19 Maret 2012

"Angry Birds"

Begitu banyak permainan digital (digital game) yang kini marak digandrungi masyarakat. Salah satunya adalah “Angry Birds” yang belakangan ini menjadi salah satu icon yang menarik untuk dijadikan komoditi pasar. Karakter-karakter dalam permainan “Angry Birds” ini sudah banyak menghiasi pernak pernik sehari-hari seperti baju, tempat pensil, pulpen, sampai sandal. Angry Birds kini sudah memenuhi ruang pasar. Selain karena bentuk karakternya yang sangat unik, permainannya pun juga sangat menarik. Saya dan Rizky termasuk salah seorang yang menggandrungi permainan ini :D.

Setiap ada waktu luang, biasanya saya mencoba setiap level yang ada pada permainan Angry Birds ini, begitu juga dengan Rizky. Kami berdua sangat senang dengan karakter “Burung Bom” yang berwarna hitam.

Sejak menggandrunginya, saya sadari ternyata permainan ini banyak sekali memberikan saya pelajaran. Katakanlah, setiap kali memainkan permainan ini, saya dituntut untuk mengatur strategi dari setiap tantangan yang disuguhkan di setiap levelnya. Begitu juga dengan jumlah burung dan kemampuannya dalam menghancurkan kayu, besi, atau kaca yang melindungi musuh-musuhnya. Begitu juga dengan hidup ini.

Dalam setiap langkah dan pilihan hidup ini, kita pasti juga dituntut untuk mengatur strategi dengan cermat agar setiap kesempatan yang diberikan Allah tidak terbuang dengan sia-sia dan agar setiap tantangan yang kita hadapi bisa kita selesaikan dengan baik dan benar. Setiap tantangan di setiap level kehidupan kita pun juga tergantung dengan kadar kemampuan yang kita miliki.

Angry Birds secara tidak langsung telah mengajarkan saya agar tidak cepat putus asa dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan dalam setiap langkah dan pilihan hidup yang telah saya pilih dan Allah pilihkan. Bagi teman-teman yang juga keranjingan memainkan permainan ini, coba kalian amati dengan seksama, di setiap levelnya pasti permainan ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Begitu juga dengan setiap solusinya (macam-macam burungnya), pasti juga disesuaikan dengan setiap tantangan yang disuguhkan. Demikian pula dengan hidup.

Mustahil kalau kita tidak memiliki masalah atau ujian dalam hidup ini. Pasti tingkat kesulitan cobaan hidup pun juga berbeda-beda di setiap fasenya. Dan Allah pun pasti sudah tahu lebih dulu seberapa kita mampu dan sanggup untuk menyelesaikan masalah itu. Jangan pernah lupa juga bahwa di setiap cobaan yang kita hadapi, Allah pasti juga memberikan satu paket dengan solusi sesuai dengan kadar kemampuan kita.

Dalam menghadapi persoalan hidup pun, kita harus pandai-pandai mencari celah dan peluang, agar setiap langkah yang kita pijakkan tidak bernilai sia-sia. Harus selalu ada hasil yang dicapai agar hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin.

Namun ada satu perbedaan Angry Birds dengan kehidupan ini yang akhirnya saya sadari kembali, bahwa jika di permainan Angry Birds kita bisa mengulangi permainan jika kita mengalami kegagalan di masa sebelumnya, di permainan kehidupan nyata kita hanya bisa memperbaiki setiap kegagalan yang kita alami dan menjadikan kegagalan di masa lalu sebagai pelajaran berharga yang tidak boleh kita ulangi di masa depan. Juga sebagai pengalaman hidup bahwa setiap liku kehidupan ini pasti bisa kita atasi asalkan kita bisa mempelajari setiap medannya, siapkan strategi untuk menghadapinya, pergunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, cari peluang agar setiap langkah tidak bernilai sia-sia, agar apa yang kita lakukan bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa “naik” ke level berikutnya untuk menyelesaikan tantangan selanjutnya :)

Read More......

12 Maret 2012

Cerpen : Dialog Asa

Asa masih membisu. Langkahnya yang semakin pelan, berbanding terbalik dengan pikirannya yang dipaksa untuk berpikir cermat. Menurutnya, pernikahan bukanlah hal yang mudah unttuk dibicarakan. Sebab bicara tentang menikah, bukan hanya bicara tentang personality saja, tapi juga tentang perasaan dan keadaan dua insan manusia. Baginya, menikah bukanlah seperti membeli permen di warung. Tidak semudah merogoh uang di kantong dan tidak semudah memakannya. Maka dari itu tidak mudah pula menjawab sebuah pertanyaan “Kapan menikah?” yang membuat hari-harinya semakin kelabu. Jika boleh jujur, wanita mana sih yang tidak ingin segera menikah? Mungkin hanya orang-orang bodoh yang tidak menginginkan pernikahan dalam hidupnya.

“Jadi, bagaimana kalau nanti kamu menikah?”

Kali ini pertanyaannya lain. Hanna yang melontarkan pertanyaan itu padanya. Di kesempatan yang jarang sekali mereka lewatkan bersama ini, Hanna sedang berusaha mengorek informasi dari Asa demi menjalankan sebuah misi rahasianya.

