Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

16 Juni 2017

Setiap Anak itu Unik

Kemarin saya memenuhi undangan dari sekolah Riski untuk mengambil rapot. Biasalah ya namanya emak² pasti berbagi tanya, "gimana nilai A, B, C, dst?" mungkin untuk sekedar membandingkan nilai anak sendiri dengan nilai anak lain. Saya sendiri pun sebagai 'orang tua', jelas ada sedikit rasa 'gimanaa gitu' saat tahu nilai 'anak' sendiri lebih rendah dari nilai temannya. Beberapa orang tua ada yang mengeluhkan nilai anaknya yang turun, namun ada pula yang bersyukur karena nilai anaknya meningkat drastis. Sementara saya, masih gamang dengan sebuah map berwarna orange yang barusan saya terima dari bu guru cantik berjilbab abu-abu itu.

Saya gamang bukan karena nilai Fariski yang gimana-gimana, tapi saya bingung menanggapi mama-mama yang begitu antusias membicarakan nilai anak-anak mereka. Karena jujur saja, setiap kali pengalaman saya mengambil rapot (baik Fariski maupun abangnya), saya selalu merasa bahwa prestasi mereka bukan untuk dibanding-bandingkan dengan anak lainnya. Kalaupun saat ini Fariski mendapat nilai yang tertera di dalam rapotnya, meski memang ada peningkatan dari segi jumlah keseluruhan, namun nyatanya banyak pelajaran yang nilainya justru turun beberapa poin dari semester lalu, dan meningkat tajam di pelajaran tahfidz dan Al Qur'an, namun saya menganggapnya bahwa itu sudah merupakan sebuah prestasi yang luar biasa bagi saya.

Ya meski dalam hati kecil saya pribadi, ada sedikit rasa iri dengan teman-temannya yang bernilai lebih tinggi darinya hingga mereka mendapatkan semacam reward dari sekolah berupa voucher belanja, namun saya sadar, bahwa kemampuan setiap anak itu tidak bisa disamakan atau disama ratakan dengan kemampuan teman-temannya. Setiap anak itu unik, dan keunikan itulah yang membuat mereka bisa unggul di bidangnya masing-masing.

Saya bersyukur karena Fariski bisa menjadi salah satu anak yang (kata bu gurunya) bisa diterima oleh semua teman-temannya. Dia bisa menjadi anak yang berani dalam kurun waktu 1 tahun terakhir ini. Berani maju ke depan untuk azan dan berasmaul husna, juga rajin beribadah. Dia menjadi anak yang baik, penurut, dan periang di mana pun ia berada.

Dan ternyata, ada begitu banyak hal yang dapat saya syukuri dari Fariski, meskipun nilai akademiknya masih masuk dalam kategori cukup, namun dia telah membuat saya bangga menjadi 'ibu' baginya selama 6 tahun terakhir ini.

Semoga ke depannya saya bisa lebih baik lagi dalam membimbing dan membinanya. Aamiin

12 Juni 2017

Rasa Takut

Setiap orang, pasti memiliki rasa takut dalam hal apapun. Takut pada Allah, takut pada kegelapan, takut pada orang tua, takut dimarahi, takut menyakiti, dan lain sebagainya. Kecemasan dalam menghadapi sesuatu yang belum terjadi pun juga bisa disebut sebagai rasa takut. Kita sepakat, bahwa semua orang pasti memiliki rasa takut dalam dirinya terkait hal apapun.

Namun nyatanya, tidak semua orang mampu untuk mengendalikan dan mengelola rasa takutnya, sebagai bagian dari pengalaman dan proses yang pada akhirnya akan berlalu dan menjadi sebuah kenangan. Tidak semua orang mampu menghadapi rasa takut, sekalipun itu hanya sekedar pergi ke kamar mandi sendirian. Banyak bayangan-bayangan aneh yang menghantui diri kita hingga membuat kita kalah dengan rasa takut yang kita ciptakan sendiri.

Sebagai manusia, sebagai makhluk yang berakal, sebagai makhluk yang paling sempurna yang Allah ciptakan dibanding makhluk Allah lainnya, kita sudah sepatutnya mampu mengendalikan dan mengelola rasa takut yang kita miliki. Misalnya saja saat kita takut untuk tidur sendirian dalam keadaan lampu yang padam, karena berbagai bayang kemungkinan sudah berkelebat memenuhi pikiran kita, maka dengan akal yang sudah Allah karuniakan, kelolalah rasa takut itu dengan bijak. Kita bisa berdialog dengan diri kita sendiri, bahwa kegelapan bukanlah tempat di mana setan bersemayam untuk mengganggu istirahat malam kita. Kegelapan justru bagus untuk kesehatan kita, demikian yang saya pahami dari ajaran Rasulullah. Jika tidak percaya, bisa digoogling hadits terkait hal ini.

Dalam hal lainnya lagi, contoh kecilnya saja saat saya masih kuliah dan harus menyelesaikan tugas akhir. Di beberapa kesempatan saya harus bertemu dengan dosen pada waktu yang sebenarnya tidak saya inginkan: ya, pada saat dosen mengajar di kelas! Oh, jujur hal itu membuat saya takut. Saya tak pernah berani untuk masuk ke kelas menemui dosen di mana beliau sedang mengajar puluhan mahasiswa/i. Saya tidak percaya diri! Dan rasa itulah yang membuat saya menciptakan rasa takut dalam hati saya. Namun saya berpikir, kalau saya tidak bertemu dengan dosen ini, maka saya yang akan rugi karena tujuan saya bertemu beliau adalah untuk membantu saya menyelesaikan tugas akhir. Kalau saya terus-terusan sibuk dengan rasa takut saya, maka saya akan selamanya menjadi orang yang pengecut dan tak pernah berani mengambil keputusan di luar apa yang saya takuti. Saya terus menciptakan pikiran-pikiran positif untuk membunuh rasa takut saya. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk memberanikan diri bertemu dosen saat beliau mengajar. Meski dengan hati berdebar, meski timbul rasa tidak percaya diri yang memuncak, namun saya tetap melangkah maju. Dalam hati saya hanya satu: bertemu dosen hanya beberapa menit namun akan mampu mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Daripada saya mengikuti rasa takut saya dan memilih untuk tidak bertemu dengan dosen, maka saya pun harus siap menanggung perihnya kehilangan ilmu yang harusnya bisa saya dapatkan dalam waktu beberapa menit saja.

Dan, well done! I'm do it!
Saya mengalahkan rasa takut saya hanya dalam waktu beberapa menit saja! Setelah itu saya keluar kelas dengan penuh rasa bangga. Bukan hanya Karena ilmu yang saya dapatkan, tapi juga karena saya telah mampu mengelola rasa takut saya menjadi sebuah keberanian yang melahirkan sesuatu yang lebih baik untuk saya.

Dan lagi-lagi, saat saya memiliki masalah kesehatan di fase kehidupan saya, saya tidak mau memberitahukan hal ini pada siapapun. Kecuali dengan orang atau teman-teman yang berkompeten di bidangnya. Meski saya takut, meski saya tak pernah berani bagaimana menghadapi hari esok jika saya benar-benar sakit, tapi saya tidak mau kalah dulu dengan rasa takut yang saya ciptakan sendiri. Saya paling muak memanjakan rasa takut! Saya paling enggan berlama-lama bercengkrama dengannya! Maka dari itu, meski harus sendiri saya melewatinya, tidak ada yang menemani saat harus check up ke dokter, saya tetap teguh dengan pendirian saya. Saya harus berani! Saya ke dokter sendiri, periksa darah sendiri, rontgen sendiri, semuanya sendiri! Saya kalahkan rasa takut saya, di saat orang lain masih sibuk dengan ketakutannya dan harus ditemani oleh sahabat atau kerabatnya meski hanya sekedar periksa kandungan. Saya mengalahkan rasa takut saya, dan keberanian saya itu membuat saya lega karena dokter menyatakan bahwa saya baik-baik saja.

Ya, pada akhirnya, kita semua pasti memiliki rasa takut dalam hal apapun. Namun ternyata tidak semua orang mampu mengendalikan dan mengelola rasa takutnya secara bijak. Hanya orang-orang yang beranilah yang akan mampu mendapatkan sesuatu yang lebih baik saat mereka mau selangkah saja mengalahkan rasa takutnya. Tentunya ketakutan dalam hal yang bersifat personal demi mencari kebaikanlah, dan bukan memilih berani pada Allah, orang tua, dan suami hingga merasa betul saat harus menghilangkan rasa takut pada mereka.

Wallahu'alam.

DEWASA, ADALAH SEBUAH PILIHAN DAN KEBERANIAN

      Bagiku, berani dewasa bukanlah urusan usia – meski usia memang memiliki kontribusinya – tapi ini soal sikap. Soal keberanian memilih mana sesuatu yang terbaik dari berbagai pilihan yang ditawarkan hidup. Berani menjadi dewasa adalah pilihan hidup yang tidak sederhana. Sebab menjadi dewasa bukan semata karena usia yang semakin bertambah, ia lebih kepada berani mengambil keputusan sikap, sudut pandang, pola pikir, dan tindakan nyata yang didasarkan oleh kesadaran penuh.
Dan saat ini, aku tengah belajar untuk memahami semua itu...

