Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

7 Juni 2013

Depok, I'm (lost) In Love

Siang yang sangat menyengat. Sengaja kupercepat langkahku secepat kilat agar terik mentari tidak terlalu banyak menyengat kulitku. Angin yang berlari di atas kepala pun sengaja mengajak kerudungku menari-nari di tengah ayunan langkahku. Aku agak telat untuk pertemuan kali ini. Pasalnya, aku harus mencari di mana novel kesayanganku berada. Aku lupa menaruhnya setelah semalam aku membacanya untuk yang kesekian kalinya. Aku harus membawa novel itu. Sebab tanpanya, aku akan kehilangan semangat untuk hari ini.

Kota Depok masih tampak indah di pandanganku. Setidaknya, masih ada satu bagian kecil yang membuatku tidak bisa lupa dengan kota belimbing ini. Di sanalah aku pernah memiliki sebuah kenangan indah dengan masa lalu. Berbagai peristiwa yang kualami, sebagian besar terjadi di sana.

Langkahku semakin cepat. Aku tak mau teman-temanku lama menunggu. Berbagai macam mobil berlalu lalang di bawah jembatan yang kulalui sekarang. Jembatan penyebrangan ini, dulu sering kulalui bersama teman-teman kampus saat kami hendak berkumpul bersama meski hanya sekedar bersenda gurau sambil ngafe. Namun setelah lulus, jarang sekali rasanya aku ke mall tempat kami kumpul bersama dulu. Dan kini, untuk pertama kalinya sejak terakhir aku menginjakkan kaki ke tempat itu beberapa tahun lalu, aku kembali menyeberangi jembatan penyebrangan itu. Rasanya tidak percaya jika aku harus bertemu dengan mereka, teman-teman masa kuliahku dulu, dengan penampilan yang pasti sudah sangat berbeda dengan dulu. Sepuluh tahun yang lalu.

28 Februari 2013

Dunia Maya

Mungkin ini gila!! Tapi aku benar-benar menyukainya. Mungkin….. bisa dibilang cinta. Tapi aku tak ingin hal ini disebut cinta. Setidaknya untuk saat ini. Tapi bagaimana mungkin?? Aku belum lama mengenalnya. Begitu juga dengannya. Setahun lalu tanpa sengaja kutemui alamat blognya di mesin pencari Google. Entah mencari apa aku saat itu, yang pasti setelah kutelaah lebih jauh isi blognya, aku jadi semakin sering mengunjungi rumah mayanya itu. Isinya biasa saja. Bahkan cenderung pasif. Postingannya sangat jarang. Sebulan paling hanya tiga atau empat kali tayang. Padahal aku berharap bisa lebih banyak tahu tentangnya.


12 Maret 2012

Cerpen : Dialog Asa

Asa masih membisu. Langkahnya yang semakin pelan, berbanding terbalik dengan pikirannya yang dipaksa untuk berpikir cermat. Menurutnya, pernikahan bukanlah hal yang mudah unttuk dibicarakan. Sebab bicara tentang menikah, bukan hanya bicara tentang personality saja, tapi juga tentang perasaan dan keadaan dua insan manusia. Baginya, menikah bukanlah seperti membeli permen di warung. Tidak semudah merogoh uang di kantong dan tidak semudah memakannya. Maka dari itu tidak mudah pula menjawab sebuah pertanyaan “Kapan menikah?” yang membuat hari-harinya semakin kelabu. Jika boleh jujur, wanita mana sih yang tidak ingin segera menikah? Mungkin hanya orang-orang bodoh yang tidak menginginkan pernikahan dalam hidupnya.

“Jadi, bagaimana kalau nanti kamu menikah?”

Kali ini pertanyaannya lain. Hanna yang melontarkan pertanyaan itu padanya. Di kesempatan yang jarang sekali mereka lewatkan bersama ini, Hanna sedang berusaha mengorek informasi dari Asa demi menjalankan sebuah misi rahasianya.