Asa tersenyum dalam langkahnya yang terhenti di depan sebuah rak buku-buku novel. Berusaha mengingat-ingat senyuman bocah mungilnya di rumah. “Pertama, sampai saat ini belum ketahuan siapa jodohku,” Ucap Asa tanpa mengarahkan pandangannya pada Hanna, “Kedua, karena aku tidak mau masalah ini terlalu dibawa pusing. Aku tidak mau menjadikan Kania sebagai beban.” Lanjutnya mengambang. Suaranya sedikit pelan namun seperti ada isak di ujung kalimatnya. Sementara di telinga Hanna, kalimat itu terdengar seperti sebuah harapan kalau suatu saat akan ada seorang laki-laki yang bersedia menerima dirinya dan Kania.

Asa hanya seorang wanita muda yang banyak memiliki cita-cita dan harapan. Sama seperti namanya, ia hanya ingin mewujudkan semua harapan-harapannya demi kebahagiaan diri dan keluarganya. Namun satu cobaan berat ternyata dihadiahi Allah padanya setahun yang lalu, saat kakak dan kakak iparnya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan meninggalkan seorang putri mungil yang kini berusia dua tahun. Dialah Kania, yang kini sudah menganggap Asa seperti ibu kandungnya sendiri.

Ratusan buku novel yang kini berjejer di rak-rak buku di hadapannya sedikit menyita perhatian Asa untuk melihat satu per satu isinya. Pikirannya sempat mengangkasa, kalau saja buku karyanya suatu saat nanti bisa menjadi salah satu buku best seller yang juga di pajang bersama buku-buku best seller lainnya, ah itu adalah salah satu impiannya. Masih sambil menggenggam dan membaca sinopsis salah satu novel terjemahan karya Beth Hoffman, ternyata hal itu membuat Hanna mencari cara lagi untuk kembali mengorek berbagai informasi tentang Asa. Sebelum pada akhirnya…..

“Aku tidak ingin menjadikan Kania sebagai kendala dalam hal ini.” Ucap Asa tiba-tiba seolah bisa mengeja pikiran Hanna barusan. “Sebab Kania adalah anugerah terindah almarhumah ibunya yang dititipkan Allah padaku. Kalaupun Allah memberikan izin untukku bertemu jodoh, pasti Allah akan memberiku yang terbaik. Aku hanya ingin memberikan kasih sayang yang utuh kepada Kania. Aku tidak tega jika melihat anak-anak lain mempunyai sosok yang bisa dipanggil ayah dan ibu, sedangkan Kania tidak. Bagi Kania, mungkin hanya aku yang bisa ia anggap sebagai seorang ibu. Hanya aku yang bisa ia cari saat ia bangun tidur, atau saat ia ingin mengadukan hal baru apapun yang ia lihat dalam kesehariannya.”

Asa kembali melangkahkan kakinya menyusuri rak-rak buku sambil jemari tangannya meraba beberapa cover buku lalu sesekali menariknya keluar rak dan membaca sinopsisnya. Hanna masih setia mengikuti aktivitas Asa di rak buku lainnya. Ada sesuatu yang dipikirkannya.

Setelah beberapa buku dibayar Asa di kasir, ia dan Hanna pun langsung menuju ke sebuah rumah makan khas Sunda yang ada di lantai yang sama dengan toko buku yang baru saja mereka tinggalkan. Setelah menemukan posisi yang nyaman mereka pun segera memesan makanan dan minuman. Salah satu buku yang tadi dibeli Asa agak merebut perhatiannya sehingga ia segera membuka plastik yang membungkus buku tersebut dan langsung membolak balikkan lembar demi lembar halamannya.

“Aku mengerti posisi dan keadaanmu Sa….” Ucap Hanna mencoba memberikan empati pada sahabatnya,”Tapi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri….”

Asa langsung melepas pandangannya dari buku yang dibacanya dan melirik Hanna. Tajam. Hanna pun langsung salah tingkah dibuatnya. “Maaf Sa, bukan maksudku menyinggung atau….”

Asa tersenyum dan mengangguk, ”Aku rasa kamu belum benar-benar mengerti keadaanku Han….”

“….”

“Awalnya, Kania mungkin memang menjadi sebuah ‘ganjalan’ untukku memikirkan masa depan. Namun seiring berjalannya waktu, kurasa Kania bukanlah sebuah kendala yang harus aku carikan solusinya. Karena jika memikirkan jodoh, insya Allah jodoh yang kelak dihadirkan Allah adalah jodoh yang terbaik untukku. Jika kelak aku bertemu dengannya namun ia keberatan dengan hadirnya Kania dalam kehidupan kami nantinya, mungkin aku akan lebih memilih untuk tidak melanjutkan lagi hubungan itu. Paling tidak sampai Kania bisa benar-benar mengerti dengan hal apapun yang dapat aku jelaskan padanya. Tapi untuk saat ini, Kanialah yang menjadi prioritas utamaku.