5 Maret 2015

Penurunan Daya Ingat

Lagi.... dan lagi...

Ini untuk yang kedua kalinya saya mengalami pengalaman tidak mengenakkan saat berada di depan mesin ATM. Bukan, bukan karena tindakan orang yang tidak bertanggung jawab kepada saya, hanya saja... saya yang teramat ceroboh karena telah dua kali melakukan kesalahan yang sama. Yak, hari ini saya lupa mengeluarkan kartu ATM saya dari mesin ATM. Subhanallah, sebelumnya hal ini pernah saya lakukan juga beberapa tahun silam. Entah, apakah waktu itu saya juga menuliskan pengalaman ini di blog atau tidak, saya lupa. Yang pasti saya sudah dua kali melakukan kecerobohan ini. Sampai akhirnya mesin ATM itu berbunyi, dan alhamdulillah nya saya masih ada di lokasi Bank karena hendak menyetorkan uang juga pada teller. Mesin ATM itu berbunyi namun saya masih belum sadar bahwa bunyi itu menandakan bahwa kartu ATM saya masih ada di sana dan belum saya keluarkan.

Ya Allah, lemas sekali rasanya kaki saya kala itu. Membayangkan jika saya langsung bergegas pergi setelah dari ATM dan tidak mampir dulu ke teller, lalu ada oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan hal-hal yang tidak saya inginkan atas kartu ATM saya itu. Meski memang mesin itu pasti akan berbunyi jika kartu yang masih ada di dalamnya tidak diambil dalam waktu beberapa lama. Untung saja teller cantik yang melayani saya segera ngeh dan langsung menegur saya. Tapi karena bingung, saya masih belum sadar kalau saya memang belum mengeluarkan kartu ATM itu. Alhamdulillah Pak Satpam yang ada di sana begitu cekatan sehingga saat mesin ATM itu berbunyi, ia langsung berlari dan menekan tombol cancel, dan akhirnya kartu ATM saya bisa keluar tanpa harus tertelan di dalamnya. Saya mengucapkan terima kasih pada Pak Satpam lalu duduk termenung memkirkan apa yang barusan saja saya lakukan.

Sepanjang perjalanan pulang dari bank, saya terus memikirkan hal itu. Betapa ternyata, mungkin daya ingat saya sudah mulai menurun atau karena memang terlalu banyak to do list hari ini yang menyebabkan saya jadi kurang berkonsentrasi. Tapi paling tidak saya masih bisa bersyukur karena saya tidak harus pusing memikirkan kemana hilangnya kartu ATM saya. Mungkin juga karena masih rezeki, dan hal ini seharusnya bisa menjadi pelajaran yang sangat...sangat berharga buat saya, mengingat hal ini sudah dua kali saya alami.

Entah bagaimana caranya untuk bisa kembali meningkatkan daya ingat. Tapi selama ini saya selalu berusaha untuk senantiasa beristighfar. Sebab kalimat istighfar adalah kalimat permohonan ampun pada Allah Swt, senantiasa mengingat Ia kapan dan di mana pun, sehingga mudah-mudahan bisa membantu saya untuk terus mengingat hal-hal apa saja yang harus saya lakukan, kerjakan, dan segala amanah yang diberikan Allah pada saya.

Aamiin...

20 Desember 2013

HIATUS

Entah hiatus sampai kapan, tapi yang pasti saat ini saya sedang fokus dengan pengelolaan Online Shop jilbab yang baru saya buat. Bismillah, ini adalah resolusi awal saya di tahun 2013 yang baru bisa saya realisasikan di akhir tahun 2013. Tak mengapalah, karena lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali :)

28 November 2013

Selalu Salahkah Salah Jurusan?


Alhamdulillah tanggal 21 November 2013 kemarin saya sudah resmi diwisuda menjadi sarjana komputer, walau sesungguhnya nggak terlalu berkompeten juga pada jurusan yang saya pilih, tapi biarlah. Ini sudah menjadi pilihan hidup saya sejak empat tahun silam.

25 November 2013

Hamster's Baby


Beberapa saat yang lalu, adik-adik di rumah mendapatkan sepasang hamster dari saudara sepupu yang tinggal di Serpong. Mereka sangat gembira sekali. Setiap harinya hamster tersebut diberi makan sayur-sayuran. Sampai suatu ketika, si hamster betina melahirkan empat bayi hamster yang menggemaskan. Penampakan bayi hamsternya bisa dilihat di atas. lucu ya?

12 November 2013

Catatan Perjalanan

Tahun-tahun berlalu, berhasil menyisakan sebuah rasa yang agak sulit utk dijelaskan. Jika dulu, aku menganggap bahwa setiap fase kehidupan adalah wajar adanya, kini semua itu kurasakan sendiri. Tanpa terasa usia sudah hendak memasuki seperempat abad. Seperti berlari ke masa lalu, saat pertama kali membuat sebuah karangan tentang liburan di pantai semasa SD dulu, dan nyatanya kini sudah bertahun-tahun lalu hal itu kurasakan. Seperti merangkak membuka pintu lorong waktu, saat setiap malam selalu asyik menikmati tayangan sinetron bidadari dengan bintang utamanya Marshanda, dan nyatanya kini telah bertahun-tahun lalu pula sejak kuhafal soundtrack lagunya, dan Marshanda kecil itu kini telah menjadi seorang ibu muda. Seperti mengungkap tabir masa lalu saat pertama kali kaki ini memijakkan sekolah menengah pertamaku, bertemu teman-teman, bersenda gurau, setahun, dua tahun, dan tanpa terasa tiga tahun berlalu hingga akhirnya aku harus berpisah dengan mereka.

11 November 2013

'Mencambuk' Diri : No Excuse

Ah... Akhirnya menulis lagi setelah sekian lama vacum. Awalnya saya menganggap karena kesibukan ini dan itu yang akhirnya membuat saya hiatus, namun makin ke sini, dan setelah apa yang saya anggap kesibukan itu berlalu, kemalasan untuk menulis itu masih mengendap di diri saya. Dan pada akhirnya menimbulkan begitu banyak alasan saat diri ini ingin sekali memaksa untuk menulis. Seperti ada sosok berjubah hitam dengan tanduknya yang merah dan memegang tongkat panjang yang diam-diam mengendap dan menjalari diri saya kemudian berkata "loe tuh masih sibuk, jadi ga perlu nulis dulu". Dan parahnya saya membenarkan ketidak benaran itu. Saya jadi terlena oleh kesibukan yang saya ciptakan sendiri. Sibuk browsing tidak jelas, atau sekedar sibuk melamun dan memikirkan hal-hal kurang penting lainnya. 

5 September 2012

Janji : Antara Loyalitas dan Prioritas


Hmm.....dalam kesempatan kali ini saya mau sedikit cerita tentang sebuah silaturrahim yang tertunda. Bagaimana bisa? Jadi ceritanya, sepekan setelah lebaran kemarin saya membuat rencana dengan teman-teman SLTP saya untuk bertemu di sebuah mall. Hanya pertemuan rutin yang memang biasa kami agendakan setiap habis idul fitri. Tapi rencana kali ini bisa saya katakan cukup gagal karena adanya kesalah pahaman dan miss communication.

29 Agustus 2012

Butiran Kisah Saat Ramadhan

Ah, masih dalam suasana Idul Fitri, perkenankan saya mengucapkan Taqabbalallohu minna waminkum, minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir batin. Semoga segala amal ibadah kita di bulan Ramadhan kemarin diterima ikhlas oleh Allah swt. Aamiin.

Sebelumnya saya minta maaf ya temans, mungkin bagi yang ‘ngeh’, memang saya adalah salah satu blogger yang benar-benar vacum beberapa waktu lalu. Mungkin juga hiatus terlama saya sejak mulai aktif ngeblog. Bukan tanpa alasan temans, tapi karena memang ada satu dan lain hal yang menyebabkan saya jadi ‘malas’ untuk menulis, a.k.a ngeblog.

Beberapa waktu lalu adalah tahun ajaran baru, dan bertepatan sekali dengan Abang Azmi (kakaknya Rizky) masuk SD. Saya jadi ikut-ikutan sibuk karena memang saya lah yang mengurus semua keperluan Abang Azmi sekolah. Apalagi pada saat dua hari pertama masuk sekolah, Azmi sakit. Dan hari-hari setelahnya? Adalah hari-hari terberat saya sebagai seorang ‘emak’ dadakan yang harus mengurus dua ‘anak’ laki-laki sekaligus. Azmi dan Rizky.

