua itu sebagai pengalaman pertama saya menerbitkan buku. Overall, saya sangat senang dan bersyukur atas pencapaian yang saya lakukan ini. Paling tidak saya patut bersyukur pada Allah Swt karena telah memberikan saya kesempatan untuk menelurkan satu buku hasil karya saya pribadi. Saya berharap semoga pencapaian pertama saya ini bisa disusul dengan karya-karya saya lainnya yang juga bisa dinikmati oleh banyak pembaca.

Bagi yang berminat membacanya, bisa segera pesan bukunya di sini. Enjoy reading :)

13 Januari 2015

Titik Lemah

Setiap manusia pasti memiliki titik lemah dalam hidupnya. Titik lemah ini adalah satu titik dalam dirinya yang bila diuji dengan sesuatu hal, titik ini bisa jadi sangat lemah atau bahkan bisa membuat seseorang itu sangat tidak berdaya lantaran sesuatu yang disebut ujian tadi. Ujian dalam hidup ini bermacam-macam bentuknya. Bisa berupa harta, tahta, jabatan, ataupun pasangan hidup. Dari tiap-tiap ujian itu bisa saja menghampiri kita sebagai makhluk lemah yang tidak memiliki daya upaya apapun jika hati dan jiwa kita jauh dari Rabb semesta alam, Allah Azza Wajalla.

Setidaknya ada empat hal yang wajib kita waspadai terkait ujian hidup yang mungkin saja salah satu di antara empat hal itu merupakan titik lemah kita sebagai manusia. Yang pertama adalah, jika kita diuji dengan syahwat dan hawa nafsu, bisa mungkin ada yang tidak beres dalam sholat kita. Mengapa sholat? Sebab dalam QS. Maryam ayat 59, Allah SWT berfirman yang artinya, “Maka datang sesudah mereka suatu keturunan yang mereka telah melalaikan sholat dan memperturutkan syahwat hawa nafsunya.”.

Sebagai manusia yang berakal, jika hal pertama tadi adalah titik lemah dalam diri kita, ada baiknya kita segera periksa sholat kita. Apakah selama ini menunaikan sholat hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban, hanya untuk dipuji orang lain, atau semata-mata hanya karena Allah? Apakah kita sudah cukup khusyuk dalam melaksanakannya, atau masih sering memikirkan hal-hal lain saat sholat? Sudah tepat waktukah, atau malah sering mentakhirkannya? Atau bahkan kita sering lalai dalam menjalankannya? Patutnya kita periksa semua hal itu.

Hal yang kedua adalah, jika kita merasa keras hati, berperangai akhlak buruk, sial, sengsara, dan seolah tidak ada kemudahan, periksalah hubungan kita dengan ibu dan bakti kita terhadapnya. Mengapa demikian, sebab dalam QS. Maryam ayat 32, Allah SWT berfirman, “dan (Dia jadikan aku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” Dari ayat tersebut sudah sangat jelas, jika kita ingin merasa mudah dalam melangkah di kehidupan, maka berbakti pada orang tua adalah hal yang paling utama yang harus dilaksanakan. Sebab satu hal yang mesti diingat, bahwa ridho orang tua adalah ridhoNya Allah. Tidak akan pernah kita merasakan nikmatnya kemudahan dalam segala hal jika orang tua kita tidak ridho pada apa yang kita lakukan. Nauzubillahi minzalik.

Yang ketiga adalah, jika kita merasa depresi, tertekan, dan kesempitan dalam hidup, maka sebaiknya kita memeriksakan interaksi kita dengan Al Qur’an. Karena dalam QS. Thaha ayat 124, Allah SWT telah berfirman, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al Qur’an – berzikir), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” Bukankah ayat tersebut sudah sangat jelas memberitahu kita, bahwa jika ingin hidup lapang, maka jangan pernah sekali-kali kita melupakan Al Qur’an. Bacalah setiap hari meski tidak bisa membaca banyak dalam sehari. Paling tidak jika kontinuitas interaksi kita dengan Al Qur’an sudah cukup bagus, maka dengan sendirinya hati kita akan merasa lapang dan satu per satu masalah akan terselesaikan dengan baik. Jadikanlah Al Qur’an sebagai teman sehari-hari bukan malah hanya menjadi pajangan di dalam buffet rumah kita, hanya karena Al Qur’an yang kita miliki boleh kita beli di Mekkah. Ingatlah, bahwa rumah yang senantiasa diperdengarkan Al Qur’an setiap harinya, akan membuat para penghuninya selalu diliputi perasaan aman, nyaman, dan tenteram. Karena Al Qur’an itu adalah obat dari segala penyakit hati.

Dan yang terakhir adalah, jika kita merasa kurang tegar dan teguh di atas kebenaran dan gangguan kegelisahan, maka periksalah bagaimana pelaksanaan kita terhadap nasihat yang kita dengar. Allah SWT berfiman dalam QS. An Nisa ayat 66, “Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih meneguhkan (iman mereka).” Maka dari itu, apabila kita mendengar suatu kebaikan dari mulut seorang alim ulama, hendaklah kita mendengar dan melaksanakannya dengan ikhlas. Sebab orang yang mengetahui sebuah kebaikan namun ia tidak melaksanakannya, maka ia termasuk pada golongan orang-orang yang munafik.

