26 Desember 2012

Postcardfiction : Titip Rindu di Baitullah

“Bu Abu baru pulang haji.”

Begitu perbincangan orang-orang siang ini. Pesta meriah dan arak-arakan dilakukan para tetangga untuk menyambut Bu Hj. Abu yang baru pulang dari tanah Mekkah. Seorang nenek dalam balutan kebaya menatapnya dengan air mata berlinang, “Seandainya aku bisa menunaikan ibadah haji juga….” Dialah enek. Setidaknya begitulah para tetangga memanggilnya. Singkatan dari kata nenek.

Enek baru saja pulang dari rumah Bu Hj. Abu. Air matanya sedikit meleleh saat menerima bingkisan sambil mendoakan semoga Bu Hj. Abu menjadi haji yang mabrur. Langkahnya semakin gontai saat mengingat Rafli, anak bungsunya yang sudah menabung dari hasil mengojeknya bertahun-tahun demi untuk memenuhi keinginan Enek pergi haji, namun harus kandas di tengah jalan lantaran uangnya terpakai untuk beberapa keperluan hidup yang semakin mendesak.

“Nek! Mampir dulu!” Seru Aisyah, seorang muslimah muda yang membuka warung kopi di samping rumahnya. Enek tersenyum lalu menghampiri.

“Dari rumah Bu Hj. Abu ya, Nek?” Tanya Asiyah sambil mempersilahkan enek duduk. Enek hanya mengangguk pelan. “Enek kenapa?” Tanya Aisyah kemudian.

Raut wajah Enek tampak berubah. Ia sadar bahwa kesedihannya telah membuat Aisyah bertanya-tanya. “Enek nggak kenapa-napa, Neng.”

“Enek nggak perlu bohong sama Aisyah.” Ucap Aisyah tiba-tiba seperti tahu isi hati Enek. “Bang Rafli sudah cerita semua pada Aisyah, kemarin...”

“Cerita ape, Neng?”

“Nek, pergi haji itu wajib bagi yang mampu. Jika kita belum mampu, tidak diwajibkan, kok. Allah lebih tahu isi hati setiap kita, Nek. Meskipun Enek belum pergi haji seperti kebanyakan orang, tapi insya Allah pahala Enek sama besarnya seperti haji mabrur, karena Enek telah ikhlas merawat kelima cucu Enek yang yatim piatu itu. Insya Allah kalau ada rejeki, Enek pasti bisa pergi haji.”

Seperti diketahui para tetangga, Enek memang seorang diri merawat kelima cucu yatim piatunya dengan ikhlas. Bukan perkara mudah baginya, tapi ketulusan hati Enek telah membuat semua ujian hidupnya terasa mudah di mata orang lain.

=================================================================================

inspired by a true story - 300 kata

20 Desember 2012

Postcardfiction : Tabir Kehidupan

“Belum cukup, Dik.” Seru Firman sambil memasukkan tumpukan rupiah ke dalam tasnya. Matanya sayu seperti tak punya harapan lagi. Sementara Aini hanya terdiam sambil mengelus rambut si kecil yang sudah tertidur.

Hari ini mereka baru saja melangsungkan pesta untuk merayakan khitanan Fajar. Semua tetangga, bahkan orang penting di daerahnyapun diundang. Padahal banyak yang tidak tahu, bahwa untuk makan saja mereka harus mengirit. Bahkan lampu yang menyala di rumahnya hanya yang ada di teras dan kamar. Tetangga tidak boleh tahu kalau mereka kekurangan, dan hal itu dilakukannya demi kehormatan keluarga besarnya.

18 Desember 2012

Postcardfiction : Rindu di Ujung Senja

Lelaki tua berpeci itu berdiri galau di hadapan jendela rumahnya. Tatapannya nanar seperti tengah menahan isak dalam diamnya. Hujan perlahan turun membasahi tanah minang yang ia cintai. Ia mendapati beberapa orang di luar sana berlari kecil demi menghindari terpaan hujan. Sesekali ia menatap tetangga depan rumahnya sibuk mengangkat jemuran yang sudah hampir kering.

Ia kembali teringat. Dulu, beberapa tahun sebelum kesedihan ini mengancam, ia dan istrinya sering mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Memasak, mencuci, sampai mengangkat jemuran seperti yang tetangganya lakukan, ia pernah lakukan juga bersama istrinya. Tapi kini yang dicintainya telah kembali ke pangkuan-Nya sejak berpuluh tahun silam.


30 November 2012

Surat terbuka untuk Pak Jokowi

Surat terbuka untuk Pak Jokowi. 
Mohon maaf bapak, tulisan ini saya ketik sekedarnya di wall fb saya. 

Saya mengikuti sepak terjang bapak, serta mengapresiasi kerja-kerja bapak. Selamat bekerja untuk Jakarta dan dukungan kami untuk semua. Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan, bahwa sejauh ini saya belum mendengar atau membaca langkah-langkah bapak untuk mengenforce peraturan-peraturan daerah yang pernah ada. 

Ya...ya..ya, bisa jadi ini masalah prioritas, atau masalah pendekatan. Tapi saya hanya ingin usul. 

27 November 2012

Dalam Rintik Hujan

Dalam rintik hujan, 
Bumi bersimbah deras akibat banjir yang tak kunjung reda 
Dalam rintik hujan, 
Mendung menggelayut syahdu bak liontin mewah merona jingga 
Dalam rintik hujan, 
Tangis menggigil sang bocah malang menahan haru lapar perutnya 
Dalam rintik hujan, 
Gadis manis tersenyum rinai menahan isak dalam pelukan sang hidung belang 
Dalam rintik hujan, 
Gerobak tua lusuh ditarik tertatih oleh hamba bernasib lara 
Dalam rintik hujan, 
Keangkuhan melanglang buana memuakkan seluruh isi jagat raya 

Dalam rintik hujan, dalam kuyup yang membasahi semua yang ada, 
Masihkah rasa peduli ada pada setiap kita? 
Agar tawar setiap luka, agar menjadi suka setiap duka 
Agar rindu kembali hadir, pada setiap jiwa yang tak lagi pungkir

"Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi"

2 Oktober 2012

Cari Tahu Tentang AIDS

Sebenarnya saya menulis postingan ini hanya untuk memenuhi persyaratan kuis yang diadakan oleh Mbak Rifka mengenai AIDS. Hanya perlu menjawab dua pertanyaan dengan cara mempostingnya di blog. Tapi kok ya ternyata baca sana baca sini mengenai AIDS, seru juga. Dalam arti, saya jadi tahu lebih banyak mengenai penyakit – yang menurut banyak orang – mematikan. Kenapa demikian? 

Menurut sebuah sumber yang saya baca (barusan :D), bahwa “UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah.” 

Hmm…. Agak khawatir juga sih. Lalu kemudian saya cari-cari lagi apa penyebab AIDS itu, dan ternyata dari sumber yang sama pula, saya dapat info kalau AIDS itu terjadi karena adanya sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Nah, saya juga kurang tahu apa penyebabnya sehingga system kekebalan tubuh itu sampai bisa terinfeksi virus HIV.

18 September 2012

A Simple Birthday for Riski

Alhamdulillah tanggal 14 September 2012 kemarin, jagoan kecilku, Riski, genap berusia 3 tahun. Senang rasanya bisa terus mendampinginya sampai saat ini. Meskipun memang tidak dengan cara yang maksimal tapi alhamdulillah kami bisa terus menikmati kebersamaan kami sampai detik ini.

Sore sepulang kerja, Riski dapat kejutan dari Teh Intan berupa kado istimewa.

Pada tanggal ia berulang tahun pun, sepulang kerja, sengaja saya langsung membuatkan kue panggang kurma untuknya. Tidak mewah memang, dan pastinya jauh dari kata sempurna, tapi alhamdulillah (lagi) ia suka, dan keluarga pun ikut menikmati. Saya sengaja membuat dua loyang panjang untuk dimakan oleh keluarga dan satu cup alumunium foil khusus untuk Riski.

14 September 2012

Happy Milad, Riski Sayang


..:: Catatan Perjalanan ke 3 th ::..

Riski sayang, tanpa terasa, sudah satu setengah tahun kau berada dalam penjagaan Bunda. Suka dan duka telah kita lewati bersama hingga menyisakan jejak-jejak kenangan dan pengalaman yang tak akan pernah Bunda lupakan seumur hidup.