24 Januari 2012

Iri yang Memotivasi Diri

Iri, menurut saya tidak selamanya memiliki konotasi negatif. Karena menurut saya ada dua macam iri, yaitu iri yang melahirkan dengki, dan iri yang melahirkan motivasi. Iri yang melahirkan dengki adalah iri yang menunjukkan seseorang kalau ia memang tidak mampu melakukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang lain. Ia hanya bisa menggerutu melihat orang lain berbahagia dengan kesuksesan mereka. Mungkin sifat iri yang seperti inilah yang banyak melanda kebanyakan masyarakat kita, yang pada akhirnya berujung pada permusuhan, perkelahian, dsb.

Namun ada juga iri yang tidak melahirkan dengki, melainkan motivasi. Untuk saya pribadi, jujur iri yang seperti ini sangat saya butuhkan untuk dapat bergerak maju menjadi sosok yang lebih baik lagi dari hari ke hari.

Jika di postingan sebelumnya saya pernah membahas tentang Mas Boim yang menjadi pengisi acara di Studium Generale FLP Jakarta tanggal 15 Januari 2012 lalu, maka kali ini saya ingin sedikit bercerita kembali, namun kali ini bukan tentang sosok yang lain, melainkan tentang kekaguman saya dengan sosok tersebut. Ya, beliau adalah Mbak Asma Nadia, yang juga menjadi pembicara pada acara tersebut. Ini adalah pengalaman pertama saya bertemu langsung dengan beliau. Kesan pertama yang saya tangkap dari pertemuan pertama kami adalah, beliau orang yang sangat tegas. Tercermin dari gaya bahasa dan cara bertutur yang beliau gunakan dalam acara tersebut.

Yang membuat saya kagum bukan hanya ketegasan beliau dalam menyampaikan materi tentang kepenulisan, tapi juga karena prestasi beliau yang menggunung. Sudah banyak karya yang beliau hasilkan, tidak hanya cerita-cerita fiksi melainkan merambah pula ke non fiksi. Puluhan buku sudah beliau telurkan dan yang paling mencengangkan, karena keputusannya memilih jalan menjadi seorang penulis itu, bisa mengantarkan beliau ke berbagai Negara. Jika tidak semua bisa dikatakan gratis, paling tidak kebanyakan dari perjalanan beliau itu gratis berkat karya-karya yang beliau hasilkan.

Berhenti sampai di sini, jika ingin membahas lebih banyak lagi tentang prestasi-prestasi beliau dari awal beliau merintis menjadi seorang penulis pemula sampai kini menjadi penulis idola, mungkin kita memiliki keterbatasan ruang dan waktu di media ini. Sekedar contoh saja, karya beliau dengan judul Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela yang diangkat ke layar lebar sukses besar di pasaran. Rasanya tak perlu pembahasan lagi, sebab kenyataan sudah memberikan bukti siapa Mbak Asma Nadia itu.

Mengenal sosok beliau, apalagi sampai bisa berbincang dan berpoto langsung dengannya merupakan kebanggaan tersendiri buat saya. Saya mengenal Mbak Asma dulu sekali lewat serial Aisyah Putri-nya yang sampai sekarang laku keras. Namun porsi kekaguman saya terhadap beliau selalu fluktuatif, artinya kagum saya hanya sekedar angin lalu saja, atau bahasa kerennya”angin-anginan”:D

Namun setelah Allah memberikan kesempatan saya bertemu langsung dengan beliau, rasa kagum saya semakin memuncak, apalagi saat saya mengetahui seabreg prestasi yang telah beliau raih, sampai klimaksnya, saya merasa sangat iri terhadapnya. Sampai dalam hati saya membatin, “Kapan ya saya bisa sesukses Mbak Asma?” Rasa iri itu mulai menjalari setiap syaraf dalam tubuh saya. Sejak saat itu saya mulai bertekad, “Suatu saat saya pasti bisa seperti Mbak Asma.” Dan mulai merancang masa depan dengan segala potensi yang saya miliki.

Di sinilah iri itu mulai berperan. Saya mulai merindukan aktivitas “menulis” yang belakangan ini saya kesampingkan dulu demi menyelesaikan tugas akhir kampus. Entah mengapa rasa rindu itu semakin menjadi dan rasanya akan segera meledak jika tidak segera direalisasikan. Dan saya kembali teringat dengan rasa iri saya kepada sosok-sosok lain yang juga memotivasi saya untuk bergerak ke arah yang lebih baik.

Saya iri dengan Pakde Cholik yang bisa menjadi seleb di dunia perblogan, saya iri dengan Mbak Fanny yang mempunyai ide-ide kreatif demi menelurkan ratusan cerpen yang berkualitas, saya iri dengan Teh Orin yang juga memiliki ide-ide tema tulisan yang bagus, iri pula dengan Mbak Elsa yang berani memilih menjadi seorang entrepreneur dan juga pandai menjahit, dan ke-iri-iri-an lainnya yang semakin membuat saya tidak betah lama-lama berpangku tangan tanpa menghasilkan sesuatu yang bisa menjadi kebanggaan.

Namun motivasi saja rasanya tidak cukup jika tanpa disertai tindakan yang positif. Sambil menyusun rencana untuk ke depannya, ternyata waktu kembali membawa saya pada sebuah pemikiran, yang semoga saja pemikiran ini bisa selalu memotivasi saya untuk menjadi pribadi yang bisa membanggakan.

“Bukankah mereka semua yang saya iri-kan tidak lantas menjadi sosok yang seperti sekarang ini? Bukankah mereka juga melewati proses yang tidak sebentar dan tidak mudah? Mbak Asma sendiri menghasilkan buku pertamanya di usianya yang ke 27 tahun. Hingga sekarang beliau bisa sesukses ini – paling tidak itu penilaian pribadi saya – memerlukan waktu hampir sepuluh tahun untuk dapat berkarya dan terus berkarya dan menghasilkan tulisan dari yang biasa hingga luar biasa. Bukankah itu merupakan sebuah pencapaian yang tidak mudah? Dan dari situ saya mulai belajar untuk dapat selalu menikmati proses yang ada demi mencapai apa yang saya cita-citakan.

“Jika ingin menghibur diri dan mencari pembenaran – meskipun menurut saya ini adalah pembenaran yang salah :D – bukankah saya masih punya waktu untuk dapat mewujudkan cita-cita saya? Jika Mbak Asma saja mengeluarkan buku pertamanya di usianya 27 tahun, bukankah saya masih punya waktu kurang lebih 4 tahun untuk dapat menuju ke arah sana? Toh usia saya belum sepenuhnya genap 23 tahun :D Ya meski memang tidak ada yang tahu sampai kapan kita bisa bertahan di dunia ini, tapi paling tidak hal itu bisa menjadi sebuah target untuk saya pribadi.

“Bukankah Pakde Cholik bisa menjadi selebblog di usianya yang tidak lagi muda? Bukankah Mbak Asma bisa meraih semua kesuksesannya di usianya yang hampir menginjak kepala empat? Bukankah mereka sudah melewati beberapa generasi hingga sampai di generasi saat ini? Bukankah generasi saat ini adalah generasi - yang menurut mereka - merupakan generasi yang akan datang di masa mereka dulu? :D”

Imam Syahid Hasan Al Bana pernah mengatakan, “Mimpimu hari ini adalah kenyataan esok hari. Kenyataan hari ini adalah mimpimu hari kemarin.” Jadi, “Jika saya tidak bisa menjadi kebanggaan untuk generasi saat ini, paling tidak saya akan berusaha agar bisa menjadi kebanggaan untuk generasi yang akan datang.”

Mbak Asma saat berbicara di hadapan para calon anggota FLP angkatan ke 16

Saya dan Mbak Asma


Buku "Emak Ingin Naik Haji" merupakan kumpulan cerpen Mbak Asma

Tanda tangan Mbak Asma di buku "Emak Ingin Naik Haji" yang saya beli

Teman-teman baru saya di FLP Jakarta

18 Januari 2012

Sebuah Cerita di Akhir Pekan

Tampak depan bangunan itu masih sama seperti dua tahun lalu saya kesana. Ornament klasik dan kesan tua yang ditimbulkan oleh bangunan itu membuatku tak ingin berlama-lama tinggal di luar dan ingin segera memasukinya dengan langkah yang pasti. Bangunan yang diberi nama Museum Bank Mandiri itu adalah tempat sebuah acara yang saya hadiri tepat di akhir pekan kemarin dalam acara Studium Generale FLP Jakarta angkatan ke 16.

Dalam acara itu, saya sudah mengetahui bahwa akan hadir dua orang penulis terkenal yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, terutama bagi mereka yang "doyan" baca. Mereka adalah Mas Boim Lebon dan Mbak Asma Nadia. Seiring waktu berlalu, saya yang pada kesempatan itu hanya datang sendirian saja, sudah mulai merasa nyaman berada di tengah-tengah komunitas baru. Bertemu dengan wajah-wajah baru dan berkenalan dengan teman-teman baru.