“Kurasa sama halnya seperti perasaanmu terhadap kedua anakmu. Meskipun Kania bukanlah darah dagingku, tapi aku menyayanginya layaknya kamu menyayangi anak-anakmu. Meski mungkin porsinya tidak sebesar yang kamu punya untuk anak-anakmu.”

Hanna kembali terdiam. Tampaknya dia sudah kehabisan kata-kata dan sedang kembali menyusun rangkaian kata berikutya. Sambil berpikir, mungkinkah memang dia tidak bisa mengerti posisi yang dialami Asa saat ini. Sehingga ia sampai melupakan bahwa kondisi Asa pun sama seperti kondisi ia sebagai seorang ibu. Sama-sama ingin memberikan kasih sayang moral dan akhlak yang tulus pada buah hati mereka masing-masing.


“Bukan bermaksud untuk mengesampingkan pentingnya sebuah pernikahan,” Lanjut Asa menutup buku yang dibacanya tadi. “Tapi karena sebelum jodoh datangpun, Kania telah lebih dulu mengisi seluruh ruang hatiku. Dialah yang bisa membuat aku tersenyum setiap waktunya, dialah yang bisa mencintaiku dengan sebegitu tulusnya, dan kami saling mencintai dalam konteks yang berbeda. Sebagai ibu dan anak.

“Menyayangi Kania layaknya anak sendiri memang tidak memberikan keuntungan materi apa-apa padaku, tapi hal itu menimbulkan sebuah rasa bahagia tersendiri di dalam hatiku. Jika aku selalu prihatin dengan kondisi anak-anak yatim piatu di luar sana, bagaimana mungkin aku tidak merasa prihatin dengan keadaan Kania? Terlebih lagi dia adalah keponakanku sendiri. Setidaknya hatiku terpanggil untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar prihatin. Yaitu memberikannya kasih sayang yang tidak sepenuhnya diberikan ibunya dulu.”

Mata Asa mengembun. Hanna melihat seperti ada butiran-butiran kristal halus yang membentuk gumpalan. Tangannya langsung menyodorkan sehelai tisu padanya.

“Aku tidak mengajukan banyak syarat pada ‘ia’ yang kelak akan datang sebagai jodoh untukku,” Lirih Asa sambil mengusapkan tisu tadi ke matanya yang sudah mengembun. “Jika kebanyakan tetangga berkata,’Wah tinggal cari bapaknya aja nih.’ padaku saat mengajak Kania bermain keluar rumah, aku tidak akan membuat ‘ia’ benar-benar menjadi ayah untuk Kania. Aku pun hanya ‘bunda-bundaan’ untuknya. Yang aku minta hanya, ‘ia’ bersedia menyayangi Kania layaknya ‘ia’ menaruh rasa prihatin pada anak-anak yatim piatu pada umumnya. Hanya itu. Kalaupun ‘ia’ tidak bisa menyayangi Kania layaknya anak sendiri, tidak masalah buatku. Asalkan ‘ia’ tetap mengizinkan aku membantu almarhumah Mbak Sanny untuk menjaga dan merawat Kania. Mengizinkan aku membantu beliau mengantarkan Kania sekolah, membantunya membesarkan Kania, paling tidak sampai Kania benar-benar mengerti kalau aku hanyalah tantenya. Aku tidak akan banyak menuntut apapun padanya atas Kania. Sebab Kania adalah tanggung jawabku dan keluargaku.”

Hanna mendengarkan Asa dengan seksama. Pikirannya semakin berkelana entah kemana. Kata demi kata pun sudah sangat baik dirangkainya di kepala untuk sekedar menguatkan dan menyemangati Asa, namun entah kenapa yang terlontar dari mulutnya bukanlah kata-kata yang dirangkainya tadi melainkan, “Lalu bagaimana jika kamu menikah dan punya anak? Bagaimana dengan Kania?”

Asa terdiam sambil melemparkan pandangannya ke luar. Sebelum sempat ia menjawab, seorang pelayan perempuan keburu datang membawakan pesanan mereka. Asa menjawab setelah pelayan itu pergi.

“Hah…” Asa menyandarkan tubuhnya, seolah hal itu dapat melepaskan sedikit kecemasan yang dirasakannya saat ini. “Itu adalah masalah yang tidak harus aku pusingkan sekarang Han. Toh jodoh pun belum aku temukan. Toh aku pun belum ada rencana menikah, meskipun keinginan itu ada. Tapi, jika aku pusingkan hal itu sekarang, bukankah hanya akan membuang-buang waktuku jika ternyata aku belum ditakdirkan menikah pada usia Kania yang baru menginjak 2,5 tahun? Hal itu bisa dipikirkan nanti saat waktunya memang sudah benar-benar tiba. Dan untuk saat ini, biarkan aku tetap fokus pada Kania dan segala macam kegiatan rutinitasku.”

Kembali Hanna hanya bisa terdiam. Selain mencermati setiap kalimat yang dijelaskan Asa, juga menyesali kebodohannya karena telah melontarkan pertanyaan itu pada Asa. Dan demi mencari pembenaran atas tindakannya itu, mungkin juga karena ia diburu-burui oleh misi yang saat ini tengah ia jalankan.