Riski sayang, maafkan bunda ya jika selama kau berada di sisi Bunda, kau merasakan ketidaknyamanan atau ketidaksempurnaan Bunda memberikan kasih sayang seperti yang terdahulu Ibumu berikan. Saat ini, Bunda hanya mampu mengusahakan memberikan segala apa yang Bunda bisa berikan untukmu. Membahagiakanmu, walau tidak seperti yang orang tua lain berikan pada anak-anak mereka.

11 September 2012

MasterChef Oh...... MasterChef


gambar dipinjam dari blognya Dian MasterChef 2 (ternyata Dianita itu blogger jg loh :D)


Temans, ngacung ya bagi yang suka menyaksikan acara MasterChef Indonesia 2. Karena itu artinya sama dengan saya. asal kalian tahu saja ya, saya adalah salah satu dari ribuan mereka yang favorit sekali menyaksikan acara ini. Selain karena memang suka dengan kuliner, acara kompetisi masak memasak ini memang lebih “nampol” ketimbang kompetisi-kompetisi pada umumnya.

5 September 2012

Janji : Antara Loyalitas dan Prioritas


Hmm.....dalam kesempatan kali ini saya mau sedikit cerita tentang sebuah silaturrahim yang tertunda. Bagaimana bisa? Jadi ceritanya, sepekan setelah lebaran kemarin saya membuat rencana dengan teman-teman SLTP saya untuk bertemu di sebuah mall. Hanya pertemuan rutin yang memang biasa kami agendakan setiap habis idul fitri. Tapi rencana kali ini bisa saya katakan cukup gagal karena adanya kesalah pahaman dan miss communication.

29 Agustus 2012

Butiran Kisah Saat Ramadhan

Ah, masih dalam suasana Idul Fitri, perkenankan saya mengucapkan Taqabbalallohu minna waminkum, minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Semoga segala amal ibadah kita di bulan Ramadhan kemarin diterima ikhlas oleh Allah swt. Aamiin.

Sebelumnya saya minta maaf ya temans, mungkin bagi yang ‘ngeh’, memang saya adalah salah satu blogger yang benar-benar vacum beberapa waktu lalu. Mungkin juga hiatus terlama saya sejak mulai aktif ngeblog. Bukan tanpa alasan temans, tapi karena memang ada satu dan lain hal yang menyebabkan saya jadi ‘malas’ untuk menulis, a.k.a ngeblog.

Beberapa waktu lalu adalah tahun ajaran baru, dan bertepatan sekali dengan Abang Azmi (kakaknya Rizky) masuk SD. Saya jadi ikut-ikutan sibuk karena memang saya lah yang mengurus semua keperluan Abang Azmi sekolah. Apalagi pada saat dua hari pertama masuk sekolah, Azmi sakit. Dan hari-hari setelahnya? Adalah hari-hari terberat saya sebagai seorang ‘emak’ dadakan yang harus mengurus dua ‘anak’ laki-laki sekaligus. Azmi dan Rizky.

5 Juli 2012

Pilkada Jakarta 2012 : Mari Benahi Jakarta Bersama - Sama

Catatan Perjalanan Menuju Jakarta yang Lebih Baik

Tanpa terasa, ternyata sudah lima tahun berlalu sejak pemilihan gubernur dan wakil gubernur kota Jakarta tahun 2007 silam. Rasanya baru kemarin ikut berpartisipasi dan menyoblos salah satu calon gubernur dari dua calon yang ada pada saat itu, tapi nyatanya tinggal beberapa hari lagi warga Jakarta akan menghadapi satu momen yang sangat menentukan nasib kota Jakarta lima tahun ke depan. Mungkin sudah saatnya bagi warga Jakarta untuk mulai memikirkan siapa kira-kira cagub dan cawagub yang kelak pantas menyandang gelar gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Beberapa waktu terakhir ini sudah banyak bermunculan iklan-iklan, slogan-slogan, sampai kampanye akbar yang digelar calon-calon pemimpin Jakarta kelak, dari yang katanya bisa mengatasi banjir, macet, pengangguran, kemiskinan, berobat gratis, dan janji-janji lainnya yang entah apakah benar-benar bisa mereka tepati atau tidak jikalau kelak salah satu dari mereka diizinkan Allah memimpin kota Jakarta tercinta ini (pastinya pemimpin yang diridhoi Allah hanyalah pemimpin yang menang dengan cara yang jujur dan benar).

Terlepas dari siapakah orang yang kelak akan menjadi gubernur DKI Jakarta, sebagai warga Jakarta, mungkin sudah selayaknya kita tidak hanya menuntut (calon) gubernur yang akan datang untuk dapat membenahi kota Jakarta yang sudah sejak lama semrawut ini, tapi juga ikut berpartisipasi untuk ‘tidak’ melakukan hal-hal yang bisa membuat kota Jakarta ini semakin semrawut.

Katakan saja kota Jakarta ini adalah kota yang berlangganan dengan bencana banjir. Di mana setiap kali hujan turun sebentar saja, banjir langsung melanda kawasan-kawasan yang memang sudah rawan banjir. Hal itu tentu saja tidak akan bisa diselesaikan oleh seorang gubernur jika para warganya tidak mau bekerja sama dalam menanggulangi atau mencegah bencana banjir. Sebagai warga yang baik, kita bisa saja membantu pemerintah menanggulangi banjir dengan cara tidak membuang sampah sembarangan dan selalu membuang sampah pada tempatnya. Sekecil apapun sampah itu. Tidak melulu membuang sampah di kali atau di saluran pembuangan air yang pada akhirnya bisa membuat tempat-tempat itu tersumbat oleh sampah dan terjadilah banjir.



Untuk mengatasi kemacetan, mungkin kita bisa lebih disiplin saat berada di jalan raya. Dengan tidak mengambil jalur orang lain saat mengendarai kendaraan, atau taat pada jalur yang sudah ditetapkan. Bersabar sebentar saat berada di lampu merah, dan tidak menghentikan kendaraan umum di sembarang tempat. Sebagai warga yang cerdas, tentunya kita sudah bisa paham di mana-mana saja tempat yang menyebabkan macet saat kita menghentikan kendaraan umum, dan mana yang tidak membuat macet. Sudah seharusnya kita menyadari hal kecil yang berdampak besar itu terhadap kondisi Jakarta kita. Atau bisa juga mengurangi pemakaian kendaraan pribadi dan mulai beralih ke kendaraan umum.


Dan masih banyak lagi hal-hal (yang awalnya kecil bila dilakukan secara bersama-sama, disiplin, dan konsisten akan melahirkan sesuatu yang besar) yang masih dapat kita lakukan untuk merubah Jakarta menjadi lebih baik lagi. Jangan apatis pada sebuah kenyataan yang kelak akan dihadapi, sebab hanya usaha dan harapan yang kita miliki untuk merubah sesuatu menjadi lebih baik. Tentunya gunakan akal sehat dan nurani kita untuk menentukan piihan mana yang terbaik untuk Jakarta tercinta.

Pemilih cerdas akan memilih calon pemimpin yang cerdas, jujur, dan amanah. Yang tidak hanya banyak mengobral janji tapi juga mengajak seluruh warga Jakarta untuk bersama-sama membenahi Jakarta. Ayo Benahi Jakarta!!!

(Maaf, bukan bermaksud untuk kampanye, tapi slogan dengan kata-kata “Ayo” lebih mengena di hati saya. Sebab dengan kata “Ayo” itu artinya mengajak seluruh warga untuk dapat berpartisipasi menjadikan Jakarta menjadi kota yang indah dan asri. Sebab Jakarta bukan hanya menjadi tanggung jawab gubernur dan wakil gubernur saja, melainkan menjadi amanah bagi seluruh warga Jakarta.)

26 Juni 2012

Makna Senyum dalam Ketegasan

Kita hidup tidak harus selamanya tersenyum dan menghadapi segala sesuatunya dengan senyuman. Ada kalanya kita harus bersikap tegas. Berani berkata ‘ya’ atau ‘tidak’, serta ada saat-saat tertentu di mana kita harus memvonis. Ada saatnya kita harus menentukan pilihan yang serba sulit yang mengundang resiko yaitu mengorbankan alternatif yang lain, dan terkadang sampai mengorbankan perasaan kita sendiri. Mungkin saja selama ini kita selalu terbiasa memberikan kesempatan akan suatu hal untuk dapat selalu memahami, mengerti, dan memaafkan atas apa-apa yang tidak sejalan dengan nurani kita.

Sikap tegas bukan berarti marah. Sebab tegas dan marah tidaklah sama. Dalam ketegasan tidak diperkenankan adanya pihak yang merasa tertekan atau tersakiti. Melakukannya pun tidak dengan wajah yang geram. Harus selalu ada unsur keteduhan dalam pandangan ketegasan. Harus bisa, dan bahkan harus terselip makna senyum dalam sikap tegas itu. Makna senyum, dan bukan senyuman.