Sesi pertama diisi oleh Mas Taufan E. Prast selaku moderator dan Mas Boim Lebon sebagai pembicara. Oia, sedikit informasi, Mas Boim Lebon adalah penulis buku serial Lupus bersama temannya Hilman. Beliau mengawali perbincangan saat itu dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Nama asli beliau adalah Sudiyanto bin Pandi bin Karyokromo. Entah karena apa sehingga teman-temannya memanggilnya dengan sebutan “Boim”. Menurut penuturan beliau kala itu, nama Boim merupakan singkatan yang artinya bocah imut. Hehehe…entah filosofi darimana sehingga beliau dijuluki si Bocah Imut. Namun “Imut” nya pun merupakan singkatan yaitu “Item Mutlak”. Hahaha….saat beliau berucap seperti itu, sontak semua peserta yang hadir kala itu tertawa berjamaah. Ya, kalau “Imut” nya memiliki singkatan seperti itu, saya mulai setuju dengan singkatan “Bocah Imut” untuk Mas Boim, karena itu bukan merupakan sebuah fitnah :D

Masih dengan kisah yang sama, Mas Boim menuturkan bahwa yang mempunyai ide membuat buku Lupus adalah Hilman, teman semasa SMA nya dulu. Mas Hilman selalu mengamati tingkah polah teman-temannya hingga akhirnya terbentuklah beberapa tokoh karakter dalam serial Lupus-nya yang memang beliau angkat dari karakter-karakter para sahabatnya. Yaitu Boim dan Gusur.

Mas Boim menjelaskan, bahwa kenapa tokoh Boim dalam kisah Lupus dibuat sedemikian rupa sehingga membuat karakter Boim sangat melegenda di kalangan para cewe-cewe pada masa itu, sebab menurut penjelasan Mas Boim, dulu beliau adalah seorang playboy cap Duren Tiga. Mengapa demikian? Begini menurut penjelasan beliau. Biasanya, seorang playboy itu identik dengan wajah yang tampan, tubuh yang tegap, intelektual yang tinggi, dsb. Namun kala itu, Mas Boim ingin menunjukkan bahwa seorang “Bocah Imut” seperti beliau pun bisa menjadi playboy. Dan ternyata terbukti bahwa beliau bisa!! Ya, bisa kena malu!! Karena setiap kali ‘nembak’ cewe selalu ditolak!! Hahaha…..sekali lagi kami tertawa mendengar Mas Boim bertutur seperti itu. Dan kenapa dikatakan playboy cap Duren Tiga?? Karena pada masa itu, Mas Boim selalu membawa korek api batangan yang bercap Duren Tiga :D

Meskipun demikian, Mas Boim tak pernah patah arang. Beliau selalu ingin menunjukkan bahwa dirinyapun bisa menjadi idaman para cewe-cewe di sekolahnya. Kemarinpun, Mas Boim mengaku bahwa dirinya memang selalu dikejar-kejar wanita. Pada saat itu kami belum bisa menebak mengapa beliau berkata seperti itu. Sampai akhirnya beliau melanjutkan ucapannya, bahwa beliau dikejar-kejar oleh wanita yang matanya somplak, yang agak-agak “miring”, dan tidak waras. Hahaha kami terus saja tertawa dibuatnya. Tidak sampai di situ, Mas Boim juga mengaku, dahulu kala pernah berusaha nembak cewek, tapi Mas Boim tidak pernah merasa aneh jika semua cewek yang ditembak selalu menolaknya. Beliau mencontohkan, "Hai Sinta, aku suka nih sama kamu. Kamu mau ga jadi pacarku?" Sinta menjawab, "Duh, maaf ya…..", "Oh, ga papa, saya udah tau kok jawabannya. Kamu nolak saya kan? Hal yang wajar kok buat saya. Kalo kamu terima saya tuh baru namanya gak wajar." Hahaha….Mas Boim….Mas Boim…

Udah gitu kata Mas Boim, setiap kali beliau berusaha nembak cewe, pasti yang nolak dua orang. Kenapa? Karena setiap kali dia baru mengutarakan keinginannya, pasti teman si cewek udah bilang gini, "Jangan mau sama dia…." Hehehe. Lalu setiap perempuan di sekolahnya yang pernah beliau 'tembak' ujung-ujungnya pasti menjadi wanita shalihah. Kenapa pulak? Karena setiap kali cewek itu di 'tembak' beliau, pasti teman si cewek bilang gini juga, "Makanya, elu sih jarang ngaji, jarang sholat, jadi banyak setan yang deketin tuh." Trus kata si cewek, "Iya deh, mulai besok gw bakal rajin sholat ama ngaji…" :D Mas Boim juga bilang, katanya kalo beliau lewat di depan cewek-cewek, pasti mereka pada berta'awudz dan beristighfar (Hahaha entah ini kisah nyata atau bukan ya? :D)

Jaman dulu, Mas Boim juga pernah buat geng loh, namanya Kabel. Ada singkatannya tuh, yaitu Geng Kelompok Anak Belakang. Senangnya duduk di belakang, karena setiap guru bertanya, yang ditanya adalah anak-anak yang ada di depan dan tengah, jarang si guru bertanya ke anak-anak yang ada di belakang. Baru mengacungkan jari, si anak depan udah jawab, baru mengacungkan jari, si Guru udah nyuruh anak depan menjawab. Selain itu, nama geng beliau adalah Arel Sodik. Maksudnya, Anak Rel Sonoan Dikit :D

Lanjut ke kisah Gusur. Pemuda bertubuh tambun ini sangat suka berpuitis. Kemarin, Mas Boim mencontohkan bagaimana kala si Gusur selalu menerapkan sifat puitisnya setiap saat, kapanpun dan dimanapun.

Teman A : Mau kemana lu Sur?
Gusur : Wahai kawanku, kala matahari sudah nampak di atas sana, sesungguhnya aku ingin ke kantin (hehehe)
Teman : #@%^**(%^%

Teman B : Eh Sur, mau kemana Lu?
Gusur : Wahai sahabatku, bukankah tadi sudah kukatakan bahwa aku ingin ke kantin (guling2 =)))

Mas Boim kembali mencontohkan bagaimana kalau Gusur berinteraksi dengan istrinya,

Gusur : Duhai istriku, apakah gerangan yang akan kau masak? Bisakah kau menyatukan hijau dedaunan itu dengan indahnya warna keemasan dari sinar matahari yang bersinar cerah? Yang bersatu dalam senada beningnya air kesejukan? (intinya mah minta bikinin sayur bayem campur jagung manis, dan kami tak bisa menahan tawa :D)
Istri : Ngomong apaan sih?? @%$^&

Pernah di satu kesempatan, Mas Boim dan Gusur pergi ke kantin bersama. Kala si Gusur menghampiri tukang somay, si tukang berkata, “Maaf, somay udah abis”. Dan kala ia menghampiri tukang mie ayam, si tukang berkata,”Maaf, saya udah mau tutup.” Hehehe para penjual itu hanya tidak ingin si Gusur memesan makanan mereka dengan gayanya yang puitis sebab itu akan memperlama kerjaan mereka :D

Hanya satu yang Mas Boim harap, Gusur tidak memakai sifat kepuitisannya pada saat terjadi bencana. Kemarin, Mas Boim mencontohkan bagaimana kalau misal Gusur berpuitisasi pada saat bencana. “Wahai kalian, ombak bergulung-gulung di lautan, gunung terguncang tidak karuan, petir menggelegar bak rayuan malam, cepatlah menghindar karena….." belum selesai cerita Mas Boim, tapi kami semua sudah dibuat ngakak tingkat nasional.

Kembali ke kehidupan Mas Boim yang tidak tahu kenapa, akhirnya kini beliau menemukan potensinya pada dunia tulis menulis. Dulu, jauh sebelum mengenal potensi kepenulisannya, beliau sempat mencari-cari di mana potensinya hilang. Mungkinkah digondol kucing garong? Atau dibawa lari tikus got? Atau dimakan tokek belang? Atau disembunyikan oleh kadal buntung? Beliau berusaha mencari ke pantai, hutan, dan lautan, tetap tidak beliau temukan. (lebay :D)

Awal mula beliau mencari potensi dirinya, beliau menuturkan kalau beliau pernah mengikuti ekskul bola basket. Hanya saja hal itu tidak berlangsung lama, dalam penjelasannya, kata beliau, setiap kali beliau bermain basket, "Nggak pernah dapet bola!!" hahaha ya jelas aja, orang yang lain tinggi-tinggi, sedangkan Mas Boim?? Ups… :D "Akhirnya…." Lanjut beliau, "Pada saat bola datang, saya cuekin aja." Dia bilang, "Tadi pas gue kejar-kejar lu gak mau nyamperin, sekarang giliran gue diem, lu kejar-kejar…" Tawa itu lepas kembali dari sangkarnya……

Merasa tidak menemukan potensinya di bidang olahraga, Mas Boim banting setir menjadi anggota pecinta alam. Kebiasaan mereka adalah "Naik Gunung". Namun sayang, belum juga sampai ke puncak, Mas Boim sudah kehabisan nafas dan pada akhirnya gugur di tengah jalan. Kalaupun naik gunung, kata beliau pernah, yaitu Gunung Sahari, hahaha. Kami tak hentinya tertawa.