Semoga keempat hal tadi bisa menjadi peringatan untuk kita sebagai hamba yang lemah, bahwa titik lemah dari masing-masing kita berbeda-beda, sehingga kita diharuskan untuk introspeksi diri setiap hari agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak beruntung sebab dari hari ke hari tidak ada perbaikan yang kita lakukan.

9 Januari 2015

Epilog Seorang Hamba

Tuhan,
Setiap orang pasti memiliki masalah dan beban hidup masing-masing. Setiap masalah seseorang, juga bergantung pada kadar keimanan dan kemampuan setiap hamba. Aku tahu, Tuhan, bahwa kadar keimanan dan kemampuanku masih belum terlalu tinggi, jadi aku mohon Tuhan, tolong kuatkanlah aku dalam menghadapi semua beban hidup ini. Segala amanah dan tanggung jawab yang Kau pikulkan di pundakku, tak pernah sedikitpun aku meminta untuk Kau kurangi, tapi aku hanya berharap kekuatan, kesabaran, serta keikhlasan hati dan jiwaku untuk dapat melewati semua itu.

Tuhan,
Kepergian sosok Ayah dalam hidupku selama hampir dua puluh enam tahun perjalanan hidupku, juga bertubi-tubi amanah, serta tanggung jawab yang ada di pundakku, telah menjadi cobaan terberat dalam hidupku. Jika semua cobaan ini merupakan ganjaran dariMu atas segala salahku di masa lalu, lalu sampai kapan aku harus menebus semua salahku, Rabb?

Tuhan,
Terkadang aku merasa kuat dan tegar menghadapi semua ini, namun ada saat di mana aku terlalu lelah menghadapi semuanya sendiri, hingga hanya ada air mata yang selalu menemani kesendirianku. Aku merasa lemah, aku terlalu letih, Rabb.

Tuhan,
Mohon ampuni semua salah dan khilafku. Aku hanya seorang hamba yang terkadang hanya tidak mampu menahan segala beban yang menggelayut di bahuku. Aku hanya ingin sedikit bercerita dan bersandar padaMu, itu saja. Terima kasih, Rabb….

6 Januari 2015

Menjemput Rezeki dengan Cara yang Allah Ridhoi

Mencari rezeki atau mencari nafkah untuk keluarga, bagi kita merupakan sebuah pilihan yang memang harus kita lakukan demi menyambung kelangsungan hidup kita maupun orang-orang yang kita cintai. Mencari rezeki, sejatinya adalah kita melakukan sebuah pekerjaan, entah itu kita bekerja pada pemerintah, perusahaan swasta, atau bisnis serta membuka usaha sendiri. Semuanya bisa kita lakukan demi mencari rezeki yang halal guna memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam mencari rezeki, ada beberapa hal yang mungkin harus kita ketahui dan pahami agar rezeki yang kita dapat tidak hanya bernilai dari segi kuantitas saja namun juga bisa mengandung keberkahan di dalamnya. Satu hal yang harus kita sadari bahwa semua rezeki yang kita dapatkan itu datangnya dari Allah. Semua rezeki dan nikmat yang kita rasakan, semata-mata karena atas izinNya. Tidak mungkin kita dapat menikmati manisnya rezeki jika bukan atas izinNya. Maka dari itu, patutlah bila kita mengutamakan kehalalan dari setiap rezeki kita. Sebab segala yang halal di mata Allah adalah baik.

Selain kehalalan rezeki, cara untuk mendapatkan rezeki juga merupakan kunci utama dalam proses mencari nafkah. Rezeki yang halal mungkin belum tentu didapat dengan cara yang Allah sukai. Tapi rezeki yang didapatkan dengan cara yang diridhoi Allah, sudah pasti rezeki itu adalah halal.

Ada berbagai cara yang dapat kita lakukan dalam mencari rezeki. Salah satunya saja adalah berdagang. Membuka usaha sendiri, di kalangan masyarakat saat ini sudah menjadi hal yang wajar, karena bisa dikatakan sebagian besar penduduk ibu kota memiliki profesi berdagang. Berdagang adalah sebuah pekerjaan baik yang in sya Allah akan menghasilkan rezeki yang halal bila dilakukan dengan cara yang baik pula. Tapi bisa juga rezeki yang dihasilkan dari berdagang itu berubah menjadi haram apabila cara yang dilakukan adalah cara-cara yang merugikan orang lain, atau bahkan bersifat musyrik (menduakan Allah).

Selain kehalalan dan cara yang dilakukan menjadi faktor penting dalam meraih rezeki, ternyata interaksi atau kedekatan kita kepada Allah juga menjadi kunci utama dalam mencari keberkahan rezeki. Cara dan kehalalan mungkin sudah kita lakukan, tapi apabila karena alasan mencari rezeki menjauhkan kita pada Allah, maka tanpa kita sadari rezeki yang kita dapatkan akan kehilangan esensi keberkahannya.