Ketegasan bukan berarti berkata kasar dan kotor. Seorang muslim tetaplah seorang yang harus bisa menjaga lidahnya. “Seorang mukmin itu tidak biasa mencela, bersumpah serapah, berkata kotor, dan berkata kasar.” (HR. Tirmidzi)

Sikap memvonis sangatlah perlu kita miliki dalam diri ini sebagaimana yang pernah diteladani Rasulullah saat menjewer Anas bin Malik. Ketika beliau menjumpai Anas yang tengah bermain dengan anak-anak seusianya padahal ia tengah disuruh ke pasar oleh Rasulullah, Rasul pun segera mendekatinya dan menjewer telinganya. Anas pun tidak menangis karena ia tahu hal itu bukanlah kebiasaan Rasul. Dan begitulah keteladanan yang telah diajarkan Rasul saat beliau merasa perlu untuk berbuat tegas.

Kadang kita tidak terbiasa bersikap tegas dengan dalih tidak ingin menyakiti perasaan orang lain atau karena merasa tidak enak. Padahal pemaknaan yang salah akan menyebabkan sikap yang salah pula.

Untuk mempunyai sikap tegas, berani berkata atau melakukan sesuatu demi kebaikan bersama, serta tega untuk memvonis pada saat yang tepat diperlukan sebuah latihan. Perasaan yang tertekan di awal latihan adalah hal biasa. Latihan menata kata agar tidak menyakiti, bahkan bisa mengalirkan ketentraman. Agar orang tidak menjauh sekedar mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut dan tulisan kita. Latihan menyampaikan kebenaran dengan cara dan niat yang benar. Sejak awal niat kita adalah menyampaikan kebenaran dan bukan untuk menyiksa perasaan, mengalahkan orang lain, menyebarkan aib, apalagi mengunggulkan diri sendiri.

Sikap tegas harus dilandasi ilmu dan dalil yang kuat dan akurat. Sebab hal ini adalah masalah yang riskan terhadap perpecahan. Sekali lagi ketegasan ini perlu dilatih terus hingga mencapai puncaknya seiring dengan senyum. Karena memang hidup ini tidak semuanya bisa selesai dengan senyum. Walau senyum juga adalah sedekah. Ada sisi kehidupan yang mau tidak mau harus diselesaikan dengan sikap tegas, tentunya dengan makna senyum dan kedamaian yang terselip di dalamnya.

24 Mei 2012

FOKUS

Sebelumnya kita buat kesepekatan dulu yah kalau yang dinamakan fokus adalah konsentrasi pada hal yang ada di hadapan kita. Setuju? Insya Allah setuju yah. Lalu bagaimana kalau yang ada di hadapan kita tidak hanya satu hal, tetapi lebih dari satu, dua, atau bahkan banyak? Apakah kita masih bisa fokus dan tetap bisa fokus pada semua hal itu? 

Belakangan ini, hal itulah yang kembali menjejali pikiran saya. Banyak hal yang begitu ingin saya lakukan. Alasannya mungkin sederhana, mumpung usia belum merangkak mendekati usia senja. Kalau kata Doraemon,”Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali.” Yah namanya juga manusia, pasti banyak maunya. Tapi rasanya sah-sah saja jika yang diinginkan itu masih dalam tahap yang wajar dan positif. Bukankah keinginan yang kuat itu adalah motivator terbesar bagi seseorang dalam meraih apa yang ia impikan?

Untuk saya pribadi, saya ingin sekali menjadi seorang penulis. Baik menulis fiksi maupun non fiksi. Intinya jadi seseorang yang karya-karyanya bisa dibaca banyak orang dan yang terpenting, bermanfaat. Sejak selesai sidang di kampus dan dinyatakan lulus beberapa waktu lalu, saya ingin lebih fokus di dunia menulis ini. Saya mulai menuangkan ide-ide tulisan yang sebelumnya hanya sibuk menjejali otak saya. Alhamdulillah sudah lahir beberapa cerpen dan novel mini yang belum lama ini saya ikut sertakan pada beberapa lomba dan kontes. Masalah hasil jelas saya prioritaskan. Mengapa? Karena jika hasilnya memuaskan (menang) itu artinya karya saya bisa diterima oleh khalayak ramai (meskipun mungkin tidak 100 %). Tapi yang menjadi orientasi saya adalah usaha dan kerja keras. Karena meskipun hasilnya belum sesuai dengan keinginan, paling tidak Allah masih melihat usaha dan jerih payah saya itu. Alhamdulillah sampai saat ini saya masih tetap fokus untuk hal itu, salah satu caranya dengan masuk sebuah forum kepenulisan baik offline maupun online, juga dengan cara banyak membaca contoh-contoh tulisan dari beberapa penulis. 

Tapi sayangnya, - entah ini baik atau tidak untuk kemajuan saya - melihat banyaknya peluang usaha di sekitar saya, ingin juga rasanya saya menjadi seorang wirausaha. Dulu sempat mencoba berjualan singkong keju di sekolah adik sepupu, tapi nihil. Hal itu hanya berlangsung satu hari. Waktu masih kuliah pun saya sempat memasarkan beberapa sandal jualan ibu saya pada teman-teman, tapi hasilnya masih sama. Melempem. Hanya berlangsung beberapa hari. Tapi saya tidak putus asa. 

Di satu kesempatan saya coba memasarkan bros-bros cantik pada teman-teman kuliah, tapi ya.....hasilnya sama saja. Hanya beberapa waktu saja benderangnya, setelah itu redup kembali. Beberapa waktu lalu pernah juga mencoba berjualan gorengan kecil-kecilan di sekolah adik sepupu juga. Istilahnya masih terus ingin mencoba mencari peruntungan di bidang ini. Dengan perjuangan yang tidak mudah, hal itu pun akhirnya hanya berlangsung satu hari juga. Dan setelah dipikir-pikir lagi, mungkin hal ini tidak berjalan lama karena saya kurang fokus pada kegiatan ini. Salah satu kendalanya mungkin juga karena saya kurang punya waktu luang untuk mengerjakan hal ini (karena saya juga masih harus fokus pada kerjaan di kantor dan juga mengajar sebagai pekerjaan sampingan saya), hingga pada akhirnya saya tidak jadi menggelutinya.

Dan........akhir-akhir ini saya mulai tertarik dengan bisnis pernak pernik dari flanel/felt. Sudah cari tutorialnya sana sini, tapi masih belum tahu kapan akan memulainya. Baru hanya tertarik saja. Masih pikir-pikir dan mempertimbangkan banyak hal. Apakah kali ini saya bisa fokus pada apa yang ingin saya jalankan, atau malah bernasib sama seperti usaha-usaha saya sebelumnya? Entahlah. Yang pasti saya tidak akan meninggalkan dunia tulis menulis. Meski impian menjadi seorang penulis belum terwujud, tapi harus tetap menulis. Sebab menulis, adalah berjuang :) 

Intinya fokus! Titik.

18 April 2012

Jangan Jadi Maling yang Teriak Maling

Jika membahas tentang kelakuan “bejat” beberapa petinggi negara kita, rasanya tidak akan pernah habis dibahas dalam kurun waktu yang tidak terhitung. Karena sejak dulu sampai saat ini pun berita-berita tentang perbuatan tercela pejabat-pejabat negara itu masih menjadi sarapan pagi, makan siang, makan malam, bahkan cemilan bagi rakyat Indonesia. Setiap mendengar ada anggota dewan atau pejabat yang melakukan tindak korupsi, rasanya kita sebagai rakyat ingin sekali menghujat dan menghujaninya dengan berbagai macam cacian dan makian. Rasanya tidak pernah habis rasa kesal ini jika dihadapkan dengan semua “permainan” pejabat culas itu.

Nah sekarang, tanpa mengesampingkan rasa kesal dan jengkel kita pada pejabat-pejabat culas itu, coba kita bercermin pada sebuah hati nurani, pernahkah kita tengok ke kedalaman hati kita, apakah kita sudah lebih baik dari apa yang pejabat-pejabat culas itu lakukan? Kita begitu kesal saat mendengar pejabat A, B, C, dan D melakukan korupsi sekian milyar. Kita selalu menganggap mereka seolah tidak punya hati saat memakan uang yang bukan hak mereka, tapi cobalah bertanya pada hati nurani kita sendiri, apakah ada yang bisa menjamin kalau kita tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan jika kita ada di posisi mereka? Apakah ada yang bisa menjamin kalau kita tidak akan khilaf saat melihat uang sekian milyar bahkan triliunan itu bisa menjadi peluang kita untuk berbuat korupsi? Siapakah yang bisa menjamin jika setan tidak akan membisikkan hal-hal buruk pada kita? Adakah???