Setelah merasa buntu menggeluti bidang olahraga dan pecinta alam, akhirnya Mas Boim pindah jalur. Kali ini lebih ekstrim, mencoba peruntungan menjadi model!! Wuisss…..beliaupun akhirnya mengirimkan biodata serta pas foto tampak depan, belakang, dan samping kanan kiri. Setelah menunggu sehari, sepekan, dan beberapa waktu lamanya, akhirnya pihak agen menghubungi Mas Boim. Yang beliau tahu, bagi mereka yang biodatanya tidak diterima, maka pihak agen tidak akan menghubungi, tapi jika diterima, maka pihak agen akan menghubungi. Nah, berhubung Mas Boim dihubungi oleh pihak agen, maka beliau senang bukan main. Itu artinya beliau diterima. Begitu menurutnya.

Namun sayang, siapakah yang bisa menebak takdir?? Ternyata oh ternyata, sesampainya di sana, Mas Boim malah dinasehati untuk tidak melakukan kesalahan di lain hari. Bahkan pihak agen memanggilkan ustadz agar Mas Boim cepat taubat. (hahaha…..kami mulai tertawa kembali. Entah ini kisah nyata beliau atau hanya sekedar kisah lucu yang beliau karang, namun kami hanya bisa tertawa mendengar penuturan beliau). Tidak berhenti sampai di situ, "Sebelum pulang dengan perasaan kecewa, eh pulangnya dikasih kaca." Lanjut Mas Boim sambil mengulum senyumnya. Kamipun ikut tertawa. Kali ini lebih keras :D

Ahhh…jadi pemain basket nggak, pecinta alam juga bukan, apalagi model yang jelas-jelas malah disuruh tobat. Cappek dehhh…..akhirnya pada saat sekolah Mas Boim mengadakan sebuah teater, di sinilah Mas Boim menemukan potensi aslinya. Ternyata naskah drama yang beliau ajukan ke pihak sekolah dan diikutsertakan dalam lomba, akhirnya terpilih menjadi juara 3. Jreng…jreng….jreng….Boim muda akhirnya menemukan jati dirinya yang hilang. Yaitu sebagai seorang penulis dan jurnalis.

Ah, mungkin karena rasa humornya yang selalu meremaja, sehingga Mas Boim tak habis-habisnya memiliki gagasan untuk selalu membuat tulisan-tulisan yang meremaja pula, meski usia semakin termakan senja. Rasanya tak puas jika mengenal Mas Boim hanya sebentar. Semoga di pertemuan yang akan datang, masih banyak cerita dan pengalaman yang akan beliau bagikan pada saya dan anggota FLP Jakarta lainnya.

Bagi yang belum tahu seperti apa Mas Boim Lebon, ini dia:

saat jadi pembicara pada acara Studium Generale FLP Jakarta 15/01/12


“Nurlaila Zahra a.k.a Sarah berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia, disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, dan Kios108

16 Januari 2012

Melapangkan Hati dengan Berpikir Positif

(Mencoba mengambil banyak hikmah dari kemacetan)

Sekali lagi perempuan paruh baya itu membasuh peluhnya yang mengalir dari pelipis kanannya. Namun peluhnya kali ini bukanlah peluh yang tak memiliki arti. Ia membasuh peluhnya itu dengan penuh rasa senang di hati. Bukan lain karena hari ini hasil penjualan minuman dinginnya di pertigaan lampu merah melebihi pemasukannya beberapa hari terakhir. Ia cukup bersyukur karena orang-orang yang terjebak macet di jalan banyak yang membeli minuman dingin padanya untuk melepas dahaga di tengah penatnya kemacetan.


* * *

Di dalam mobil Avanza berwarna hitam itulah sepasang suami isteri itu akhirnya memutuskan untuk menghilangkan ego masing-masing yang membuat rumah tangga mereka hampir saja kandas di tengah jalan. Tangisan anak mereka yang memecah di tengah kemacetan telah membuat mereka menyadari bahwa mempertahankan ego itu bukanlah hal yang benar, malah justru akan membuat hidup mereka hancur, terutama mengorbankan kebahagiaan anak mereka.

* * *

Kulit kerutnya memang tidak bisa membohongi kenyataan kalau ia sudah sangat tua. Seorang perempuan muda yang tengah menaiki motor matic di hadapannya ternyata telah terjebak kemacetan selama beberapa menit. Dan ternyata hal itu menggerakan hatinya untuk memberikan sesuatu pada pengemis yang ada di hadapannya. Jelas hal itu sungguh membuat kerut di wajah sang pengemis itu mengembang cukup lebar. Bagaimana tidak, sepagian ia duduk di pinggir jalan, namun baru sore ini ia mendapatkan lembaran rupiah yang ia harapkan sejak mentari terbit. Dan ia bersyukur akan hal itu.

* * *

Ahhh….musim liburan yang belum lama ini berakhir ternyata berdampak kemacetan bagi sebagian jalan-jalan utama di Jakarta, tak terkecuali akses jalan yang melintasi kantor saya yang berujung di Kebun Binatang Ragunan. Alhasil ketika pulang kerja, kemacetan itu sukses membuat saya dan teman saya berjalan kaki sekitar 1 km dalam beberapa hari terakhir liburan untuk menghindari kemacetan dan mendapatkan angkot yang tidak melulu penuh. Ternyata hal itu tidak terlalu menyebalkan untuk saya dan teman. Karena dalam “jalan-jalan sore” itu kami dapat menceritakan banyak hal dan tertawa bersama sambil menikmati udara sore yang jarang kami rasakan secara "utuh" jika kami langsung naik angkot dari depan kantor.

Selain itu, “jalan-jalan sore” itu juga banyak memberikan kami pelajaran, terutama tentang kesabaran dan keikhlasan. Sabar menanti angkot yang kosong, sabar menikmati kemacetan yang tak kunjung hilang, dan ikhlas jika beberapa hari itu kami harus jalan sepulang kerja. Dan ternyata, kemacetan beberapa hari itu telah mengajarkan pada saya, sang teman, dan mungkin kepada kita semua bahwa kemacetan tidak selamanya merugikan semua orang. Kita bisa lihat ketiga contoh di atas yang telah dipaparkan. Dan sebagian contoh itu mungkin saja pernah menghiasi kondisi macet yang kita alami. Sebagian kita mungkin menganggap bahwa macet merugikan banyak pihak. Namun jika kita mau berpikir positif, ternyata kemacetan juga bisa membawa “keuntungan” bagi sebagian yang lain. Namun lain halnya jika yang membuat kemacetan adalah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti supir-supir kopaja atau metromini yang seenaknya mengambil jalur kendaraan lain. Mungkin masing-masing kita punya caranya sendiri untuk membuat hal itu terminimalisir.

Hal di atas, mungkin sama halnya ketika tahun baru tiba yang belum lama ini kita lalui. Sebagian kita mungkin menganggap bahwa perayaan tahu baru itu tidak penting bahkan sampai ada yang anti dengannya. Mau dirayakan atau tidak, tetap saja tahun akan memasuki usianya yang baru. Sebagian kita mungkin akan merasa terganggu dengan bising dan berisiknya suasana yang diciptakan oleh kemeriahan tahun baru, termasuk juga timbulnya kemacetan di mana-mana. Namun pernahkah kita berpikir bahwa dibalik perasaan terganggu kita itu, ternyata ada sebagian lain yang merasakan keberkahan di tahun baru? Ya, mereka adalah para penjaja kembang api, penjual makanan dan minuman siap saji, penjual arang, penjual jagung, dsb. Mungkin saja momen-momen seperti itulah yang selalu mereka tunggu-tunggu untuk bisa pulang dengan membawa uang yang lebih untuk keluarga mereka.

Sekali lagi, berpikir positif ternyata tidak terlalu membuat kita susah. Tapi malah justru kembali menimbulkan rasa syukur yang terdalam kita karena di tengah ketidaksukaan kita terhadap sesuatu, ternyata hal itu justru memberikan sebuah keberkahan bagi sebagian yang lain. Dan bersyukurlah, karena kita masih bisa menikmati semua itu, meskipun tidak dengan porsi yang sesuai dengan keinginan kita. Yang penting masih bisa menikmati. Itu intinya :) Karena berpikir positif akan melahirkan sebuah kelapangan hati yang tiada terkira.

28 Oktober 2011

Meningkatkan Kecerdasan Anak dengan Mainan

Bermain bagi seorang anak kecil bukan hanya sekedar aktivitas fisik yang tanpa manfaat. Justru dengan bermain, biasanya bisa mempengaruhi kecerdasan sang anak dalam menunjang tumbuh kembangnya. Contohnya saja Rizky. Untuk menunjang aktivitas fisiknya di rumah, biasanya saya selalu memberinya mainan yang dapat membantu kecerdasannya. Misalnya untuk menunjang kecerdasan verbalnya saya coba memutarkan berbagai macam CD lagu anak-anak, film-film animasi yang sarat pembelajaran (misal menghafal bentuk, angka, dan huruf), atau bercerita tentang para binatang dengan kisahnya masing-masing.