Katakan saja demi mencari rezeki yang banyak, seorang pedagang sampai rela meninggalkan sholatnya lantaraan takut kehilangan pelanggan apabila dagangannya ditinggal sebentar untuk sholat. Lalu demi sebuah gadget baru, seorang staf rela melakukan korupsi . Atau demi sebuah jabatan tinggi, seorang muslimah rela menanggalkan hijabnya. Hal-hal semacam itu adalah contoh bahwa kurangnya iman seseorang dalam proses pencarian rezeki, akan membuat rezekinya kehilangan keberkahan. Mungkin mereka akan mendapatkan apa yang mereka harapkan, tapi mereka tidak akan pernah cukup dengan semuanya karena yang ada dipikiran mereka hanya duniawi saja. Bagaimana caranya mendapatkan rezeki sebanyak mungkin, tanpa mengindahkan syariat dan aturan yang berlaku dari Tuhannya.

Mereka lupa bahwa rezeki yang mereka dapat datangnya dari Allah. Dan mereka seolah tidak mau menyadari bahwa untuk mendapatkan rezeki Allah, maka mereka haruslah melakukan apapun yang Allah perintahkan. Mereka hanya menuntut hak tanpa mau menunaikan kewajiban mereka sebagai muslim. Jika sudah seperti itu keadaannya, maka cepat atau lambat mereka akan kehilangan rezeki yang sudah mereka dapat, tanpa mereka sadari. Entah karena gaya hidup mereka yang hedonis hingga membuat mereka boros, atau mungkin mereka akan ditimpa kemalangan maupun kesakitan yang menyebabkan harta mereka terkuras untuk biaya pengobatan. Wallahu ‘alam.

24 Desember 2014

Keputusan

Hari ini, satu keputusan telah kuambil. Satu keputusan yang telah melewati tahap doa dan ikhtiar yang cukup panjang. Bismillah, aku yakin kalau keputusan ini adalah yang terbaik yang bisa aku berikan untuk masa depanku kelak. Aku yakin Allah telah pula menuntun langkahku untuk mengambil keputusan ini. Keputusan terbaik untukku, keluargaku, dan masa depanku. Aku hanya bisa berharap kembali dalam hati – sambil tak lupa juga terus berdoa dan berikhtiar – agar suatu saat nanti Allah masih berkenan memberikan jalan terbaikNya untukku. Saat ini aku hanya bisa terus memperbaiki diri setiap saat, agar kelak jalan takdir yang diberikan Allah juga lebih baik dari saat ini. Aku hanya ingin memantaskan diriku untuk sebuah masa depan yang cerah dan lebih baik. Semoga Allah selalu membersamai langkahku, dan selalu meridhoi setiap keputusan yang kuambil demi kebaikan semuanya. aamiin.

Jakarta, 
Pasar Minggu, Pojok Kamar
9.40 PM

19 Desember 2014

Surat Terbuka Untuk Bapak Pemerintah (Ini Jilbab Kami)

Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Kepada Yth.

Bapak Pimpinan Pemerintah Pusat dan Bapak Pimpinan PemProv DKI Jakarta yang saya hormati.

Perkenalkan saya Sarah. Seorang wanita berjilbab yang tinggal di salah satu kota terbesar di Indonesia ini, DKI Jakarta. Mungkin bagi Bapak sekalian, tidaklah penting siapa nama yang tertera dalam KTP saya, namun bersama surat ini, saya hanya ingin menyampaikan goresan hati saya yang beberapa waktu terakhir ini sangat mengganjal pikiran saya.

Begini, Bapak-Bapak sekalian,
Belum lama ini saya mendapat sebuah informasi dari salah seorang adik perempuan saya yang duduk di bangku kelas 5 di salah satu SD negeri di Jakarta Selatan, bahwa ia disuruh untuk mengumpulkan beberapa lembar pas foto yang katanya akan digunakan untuk keperluan pengisian raport. Sampai di sini, saya rasa tidak ada masalah yang berarti buat saya. Namun informasi yang disampaikan berikutnya oleh adik saya, adalah sebuah berita yang teramat menyakitkan untuk saya. Ia mengatakan kalau foto yang dikumpulkan adalah foto tanpa mengenakan penutup kepala / jilbab / kerudung. Sementara adik perempuan saya sudah sejak lama baik dalam keseharian maupun bersekolah, dengan menggunakan hijab. Jelas saja hal itu menjadi sebuah kejanggalan untuk saya, selaku seorang wanita muslimah yang juga mengenakan jilbab dalam keseharian saya.

Ingin melakukan protes, tapi saya tidak tahu pada siapa. Pihak sekolahpun pastinya tidak mau tahu dengan apa yang menjadi keberatan untuk saya. Dan setelah saya tanyakan lebih lanjut dengan salah satu guru yang mengajar di sekolah negeri, benar saja bahwa katanya hal itu merupakan sebuah peraturan baru dari kepemerintahan yang baru. Subhanallah!!