Tanpa bermaksud untuk membela mereka yang bersalah – karena saya pun sangat benci pada koruptor – mungkin ada baiknya jika kita tengok lebih dalam dulu ke hati nurani kita, apakah perbuatan dan sikap yang kini menghiasi diri kita, sudah pada tahap yang lebih baik dari mereka? Mungkin intinya adalah introspeksi dulu terhadap diri sendiri, jika sudah merasa lebih baik, baru kita bisa “berteriak” maling pada maling-maling berdasi dan bersanggul itu.

Sepakatkah kita jika mengatakan kalau perbuatan korupsi dan mencuri itu adalah sama? Jika ada yang berbeda, mungkin hanya dari segi fisik, jumlah, dan nominalnya saja. Selebihnya adalah SAMA. Ya, sama karena sama-sama mengambil hak orang lain. Mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Lalu coba kita tanyakan lagi pada nurani kita, selama kita hidup, adakah kita terbebas dari perbuatan mencuri? Jika jawabannya ‘ya’, rasanya mustahil. Sebab saat kita bekerja pun, pasti ada saat-saat di mana kita bekerja tidak dengan baik. Menyia-nyiakan waktu dengan bermalas-malasan atau malah bolos bekerja. Apakah itu tidak bisa dibilang korupsi waktu jam kerja??

Contoh kecil lainnya saat kita sekolah dulu. Apa pernah selama bertahun-tahun sekolah itu, kita terbebas dari kegiatan mencontek, baik dari buku, catatan, teman, bahkan dari oknum guru sekalipun? Jika jawabannya ‘ya’ lagi, rasanya sangat-sangat mustahil. Sebab wajah dunia pendidikan kita dari dulu sampai sekarang sudah tercoreng dengan budaya mencontek yang rasanya sudah mengakar, mendarah daging, bahkan sudah menjadi habitual para peserta didik, baik di bangku SD, SLTP, SLTA, sampai kuliah. Apakah salah jika saya mengatakan hal itu juga merupakan perbuatan mencuri??

Saya yakin masih banyak lagi contoh-contoh kasus lainnya yang pada akhirnya membuat kita sadar bahwa ternyata kita pun tidak ada bedanya dengan pejabat-pejabat culas yang ada di negara kita ini. Jika ada yang merasa kesal dengan statement saya ini, saya mohon maaf. Tapi ada baiknya kita menyadari, bahwa perbuatan korupsi pun sebenarnya juga lahir dari sebuah perbuatan/kebiasaan mencuri hal-hal yang kecil dahulu. Seperti misalnya seseorang yang ingin sekali menjadi PNS, rela mengeluarkan uang berjuta-juta demi sebuah jabatan di lembaga pemerintahan. Yang menjadi permasalahan bukan pada uang sogokannya, tapi kepada cara yang sebenarnya haram, seolah menjadi halal dan wajar adanya, karena hampir semua pihak “membenarkan” hal ini (karena hal ini menguntungkan beberapa pihak yang terlibat). Bukankah ini pun bisa dikatakan sebagai tindakan mencuri? Ya, mencuri hak orang lain yang lebih berkompeten untuk bisa menempati jabatan tadi. Jika selanjutnya ia – pegawai yang menyogok tadi – meluapkan rasa kesalnya pada pejabat-pejabat yang melakukan korupsi, apakah tidak sama saja maling teriak maling???

Ah, jika mau membahas semua perbuatan yang sama saja kejinya dengan korupsi, rasanya di media ini tidak akan cukup. Polisi yang banyak menerima uang sogokan dari para pengendara yang kena tilang – dengan alasan damai – padahal baik si pengendara maupun polisi ya sama-sama salah. Masyarakat banyak menyalahkan polantas karena banyak memakan uang haram (uang damai hasil tilang), tapi pengendara pun kadang tidak tahu diri. Sudah tidak taat peraturan lalu lintas, malah memancing polisi untuk menerima uang damai.

Ada juga oknum guru yang memberikan kunci jawaban pada murid-muridnya pada saat Ujian Nasional – dengan dalih agar semua muridnya lulus – jelas merupakan sebuah perbuatan yang sebenarnya hal itu adalah cikal bakal terjadinya tindakan mencuri ataupun korupsi. Intinya karena mereka telah terbiasa dengan perbuatan-perbuatan tercela, yang sebenarnya haram, namun seolah halal dan sah-sah saja sebab banyak pihak yang mewajarkan dan melumrahkan hal tersebut. Dan secara tidak langsung pun “kita” ikut andil dalam membangun tatanan perusak moral itu jika kita sudah mulai membiasakan anak-anak, adik-adik, teman-teman, dan keluarga kita untuk berbuat yang tidak sesuai dengan peraturan, moral, norma, etika, apalagi Agama.

Jika kita terbiasa “mencuri” hal-hal kecil dalam keseharian kita, rasanya tidak perlu heran dan capek-capek berteriak maling pada pejabat-pejabat culas itu jika pada akhirnya mereka memakan uang rakyat, uang kita, uang yang bukan menjadi hak mereka, sedikit demi sedikit hingga menjadi bukit. Kekayaan berlimpah, namun dosa pun tumpah ruah.

11 April 2012

Sukses dalam Keterbatasan

Sejak divonis dokter bertahun-tahun lalu bahwa kedua kakinya harus diamputasi karena kecelakaan, Yusuf kecil sudah bertekad dalam hati kalau dia harus bisa sukses layaknya orang normal pada umumnya.

Dan setelah bertahun-tahun setelahnya, Yusuf kecil kini tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa yang bisa membuktikan pada dunia bahwa ternyata ia juga bisa sukses seperti apa yang ia tekadkan bertahun-tahun silam sejak hilangnya kedua kakinya.

“Apa yang membuat Anda tetap bersemangat dalam ketidaksempurnaan Anda ini?” Tanya seorang presenter TV dalam sebuah acara reality show.

Yusuf tersenyum sambil memandang wajah seorang perempuan berparas ayu, “Ibu.” Sekali lagi ia melempar senyum itu padanya.

“Sejak kecil, ibu selalu ada buat saya. Sejak saya tidak lagi memiliki kakipun, ibu masih tetap ada di samping saya. Saat ibu memasukkan saya ke TBI Depok, karena memang ibu tahu saya sangat suka dengan pelajaran Bahasa Inggris, maka saya memiliki cita-cita dalam hati, suatu saat saya pasti bisa sukses. Orang cacat, yang tidak hanya menjadi beban bagi sekitarnya, tapi bisa bermanfaat untuk orang banyak.”

“Lalu, apa yang melatarbelakangi Anda membuat novel berbahasa Inggris yang sangat best seller baik di dalam maupun luar negeri, bahkan sudah dicetak dalam beberapa bahasa di seluruh dunia?”

“Potensi menulis itu pun saya temui saat saya kursus di TBI. Ada satu guru yang selalu memberi saya semangat untuk menulis. Maka dari itu saya fokus dalam penulisan novel berbahasa Inggris agar ilmu yang saya dapatkan di TBI bisa tersalurkan dengan baik. Dan Alhamdulillah karya saya ini tidak hanya bisa dinikmati di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.”


Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Inspiring and Empowering through TBI, kerja sama Blogfam dan http://www.tbi.co.id

4 April 2012

Di TBI itu, Ada Sekuntum Mawar Untukmu

Waktu itu sudah lama sekali. Jika diingat-ingat, mungkin sudah sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, saat orang tuanya membawanya pergi jauh ke kota London, dan meninggalkan semua kenangan manisnya bersama teman-temannya di sekolah dan di TBI Cibubur kesayangannya.

Hari ini, kisah delapan tahun silam itu seolah kembali memberikannya sebuah kenangan manis akan persahabatannya yang indah saat berada di TBI.

“Ternyata kamu yang memberikan mawar-mawar itu buatku?” Tanya Sinta membuka kembali ingatannya tentang mawar-mawar putih yang selalu membuatnya penasaran beberapa hari ini. Perbincangannya dengan Randy sempat hening beberapa saat.