Tak hanya itu, untuk menunjang kecerdasan numeriknya, saya kadang membantunya menghitung jumlah mainan yang ia punya. Terkadang kami berdua sering menghitung berapa jumlah mobil-mobilan yang ia miliki. Atau ketika mandi, saya sering mendaulatnya untuk menghitung jumlah bebek mainannya. Biasanya ia sangat antusias sekali dengan hal itu. Untuk permulaan, saya ajarkan angka satu sampai dengan lima terlebih dahulu.

Selain itu, untuk menunjang kecerdasan musikalnya, sebelum tidur malam saya selalu menyanyikan lagu anak-anak sebagai pengantar tidurnya. Dan biasanya tanpa ia sadari, ia pun perlahan mencoba mengikuti lagu tersebut dengan gayanya yang khas. Dan kalau hari libur, saya sering mengajaknya bermain dengan mainan sepedanya. Maksudnya untuk meningkatkan kekuatan otot dan kecerdasan fisiknya. Sebagai laki-laki, pastinya saya ingin Rizky tumbuh menjadi anak yang kuat dan cerdas dalam segala hal.

Suatu hari ia pernah membalikkan mainan sepedanya hingga posisi rodanya ada di atas. Ia meletakkan mobil mainan di atasnya, lalu kemudian memutarnya. Melihat hal itu ia pun tertawa sendiri. Saya berkesimpulan bahwa mungkin ia sudah bisa memberikan appreciate untuk dirinya sendiri dengan cara tertawa karena ia telah berhasil menemukan cara bermain dengan permainan barunya.

Sebenarnya ada banyak cara untuk membantu meningkatkan kecerdasannya, salah satunya adalah dengan memberinya permainan yang sarat akan pembelajaran. Kita pun sebagai orang tua harusnya sudah dapat memilah-milah mana permainan yang baik untuknya dan yang tidak. Agar tidak salah cara dalam mengasuh si kecil.


ooppsss.....salah upload :D mudah-mudahan bukan termasuk ke dalam pengeksploitasian anak ya :D

Rizky dengan mainan sepedanya

“Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak”

20 Oktober 2011

Refreshing ke Cibodas

Referensi tempat liburan : Kebun Raya Cibodas








Foto di atas adalah dokumen pribadi, diambil pada saat liburan bersama teman2 kampus tanggal 15 Februari 2011

29 September 2011

Hidup dan Kehidupan...

Hidup...
Tak seindah huruf yang merangkai katanya, tak sejernih mulut yang mengucapkan lafadznya. Disetiap pijakan langkah kakiku, aku selalu menyaksikan orang-orang yang dengan penuh pengorbanan berjuang untuk kelangsungan hidup mereka. Seperti tak kenal lelah dari hari ke hari melakukan aktivitas yang sama tanpa pernah ada harapan dan cita-cita bahwa semua itu akan berakhir dan berganti menjadi sebuah keadaan yang lebih baik.

Dari satu bis ke bis yang lain mereka mengais rizki yang telah Allah janjikan dan Allah siapkan bagi mereka yang mau berusaha. Tak jarang pula aku melihat seorang bocah kecil tengah berjalan di pinggir jalan raya untuk mengetuk pintu-pintu mobil orang-orang kaya itu, dan berharap agar mereka mau menyisihkan sebagian hartanya.

Hati ini begitu perih tatkala melihat wajah bocah kecil lugu yang tanpa dosa itu, hanya dapat memelas ketika tangan yang ia tengadahkan tidak mendapatkan hasil apa-apa. Hanya tangis dan harapan yang selalu mereka simpan dalam diam.

Memang, tak seharusnya hidup memperlakukan mereka seperti itu, tapi itulah kenyataan. Jangan salahkan kehidupan, karena hidup tak pernah salah. Lalu, siapa yang seharusnya disalahkan? Tidak ada juga yang harus disalahkan. Karena sejatinya, setiap manusia itu akan memiliki ujian hidupnya masing-masing, dan setiap manusia itu pasti juga mempunyai kadar kemampuan dan kesanggupannya masing-masing.

Semua itu hanyalah sebuah ujian, yang harus mereka - dan kita juga - hadapi dengan hati yang tulus dan ikhlas.

Itulah hidup, dan kehidupan.

Kisah sang Bocah Malang

Di usia yang masih sangat-sangat muda, gadis kecil itu sudah dituntut untuk melawan kerasanya arus kehidupan. Tidak seharusnya dia melakukan hal itu Tuhan. Tidak semestinya dia ada dijalanan seperti ini. Mengais rezeki-Mu dengan menjual suara lugunya. Dia masih terlalu kecil untuk melakukan hal itu.

Ya Allah!!! Hatiku menjerit saat melihat kedua matanya tersayup-sayup menahan kantuk yang mungkin sudah sangat menderanya. Aku menyaksikannya sendiri. Entahlah, harus bagaimana lagi aku menggambarkan suasana hatiku saat aku menatap wajah lugunya. Dia tertidur Tuhan!! Dia tertidur dipinggir pintu angkot. Aku sungguh tak tega melihatnya.

Sementara di pojok sana aku melihat seorang anak kecil sebaya dengan bocah malang itu, tengah asyik bercanda ria dengan ibunya. Dan seharusnya lah bocah malang itu seperti itu adanya.

Kini ia telah turun dari angkot yang aku tumpangi. Kembali berjalan menyusuri kerasnya arus ibu kota. Dan hatiku, masih saja mengkhawatirkan dirinya, yang mungkin masih menyimpan harapnya dalam diam, semoga ia dapat seperti anak kecil yang ada di pojok angkot. Bisa melepas tawanya dengan riang, bersama keluarga yang ia cintai, dan mencintainya.

Dalam hati aku berdo'a,
Ya Allah, berikan ia yang terbaik. Amin

(Dalam perjalanan pulang dari kampus
dlm sebuah angkot, di waktu malam)

"Bingkisan dari Kami"

27 September 2011

Bukankah Pasti Ada Jalan, Jika Ada Kemauan?

Pesan singkat itu masuk ke dalam ponselku pada saat aku baru saja memulai aktivitasku di kantor. Isinya sangat singkat. Hanya “mba saraaahhh :)”. Batinku, “Nggak biasanya temen yg satu ini SMS dengan pesan “cuma” begitu doang isinya.” Aku pun membalasnya, “Apaaa??” Eh dia bales lagi, “Lg apaaAaa??? Hihiiii”. Aku makin aneh. Aku bales lagi aja, “Lg kerja, ada apa nih?”. Nggak lama dia bales lagi, “Mba sarah Aq mauu tnyaaa dong,,, TA bikin apaa qm? Hehehehe”. Tanpa pikir panjang kubales lagi, “Sistem.” Eh dia bales lagi, tapi kalo yang ini di sensor aja deh. Udah mulai privasi. Aku pun membalasnya lagi, “Ya udah ngomong aja, ada apa? Ada yg bs dibantu? Tp jgn berat2 ya, lg males mikir hehehe”. Dia bales lagi, dan akhirnya akupun membalasnya kembali, “Iyeee…tp jgn minta apa2 ya? Lagi bokek :D”. nah terus dia bales lagi tuh. Inti dari perbincangan pagi kami tadi adalah, ternyata teman yang satu itu pengen minta buatin sistem untuk TA nya nanti. Aku pun membalasnya sambil mengernyitkan dahi, “maaf ya bukannya apa2. masalahnya kalo bikin TA itu ribeeettt bgt. Bukan Cuma sekedar bikin sistemnya aja, tp keseluruhan dr menganalisa sampe usulan sistemnya. Blum lg nyari tempat risetnya. TA ku aja blum kepegang sampe skrg. Apalagi skrg drmh aq ga bs fokus ke laptop aja tp jg sembari jaga rizky, jd repot bgt. Maaf yah”.