Tak habis pikir rasanya diri ini. Mengapa dalam hal berjilbab dalam foto saja, adik saya maupun ribuan muslimah lainnya yang mengalami kasus yang sama seperti adik saya, mesti dilarang dengan alasan yang tidak jelas?? “Peraturan baru.” Demikian alasan yang terlontar dari pihak sekolah. Allahu Akbar!!

Mungkin sebagian orang akan menganggap kalau apa yang saya bicarakan ini adalah persoalan sepele, dan nampaknya saya saja yang terlalu melebih-lebihkan kasusnya. Namun bagi saya – yang sudah sejak lama mendidik adik perempuan saya untuk berjilbab sejak dini – persoalan jilbab bukanlah hal sepele yang dapat diremehkan oleh siapapun. Dalam agama Islam, jilbab adalah sebuah perintah yang Allah sampaikan langsung dalam Al Qur’an Surat Al Ahzab ayat 59, yang ditujukan untuk seluruh kaum muslimah di muka bumi ini. Maka dari itu saat saya mengetahui peraturan baru ini, tersentak rasanya seluruh jiwa raga saya. Mengapa semakin hari, kami – para muslimah – merasa semakin terpinggirkan oleh berbagai peraturan yang ‘katanya’ datangnya dari pemerintah. Entah dari pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah.

Wahai Bapak Pimpinan Pemerintahan Pusat maupun Daerah…
Saya, dan mungkin puluhan ribu muslimah lainnya, baik yang ada di Indonesia maupun di Jakarta khususnya, hanya menginginkan hak kami sebagai seorang penganut salah satu agama di Negeri ini, terpenuhi dengan layak. Kami bukanlah teroris, kami bukanlah penjahat, kami hanya berusaha menjadi warga Negara yang baik, sekaligus selalu ingin berusaha menjadi umat beragama yang taat pada setiap perintah serta ajaran yang Tuhan dan agama kami ajarkan. Kami tidak menuntut banyak hal pada Bapak Pemerintah. Kami hanya ingin ketenangan dalam setiap usaha kami mengamalkan ajaran-ajaran Allah Swt, Tuhan kami. Kami hanya ingin menjadi hamba yang sebenar-benarnya taat pada Tuhan kami, Allah Swt, dengan senantiasa menjalani segala perintahNya dan menjauhi setiap laranganNya. Itu saja. Tolong Bapak sekalian jangan mempersulit kami dalam menjalani keyakinan kami di negeri kami tercinta ini, Indonesia, dan di kota kami tercinta ini, Jakarta.

Bagi kami, jilbab bukanlah sebuah gaya dan trendi seperti yang banyak digaungkan sebagian wanita pada umumnya. BAGI KAMI, JILBAB ADALAH SIMBOL KAMI. KEKUATAN KAMI. HARGA DIRI KAMI. Yang harus kami perjuangkan sampai kapanpun. Bagi kami, jilbab bukanlah bagian dari dandanan yang kami suguhkan untuk orang lain, yang bentuknya dapat kami sesuaikan dengan keadaan zaman, sehingga makna jilbab semakin hari semakin luntur seiring dengan perkembangan zaman. Tapi jilbab yang kami ulurkan sampai menutupi dada kami adalah tanda kebesaran kami dari Allah Swt. Alat yang kami gunakan untuk menutupi seluruh aurat kami sebagai muslimah, dari pandangan orang lain yang bukan muhrim kami. Maka dari itu, meskipun hanya sebuah foto, dan mungkin hal ini nampaknya sangat sepele di mata orang lain, namun tetap saja aurat anak-anak kami (dalam hal ini rambut, telinga, dan leher, yang merupakan salah satu aurat yang harus kami tutupi dari pandangan laki-laki yang bukan muhrim kami) akan terlihat sangat jelas di hadapan laki-laki yang bukan muhrim mereka. Hal itu jelas sudah membuat rendah izzah (harga diri) anak kami di depan semua laki-laki yang bukan muhrimnya.

Wahai Bapak Pimpinan Pemerintahan Pusat maupun Daerah…
Tolong, lindungilah hak kami para muslimah yang hidup di negeri kita tercinta ini, untuk sekiranya dapat melaksanakan dan menunaikan setiap kewajiban kami sebagai seorang muslim. Kami tegaskan sekali lagi bahwa berjilbab buat kami bukanlah sekedar trendi belaka, melainkan merupakan salah satu perintah Tuhan kami, Allah Swt, sebuah keharusan yang WAJIB kami laksanakan sebagai muslimah yang selalu berusaha untuk taat pada ajaran-ajaran agama kami. Kami harap Bapak sekalian dapat mengerti dan memahami keadaan kami, yang juga merupakan warga Bapak sekalian, penganut salah satu agama yang ada di negeri tercinta kita, yaitu Islam. Saya rasa Bapak sekalian tidak akan pernah lupa akan makna sila pertama dan kelima dalam Pancasila, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia". Kami mempercayai Tuhan kami, Allah Swt, dalam agama Islam. Maka dari itu saya harap Bapak sekalian juga tidak mempersulit, atau bahkan melarang kami untuk dapat mengerjakan perintah dan ajaran agama kami. Dan saya sangat berharap, agar larangan muslimah berjilbab dalam foto untuk beberapa sekolah negeri di DKI Jakarta, tidak akan pernah berimbas menjadi larangan berjilbab di sekolah untuk anak-anak kami. Jika hal itu sampai terjadi, entah bagaimana kami harus memberi kesaksian atas kepemimpinan kalian, jika Allah Swt menanyakannya pada kami di akhirat nanti…..

