20 Desember 2012

Postcardfiction : Tabir Kehidupan

“Belum cukup, Dik.” Seru Firman sambil memasukkan tumpukan rupiah ke dalam tasnya. Matanya sayu seperti tak punya harapan lagi. Sementara Aini hanya terdiam sambil mengelus rambut si kecil yang sudah tertidur.

Hari ini mereka baru saja melangsungkan pesta untuk merayakan khitanan Fajar. Semua tetangga, bahkan orang penting di daerahnyapun diundang. Padahal banyak yang tidak tahu, bahwa untuk makan saja mereka harus mengirit. Bahkan lampu yang menyala di rumahnya hanya yang ada di teras dan kamar. Tetangga tidak boleh tahu kalau mereka kekurangan, dan hal itu dilakukannya demi kehormatan keluarga besarnya.


Tak perlu orang tahu kalau Firman hanya bekerja sebagai office boy, yang penting berangkat pagi menggunakan jas, dan pulang dengan masih menggunakan jas rapi. Orang lain hanya tahu, keluarganya adalah orang yang berada dan tinggal di rumah mewah, padahal rumah itu hanyalah peninggalan turun temurun keluarganya. Hanya rumah itulah yang menjadi tabir untuk menutupi keadaan mereka yang sebenarnya.

Mata Aini berembun.

Beberapa hari kemudian
“Ada surat, Bang.” Ujar Aini sambil menyodorkan sebuah amplop pada Firman.
“Darimana?” Aini hanya mengangkat bahu, kemudian berlalu.

Firman penasaran. Pasalnya, sudah sejak lama sejak perusahaan tempatnya bekerja mengirimkan surat panggilan untuknya, tak pernah ada lagi surat yang mampir ke rumah mewahnya. Dan kini, ia begitu dikejutkan oleh selembar kertas yang ada di hadapannya.

“Dik!! Lihat ini!!” Seru Fiman dengan mata berkaca-kaca. Aini segera menghampiri, “Ada apa, Bang?”
“Lihat ini!!” Firman menyodorkan kertas tadi padanya. Ia segera bersujud sambil menangis. “Kau benar-benar memenangkan undian, Bang?” Tanya Aini hampir tidak percaya. Firman mengangguk. Ternyata sebelumnya ia pernah mengirimkan sebuah undian. Ia sempat lupa bahkan sudah tidak berharap kelak akan menang.

“Alhamdulillah, kalau begitu kita tidak jadi membuat alm. Bapak malu ya, Bang.”

Firman mengangguk lagi. Tampaknya Tuhan telah menjawab doanya. Sertifikat rumah yang sempat digadaikannya demi pesta khitanan Fajar, akhirnya bisa ia tebus kembali.

=================================================================================
- 297 kata -

4 komentar:

hana sugiharti mengatakan...

pemilihan katanya cantik banget :D

Cecep Y. Pramana mengatakan...

Pas sekali...

salam motivasi

alie raden mengatakan...

inspirasi mba

Obat Herbal Ace Maxs mengatakan...

Berbagi Kata Kata Motivasi
Jangan Pernah Menghitung Kerugian Karena Akan Membuat Kita Malas Untuk Membangun Kembali Usaha Yang Rugi Tersebut. Kerugian Cukup Sebagai Bahan Instropeksi Diri Agar Kita Tidak Jatuh Pada Lubang Yang Sama.moga bermanfaat salam kenal.