“Aku tidak pernah lupa mawar putih kesukaanmu,” Jawab Randy tenang. “Dulu saat di TBI, sudah sejak lama aku memperhatikanmu. Memperhatikan segala apa yang kamu suka. Aku selalu berusaha belajar dengan giat di TBI agar aku tidak tertinggal olehmu. Awalnya aku tidak suka dengan pelajaran bahasa Inggris, tapi setelah bertemu denganmu, aku jadi semakin bersemangat belajar bahasa Inggris. Untunglah Tuhan membertemukan kita di TBI.”

“Apa kamu menyukaiku?” Tanya Sinta tanpa banyak basa basi lagi. Mawar putih itu digenggamnya dengan erat dalam pelukan jari-jari mungilnya.

“Itulah sebabnya mengapa aku belajar sangat giat waktu di TBI. Apalagi saat tahu kamu akan pindah ke London, aku bertekad untuk bisa menguasai bahasa Inggris. Agar suatu saat nanti aku bisa menyusulmu ke sini, dan menyatakan apa yang tadi kamu tanyakan.”

Tiba-tiba kedua mata bening Sinta mengembun. Ia tersenyum.

Hyde Park sore itu seolah menjadi saksi bisu kebersamaan mereka sejak di TBI sampai di London. Mereka menghabiskan waktu mengelilingi Hyde Park sambil mengenang kebersamaan mereka saat di TBI.


Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Inspiring and Empowering through TBI, kerja sama Blogfam dan http://www.tbi.co.id

3 April 2012

Menikmati Takdir Secara Ikhlas

Tadi pagi, dalam sebuah angkot, karena saya hanya sendiri yg berstatus penumpang, waktu berhasil membuat saya kembali berpikir. Yang pada saat itu saya pikirkan adalah, saya hanya ingin dapatkan pekerjaan yang lebih baik dari segi penghasilan dan fleksibelitasnya. Yang saya pikirkan kala itu bukan karena saya serakah atau cinta pada dunia, tapi karena memang itulah satu-satunya jalan agar kehidupan saya dan keluarga bisa semakin membaik. Dengan penghasilan yang mencukupi, saya bisa membantu anak-anak Tante untuk tetap bersekolah dan mendapatkan hak yang memang seharusnya mereka dapatkan. Dengan penghasilan yang mencukupi, saya bisa membeli segala keperluan tanpa mengharap dari orang lain, dengan penghasilan yang mencukupi, saya bisa bersedekah pada orang yang membutuhkan, saya hanya ingin bisa lebih bermanfaat dengan segala apa yang saya punya.

Dan dalam pengandaian itu, saya kembali tersadar kalau semua itu membutuhkan proses. Saya kembali teringat pada Rizky, bocah mungilku. Terkadang saya suka membandingkan kehidupan Rizky dengan beberapa anak yang nasibnya hampir sama dengannya. Jika dibandingkan dengan mereka, rasanya beda sekali kondisi Rizky dengan anak-anak pada umumnya. Meskipun ada kesamaan di satu sisi, namun mereka memiliki keluarga yang selalu ada dan dapat mencukupi kebutuhan mereka dalam hal apapun. Sedangkan Rizky?

Ah, tapi rasanya tidak bijak bila harus membandingkan keadaan Rizky dengan anak lain. Saya rasa, Rizky pun juga sudah cukup bahagia dengan keadaannnya saat ini. Toh bocah mungilku itu belum bisa mengukur taraf kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun saya kembali tersadar, bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah pada saat kita bisa menikmati apa yang sudah kita dapat selama ini. Dan Rizky adalah buktinya. Meski tanpa seorang ibu di sisinya, meski keadaan keluarganya tidak seperti keluarga pada umumnya, namun ia tetap bisa tersenyum dan bergembira bisa hidup bersama saya dan keluarga. Bahkan mungkin satu hal yang saat ini ia inginkan hanyalah dapat selalu bersama saya untuk dapat selalu menjaganya. Saya bisa merasakan bila saya di dekatnya, ia begitu bahagia. Jadi, tampaknya tak ada sela untuknya memikirkan apakah ia bahagia atau tidak, karena yang ia tahu, ia cukup bahagia hidup bersama dengan saya.

Dan tadi pagi pun, saya sempat berpikir, baik cobaan maupun kenikmatan setiap orang itu berbeda-beda. Dan hanya Allah lah yang mengetahui seberapa besar kapasitas kemampuan kita dalam menghadapi cobaan dan kenikmatan itu. Apa yang kita rasakan saat ini merupakan takdir (hak prerogatif) yang telah Allah gariskan untuk kita dan keluarga. Kita sebagai manusia hanya cukup menerima takdir itu, menikmatinya, dan mensyukurinya.

Dan lagi-lagi, memilih untuk menikmatinya merupakan sebuah proses panjang yang tidak mudah untuk dilaksanakan kecuali dengan memilih ikhlas sebagai landasannya. Namun sebagai manusia, kita diwajibkan untuk berikhtiar mencari yang terbaik dalam pencapaian hidup. Karena ikhtiar merupakan proses untuk menuju kehidupan ke arah yang lebih baik. Takdir memang tidak bisa dirubah, namun usaha/ikhtiar dapat merubah nasib. Bukankah Allah pernah berfirman, bahwa Ia tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu mau merubah nasibnya sendiri. Dan di sinilah hal itu harus kita terapkan. Including me :)

29 Maret 2012

Narsis Rizky Eps. 2

video

Note:
- Usia Rizky saat ini sudah 2,5 tahun
- Sudah bisa bicara macam-macam kosakata dan sudah terbilang fasih di usianya sekarang
- Masih takut sama air
- BB nya sudah 14 kg
- Alhamdulillah sudah banyak makannya meskipun masih harus sering dibujuk dulu
- Kuat sekali minum susu
- Lagi keranjingan dengan permainan Angry Birds dan lagu Iwak Peyek versi Andre OVJ
- Selalu pakai sandal meskipun di dalam rumah
- Alhamdulillah sejak setengah tahun belakangan ini toilet training nya sudah berhasil, kalau mau buang air kecil selalu bilang, kecuali sedang tidur. Namun terkadang kalau tidur pun kerap kali dia tetap bangun dan membangunkan bundanya untuk diantar pipis
- Masih sering merengek minta ikut bila bunda pergi kerja
- Sudah mengenal dan bisa menyebutkan nama-nama hewan
- Melihat gayanya yang suka goyang dan nyanyi, sepertinya ada bakat untuk jadi anggata Child Band :D


22 Maret 2012

A Little Letter to Barzah

Assalamu’alaykum. Tante, apa kabar? Ah, rasanya retoris sekali yah kalau saat ini aku masih menanyakan kabarmu di sana. Karena aku yakin kau pasti selalu bahagia di tempatmu sekarang.

Tan, tiada terasa sudah satu tahun lamanya kau pergi meninggalkanku dan keluarga kita. Tanpamu di sisi kami, bilangan hari-hari kemarin rasanya masih sangat kelabu untuk kami jalani. Kalau boleh jujur, rasanya masih sangat tidak percaya kalau kini kau telah berpulang ke pangkuan-Nya. Namun karena kami berusaha beriman dengan segala takdir dan ketentuan-Nya, kami selalu mencoba untuk ikhlas melepas kepergianmu. Dan pada akhirnya kami mampu Tan. Meskipun ikhlas, bukan berarti kami lupa padamu. Bukan berarti kami lupa pada kakek dan Zaenab. Dan bukan berarti kami tak mengirimkan doa tulus untuk kalian bertiga. Sesungguhnya, di setiap hembusan nafasku selalu tercurah doa suci yang selalu kusampaikan pada Allah untuk kalian bertiga.