Terima kasih. Wassalam….

Allah Beri Kemudahan Mengurus Piatu-Piatu Itu

Tadi pagi, saya mengambil raport adik sepupu saya, Intan, yang juga anak ketiga dari almarhumah Tante saya. Saya senang sekali karena menurut laporan dari wali kelasnya, Intan ini merupakan anak yang bertanggung jawab di kelasnya. Semester kemarin, saat bersamaan dengan kenaikan kelas, ia meraih juara dua di kelasnya. Saya yang sengaja izin dari kantor untuk mengambil raportnya sekaligus menyaksikan pentas seni di sekolahnya, merasa sangat bahagia dan bangga karena saat diumumkan oleh wali kelasnya, ia mendapat juara dua di kelasnya dan naik ke panggung untuk menerima piala. Hati saya bergitu terharu kala itu. Ibunya di barzakh sana juga pasti bangga dan bahagia melihat anaknya berprestasi seperti itu. Dan kali ini ia juga lagi-lagi masih mampu mempertahankan peringkat duanya di kelas. Masya Allah, saya sungguh bangga padanya.

Begitu juga dengan Intan, Tiar, anak kedua almh. Tante juga menyabet peringkat sepuluh besar di kelasnya. Lebih tepatnya lagi, peringkat sembilan yang ia raih. Masya Allah lagi-lagi saya mesti berucap syukur pada Allah Swt. Sama halnya seperti kedua kakaknya, Azmi, anak keempat almh. Tante juga nilai UASnya Alhamdulillah bagus-bagus dan memuaskan. Rasanya tidak sia-sia pengorbanan selama beberapa pekan ini dalam menggemblengnya belajar setiap hari menjelang UAS. Riski juga membuat saya bangga saat mengambil raportnya hari Rabu lalu. Wali kelasnya bilang kalau tingkah laku Riski sudah baik, dan rasa tanggung jawab di kelas maupun di sekolah juga besar. Apalagi yang membuat saya bahagia dan terharu, ia tak pernah segan-segan untuk meminta maaf, baik pada guru maupun teman-temannya, jika ia memang berbuat salah, atau tidak sengaja melakukan kesalahan.

Meskipun ada beberapa hal yang menjadi catatan penting untuk saya terkait perilaku Riski di sekolah, namun hal tadi telah menjadi nilai plus saya untuk Riski. Biar bagaimanapun, memang tidak mudah menyuruh anak-anak untuk merubah tingkah polahnya menjadi anak yang baik dan penurut, terkadang bila dia lupa atau khilaf, ada saja hal-hal yang membuat ia berkata atau melakukan sesuatu di luar hal-hal yang kita ajarkan. Namun saya berpikir, wajar apabila anak-anak berlaku demikian, sebab saya pun juga terkadang masih sering khilaf dan sering memberi toleransi pada diri sendiri. Namun yang terpenting yang harus kita berikan dan tanamkan dalam diri anak-anak kita adalah benteng atau penjagaan yang kuat yang bisa membawa mereka kembali ke jalur yang benar, saat langkah mereka sudah sedikit keluar dari garis yang kita arahkan.

Penjagaan itu adalah keimanan dan akhlakul karimah yang harus sering kita tanamkan dalam diri mereka. Memperkenalkan hal-hal mendasar terkait ketauhidan, keimanan, kesabaran, kedisiplinan, yang juga harus dimengerti oleh para orang tua agar lebih mampu mengajarkan dan menerapkan pada anak-anak. Memperkenalkan rasa ‘kecewa’ pada mereka sejak dini juga cukup penting untuk meningkatkan rasa sabar mereka. Misalnya saja jika mereka menginginkan sesuatu, mereka harus tetap berusaha dengan giat untuk dapat memperolehnya, dan bukan dengan jalan instan seperti yang diperkenalkan tokoh Doraemon pada Nobita. Jika hasilnya tidak sesuai harapan mereka, maka ajarkanlah untuk menerima bentuk ‘kekecewaan’ itu dengan cara yang bijaksana, yang bisa membuat mereka jadi termotivasi kembali untuk tidak mudah putus asa dan mau berusaha kembali.

Juga ada kalanya sesuatu yang mereka inginkan tidak bisa segera mereka dapatkan karena faktor keadaan. Orang tua yang belum mempunyai cukup rejeki, atau karena hujan, atau karena kendala yang lain, dapat kita arahkan rasa kecewanya itu menjadi energi positif untuk membentuk karakter mereka menjadi karakter yang penyabar dan penerima keadaan yang baik.