Asa tersenyum dalam langkahnya yang terhenti di depan sebuah rak buku-buku novel. Berusaha mengingat-ingat senyuman bocah mungilnya di rumah. “Pertama, sampai saat ini belum ketahuan siapa jodohku,” Ucap Asa tanpa mengarahkan pandangannya pada Hanna, “Kedua, karena aku tidak mau masalah ini terlalu dibawa pusing. Aku tidak mau menjadikan Kania sebagai beban.” Lanjutnya mengambang. Suaranya sedikit pelan namun seperti ada isak di ujung kalimatnya. Sementara di telinga Hanna, kalimat itu terdengar seperti sebuah harapan kalau suatu saat akan ada seorang laki-laki yang bersedia menerima dirinya dan Kania.

Asa hanya seorang wanita muda yang banyak memiliki cita-cita dan harapan. Sama seperti namanya, ia hanya ingin mewujudkan semua harapan-harapannya demi kebahagiaan diri dan keluarganya. Namun satu cobaan berat ternyata dihadiahi Allah padanya setahun yang lalu, saat kakak dan kakak iparnya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan meninggalkan seorang putri mungil yang kini berusia dua tahun. Dialah Kania, yang kini sudah menganggap Asa seperti ibu kandungnya sendiri.

Ratusan buku novel yang kini berjejer di rak-rak buku di hadapannya sedikit menyita perhatian Asa untuk melihat satu per satu isinya. Pikirannya sempat mengangkasa, kalau saja buku karyanya suatu saat nanti bisa menjadi salah satu buku best seller yang juga di pajang bersama buku-buku best seller lainnya, ah itu adalah salah satu impiannya. Masih sambil menggenggam dan membaca sinopsis salah satu novel terjemahan karya Beth Hoffman, ternyata hal itu membuat Hanna mencari cara lagi untuk kembali mengorek berbagai informasi tentang Asa. Sebelum pada akhirnya…..

“Aku tidak ingin menjadikan Kania sebagai kendala dalam hal ini.” Ucap Asa tiba-tiba seolah bisa mengeja pikiran Hanna barusan. “Sebab Kania adalah anugerah terindah almarhumah ibunya yang dititipkan Allah padaku. Kalaupun Allah memberikan izin untukku bertemu jodoh, pasti Allah akan memberiku yang terbaik. Aku hanya ingin memberikan kasih sayang yang utuh kepada Kania. Aku tidak tega jika melihat anak-anak lain mempunyai sosok yang bisa dipanggil ayah dan ibu, sedangkan Kania tidak. Bagi Kania, mungkin hanya aku yang bisa ia anggap sebagai seorang ibu. Hanya aku yang bisa ia cari saat ia bangun tidur, atau saat ia ingin mengadukan hal baru apapun yang ia lihat dalam kesehariannya.”

Asa kembali melangkahkan kakinya menyusuri rak-rak buku sambil jemari tangannya meraba beberapa cover buku lalu sesekali menariknya keluar rak dan membaca sinopsisnya. Hanna masih setia mengikuti aktivitas Asa di rak buku lainnya. Ada sesuatu yang dipikirkannya.

Setelah beberapa buku dibayar Asa di kasir, ia dan Hanna pun langsung menuju ke sebuah rumah makan khas Sunda yang ada di lantai yang sama dengan toko buku yang baru saja mereka tinggalkan. Setelah menemukan posisi yang nyaman mereka pun segera memesan makanan dan minuman. Salah satu buku yang tadi dibeli Asa agak merebut perhatiannya sehingga ia segera membuka plastik yang membungkus buku tersebut dan langsung membolak balikkan lembar demi lembar halamannya.

“Aku mengerti posisi dan keadaanmu Sa….” Ucap Hanna mencoba memberikan empati pada sahabatnya,”Tapi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri….”

Asa langsung melepas pandangannya dari buku yang dibacanya dan melirik Hanna. Tajam. Hanna pun langsung salah tingkah dibuatnya. “Maaf Sa, bukan maksudku menyinggung atau….”

Asa tersenyum dan mengangguk, ”Aku rasa kamu belum benar-benar mengerti keadaanku Han….”

“….”

“Awalnya, Kania mungkin memang menjadi sebuah ‘ganjalan’ untukku memikirkan masa depan. Namun seiring berjalannya waktu, kurasa Kania bukanlah sebuah kendala yang harus aku carikan solusinya. Karena jika memikirkan jodoh, insya Allah jodoh yang kelak dihadirkan Allah adalah jodoh yang terbaik untukku. Jika kelak aku bertemu dengannya namun ia keberatan dengan hadirnya Kania dalam kehidupan kami nantinya, mungkin aku akan lebih memilih untuk tidak melanjutkan lagi hubungan itu. Paling tidak sampai Kania bisa benar-benar mengerti dengan hal apapun yang dapat aku jelaskan padanya. Tapi untuk saat ini, Kanialah yang menjadi prioritas utamaku.