“Tapi pernyataan di atas kembali membuat aku mempunyai sebuah pemikiran Han...” Sambung Asa sambil mengaduk-aduk sedotan dalam gelas ice lemon tea nya, “Karena ternyata, logika kita dengan logika Allah itu sangat jauh berbeda. Perhitungan Allah dengan perhitungan kita itu berbeda. Kalaupun memang benar aku menikah dalam waktu dekat, dan timbul pertanyaan di atas, maka aku yakin hal itu bukanlah menjadi sebuah kendala yang besar. Sebab jika menurut logika manusia hal itu akan menjadi sebuah kendala yang besar, maka tidak bagi Allah. Sebab Allah memberikan kita masalah dan ujian pun pasti sudah melalui tahap perhitungan dan pertimbangan yang sangat matang. Karena sekali lagi, perhitungan Allah dengan perhitungan kita itu tidak sama. Jika Allah sudah memutuskan kita untuk menerima sebuah ujian, pasti Allah juga memberikannya satu paket dengan solusinya.

“Maka sekali lagi, aku tidak mau dipusingkan dengan hal-hal yang belum jelas kapan terjadinya. Karena hal itu hanya akan menghambatku untuk maju. Kalau aku dipusingkan dengan pertanyaan di atas, maka yang timbul adalah sebuah kasih sayang yang tidak tulus kepada Kania karena kekhawatiranku di masa depan. Padahal kapan terjadinya pun aku belum tahu.”

Asa menyelipkan sebuah senyuman di akhir ceritanya. Ia meminum sedikit ice lemon tea nya lalu menyantap makanan yang ada di hadapannya. Sambil menyantap juga makanannya, Hanna berpikir, apakah ia tidak salah memilih Asa? Apakah Asa adalah pilihannya yang tepat untuk Mirza? Adik iparnya yang pernah mendaulatnya untuk mencarikannya pasangan hidup. Seorang laki-laki dewasa yang sudah mapan, yang pernah berkata padanya, “Kalau aku menikah nanti, Insya Allah penghasilanku cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku Mbak.”

Hanna kembali berpikir, andai saja waktu itu Mirza mengatakan, “Kalau aku menikah nanti, Insya Allah penghasilanku cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku dan bantu-bantu sedikit keluarga istri Mbak.” Mungkin ia tidak akan seragu ini. Masalahnya bukan pada Asa, tapi apakah Mirza bisa menjadi sosok yang tadi dikatakan Asa? Tapi ia semakin yakin pada keteguhan Mirza mencari seorang istri. Dan semakin yakin kalau Asa adalah orang yang tepat untuk Mirza. Setiap rizki manusia itu sudah ditetapkan oleh Allah. Dan bukankah pernikahan merupakan sebuah jalan pembuka pintu-pintu rizki yang masih tertutup? Ah, semua itu bisa ia bicarakan nanti dengan Mirza.

Hanna masih memikirkan bagaimana caranya mengutarakan keinginannya itu pada Asa. Memperkenalkan Asa dengan Mirza, dan membuat mereka bisa mewujudkan dan menyatukan impian mereka masing-masing dalam bingkai sebuah pernikahan.

“Ah, jodoh itu misterius. Andai saja pernikahan itu layaknya membeli permen di warung. Semudah merogoh uang di kantong dan semudah memakannya, pasti akan mudah juga menjawabnya, ‘Kapan nikah?’”

Pasar Minggu, 2012, 10.44 PM

Silahkan download versi e-book nya di Dialog Asa
Read More......

24 Februari 2012

Membangun Cinta

Sebenarnya jatuh cinta dengan lawan jenis itu hukumnya apa sih? Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia. Akan tetapi, cinta itu harus dijaga dan dilindungi dari kehinaan dan kekotoran. Cinta pada lawan jenis bukan sesuatu yang kotor. Bahkan ia sesuatu yang suci. Dan pernikahan adalah “bingkai” yang dapat menjaga kesucian itu. Cinta tidak haram dan tetap terjaga kesuciannya selama tidak menimbulkan kemaksiatan pada Allah. Inilah yang harus digarisbawahi karena seringkali dengan dalih cinta, namun menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan.

Pernikahan adalah solusi mutlak bagi dua insan yang tengah jatuh cinta. Tapi hal itu tidak terlepas dari kesiapan fisik, mental, dan materi dalam menuju gerbang pernikahan. Jika kedua belah pihak masing-masing sudah mapan dan siap, sebaiknya jangan pakai ditunda-tunda lagi sebab kebaikan haruslah disegerakan.

Seorang antropolog asal AS, Helen Fischer, menemukan kesimpulan yang amat “berani”. Setelah melakukan penelitian selama beberapa tahun, ia menyatakan bahwa cinta itu tak abadi. Daya tahan cinta hanya 4 tahun saja. Ia menemukan betapa kasus perceraian mencapai puncaknya ketika usia pernikahan mencapai usia 4 tahun. Kalaupun masa 4 tahun itu terlewati, kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kalau mau main hitung2 an, rasanya seru juga. Misal, masa pacaran telah dilalui 3 tahun, berarti kesempatan untuk bisa mempertahankan gelora cinta hanya ada di tahun pertama pernikahan. Lalu apa yang terjadi ketika masa pernikahan menginjak tahun kedua, ketiga, dan seterusnya? Cuma ada sisa-sisa / bahkan punah sama sekali. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengalami masa pacaran lebih dari 6 tahun?