Untuk itu, rasanya patut saya haturkan beribu-ribu rasa syukur saya pada Ilahi, karena Ia telah mengabulkan setiap doa saya untuk mempermudah mendidik dan membina anak-anak piatu itu. Alhamdulillah juga, Tiar dan Intan sudah belajar untuk menutup aurat mereka dengan hijab syar’i sesuai dengan ajaran dan perintah dari agama kami, Islam. Ihdinasshiroothol mustaqim, Semoga ke depannya, Allah senantiasa terus menguatkan saya untuk dimudahkan membina dan membimbing mereka ke jalan yang lurus, jalan yang Allah Swt ridhoi. Aamiin.





dari atas ke bawah: Tiar, Intan, Azmi, Riski
(semoga jadi anak-anak yang shalih dan shalihah, ya, sayang....)
I'm so proud of you....

10 Desember 2014

Tentang Menikah

Menikah, bagi sebagian orang adalah suatu perjalanan baru yang akan menghantarkan dirinya untuk menjalani episode baru dalam hidupnya. Menikah bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan sebuah babak baru yang harus ditempuh bersama seorang pendamping yang akan selalu ada di sisi kapanpun dan di manapun berada.

Menikah merupakan impian dan cita-cita setiap orang. Kecuali bagi mereka yang tidak ingin mengikuti Sunnah Rasul ini, menikah merupakan ancaman bagi mereka. setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan oleh Allah Swt, jadi mustahil apabila ada seseorang yang tidak menemukan jodohnya di dunia ini dengan alasan bahwa Allah mentakdirkan ia untuk hidup sendiri di dunia ini. Sekalipun sampai akhir hayatnya ia sendiri, mungkin saja karena Allah telah menyiapkan jodohnya di akhirat nanti.

Menikah bukanlah perkara sesiapa yang lebih dulu menikah dibanding siapa. Tapi menikah merupakan perkara kita menemukan seseorang yang tepat di waktu yang tepat. Sesimple itulah jodoh. Jadi kalau sampai saat ini sudah banyak teman-teman kita yang mendahului kita untuk menikah, maka jangan pernah khawatir dan risau, bahwa Allah tidak akan pernah mengingkari janjiNya dan Ia telah menyiapkan seseorang terbaikNya untuk dipertemukan dengan kita di waktu yang tepat nanti. Hanya perkara waktu, selama kita selalu memperbaiki diri setiap waktu dan berdoa tiada henti agar Ia memberi kesabaran pada kita untuk menunggu datangnya waktu yang tepat itu.


Pojok Kamar,
Jakarta, 10 Desember 2014, 
00.17 WIB

21 November 2014

Dahsyatnya Sebuah Permintaan Maaf

Sekitar seminggu yang lalu Riski sakit. Sakitnya memang tidak begitu mengkhawatirkan, hanya flu dan sedikit batuk. Mungkin juga karena beberapa hari sebelumnya sering sekali minum air dingin. Ditambah lagi amandel Riski agak sedikit bengkak di sebelah kiri jadi kalau ada hal-hal yang sedikit saja menyebabkan amandelnya bengkak, maka dengan cepat tubuhnya akan merespon. Kebetulan responnya kemarin tidak ada demam, hanya flu dan batuk saja. Saya pun hanya memberikannya madu dan tidak membawanya ke dokter atau minum obat-obatan kimia. Saya pikir terlalu banyak obat kimia pun tidak begitu baik bagi tubuhnya, jadi hanya saya berikan madu sebagai pengobatan alternatifnya.

Kemudian tiga atau empat hari yang lalu, tiba-tiba Riski ngambek mau minta minum air dingin. Saya sendiri sebenarnya sangat melarang dia untuk minum air langsung dari kulkas, pasalnya saat itu kondisi tubuhnya sedang kurang sehat, jadi saya rasa wajar jika sebagai 'ibu' saya melarangnya. Namun namanya anak kecil, tetap saja ia masih belum mengerti. Dan kalau dipikir-pikir, terkadang saya pun juga agak sedikit 'bandel' saat sakit maunya malah minum air yang dingin-dingin. Mungkin juga bawaan hawa panas dari tubuh yang akhirnya menyebabkan otak memerintahkan diri saya untuk minum air dingin. Mungkin demikian pula yang dialami Riski.

Namun saya tetap kekeuh tidak memberinya air dingin. Saya biarkan dia menangis sementara saya tinggalkan ia untuk mengajar. Saat hendak jalan mengajar, saya melihat ia melirik-lirik saya dalam ketakutannya karena saya marahi. Saya pun menciumnya dan bergegas berangkat mengajar. Saya berangkat selepas Maghrib, dan ketika saya pulang, ia sudah tertidur. Saya pun segera masuk ke kamar tanpa menemaninya tidur karena ia sudah terlelap lebih dulu.

Namun keesokan harinya, di mana hari masih terlalu pagi untuk membuka mata, tiba-tiba Riski mengetuk pintu kamar saya kemudian ia berkata saat saya telah membuka pintu, "Bunda, maafin aku, ya.." Kemudian ia mencium tangan saya. Masya Allah! Betapa bangganya hati ini mendapati seorang anak berusia lima tahun yang segera menyesali kesalahannya dan segera minta maaf saat ia membuka mata di pagi hari. Saya pun segera memeluknya dan menciuminya penuh kasih sayang.