Ahhh.....Tante, setiap mengingatmu, entah mengapa rasanya aku selalu ingin menangis. Apalagi bila melihat Rizky, dan semua anak-anakmu. Tapi melihat anak-anakmu tumbuh besar dan ceria, ternyata mampu meghapuskan segala sedih dalam hatiku. Selama setahun kepergianmu, mereka tetap baik-baik saja Tan. Alhamdulillah Allah masih memberikan umur panjang dan kesehatan lahir batin padaku dan keluarga yang lain, khususnya Nenek. Aku selalu berharap agar Allah senantiasa memberikan kesehatan pada Nenek. Rasanya tak ada yang lebih berharga selain kesehatan Nenek. Sebab aku sangat membutuhkannya. Neneklah yang selalu ada untukku dalam merawat anak-anakmu. Aku sangat menyayanginya Tan..............
Ah......maafkan aku Tan. Aku tengah sibuk menyeka air mata yang entah mengapa tiba-tiba saja mengalir dari kedua mataku. Aku jadi begitu merindukanmu, hehehe. Oia Tan, aku ingin mengabarkan kalau saat ini, anak terkecilmu, Rizky, sudah semakin pintar. Ia kini semakin besar dan lucu. Sudah bisa bicara dengan fasih, bisa menyebutkan nama-nama binatang, buah-buahan, dan bernyanyi. Beratnya sudah 14 kg Tan. Sudah bisa berlari ke sana ke mari dan sudah bisa bermain bola bersama Azmi. Celoteh dan nyanyiannya setiap hari semakin membuatku bahagia. Rasanya tak ada yang lebih indah selain melihat tumbuh kembangnya dari hari ke hari. Ahh......Tante, andai kau bisa menyaksikan tumbuh kembangnya. Kini ia bahagia bersamaku Tan. Kau tak perlu cemas :-)

Tempo hari aku sudah mendaftarkan asuransi pendidikan untuknya di Takaful, namun ternyata aplikasiku ditolak karena ada kebijakan yang menidak bolehkan hubungan yang tidak sedarah untuk menjadi nasabah. Ah, aku jadi bingung Tan harus kemana lagi untuk mengasuransikan pendidikannya. Kepikiran juga untuk beli celengan, tapi hari gini pakai celengan???? Hehehe....

Biarlah hal itu kupikirkan nanti, sambil aku merajut asaku kembali. Menitikan jejakku langkah demi langkah, dan mengumpulkan kembali harapanku yang sempat hancur terhantam gelombang kekecewaan. Ah Tante, andai kau dapat melihat langsung perkembangan anak-anakmu, terutama Rizky, pasti kau tak kalah bahagianya denganku. Tapi aku yakin kau pun selalu mengamati mereka dari tempatmu sekarang.

Bahagialah selalu ya Tan. Kuharap doa yang kutitipkan pada Allah selalu sampai untukmu, kakek, dan Zaenab. Kusudahi dulu ya surat ini, karena Rizky sudah merengek minta ditemani tidur :-) Wassalamu’alaykum......

Nb: bersama surat ini, kutitipkan beberapa foto, semoga kau melihatnya.... :D








19 Maret 2012

"Angry Birds"

Begitu banyak permainan digital (digital game) yang kini marak digandrungi masyarakat. Salah satunya adalah “Angry Birds” yang belakangan ini menjadi salah satu icon yang menarik untuk dijadikan komoditi pasar. Karakter-karakter dalam permainan “Angry Birds” ini sudah banyak menghiasi pernak pernik sehari-hari seperti baju, tempat pensil, pulpen, sampai sandal. Angry Birds kini sudah memenuhi ruang pasar. Selain karena bentuk karakternya yang sangat unik, permainannya pun juga sangat menarik. Saya dan Rizky termasuk salah seorang yang menggandrungi permainan ini :D.

Setiap ada waktu luang, biasanya saya mencoba setiap level yang ada pada permainan Angry Birds ini, begitu juga dengan Rizky. Kami berdua sangat senang dengan karakter “Burung Bom” yang berwarna hitam.

Sejak menggandrunginya, saya sadari ternyata permainan ini banyak sekali memberikan saya pelajaran. Katakanlah, setiap kali memainkan permainan ini, saya dituntut untuk mengatur strategi dari setiap tantangan yang disuguhkan di setiap levelnya. Begitu juga dengan jumlah burung dan kemampuannya dalam menghancurkan kayu, besi, atau kaca yang melindungi musuh-musuhnya. Begitu juga dengan hidup ini.

Dalam setiap langkah dan pilihan hidup ini, kita pasti juga dituntut untuk mengatur strategi dengan cermat agar setiap kesempatan yang diberikan Allah tidak terbuang dengan sia-sia dan agar setiap tantangan yang kita hadapi bisa kita selesaikan dengan baik dan benar. Setiap tantangan di setiap level kehidupan kita pun juga tergantung dengan kadar kemampuan yang kita miliki.

Angry Birds secara tidak langsung telah mengajarkan saya agar tidak cepat putus asa dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan dalam setiap langkah dan pilihan hidup yang telah saya pilih dan Allah pilihkan. Bagi teman-teman yang juga keranjingan memainkan permainan ini, coba kalian amati dengan seksama, di setiap levelnya pasti permainan ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Begitu juga dengan setiap solusinya (macam-macam burungnya), pasti juga disesuaikan dengan setiap tantangan yang disuguhkan. Demikian pula dengan hidup.

Mustahil kalau kita tidak memiliki masalah atau ujian dalam hidup ini. Pasti tingkat kesulitan cobaan hidup pun juga berbeda-beda di setiap fasenya. Dan Allah pun pasti sudah tahu lebih dulu seberapa kita mampu dan sanggup untuk menyelesaikan masalah itu. Jangan pernah lupa juga bahwa di setiap cobaan yang kita hadapi, Allah pasti juga memberikan satu paket dengan solusi sesuai dengan kadar kemampuan kita.

Dalam menghadapi persoalan hidup pun, kita harus pandai-pandai mencari celah dan peluang, agar setiap langkah yang kita pijakkan tidak bernilai sia-sia. Harus selalu ada hasil yang dicapai agar hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin.

Namun ada satu perbedaan Angry Birds dengan kehidupan ini yang akhirnya saya sadari kembali, bahwa jika di permainan Angry Birds kita bisa mengulangi permainan jika kita mengalami kegagalan di masa sebelumnya, di permainan kehidupan nyata kita hanya bisa memperbaiki setiap kegagalan yang kita alami dan menjadikan kegagalan di masa lalu sebagai pelajaran berharga yang tidak boleh kita ulangi di masa depan. Juga sebagai pengalaman hidup bahwa setiap liku kehidupan ini pasti bisa kita atasi asalkan kita bisa mempelajari setiap medannya, siapkan strategi untuk menghadapinya, pergunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, cari peluang agar setiap langkah tidak bernilai sia-sia, agar apa yang kita lakukan bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa “naik” ke level berikutnya untuk menyelesaikan tantangan selanjutnya :)

12 Maret 2012

Cerpen : Dialog Asa

Asa masih membisu. Langkahnya yang semakin pelan, berbanding terbalik dengan pikirannya yang dipaksa untuk berpikir cermat. Menurutnya, pernikahan bukanlah hal yang mudah unttuk dibicarakan. Sebab bicara tentang menikah, bukan hanya bicara tentang personality saja, tapi juga tentang perasaan dan keadaan dua insan manusia. Baginya, menikah bukanlah seperti membeli permen di warung. Tidak semudah merogoh uang di kantong dan tidak semudah memakannya. Maka dari itu tidak mudah pula menjawab sebuah pertanyaan “Kapan menikah?” yang membuat hari-harinya semakin kelabu. Jika boleh jujur, wanita mana sih yang tidak ingin segera menikah? Mungkin hanya orang-orang bodoh yang tidak menginginkan pernikahan dalam hidupnya.

“Jadi, bagaimana kalau nanti kamu menikah?”

Kali ini pertanyaannya lain. Hanna yang melontarkan pertanyaan itu padanya. Di kesempatan yang jarang sekali mereka lewatkan bersama ini, Hanna sedang berusaha mengorek informasi dari Asa demi menjalankan sebuah misi rahasianya.

Asa tersenyum dalam langkahnya yang terhenti di depan sebuah rak buku-buku novel. Berusaha mengingat-ingat senyuman bocah mungilnya di rumah. “Pertama, sampai saat ini belum ketahuan siapa jodohku,” Ucap Asa tanpa mengarahkan pandangannya pada Hanna, “Kedua, karena aku tidak mau masalah ini terlalu dibawa pusing. Aku tidak mau menjadikan Kania sebagai beban.” Lanjutnya mengambang. Suaranya sedikit pelan namun seperti ada isak di ujung kalimatnya. Sementara di telinga Hanna, kalimat itu terdengar seperti sebuah harapan kalau suatu saat akan ada seorang laki-laki yang bersedia menerima dirinya dan Kania.

Asa hanya seorang wanita muda yang banyak memiliki cita-cita dan harapan. Sama seperti namanya, ia hanya ingin mewujudkan semua harapan-harapannya demi kebahagiaan diri dan keluarganya. Namun satu cobaan berat ternyata dihadiahi Allah padanya setahun yang lalu, saat kakak dan kakak iparnya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan meninggalkan seorang putri mungil yang kini berusia dua tahun. Dialah Kania, yang kini sudah menganggap Asa seperti ibu kandungnya sendiri.