“Kurasa sama halnya seperti perasaanmu terhadap kedua anakmu. Meskipun Kania bukanlah darah dagingku, tapi aku menyayanginya layaknya kamu menyayangi anak-anakmu. Meski mungkin porsinya tidak sebesar yang kamu punya untuk anak-anakmu.”

Hanna kembali terdiam. Tampaknya dia sudah kehabisan kata-kata dan sedang kembali menyusun rangkaian kata berikutya. Sambil berpikir, mungkinkah memang dia tidak bisa mengerti posisi yang dialami Asa saat ini. Sehingga ia sampai melupakan bahwa kondisi Asa pun sama seperti kondisi ia sebagai seorang ibu. Sama-sama ingin memberikan kasih sayang moral dan akhlak yang tulus pada buah hati mereka masing-masing.


“Bukan bermaksud untuk mengesampingkan pentingnya sebuah pernikahan,” Lanjut Asa menutup buku yang dibacanya tadi. “Tapi karena sebelum jodoh datangpun, Kania telah lebih dulu mengisi seluruh ruang hatiku. Dialah yang bisa membuat aku tersenyum setiap waktunya, dialah yang bisa mencintaiku dengan sebegitu tulusnya, dan kami saling mencintai dalam konteks yang berbeda. Sebagai ibu dan anak.

“Menyayangi Kania layaknya anak sendiri memang tidak memberikan keuntungan materi apa-apa padaku, tapi hal itu menimbulkan sebuah rasa bahagia tersendiri di dalam hatiku. Jika aku selalu prihatin dengan kondisi anak-anak yatim piatu di luar sana, bagaimana mungkin aku tidak merasa prihatin dengan keadaan Kania? Terlebih lagi dia adalah keponakanku sendiri. Setidaknya hatiku terpanggil untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar prihatin. Yaitu memberikannya kasih sayang yang tidak sepenuhnya diberikan ibunya dulu.”

Mata Asa mengembun. Hanna melihat seperti ada butiran-butiran kristal halus yang membentuk gumpalan. Tangannya langsung menyodorkan sehelai tisu padanya.

“Aku tidak mengajukan banyak syarat pada ‘ia’ yang kelak akan datang sebagai jodoh untukku,” Lirih Asa sambil mengusapkan tisu tadi ke matanya yang sudah mengembun. “Jika kebanyakan tetangga berkata,’Wah tinggal cari bapaknya aja nih.’ padaku saat mengajak Kania bermain keluar rumah, aku tidak akan membuat ‘ia’ benar-benar menjadi ayah untuk Kania. Aku pun hanya ‘bunda-bundaan’ untuknya. Yang aku minta hanya, ‘ia’ bersedia menyayangi Kania layaknya ‘ia’ menaruh rasa prihatin pada anak-anak yatim piatu pada umumnya. Hanya itu. Kalaupun ‘ia’ tidak bisa menyayangi Kania layaknya anak sendiri, tidak masalah buatku. Asalkan ‘ia’ tetap mengizinkan aku membantu almarhumah Mbak Sanny untuk menjaga dan merawat Kania. Mengizinkan aku membantu beliau mengantarkan Kania sekolah, membantunya membesarkan Kania, paling tidak sampai Kania benar-benar mengerti kalau aku hanyalah tantenya. Aku tidak akan banyak menuntut apapun padanya atas Kania. Sebab Kania adalah tanggung jawabku dan keluargaku.”

Hanna mendengarkan Asa dengan seksama. Pikirannya semakin berkelana entah kemana. Kata demi kata pun sudah sangat baik dirangkainya di kepala untuk sekedar menguatkan dan menyemangati Asa, namun entah kenapa yang terlontar dari mulutnya bukanlah kata-kata yang dirangkainya tadi melainkan, “Lalu bagaimana jika kamu menikah dan punya anak? Bagaimana dengan Kania?”