Masya Allah, senang sekali rasanya bisa menjaga, merawat, dan membinanya sampai sedemikian rupa. Dan saya ingat betul, kenapa Riski bisa selalu ingat untuk meminta maaf di kala ia melakukan kesalahan atau bahkan segera meminta maaf saat ia menyadari kesalahan-kesalahannya, karena saya pribadi hampir selalu meminta maaf padanya saat saya melakukan kesalahan-kesalahan padanya, atau pada orang lain, apalagi jika bersalah pada Allah Swt.

Saya selalu mencontohkan langsung padanya bahwa setiap kami melakukan kesalahan pada siapapun, wajiblah kami untuk meminta maaf. Demikian pula saat saya melakukan kesalahan kecil sekalipun pada Riski. Tanpa gengsi saya meminta maaf padanya hingga yang selalu keluar dari mulutnya adalah kata-kata, "Iya, nggak papa kok, Bun."

Demikianlah, akhirnya saya menyadari, bahwa kata-kata seorang guru ngaji pada saya, yang beliau menyampaikan pula dari seorang ulama besar Aa Gym, mengatakan bahwa, jika ingin anak-anak kita menurut pada kita, maka jangan pernah segan-segan kita untuk senantiasa meminta maaf padanya sekecil apapun kesalahan yang kita perbuat padanya. In sya Allah anak akan merasa sangat dihargai dan akan belajar dari setiap sikap yang diteladani oleh orang tuanya.

7 November 2014

Rahasia Ilahi

Hidup, mati, rezeki, dan jodoh, merupakan sebuah misteri Allah yang tidak akan pernah dapat kita duga sebelumnya. Keempat hal itu merupakan hak prerogative yang hanya dimiliki oleh Allah Swt. Kita sebagai hamba, tidak berhak ikut campur dalam menentukan keempat hal itu. Tugas kita sebagai seorang hamba, hanya berikhtiar sekuat tenaga agar hidup yang kita miliki bisa bermanfaat bagi sesama, bisa mempunyai usia yang berkah, dan selalu diberi kesehatan olehNya. Kematian pun demikian adanya. Agar kematian kita nantinya bisa bernilai husnul khotimah, maka kita harus senantiasa mengisi hari-hari kita dengan terus mendekatkan diri padaNya.

Sebagaimana hidup dan mati, jodoh juga merupakan salah satu misteri Allah yang sama sekali kita buta dalam mengetahuinya. Kita memang tidak pernah tahu siapa jodoh kita nantinya, tapi kita selalu memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan jodoh terbaik dariNya, yaitu dengan terus memperbaiki diri kita hari demi hari. Jodoh kita memang sudah ditentukan oleh Allah sejak kita dalam kandungan, namun jodoh bukanlah sesuatu yang tidak dapat dirubah selagi kita mau merubahnya. Tentunya ke arah yang lebih baik. Wanita baik-baik, tentu akan mendapat pria yang baik-baik pula, begitupun sebaliknya. Maka dari itu, memperbaiki diri hari demi hari juga merupakan sebuah upaya untuk memperbaiki jodoh kita nantinya.

Sama halnya seperti hidup, mati, dan jodoh, rezeki juga tak kalah misteriusnya dengan ketiga hal tadi. Ia merupakan sesuatu yang berhak kita dapatkan apabila kita menjalankan tugas kita sebagai hamba dengan baik. Rezeki tidak hanya berbentuk harta semata, namun kesehatan dan rasa syukur juga merupakan sebuah rezeki yang tiada taranya. Suami yang setia, anak-anak yang shalihah, pekerjaan yang mapan, rasa aman dan nyaman dalam hidup, juga merupakan sebuah rezeki yang patut kita syukuri.

Rezeki memang mistreri, namun kita bisa menjemputnya dengan cara yang diridhoi olehNya. Bila berbicara tentang harta maupun penghasilan, maka seberapa kecil atau besarnya rezeki yang kita dapati dari Allah, letak keberkahannya adalah pada rasa syukur yang senantiasa mengalir dari mulut kita setiap rezeki hadir dalam hidup kita. Sedangkan rasa cukup, akan lahir seiring dengan syukur yang kita haturkan padaNya.

Saat Allah masih belum memberikan kita rezeki sebesar apa yang orang lain dapatkan, mungkin saja Allah masih melapangkan waktu kita untuk bisa lebih lama bersama keluarga, melakukan hal-hal yang kita sukai yang tentunya bermanfaat untuk kita dan orang banyak, atau hal-hal lain yang belum kita sadari keberadaan dan manfaatnya.

Ingatlah bahwa Allah tidak pernah tidur dalam mengurus dan memberi rezeki pada setiap hambaNya. Rezeki tidak akan pernah salah pintu selagi kita mau menjemputnya dengan cara yang halal, lagi diridhoi olehNya.

4 November 2014

Menjadi Muslim dan Mukmin Terbaik

Diriwayatkan oleh Imam Muslim daripada Abu Yahya (Syuhaib) bin Sinan r.a. bahawa Nabi S.A.W. pernah bersabda yang bermaksud : "Sungguh mengagumkan keadaan seorang mukmin, disebabkan segala keadaannya untuk urusan ia sangat baik. Dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mukmin: Jika mendapat nikmat, dia bersyukur. Maka bersyukur itu adalah lebih baik bagi dirinya. Dan jika menderita kesusahan, dia bersabar. Maka kesabaran itu lebih baik buat dirinya."