Maka dari itu saya tekankan bagi mereka yang sudah mapan dan siap, bersegeralah untuk menikah dan jangan ditunda-tunda lagi. Hal ini untuk menghindari hilangnya gelora cinta bila yang dilakukan hanya pacaran bertahun-tahun tanpa ada realisasinya dalam wujud pernikahan. Makanya tak jarang orang-orang yang sudah melakukan pacaran selama bertahun-tahun, hubungan mereka kandas ditengah jalan karena mungkin dari masing2 mereka sudah jenuh dengan pasangannya (gelora cintanya sudah hilang) dan memutuskan untuk mencari pasangan yang lain.

Jadi, sebuah hubungan yang kebanyakan orang bilang adalah pacaran, jelas membutuhkan sekali sebuah komitmen. Dalam hal apa? Dalam hal menjaga hubungan itu agar tetap pada jalur yang benar. Hubungan itu sudah harus memiliki tujuan yang jelas dari awal. Bukan hanya untuk menikmati rasa manisnya saja saat bersama, tapi juga lebih memiliki tanggung jawab yang besar diantara kedua belah pihak agar kedua-duanya tidak merasa saling dirugikan.

Ayo, beranilah membangun cinta!!

Jangan hanya berani jatuh cinta!!


Tidaklah perlu kita menguji kedalaman cinta dengan pacaran bertahun-tahun, karena mengenal seseorang bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat dari itu, yaitu dengan cara ta’aruf (berkenalan secara syar’i). Kita juga tidak perlu menilai kecocokan dengan merelakan diri berpacaran bertahun-tahun karena saat ngobrol dalam sesi ta’aruf itu pun sudah bisa dikenali apakah kita cocok dengan si dia / tidak.

Hati yang kotor akan menyebabkan pemiliknya senantiasa berfikir kotor, bertindak kotor, berucap kotor, dan sebagainya yang serba kotor. Karena segala sesuatunya bersumber dari hati, maka apa-apa yang kita lakukan merupakan cerminan dari hati. Begitupun rasa cinta yang tumbuh dari hati. Jika diumbar dan diperturutkan, terlebih lagi bila ditujukan pada seseorang yang belum halal bagi kita, akan menimbulkan titik noda dan benih-benih kekotoran. Wajar jika Allah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan. Dan menjaganya sangatlah dianjurkan agar hati kita tetap terjaga.

Pembahasan ini menemukan kesimpulan yang mungkin sudah ditangkap oleh kita. Bahwa mencintai lawan jenis adalah hal yang wajar. Senang, suka, naksir, jatuh hati, jatuh cinta, atau apalah namanya adalah sebuah kewajaran. Ia akan menjadi ladang pahala bila ditindaklanjuti dan disemai dalam bingkai pernikahan. Namun, ia akan menjadi penghasil dosa yang luar biasa, manakala hanya dibingkai pacaran dan senang-senang saja. Bagi mereka yang sudah siap menikah, maka carilah cinta anda dan menangkan. Namun, bagi anda yang hanya ingin mencicipi rasanya di awal usia, sebaiknya pertimbangkan kembali niat anda. Karena sudah banyak yang capek dan kelelahan karenanya. Llelah, yang tak pernah disadarinya.....
Read More......

20 Februari 2012

Kita Semua Punya Potensi yang Sama Untuk Sukses

Suatu hari ada seorang pemuda mendatangi seorang ustadz. Pemuda itu mengeluh atas keadaan dirinya yang tidak sempurna menurutnya. Dulu, tuturnya, ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar, ia selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Ketika ia memasuki usia remaja, maka kepercayaan dirinya hilang dan kini ia tidak pernah lagi menjadi juara kelas dikelasnya. Dan hal itulah yang ia ceritakan pada sang ustadz.

Ustadz itu bertanya, “Memang apa yang membuatmu tidak percaya diri?” Pemuda itu menjawab, “Ada semacam tompel di wajah saya ustadz. Dan saya malu akan hal ini” Jawab pemuda tadi sambil membuka topi yang ia kenakan dan menyingkapkan sebagian rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Ya, memang benar. Tompel itu ada di sana, tepat berada di pipi kiri sebelah atas wajahnya.

Kemudian sang ustadz tersenyum simpul dan memberikan uang sepuluh ribuan kepadanya. “Untuk apa uang ini ustadz?” Tanya pemuda itu dengan penasaran. “Ambillah uang ini, dan pergilah ke ujung jalan sana. Di sana ada tempat untuk mencukur rambut. Cukurlah rambutmu semuanya.” Jawab sang ustadz dengan tenangnya. Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda tadi segera bertanya, “Maksud ustadz di gundul??” Sang ustadz hanya mengangguk sambil tersenyum. “Saya malu ustadz. Kalau rambut saya digundul, nanti tompel saya akan terlihat oleh semua orang. Saya malu ustadz.” Sahut pemuda tadi sambil menunduk lesu. Sang ustadz pun akhirnya angkat bicara, “Kalau begitu, saya tidak bisa membantumu.” Suara sang ustadz begitu tegasnya. “Kenapa ustadz?” Tanya pemuda tadi, terkejut. “Saya tidak bisa membantumu, karena kamu tidak mau membantu dirimu sendiri.”