Ratusan buku novel yang kini berjejer di rak-rak buku di hadapannya sedikit menyita perhatian Asa untuk melihat satu per satu isinya. Pikirannya sempat mengangkasa, kalau saja buku karyanya suatu saat nanti bisa menjadi salah satu buku best seller yang juga di pajang bersama buku-buku best seller lainnya, ah itu adalah salah satu impiannya. Masih sambil menggenggam dan membaca sinopsis salah satu novel terjemahan karya Beth Hoffman, ternyata hal itu membuat Hanna mencari cara lagi untuk kembali mengorek berbagai informasi tentang Asa. Sebelum pada akhirnya…..

“Aku tidak ingin menjadikan Kania sebagai kendala dalam hal ini.” Ucap Asa tiba-tiba seolah bisa mengeja pikiran Hanna barusan. “Sebab Kania adalah anugerah terindah almarhumah ibunya yang dititipkan Allah padaku. Kalaupun Allah memberikan izin untukku bertemu jodoh, pasti Allah akan memberiku yang terbaik. Aku hanya ingin memberikan kasih sayang yang utuh kepada Kania. Aku tidak tega jika melihat anak-anak lain mempunyai sosok yang bisa dipanggil ayah dan ibu, sedangkan Kania tidak. Bagi Kania, mungkin hanya aku yang bisa ia anggap sebagai seorang ibu. Hanya aku yang bisa ia cari saat ia bangun tidur, atau saat ia ingin mengadukan hal baru apapun yang ia lihat dalam kesehariannya.”

Asa kembali melangkahkan kakinya menyusuri rak-rak buku sambil jemari tangannya meraba beberapa cover buku lalu sesekali menariknya keluar rak dan membaca sinopsisnya. Hanna masih setia mengikuti aktivitas Asa di rak buku lainnya. Ada sesuatu yang dipikirkannya.

Setelah beberapa buku dibayar Asa di kasir, ia dan Hanna pun langsung menuju ke sebuah rumah makan khas Sunda yang ada di lantai yang sama dengan toko buku yang baru saja mereka tinggalkan. Setelah menemukan posisi yang nyaman mereka pun segera memesan makanan dan minuman. Salah satu buku yang tadi dibeli Asa agak merebut perhatiannya sehingga ia segera membuka plastik yang membungkus buku tersebut dan langsung membolak balikkan lembar demi lembar halamannya.

“Aku mengerti posisi dan keadaanmu Sa….” Ucap Hanna mencoba memberikan empati pada sahabatnya,”Tapi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri….”

Asa langsung melepas pandangannya dari buku yang dibacanya dan melirik Hanna. Tajam. Hanna pun langsung salah tingkah dibuatnya. “Maaf Sa, bukan maksudku menyinggung atau….”

Asa tersenyum dan mengangguk, ”Aku rasa kamu belum benar-benar mengerti keadaanku Han….”

“….”

“Awalnya, Kania mungkin memang menjadi sebuah ‘ganjalan’ untukku memikirkan masa depan. Namun seiring berjalannya waktu, kurasa Kania bukanlah sebuah kendala yang harus aku carikan solusinya. Karena jika memikirkan jodoh, insya Allah jodoh yang kelak dihadirkan Allah adalah jodoh yang terbaik untukku. Jika kelak aku bertemu dengannya namun ia keberatan dengan hadirnya Kania dalam kehidupan kami nantinya, mungkin aku akan lebih memilih untuk tidak melanjutkan lagi hubungan itu. Paling tidak sampai Kania bisa benar-benar mengerti dengan hal apapun yang dapat aku jelaskan padanya. Tapi untuk saat ini, Kanialah yang menjadi prioritas utamaku.

“Kurasa sama halnya seperti perasaanmu terhadap kedua anakmu. Meskipun Kania bukanlah darah dagingku, tapi aku menyayanginya layaknya kamu menyayangi anak-anakmu. Meski mungkin porsinya tidak sebesar yang kamu punya untuk anak-anakmu.”

Hanna kembali terdiam. Tampaknya dia sudah kehabisan kata-kata dan sedang kembali menyusun rangkaian kata berikutya. Sambil berpikir, mungkinkah memang dia tidak bisa mengerti posisi yang dialami Asa saat ini. Sehingga ia sampai melupakan bahwa kondisi Asa pun sama seperti kondisi ia sebagai seorang ibu. Sama-sama ingin memberikan kasih sayang moral dan akhlak yang tulus pada buah hati mereka masing-masing.


“Bukan bermaksud untuk mengesampingkan pentingnya sebuah pernikahan,” Lanjut Asa menutup buku yang dibacanya tadi. “Tapi karena sebelum jodoh datangpun, Kania telah lebih dulu mengisi seluruh ruang hatiku. Dialah yang bisa membuat aku tersenyum setiap waktunya, dialah yang bisa mencintaiku dengan sebegitu tulusnya, dan kami saling mencintai dalam konteks yang berbeda. Sebagai ibu dan anak.

“Menyayangi Kania layaknya anak sendiri memang tidak memberikan keuntungan materi apa-apa padaku, tapi hal itu menimbulkan sebuah rasa bahagia tersendiri di dalam hatiku. Jika aku selalu prihatin dengan kondisi anak-anak yatim piatu di luar sana, bagaimana mungkin aku tidak merasa prihatin dengan keadaan Kania? Terlebih lagi dia adalah keponakanku sendiri. Setidaknya hatiku terpanggil untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar prihatin. Yaitu memberikannya kasih sayang yang tidak sepenuhnya diberikan ibunya dulu.”

Mata Asa mengembun. Hanna melihat seperti ada butiran-butiran kristal halus yang membentuk gumpalan. Tangannya langsung menyodorkan sehelai tisu padanya.

“Aku tidak mengajukan banyak syarat pada ‘ia’ yang kelak akan datang sebagai jodoh untukku,” Lirih Asa sambil mengusapkan tisu tadi ke matanya yang sudah mengembun. “Jika kebanyakan tetangga berkata,’Wah tinggal cari bapaknya aja nih.’ padaku saat mengajak Kania bermain keluar rumah, aku tidak akan membuat ‘ia’ benar-benar menjadi ayah untuk Kania. Aku pun hanya ‘bunda-bundaan’ untuknya. Yang aku minta hanya, ‘ia’ bersedia menyayangi Kania layaknya ‘ia’ menaruh rasa prihatin pada anak-anak yatim piatu pada umumnya. Hanya itu. Kalaupun ‘ia’ tidak bisa menyayangi Kania layaknya anak sendiri, tidak masalah buatku. Asalkan ‘ia’ tetap mengizinkan aku membantu almarhumah Mbak Sanny untuk menjaga dan merawat Kania. Mengizinkan aku membantu beliau mengantarkan Kania sekolah, membantunya membesarkan Kania, paling tidak sampai Kania benar-benar mengerti kalau aku hanyalah tantenya. Aku tidak akan banyak menuntut apapun padanya atas Kania. Sebab Kania adalah tanggung jawabku dan keluargaku.”

Hanna mendengarkan Asa dengan seksama. Pikirannya semakin berkelana entah kemana. Kata demi kata pun sudah sangat baik dirangkainya di kepala untuk sekedar menguatkan dan menyemangati Asa, namun entah kenapa yang terlontar dari mulutnya bukanlah kata-kata yang dirangkainya tadi melainkan, “Lalu bagaimana jika kamu menikah dan punya anak? Bagaimana dengan Kania?”

Asa terdiam sambil melemparkan pandangannya ke luar. Sebelum sempat ia menjawab, seorang pelayan perempuan keburu datang membawakan pesanan mereka. Asa menjawab setelah pelayan itu pergi.

“Hah…” Asa menyandarkan tubuhnya, seolah hal itu dapat melepaskan sedikit kecemasan yang dirasakannya saat ini. “Itu adalah masalah yang tidak harus aku pusingkan sekarang Han. Toh jodoh pun belum aku temukan. Toh aku pun belum ada rencana menikah, meskipun keinginan itu ada. Tapi, jika aku pusingkan hal itu sekarang, bukankah hanya akan membuang-buang waktuku jika ternyata aku belum ditakdirkan menikah pada usia Kania yang baru menginjak 2,5 tahun? Hal itu bisa dipikirkan nanti saat waktunya memang sudah benar-benar tiba. Dan untuk saat ini, biarkan aku tetap fokus pada Kania dan segala macam kegiatan rutinitasku.”

Kembali Hanna hanya bisa terdiam. Selain mencermati setiap kalimat yang dijelaskan Asa, juga menyesali kebodohannya karena telah melontarkan pertanyaan itu pada Asa. Dan demi mencari pembenaran atas tindakannya itu, mungkin juga karena ia diburu-burui oleh misi yang saat ini tengah ia jalankan.