Dia bales lg. aku juga bales, “Hehehe aq ga berani ngambil resiko, masalahnya masa dpn slama 3th nih yg aq pertaruhkan kl sampe copas :D kl mau, qt ngerjain sama2 aja, nti aq Bantu deh. Tp jgn bilang2 yg laen.” Send! Tadinya kupikir si temen udah nyerah untuk minta bantuanku, eh tapi masih bales juga. Ya udah aku bales lagi, “Aq jg sama. Pulang kerja aku msh hrs ngajar dah gitu lanjut kuliah. Di rmh jg ga bs tetep fokus ama laptop, krn ada rizky. Cb deh siasati manajemen waktunya, pasti bs kok klo ada kemauan :D”. klik! Akhirnya dia menyerah juga :D SMS terakhirku ke dia, “Ok, maaf ya sekali lg…”

Fiuhh!! Untuk kesekian kalinya saya mendapat tawaran untuk mau mengerjakan tugas kampus temen. Dulu sih waktu semester 4 aku pernah disuruh buat program ama dosen. Nggak nanggung-nanggu di suruh buat program dengan dua software yang berbeda, dah gitu deadline nya juga mepet. Tapi karena memiliki kemauan yang kuat, meskipun tugas itu dirasa berat, tapi alhamdulillah ya terselesaikan dengan baik. Bahkan aku sempat diundang ama temen ke rumahnya untuk ngajari temen2 yang laen buat bikin program itu. Bahkan ada juga yang minta bikinin. Karena memang saat itu lagi nggak terlalu banyak kerjaan, ya udah aku terima aja tawaran itu. Pada saat mau bikin tugas program itu, kondisinya masih ada tante. Kebetulan tante sedang mengantar nenek ke rumah sakit, jadi aku disuruh jaga Rizky. Bayangkan, aku harus berkutat ama komputer untuk bikin program sembari jaga Rizky hehehe, kebayang gimana sibuknya? :D tapi alhamdulillah....kelar juga akhirnya. Dan dari itu lumayan juga dapet “sesuatu” dari temen2, ya meskipun aku nggak pernah ngarepin itu :D.

Tapi saat ini saya juga mau bahas tentang habitual yang sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia kita ini. Atau bahkan bersarang dalam kehidupan kita sendiri? Entahlah. Saya sangat menyayangkan perilaku teman-teman seperti yang saya ceritakan di atas. Kemampuan setiap orang memang tidak bisa disamakan satu sama lain. Bahkan anak kembar pun pasti memiliki perbedaan yang signifikan bila diperhatikan lebih seksama.

Sebuah kemampuan lahir dalam diri yang mempunyai jiwa yang pemberani. Coba saja perhatikan anak kecil yang tengah belajar berjalan. Jika mereka tidak memiliki jiwa pemberani, mana mungkin mereka bisa berjalan sampai saat ini? Intinya adalah usaha dan kemauan. Perilaku teman saya di atas menunjukkan bahwa ia bukanlah tipe orang yang pemberani. Bahkan untuk menunjukkan kemampuan dirinya saja ia tidak berani padahal belum berusaha untuk mencoba. Makanya SMS saya di atas mengatakan, “Cb deh siasati manajemen waktunya, pasti bs kok klo ada kemauan.” Bukankah kita masih ingat akan sebuah petikan ini? “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.”.

Saya pernah membuat artikel di sini, intinya, bisa-nya kita dalam melakukan sesuatu itu bukan hanya karena kita pintar, melainkan karena kita yakin kalau kita pasti bisa. Jika kita sudah seratus persen yakin akan kemampuan diri kita, otomatis keyakinan itulah yang akan menjadi motivator terbesar dalam diri kita. Sehingga kita mau terus berusaha disertai dengan doa.

Memang terkadang, menjadi dewasa lebih banyak menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya berat untuk kita jalani. Namun jika kita ikhlas dalam mengerjakannya, insya Allah tidak ada yang terasa berat dalam kehidupan ini. Dituntut untuk bersikap dan berpikir secara dewasa di usia yang masih belia memanglah tidak mudah, tapi untuk menuju ke sana, Allah pasti selalu memberi waktu dan proses yang tidak singkat. Dari proses dan waktu itulah seharusnya kita belajar. Sebab di waktu-waktu yang telah berlalu itulah banyak pengalaman yang bisa kita ambil sebagai pelajaran di waktu berikutnya. Sehingga proses itu bisa menempa diri kita menjadi sosok yang kuat, tangguh, serta berpikiran maju dan dewasa baik dari segi sikap maupun perbuatan.

Jadilah pribadi yang percaya akan kemampuan diri sendiri. Sebab Allah menciptakan manusia dengan volume otak yang sama, akal yang sama, waktu yang diberikan pun sama (tidak kurang tidak lebih). Sudah sepantasnya kita bersyukur dengan cara mempergunakan apa yang telah Allah berikan itu secara maksimal, baik, dan bertanggung jawab.

“Orang yang bisa bukanlah orang yang pintar, melainkan orang yang mau melebihkan sedikit usahanya dibanding orang lain.”

9 September 2011

Scary Story vs Scary Movie

Semalam, selepas mengerjakan sebuah deadline, karena waktu belum terlalu malam, saya memutuskan untuk mendengarkan radio menggunakan headset dari ponsel saya. Posisi saya pada saat itu ada di kamar, sendirian, dan dalam kondisi lampu yang sudah dimatikan. Saya mencari-cari frekuensi yang enak didengar. Berharap sih ada tembang-tembang kenangan yang bisa didengar sebagai pengantar tidur, tapi nyatanya yang ada hanya lagu-lagu barat, yang meskipun nadanya sangat mellow tapi tetep aja nggak ngerti bahasanya.

Udah bolak balik nyari frekuensi, eh pas banget nemu frekuensi di 99,9 FM. Nggak tau nama radionya apa, yang pasti pas nemu frekuensi itu, nada dari frekuensi tersebut langsung membuat saya merinding. Ternyata frekuensi itu tengah membahas tentang Scarry Story. Huwaaaa…..sereeemmm!! tapi penasaran, hehehe

lanjut cerita, daripada nggak nemu lagu-lagu yang enak, ya udah saya milih dengerin scary story itu. Ada tiga cerita yang saya dengar malam tadi.

Yang pertama (nyanyi dengan gaya-nya opick tombo ati :D), ada seorang perempuan muda sebut saja A pulang malam dari arah Bandung ke Jakarta melalui tol Cipularang. Usut punya usut, katanya di sepanjang kilometer tertentu ada sebuah mobil misteri yang sering membuat pengendara mengalami kecelakaan. Pada saat itu A yang tengah menyetir mobilnya, tiba-tiba terkejut dengan adanya sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang. Spontan A langsung banting setir ke kiri biar mobil yang ada di belakangnya jalan lebih dulu. Tapi ternyata mobil itu malah mengikutinya ke kiri jalan juga. Pada saat A banting setir ke kanan lagi, eh tuh mobil malah ngikutin lagi. Karena penasaran, si A coba melihat mobil tersebut dari spion tengah. Namun tiba-tiba saja pada saat dia mengembalikan pandangannya ke depan, sebuah truk besar sudah ada di hadapannya dengan jarak beberapa meter lagi. Spontan dia pun langsung mengerem mobilnya. Pada saat dia coba melirik mobil misterius tadi lewat spion tengah lagi, tiba-tiba mobil itu sudah tidak ada. Dia hilang begitu saja.

Yang kedua (masih dengan gaya yang sama ya :D), masih juga terkait dengan wanita muda sebut saja R. Si R ini tidak bisa merasakan liburan tahun barunya karena masih harus bekerja. Ia tinggal di sebuah komplek yang hampir semua warganya itu tengah menikmati malam tahun baru di luar. Otomatis suasana komplek menjadi sepi. Pada malam itu, R mendengar sebuah ting-tingan mie tek-tek dari luar rumahnya. Spontan ia pun keluar untuk membelinya. Pada saat tukang mie nya di panggil, ia tak dengar-dengar. Akhirnya R pun menghampirinya dan langsung memesan seporsi mie tek-tek. Sambil menunggu makanannya selesai, R sempat berbincang-bincang dengan penjual mie.
”Mang, emang nggak takut ya jualan malem-malem? Kan sepi. Apalagi mang kan harus ngelewati kuburan. Kalo saya mah nggak berani mang.” Kata R memulai.
”Ya namanya juga jualan neng, saya mah udah biasa.” Sahut si penjual dengan suaranya yang berat.
”Tapi kuburan di depan itu kan terkenal angker mang. Banyak yang bilang di sana ada hantu muka rata.”
”Ooo begitu ya neng. Apa mukanya seperti saya ya?”
Waaaaaaaaaaaa!!!! Si R langsung lari terbirit-birit.