Perkataan sang ustadz tadi rupanya begitu mengena di hati pemuda itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera mencukur rambutnya dan setelah itu ia kembali menemui sang ustadz, meskipun bisa diakui bahwa kepercayaan dirinya belum seratus persen tumbuh.

Setelah melihat pemuda tadi telah mencukur rambutnya sampai gundul, sang ustadz pun memutarkan sebuah film yang ada di laptopnya. Film itu berkisah tentang seorang pemuda juga. Namun bedanya, pemuda yang ada di film itu memiliki kekurangan fisik. Ia tak memiliki kedua lengan. Namun karena semangat dan perjuangannya, akhirnya dia bisa menunjukkan pada semua orang bahwa kekurangan yang ia miliki tidak menghalangi dia untuk meraih kesuksesan. Ia bisa menulis dan ia bisa melakukan berbagai hal layaknya orang normal pada umumnya. Namun hanya saja apa-apa yang ia lakukan bukan dengan menggunakan kedua lengannya karena memang ia tak punya itu.

Ya, kita sebagai manusia yang diberikan kesempurnaan fisik oleh Allah swt, terkadang sering melupakan hal itu. Kesempurnaan fisik yang kita peroleh adalah sebuah kelebihan yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh mereka yang tidak sempurna fisiknya. Namun mengapa kita terlalu sering mengabaikan kelebihan itu dan lebih sering larut dalam kekurangan yang ada pada diri kita.

Kita sering menangis dan bersedih ketika teman-teman kita mempunyai sepatu baru sementara kita tidak memilikinya. Namun di sisi lain, banyak orang-orang yang menangis atau mungkin menjerit dalam hatinya karena bukan hanya sepatu baru yang tidak mereka miliki, namun kaki pun mereka tidak punya. Lalu siapa kita bila dibandingkan dengan mereka?? Kita masih memiliki tangan, kaki, dan fisik yang sempurna, sementara di bagian bumi Allah yang lain, masih banyak saudara-saudara kita yang tidak memiliki apa yang kita miliki.

Mengapa kita sering fokus pada kekurangan yang kita miliki namun lalai terhadap kelebihan yang dianugerahkan Allah untuk kita. Dan karena kita sibuk dengan kekurangan yang kita miliki, akhirnya potensi kelebihan yang ada pada diri kita pun semakin lama semakin kandas karena kita sudah terlalu lama membiarkan kelebihan itu terpuruk dalam dunianya sendiri.

Seekor burung tidak dapat mengubah arah angin, namun ia bisa mengubah arah sayapnya sehingga ia bisa terbang dengan lincah di langit sana dan bisa mengikuti kemana arah angin membawa serta dirinya. Kita pun sama selaku manusia yang diberi kelebihan akal, pikiran, dan fisik yang sempurna dari kedua makhluk lain ciptaan-Nya yaitu tumbuhan dan hewan. Kita tidak bisa merubah ketentuan dan ketetapan Allah, namun kita bisa merubah nasib kita menjadi lebih baik.

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri”

Sukses bukan hanya diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, namun sukses juga bisa dilihat dari segi usaha kita mengendalikan hidup yang kita miliki ke arah yang lebih baik. Mulai sekarang, tanamkan keyakinan pada diri kita bahwa setiap kita adalah penting. Karena dari masing-masing kita mempunyai potensi dan kesempatan yang sama yang Allah berikan kepada seluruh hamba-Nya. Hanya tinggal kemauan kita saja, apakah akan memanfaatkan potensi yang ada, atau malah justru menyibukan diri dengan kekurangan yang kita miliki??

Minimalkan kekurangan diri, dan maksimalkanlah kelebihan diri. Sebab setiap kita, adalah PEMENANG!!!! Orang-orang yang kalah adalah mereka yang sudah merasa tidak mampu terlebih dahulu, sebelum mereka mau mencoba suatu hal. Dan orang-orang yang menang adalah mereka yang selalu yakin bahwa dirinya bisa dan yakin bahwa Allah selalu ada untuk hamba-Nya yang selalu mau berusaha.
Read More......

06 Februari 2012

Menginstall Cinta

Customer Service (CS): Ya, ada yang bisa saya bantu?

Pelanggan (P): Baik, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstall cintakasih. Bisakah Anda membantu saya menyelesaikan prosesnya?

CS: Ya, saya dapat membantu Anda. Anda siap melakukannya?

P: Baik, saya tidak mengerti secara teknis, tetapi saya siap untuk menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?

CS: Langkah pertama adalah membuka HATI Anda. Tahukah Anda dimana HATI Anda?

P: Ya, tapi ada banyak program yang sedang aktif. Apakah saya tetap bisa menginstalnya sementara program-program tersebut aktif?

CS: Program apa saja yang sedang aktif?