Asa terdiam sambil melemparkan pandangannya ke luar. Sebelum sempat ia menjawab, seorang pelayan perempuan keburu datang membawakan pesanan mereka. Asa menjawab setelah pelayan itu pergi.

“Hah…” Asa menyandarkan tubuhnya, seolah hal itu dapat melepaskan sedikit kecemasan yang dirasakannya saat ini. “Itu adalah masalah yang tidak harus aku pusingkan sekarang Han. Toh jodoh pun belum aku temukan. Toh aku pun belum ada rencana menikah, meskipun keinginan itu ada. Tapi, jika aku pusingkan hal itu sekarang, bukankah hanya akan membuang-buang waktuku jika ternyata aku belum ditakdirkan menikah pada usia Kania yang baru menginjak 2,5 tahun? Hal itu bisa dipikirkan nanti saat waktunya memang sudah benar-benar tiba. Dan untuk saat ini, biarkan aku tetap fokus pada Kania dan segala macam kegiatan rutinitasku.”

Kembali Hanna hanya bisa terdiam. Selain mencermati setiap kalimat yang dijelaskan Asa, juga menyesali kebodohannya karena telah melontarkan pertanyaan itu pada Asa. Dan demi mencari pembenaran atas tindakannya itu, mungkin juga karena ia diburu-burui oleh misi yang saat ini tengah ia jalankan.

“Tapi pernyataan di atas kembali membuat aku mempunyai sebuah pemikiran Han...” Sambung Asa sambil mengaduk-aduk sedotan dalam gelas ice lemon tea nya, “Karena ternyata, logika kita dengan logika Allah itu sangat jauh berbeda. Perhitungan Allah dengan perhitungan kita itu berbeda. Kalaupun memang benar aku menikah dalam waktu dekat, dan timbul pertanyaan di atas, maka aku yakin hal itu bukanlah menjadi sebuah kendala yang besar. Sebab jika menurut logika manusia hal itu akan menjadi sebuah kendala yang besar, maka tidak bagi Allah. Sebab Allah memberikan kita masalah dan ujian pun pasti sudah melalui tahap perhitungan dan pertimbangan yang sangat matang. Karena sekali lagi, perhitungan Allah dengan perhitungan kita itu tidak sama. Jika Allah sudah memutuskan kita untuk menerima sebuah ujian, pasti Allah juga memberikannya satu paket dengan solusinya.

“Maka sekali lagi, aku tidak mau dipusingkan dengan hal-hal yang belum jelas kapan terjadinya. Karena hal itu hanya akan menghambatku untuk maju. Kalau aku dipusingkan dengan pertanyaan di atas, maka yang timbul adalah sebuah kasih sayang yang tidak tulus kepada Kania karena kekhawatiranku di masa depan. Padahal kapan terjadinya pun aku belum tahu.”

Asa menyelipkan sebuah senyuman di akhir ceritanya. Ia meminum sedikit ice lemon tea nya lalu menyantap makanan yang ada di hadapannya. Sambil menyantap juga makanannya, Hanna berpikir, apakah ia tidak salah memilih Asa? Apakah Asa adalah pilihannya yang tepat untuk Mirza? Adik iparnya yang pernah mendaulatnya untuk mencarikannya pasangan hidup. Seorang laki-laki dewasa yang sudah mapan, yang pernah berkata padanya, “Kalau aku menikah nanti, Insya Allah penghasilanku cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku Mbak.”

Hanna kembali berpikir, andai saja waktu itu Mirza mengatakan, “Kalau aku menikah nanti, Insya Allah penghasilanku cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku dan bantu-bantu sedikit keluarga istri Mbak.” Mungkin ia tidak akan seragu ini. Masalahnya bukan pada Asa, tapi apakah Mirza bisa menjadi sosok yang tadi dikatakan Asa? Tapi ia semakin yakin pada keteguhan Mirza mencari seorang istri. Dan semakin yakin kalau Asa adalah orang yang tepat untuk Mirza. Setiap rizki manusia itu sudah ditetapkan oleh Allah. Dan bukankah pernikahan merupakan sebuah jalan pembuka pintu-pintu rizki yang masih tertutup? Ah, semua itu bisa ia bicarakan nanti dengan Mirza.