Saat masalah datang dan menghadang, sesungguhnya Allah bukan tidak sayang pada kita. Tapi ujian hidup itu merupakan bentuk kasih sayang Allah pada kita, karena kita yang selalu minta dikuatkan olehNya.

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa seorang muslim itu diwajibkan untuk menuntut ilmu dan selalu meningkatkan keimanan serta ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Kita senantiasa istiqomah dan melakukan hal-hal apapun yang diperintahkan olehNya dan sebisa mungkin menjauhi segala apapun yang menjadi laranganNya. Kita selalu ingin memiliki tingkat keimanan yang tinggi, agar kita bisa selalu istiqomah di jalanNya dan dapat menjalani kehidupan ini dengan mudah.

Semakin tinggi tingkat keimanan kita, maka doa yang selalu kita panjatkan padaNya adalah mohon diberi kekuatan atas segala ujian dan cobaan hidup yang Ia berikan pada kita. Bukan malah meminta dikurangi beban hidupnya karena yang tahu sanggup atau tidaknya kita dalam menghadapi ujian hidup ini hanyalah Allah Swt. 

Seiring dengan mengakunya kita akan ketinggian iman yang kita miliki, maka sejalan pula dengan ujian hidup yang kelak akan Allah berikan pada kita. Ujian yang semakin berat kita rasakan, itu adalah bukti kasih sayang Allah  pada hambaNya yang mengaku beriman. Ia berikan cobaan hidup itu, untuk menguji seberapa besar tingkat keimanan yang kita miliki sebagai seorang hamba. Jika kita mampu melewati ujian itu dengan sabar dan ikhlas, maka Ia akan meningkatkan derajat kita sebagai seorang hamba. Dan sesuai dengan tingkat keimanan yang semakin tinggi, maka akan semakin berat pula ujian hidup yang akan kita terima. Namun tenang saja, selama kita masih memohon kekuatan padaNya, maka ujian yang kita terima akan mampu kita jalani, seberat apapun ujian itu. Ia yang akan menjaminnya.

Namun jika kita merasa tingkat keimanan kita sudah tinggi, tapi memilih untuk putus asa saat diberi ujian hidup, maka Allah akan menilai sendiri seberapa tinggi tingkat keimanan kita padaNya. Ia lantas akan membiarkan kita pada kondisi di mana derajat kita sebagai seorang hamba masih biasa-biasa saja dan belum mengalami peningkatan. Dan ia tidak akan memberikan ujian yang berat pada kita, sampai kita benar-benar mampu menerimanya kembali.

Jika kita memilih untuk tetap bertahan dengan kondisi yang masih sama, maka Allah juga tidak akan memberikan kita ujian hidup dengan standar keimanan kita yang masih lemah. Karena Ia tahu bahwa kita pasti tidak akan sanggup diberi ujian yang berat. Jika kita masih terus dan terus di kondisi yang sama - membiarkan diri berlarut-larut terpuruk dalam kondisi iman yang lemah - maka sampai kapanpun kita tak akan mampu menerima segala ujian yang Allah berikan pada kita.

Maka dari itu sadarlah, bahwa jika kita merasa hidup ini datar-datar saja tanpa ada liku atau masalah yang berarti, bisa jadi Allah masih enggan melirik kita karena kualitas keimanan kita yang masih lemah. Ia berikan kesempatan pada kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, namun nyatanya hal itu malah kita gunakan untuk berbuat hal-hal yang dilarang olehNya. Kesempatan memperbaiki diripun semakin hilang dan meredup, hingga yang ada hanya puing-puing keimanan kita yang semakin lemah, hingga akhirnya Allah memilih meninggalkan kita, dan lebih memilih untuk terus bersama orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam perjalanan hidupnya. Orang-orang yang akan selalu bersabar saat ditimpa ujian hidup, dan orang-orang yang senantiasa bersyukur saat diberi kenikmatan hidup. Orang-orang seperti itulah yang kelak akan mendapat pertolongan Allah seperti dalam firmanNya QS. Ali Imran: 125 : "Ya (cukup), jika kamu semua bersabar dan bertakwa. Dan (seandainya) mereka menyerang kamu semua seketika itu juga, niscaya Allah akan menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda." dan juga akan mendapat pahala yang tanpa batas seperti difirmankan olehNya dalam QS. Az Zumar: 10 : "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala buat mereka tanpa batas."

Semoga kita semua dapat lebih mampu meningkatkan keimanan kita, dan selalu mendekatkan diri padaNya dengan selalu menaati perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Semoga Allah tak pernah berpaling dari kita lantaran kita yang terlalu lalai akan segala nikmat hidup yang Ia berikan. Sehingga membuat kita dijauhi olehNya, hingga tak mendapat apapun dalam hidup ini kecuali kesia-siaan semata. Nauzubillah...