“Tapi pernyataan di atas kembali membuat aku mempunyai sebuah pemikiran Han...” Sambung Asa sambil mengaduk-aduk sedotan dalam gelas ice lemon tea nya, “Karena ternyata, logika kita dengan logika Allah itu sangat jauh berbeda. Perhitungan Allah dengan perhitungan kita itu berbeda. Kalaupun memang benar aku menikah dalam waktu dekat, dan timbul pertanyaan di atas, maka aku yakin hal itu bukanlah menjadi sebuah kendala yang besar. Sebab jika menurut logika manusia hal itu akan menjadi sebuah kendala yang besar, maka tidak bagi Allah. Sebab Allah memberikan kita masalah dan ujian pun pasti sudah melalui tahap perhitungan dan pertimbangan yang sangat matang. Karena sekali lagi, perhitungan Allah dengan perhitungan kita itu tidak sama. Jika Allah sudah memutuskan kita untuk menerima sebuah ujian, pasti Allah juga memberikannya satu paket dengan solusinya.

“Maka sekali lagi, aku tidak mau dipusingkan dengan hal-hal yang belum jelas kapan terjadinya. Karena hal itu hanya akan menghambatku untuk maju. Kalau aku dipusingkan dengan pertanyaan di atas, maka yang timbul adalah sebuah kasih sayang yang tidak tulus kepada Kania karena kekhawatiranku di masa depan. Padahal kapan terjadinya pun aku belum tahu.”

Asa menyelipkan sebuah senyuman di akhir ceritanya. Ia meminum sedikit ice lemon tea nya lalu menyantap makanan yang ada di hadapannya. Sambil menyantap juga makanannya, Hanna berpikir, apakah ia tidak salah memilih Asa? Apakah Asa adalah pilihannya yang tepat untuk Mirza? Adik iparnya yang pernah mendaulatnya untuk mencarikannya pasangan hidup. Seorang laki-laki dewasa yang sudah mapan, yang pernah berkata padanya, “Kalau aku menikah nanti, Insya Allah penghasilanku cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku Mbak.”

Hanna kembali berpikir, andai saja waktu itu Mirza mengatakan, “Kalau aku menikah nanti, Insya Allah penghasilanku cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku dan bantu-bantu sedikit keluarga istri Mbak.” Mungkin ia tidak akan seragu ini. Masalahnya bukan pada Asa, tapi apakah Mirza bisa menjadi sosok yang tadi dikatakan Asa? Tapi ia semakin yakin pada keteguhan Mirza mencari seorang istri. Dan semakin yakin kalau Asa adalah orang yang tepat untuk Mirza. Setiap rizki manusia itu sudah ditetapkan oleh Allah. Dan bukankah pernikahan merupakan sebuah jalan pembuka pintu-pintu rizki yang masih tertutup? Ah, semua itu bisa ia bicarakan nanti dengan Mirza.

Hanna masih memikirkan bagaimana caranya mengutarakan keinginannya itu pada Asa. Memperkenalkan Asa dengan Mirza, dan membuat mereka bisa mewujudkan dan menyatukan impian mereka masing-masing dalam bingkai sebuah pernikahan.

“Ah, jodoh itu misterius. Andai saja pernikahan itu layaknya membeli permen di warung. Semudah merogoh uang di kantong dan semudah memakannya, pasti akan mudah juga menjawabnya, ‘Kapan nikah?’”

Pasar Minggu, 2012, 10.44 PM

Silahkan download versi e-book nya di Dialog Asa

24 Februari 2012

Membangun Cinta

Sebenarnya jatuh cinta dengan lawan jenis itu hukumnya apa sih? Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia. Akan tetapi, cinta itu harus dijaga dan dilindungi dari kehinaan dan kekotoran. Cinta pada lawan jenis bukan sesuatu yang kotor. Bahkan ia sesuatu yang suci. Dan pernikahan adalah “bingkai” yang dapat menjaga kesucian itu. Cinta tidak haram dan tetap terjaga kesuciannya selama tidak menimbulkan kemaksiatan pada Allah. Inilah yang harus digarisbawahi karena seringkali dengan dalih cinta, namun menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan.

Pernikahan adalah solusi mutlak bagi dua insan yang tengah jatuh cinta. Tapi hal itu tidak terlepas dari kesiapan fisik, mental, dan materi dalam menuju gerbang pernikahan. Jika kedua belah pihak masing-masing sudah mapan dan siap, sebaiknya jangan pakai ditunda-tunda lagi sebab kebaikan haruslah disegerakan.

Seorang antropolog asal AS, Helen Fischer, menemukan kesimpulan yang amat “berani”. Setelah melakukan penelitian selama beberapa tahun, ia menyatakan bahwa cinta itu tak abadi. Daya tahan cinta hanya 4 tahun saja. Ia menemukan betapa kasus perceraian mencapai puncaknya ketika usia pernikahan mencapai usia 4 tahun. Kalaupun masa 4 tahun itu terlewati, kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kalau mau main hitung2 an, rasanya seru juga. Misal, masa pacaran telah dilalui 3 tahun, berarti kesempatan untuk bisa mempertahankan gelora cinta hanya ada di tahun pertama pernikahan. Lalu apa yang terjadi ketika masa pernikahan menginjak tahun kedua, ketiga, dan seterusnya? Cuma ada sisa-sisa / bahkan punah sama sekali. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengalami masa pacaran lebih dari 6 tahun?

Maka dari itu saya tekankan bagi mereka yang sudah mapan dan siap, bersegeralah untuk menikah dan jangan ditunda-tunda lagi. Hal ini untuk menghindari hilangnya gelora cinta bila yang dilakukan hanya pacaran bertahun-tahun tanpa ada realisasinya dalam wujud pernikahan. Makanya tak jarang orang-orang yang sudah melakukan pacaran selama bertahun-tahun, hubungan mereka kandas ditengah jalan karena mungkin dari masing2 mereka sudah jenuh dengan pasangannya (gelora cintanya sudah hilang) dan memutuskan untuk mencari pasangan yang lain.

Jadi, sebuah hubungan yang kebanyakan orang bilang adalah pacaran, jelas membutuhkan sekali sebuah komitmen. Dalam hal apa? Dalam hal menjaga hubungan itu agar tetap pada jalur yang benar. Hubungan itu sudah harus memiliki tujuan yang jelas dari awal. Bukan hanya untuk menikmati rasa manisnya saja saat bersama, tapi juga lebih memiliki tanggung jawab yang besar diantara kedua belah pihak agar kedua-duanya tidak merasa saling dirugikan.

Ayo, beranilah membangun cinta!!

Jangan hanya berani jatuh cinta!!


Tidaklah perlu kita menguji kedalaman cinta dengan pacaran bertahun-tahun, karena mengenal seseorang bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat dari itu, yaitu dengan cara ta’aruf (berkenalan secara syar’i). Kita juga tidak perlu menilai kecocokan dengan merelakan diri berpacaran bertahun-tahun karena saat ngobrol dalam sesi ta’aruf itu pun sudah bisa dikenali apakah kita cocok dengan si dia / tidak.

Hati yang kotor akan menyebabkan pemiliknya senantiasa berfikir kotor, bertindak kotor, berucap kotor, dan sebagainya yang serba kotor. Karena segala sesuatunya bersumber dari hati, maka apa-apa yang kita lakukan merupakan cerminan dari hati. Begitupun rasa cinta yang tumbuh dari hati. Jika diumbar dan diperturutkan, terlebih lagi bila ditujukan pada seseorang yang belum halal bagi kita, akan menimbulkan titik noda dan benih-benih kekotoran. Wajar jika Allah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan. Dan menjaganya sangatlah dianjurkan agar hati kita tetap terjaga.

Pembahasan ini menemukan kesimpulan yang mungkin sudah ditangkap oleh kita. Bahwa mencintai lawan jenis adalah hal yang wajar. Senang, suka, naksir, jatuh hati, jatuh cinta, atau apalah namanya adalah sebuah kewajaran. Ia akan menjadi ladang pahala bila ditindaklanjuti dan disemai dalam bingkai pernikahan. Namun, ia akan menjadi penghasil dosa yang luar biasa, manakala hanya dibingkai pacaran dan senang-senang saja. Bagi mereka yang sudah siap menikah, maka carilah cinta anda dan menangkan. Namun, bagi anda yang hanya ingin mencicipi rasanya di awal usia, sebaiknya pertimbangkan kembali niat anda. Karena sudah banyak yang capek dan kelelahan karenanya. Llelah, yang tak pernah disadarinya.....