P: Sebentar, saya lihat dulu, program yang sedang aktif adalah SAKITHATI.EXE, MINDER.EXE, DENDAM.EXE, dan BENCI.COM.

CS: Tidak apa-apa. CINTA-KASIH akan menghapus SAKITHATI.EXE dari sistem operasi Anda. Program tersebut akan tetap ada dalam memori Anda, tetapi tidak lama karena akan tertimpa program lain. CINTA-KASIH akan menimpa MINDER.EXE dengan modul yang disebut PERCAYADIRI.EXE. Tetapi Anda harus mematikan BENCI.COM dan DENDAM.EXE. Program tersebut akan menyebabkan CINTA-KASIH tidak terinstal secara sempurna. Dapatkah Anda mematikannya?

P: Saya tidak tahu cara mematikannya. Dapatkah Anda memandu saya?

CS: Dengan senang hati. Gunakan Start menu dan aktifkan MEMAAFKAN.EXE, Aktifkan program ini sesering mungkin sampai BENCI.COM dan DENDAM.EXE terhapus.

P: Ok, sudah. CINTA-KASIH mulai terinstal secara otomatis. Apakah ini wajar?

CS: Ya. Anda akan menerima pesan bahwa CINTA-KASIH akan terus diinstal kembali dalam HATI Anda. Apakah Anda melihat pesan tersebut?

P: Ya. Apakah sudah terinstall?

CS: Ya, tapi ingat bahwa Anda hanya punya program dasarnya saja. Anda perlu mulai menghubungkan HATI yang lain untuk mengupgradenya.

P: Oops. Saya mendapat pesan error. Apa yang harus saya lakukan?

CS: Apa pesannya?

P: ERROR 523 – PROGRAM NOT RUN ON INTERNAL COMPONENT. Apa artinya?

CS: Jangan khawatir, itu masalah biasa. Artinya, program CINTA-KASIH diset untuk aktif di HATI eksternal tetapi belum bisa aktif dalam HATI internal Anda. Ini adalah salah satu kerumitan pemrograman, tetapi dalam istilah non-teknis ini berarti Anda harus men-”CINTA-KASIH”-i mesin Anda sendiri sebelum meni”CINTA-KASIH”-i orang lain.

P: Lalu apa yang harus saya lakukan?

CS: Dapatkah Anda klik pulldown direktori yang disebut ”PASRAH”?

P: Ya, sudah.

CS: Bagus. Pilih file-file berikut dan salin ke direktori ”MYHEART” MEMAAFKAN-DIRI-SENDIRI.DOC, dan MENYADARI KEKURANGAN.TXT, sistem akan menimpa file-file konflik dan mulai memperbaiki program-program yang salah. Anda juga perlu mengosongkan Recycle Bin untuk memastikan program-program yang salah tidak muncul kembali.

P: Sudah. Hei! HATI saya terisi file-file baru. SENYUM.MPG aktif di monitor saya dan menandakan bahwa DAMAI.EXE dan KEPUASAN.COM dicopy ke HATI. Apakah ini wajar?

CS: Kadang-kadang. Orang lain mungkin perlu waktu untuk mendowloadnya. Jadi, CINTA-KASIH telah terinstal dan aktif. Anda harus bisa menanganinya dari sini. Ada satu hal lagi yang penting.

P: Apa?

CS: CINTA-KASIH adalah freeware. Pastikan untuk memberikannya kepada orang lain yang Anda temui. Mereka akan share ke orang lain dan seterusnya sampai Anda akan menerimanya kembali.

(dikutip dari buku "Ya Allah, Aku Jatuh Cinta")
Read More......

01 Februari 2012

Karena Rejeki tak Pernah Salah Pintu

Di suatu pekan di pertengahan bulan Januari lalu, saya menyempatkan diri pergi ke pasar bersama Rizky untuk berbelanja sayuran. Kebetulan ibu saya juga berjualan sandal di sana, dan saya pun menyempatkan diri pula mampir ke tempat ibu saya berjualan. Jualan ibu saya memang hanya sandal-sandal kualitas kaki lima yang dijual dengan harga yang cukup murah, yang bisa dijangkau oleh semua kalangan. Jualan ibu saya pun tidak dengan jumlah yang sangat banyak, tapi paling tidak dari hasil jualan itu bisa cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan keluarga saya sehari-hari.

Pada kesempatan itu, saya juga melihat seorang penjual laki-laki tidak jauh dari tempat ibu saya berjualan yang juga berjualan sandal yang tidak jauh berbeda dengan ibu saya. Hanya saja yang membedakan ia dan ibu saya adalah barang-barang yang diperjual belikan sangat banyak, sehingga membuat ibu saya berbisik kalau barang dagangannya kalah saing oleh penjual laki-laki yang ada di dekatnya. Lanjutnya lagi, kebanyakan pembeli lebih memilih ke penjual itu ketimbang ibu saya karena mungkin pilihannya yang lebih banyak dan dengar-dengar harganya jauh lebih murah.