Huhuhu……makin merinding aja dengernya, tapi seru dan penasaran. Maklum, saya tipe orang yang suka dengan acara-acara yang menegangkan. Nah dari cerita kedua ke cerita yang ketiga, diselingi sebuah lagu dengan nada lembut. Saya pikir boleh juga nih, sebagai penghilang rasa takut. Eh nggak taunya, lagu yang diputerin bukanlah lagu pada umumnya. Coba lihat liriknya di bawah ini yang saya ambil dari sini judulnya ”Ratapan Kuntilanak” dibawakan oleh The Panas Dalam :D

Malam sunyi kusendiri
Duduk sepi di atas pohon
Kubiarkan rambutku terurai
Tanpa kaki kelelawar
Anjing dan bulan purnama
Kumenanti kekasihku
Yang belum mati

Kapan mati kekasihku?
Kumenanti kau di sini
Ayo mati bunuh diri
Agar kita jumpa lagi
Seperti dulu

Mana mungkin ku kembali
Hidup lagi seperti dulu
Kecuali engkau mati
Mohon mengerti…

Hahahaha lagu ini jadi serem bin lucu. Kalo yang nyanyi kuntilanak, labelnya SwaraKuburan kali ya :D. Kalo penasaran ama lagunya, bisa di cek di sini . Lanjut deh ke cerita yang ketiga. Tapi sebelum cerita itu dimulai, saya udah merinding duluan dan pada akhirnya ngibrit dari kamar untuk memanggil ibu saya yang sudah terlelap di ruang tamu. Saya langsung menyuruhnya untuk tidur di kamar. Lanjuuutttt..... Di cerita ini emang rada serem juga. Jadi ceritanya ada dua orang laki-laki bernama Raka dan Sansan yang tengah menuju ke rumah temannya Sansan yang baru saja meninggal akibat tenggelam di danau. Pada saat itu kondisinya malam hari. Mereka pergi dengan kendaraan umum. Sampai di rumah duka, mereka bertemu dengan orangtua almarhum. Mereka ikut pula memakamkan almarhum yang dimakamkan malam itu juga. Seorang bapak tua menyuruh mereka untuk menginap saja di rumah duka karena hari sudah larut.
”Lebih baik kalian menginap di sini saja.” Ucap bapak tua itu.
”Wah tapi saya harus menyelesaikan tugas kampus saya pak.” Sahut Raka.
”Ooo ya sudah kalau begitu, bapak hanya mengingatkan saja.” Ujar bapak itu lagi sambil berlalu. Raka masih bingung apa yang di maksud bapak itu dengan ”mengingatkan”. Sansan lebih memilih untuk tetap tinggal karena ia merasa tidak enak jika harus meninggalkan keluarga temannya itu. Akhirnya Raka pulang sendirian dengan motor yang dipinjamkan ibunya almarhum. Tiba-tiba di tengah jalan motor itu mati. Namun setelah dihidupkan kembali akhirnya bisa. Tapi anehnya, setelah motor itu melaju, bebannya jadi semakin berat. Berat sekali. Raka memberanikan diri meoleh ke belakang namun tidak ada siapa-siapa. Makin lama motor itu semakin berat. Ketika dia menoleh ke belakang lagi, tiba-tiba ada seorang laki-laki bersuara berat berkata, ”Ada apa nak?” Spontan Raka pun langsung lari terbirit-birit menuju rumah duka lagi. Sesampainya di sana, bapak tua yang tadi sempat menyuruhnya menginap langsung berkata, ”Kan tadi bapak sudah mengingatkan.”

Huuwwaaaa......makin merinding euy. Hehehe. Sebenernya dari dulu saya suka banget sama cerita-cerita serem seperti ini. Bukan bermaksud untuk percaya dengan hal-hal semacam itu, tapi karena seru aja. Kan saya udah bilang kalo saya suka sama hal-hal yang menegangkan dan memacu adrenalin.

Berbicara tentang Scary Story, saya jadi inget sama sebuah dialog favorit saya dalam film horor ”Sream” yaitu ”What’s your favorite scary movie?”. si penjahat meneror korban2nya via telepon. Pokoknya kalo ada yg nelepon trus nanya ”What’s your favorite scary movie?” maka sang korban harus hati-hati karena itu pertanda kalo gak lama lagi nyawa mereka akan melayang di tangan si penjahat itu. Iiiihhhh serem kan? hehehe


Sedikit cerita, film itu udah ada sejak tahun 96 kalo nggak salah. Dan udah dibuat sekuel sebanyak 4 kali. Yang terakhir di putar di pertengahan tahun 2011 ini, kalo gak salah sekitar bulan Juni or Juli. Saya sempet nonton di XXI Pejaten Village. Waaaaaahhhhh...seru banget. Menegangkan. Tangan saya sampe dingin dan merinding keluar dari dalam bioskopnya (mungkin karena AC juga kali ya :D)

nah, What's your favorite scary movie and story?

*gambar diambil dari oom google

25 Agustus 2011

H - 5

Hari-hari menjelang idul fitri biasanya masyarakat sudah mulai sibuk dengan berbagai macam aktivitas, dari mulai membuat kue sampai membeli baju baru. Hmm…untuk aku pribadi, waktu-waktu semacam ini jelas membuatku sangat stress. Kenapa? Sebab menjelang waktu libur lebaran, aku sudah harus menyelesaikan semua urusan sebelum libur tiba. Dan hari ini, tepat H-5 menjelang lebaran, tadi pagi aku awali dengan pergi ke rumah bos, biasa ada sedikit urusan. Selepas itu aku langsung pergi ke kantor pajak yang ada di daerah Poncol JakSel untuk mengurus pembuatan kartu NPWP.

Hehehe lucu ya, orang-orang udah pada punya NPWP dari kapan tau, aku malah baru buat hari ini. Maklumlah, karena ada keperluan terkait hal ini, jadi aku baru buat hari ini. Prosesnya mudah banget kok. Awalnya aku minta ambilin formulir NPWP sama temenku. Setelah diisi di rumah, terus langsung serahin ke petugas beserta lampiran KTP. Tunggu aja sekitar 5 menit, jadi deh. Horreee…..aku udah punya NPWP :D

Selepas dari kantor pajak, aku langsung menuju kantor di bilangan Ragunan JakSel. Sebelum itu aku sempatkan mampir ke bank yang ada di lingkungan kantor. Biasa, urusan kantor lagi. Karena sudah H-5, makanya bank penuh dengan antrian orang. Entah aku diurutan ke berapa, yang akhirnya baru terlayani oleh teller sekitar pukul 11 lewat. Gubraks gak tuh?

Setelah selesai, aku langsung menuju ruangan kerjaku. Sampe di sana, aku sempatkan untuk menyiapkan beberapa keperluan pribadi terkait keikutsertaanku pada sebuah acara kepenulisan. Sekitar pukul setengah satu, semua persiapan sudah kelar. Udah dimasukkan amplop dan bersiap untuk dikirim ke kantor pos. Selepas sholat zuhur aku langsung ngacir ke kantor pos yang ada di lingkungan kantor. Jaraknya nggak seberapa jauh sih, tapi kalo puasa2 jalan ke sana, lumayan juga coy.

Setelah ¾ jalan, ternyataaaaaa……..ada sesuatu yang terlupa olehku. Berkas yang hendak aku kirimkan adalah berupa softcopy dan hardcopy. Di mana untuk yang hardcopy nya udah aku revisi ulang sebelum aku masukkan amplop. Tapiiiii…..untuk yang softcopy nya belum aku revisi. Kalo tetep kekeuh dikirim, apa gak percuma saudara-saudara??

Terpaksa aku balik lagi ke ruangan untuk merevisi softcopy nya. Bayangkan, di tengah terik siang yang menyengat harus bolak balik hanya karena urusan yang sepele. Sepanjang perjalanan itu, aku terus membatin, “kok bisa seceroboh ini ya? Padahal semua yang dibutuhkan sudah tertata rapi di amplop, kenapa untuk yang softcopy nya malah lupa? Dasar Sarah Lally…..”

Sampe di ruangan langsung aku revisi softcopy nya, ganti amplop, dan siap untuk ke kantor pos lagi. Panas masih sama seperti yang tadi, tapi semangatnya udah beda. Mudah2an milestone ini membawa berkah buatku di ramadhan ini. Amiin.

Usai itu, aku balik lagi ke ruangan. Suasana kantor udah mulai beda, mungkin karena udah H-5 kali yah, jadi orang-orang cuma setengah hati memikirkan kerjaan, setengahnya lagi mikiran buat nyiapin mudik dan lebaran, termasuk aku. Hehehe

Untuk teman-teman blogger yang hendak mudik, titi dj yah. Moga selamat sampai tujuan. Jangan lupa berdoa, jangan bawa barang terlalu banyak – yang penting2 ajah – terus jaga selalu kesehatan biar tetep fit di hari H nanti. Kalo aku sih gak pernah mudik, abis nggak punya kampung sih, makanya pengen nyari yang punya kampung ah, biar bisa mudik :D

Oia, aku juga mau minta maaf bagi temen2 yang udah bersedia koment di blog ini, tapi blum sempet dibales atawa gak aku bales, bukannya gak mau bales, tapi waktunya mepet ama kerjaan ciiiinnn.....aku lebih seneng BW ke blog kalian. Tapi tenang aja, yang udah ngasih komennya kemari, sebisa mungkin aku datengi kok blognya, kalo ada fasilitas follow, malah aku lebih milih follow dulu, biar kalo ada update-an dari temen2, aku bisa tahu melalui dasbor, baru deh komen di postingannya :D

At last, selamat menjalankan sisa ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi ya. Kebetulan ini hari terakhirku masuk kerja menjelang lebaran, jadi sekalian mau minta maaf kalo ada salah2 kata di setiap komen, semoga ibadah ramadhan kita diterima Allah dan senantiasa mendapat keberkahan dari-Nya. Amiin. (beseknya mana? :D)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, mohon maaf lahir bathin.............

note:
- Sarah Lally = Sarah (my nickname) Lally (asal kata lali = lupa) :D
- titi dj = hati-hati di jalan


gambar diambil dari google