Sebagai seorang anak, mendengar ibu saya “mengeluh” seperti itu rasanya tidak tega juga. Sebab dengan melihat langsung ibu saya berjualan, saya jadi lebih tahu dan lebih mengerti bahwa mencari uang - apalagi dengan perjuangan ibu yang berjualan di pasar – sangatlah tidak mudah. Tidak jarang panas dan hujan menjadi pengiring perjuangannya demi menghidupi saya dan keluarga.

Cukup lama saya dan Rizky berdiam diri di tempat ibu saya berjualan. Sekedar menemani waktu senggangnya menunggu calon pembeli datang, meskipun kebanyakan dari mereka datang hanya untuk sekadar melihat, menawar, dan setelah itu pergi. Tidak jadi membeli. Dalam hati saya hanya bisa berdoa, semoga Allah masih berkenan mendatangkan pembeli untuk membeli jualan ibu saya. Meskipun tidak membeli banyak, tidak mengapa, asalkan bisa jadi “penglaris” untuk jualan ibu saya pagi itu. Dan Alhamdulillah doa saya dikabulkan Allah. Tak lama berselang pembeli pun datang. Ya sesuai dengan pinta saya, meskipun tidak membeli banyak, tetapi pembeli yang satu seolah menjadi “pemancing” pembeli yang selanjutnya untuk datang.

Dan setelah itu saya baru menyadari, bahwa setiap manusia memang memiliki rejekinya masing-masing. Rejeki itu pun akan datang sesuai dengan kadar usaha yang telah kita upayakan. Dan tampaknya, rejeki tidak jauh berbeda dengan ujian yang kita terima dari Allah. Karena sejatinya rejeki adalah ujian bagi kita. Apakah kita bisa mempergunakannya dengan baik atau tidak, semua itu tergantung dari penyikapan kita terhadap rejeki itu.

Allah punya alasan sendiri mengapa Ia tidak serta merta memberikan rejeki yang berlimpah ruah kepada kita, salah satunya adalah agar kita mau berusaha dalam setiap pencarian rejeki itu. Dan juga agar Allah bisa tahu seberapa besar kita dapat bersabar jika diberi rejeki sedikit dan seberapa besar kita dapat bersyukur jika diberi rejeki yang banyak. Mengapa Allah hanya menurunkan hujan air pada kita dan tidak pernah menurunkan hujan emas? Karena Ia tahu bahwa air bisa menyuburkan tanah yang gembur, dan ternyata begitu banyak manfaat yang dapat kita rasakan dari turunnya air hujan sehingga hal itu bisa memperpanjang usia rejeki kita.

Seperti halnya cobaan yang Allah berikan kepada kita, yang porsinya pasti berbeda-beda bagi setiap manusia, begitupun dengan rejeki. Allah pasti lebih tahu kadar kemampuan kita atas cobaan dan rejeki yang kita terima selama ini. Apakah yang membedakan gaji seorang staf dengan seorang direktur kalau bukan jabatannya? Sekali lagi, Allah hanya akan memberikan kita rejeki sesuai dengan usaha dan porsi kemampuan kita dalam pencapaian dan penerimaan rejeki itu.

Menilik dari pengalaman saya di atas, betapa saya sangat menyadari bahwa ternyata Allah tak pernah salah dalam memberikan pintu rejeki pada setiap hamba-Nya. Dan karena memang rejeki tak pernah salah pintu, makanya kita tidak boleh berputus asa dalam berusaha. Karena merujuk pada janji-Nya, bahwa manusia pasti akan mendapatkan apa yang diusahakannya sesuai dengan izinNya.

nb: makanan ini, aku buat dengan cinta untukmu Ma :)




Read More......

26 Januari 2012

Selamat Tinggal Ayah (Mengenang Almarhum Yusuf Sigit (2,5th), Korban Xenia Maut)

Ayah
terimakasih telah mengajakku ke Monas
aku belum pernah lihat Monas
senang sekali hatiku diajak ayah melihat Monas

Pagi itu aku digendong ibu
kita jalan bersama ayah, nenek dan bibi
pagi yang indah
cuaca pun cerah
kita berjalan bersama menuju Monas

Kita semua bahagia
jarang sekali kita bisa jalan-jalan seperti ini
ayah sibuk mencari nafkah
aku sudah lama rindu ayah

Ayah
tiba-tiba kita lihat mobil hitam itu
melayang dari depan
menggelinding menimpa kakak-kakak itu
lalu menimpa kita semua
aku pun terpental
terlepas dari pelukan ibu

Ayah
maafkan aku mendahuluimu
aku masih sangat ingin bersamamu
ingin bermain denganmu
ingin berlama-lama dalam pelukanmu
tapi Allah lebih menyayangiku
Allah menginginkanku pulang...

Ayah
terimakasih sudah berusaha keras menyelamatkanku
terimakasih sudah mencoba memberiku minum
terimakasih sudah memelukku dan menciumku
aku sayang ayah sampai kapanpun

Ayah
kita akan berjumpa kembali di alam yang jauh lebih baik daripada alam dunia

Sumber: http://www.populer.web.id/2012/01/selamat-tinggal-ayah-mengenang-almarhum.html

(Rizky, baik-baik di rumah ya sayang, jadi kangen :'( )
Read More......