Hanna masih memikirkan bagaimana caranya mengutarakan keinginannya itu pada Asa. Memperkenalkan Asa dengan Mirza, dan membuat mereka bisa mewujudkan dan menyatukan impian mereka masing-masing dalam bingkai sebuah pernikahan.

“Ah, jodoh itu misterius. Andai saja pernikahan itu layaknya membeli permen di warung. Semudah merogoh uang di kantong dan semudah memakannya, pasti akan mudah juga menjawabnya, ‘Kapan nikah?’”

Pasar Minggu, 2012, 10.44 PM

Silahkan download versi e-book nya di Dialog Asa

15 Agustus 2011

Cerpen : Cinta Dalam Diam

Aku tak mengerti dengan rasa dalam hatiku
Aku hanya bisa merasakannya lewat hati
Hanya dengan hati…
Tak perlu dengan kata-kata
Karena kata hanya akan membuat luka

Aku akan terbang jauh
Bersama anganku yang melayang
Menerawang menembus angkasa
Lalu jatuh bersama derai air mata

Aku tak akan mau mengingatmu
Demi rasa haru sembunyikan cinta
Demi rasa sedih karena tak bisa berbagi cinta
Demi rasa sakit memendam asa
Akan kupendam dalam-dalam cinta ini
Dan akhirnya, demi cinta itu sendiri

silahkan unduh cerpenku selengkapnya di sini

5 Agustus 2011

Kado Kecil untuk Pak Sabar


“Pokoknya saya nggak mau tau, proyek ini harus berhasil seperti apa yang saya harapkan. Dalam waktu 2 X 24 jam, kalian semua sudah harus menyerahkan konsep proposal proyek ini pada saya.”

Semua karyawan yang mengikuti meeting siang itu hanya dapat diam sambil menyimpan segala unek-unek mereka di hati. Ya, unek-unek pada seorang bos yang diktator seperti Ferdy Darmawan.

“Ah...sial! Apa-apaan ini?!” Tiba-tiba semua mata tertuju pada seorang office girl yang tengah dihujani omelan pedas oleh sang bos, Ferdy yang diktator. Alasannya mungkin tak seberapa, office girl itu tanpa sengaja menumpahkan secangkir kopi pada lengan baju Ferdy.

“Kalo kerja yang becus dong, gimana sih kamu?” Ferdy terus saja menumpahkan amarahnya pada office girl yang hanya bisa mengucapkan kata “maaf” dari bibirnya yang terus bergetar itu. Semua karyawan yang ada di ruang rapat tampak berbisik-bisik satu sama lain, sementara sang office girl masih tetap berdiri di samping Ferdy sambil menunduk dan tubuh yang menggigil menahan rasa takutnya.

“Meeting hari ini selesai. Saya muak dengan semua kinerja kalian yang nggak becus itu!” Langkah kaki Ferdy kemudian menjadi hal paling akhir yang di dengar semua orang yang ada di ruang rapat. Semuanya menjadi ribut. Sikap Ferdy yang diktator itu menjadi topik utama yang diperbincangkan oleh hampir semua bawahannya.
* * *
“Mau pesan apa pak?” Tanya seorang perempuan muda belia pada Ferdy yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

“Hah? Hmm...soto betawi aja deh.” Jawab Ferdy yang terdengar tak sepenuhnya menginginkan makanan itu. Perempuan muda tadi langsung meluyur ke belakang, tempat mengolah berbagai makanan di rumah makan itu. Sementara Ferdy masih dengan pikirannya sendiri. Ia masih sibuk membersihkan lengan bajunya yang kotor terkena tumpahan kopi tadi, menggulungnya ke atas, lalu menarik sehelai tisu dari tempatnya dan mengelapkannya pada meja yang ada di hadapannya.

“Sendirian aja Nak?” Tanya seorang bapak tua berseragam coklat yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Ferdy. Yang ditanya pun hanya mengangguk lirih. Ia kembali mengelapkan tisu ke meja yang sudah agak bersih.

“Soto betawi disini enak loh. Terkenal dengan ayamnya yang empuk. Hehehe.” Bapak tua itu terkekeh pelan, menyertai kata-katanya yang basa basi tadi. Ferdy sendiri masih diam termangu, tak mengerti dengan sikap bapak tua itu yang tiba-tiba sok akrab dengannya. ia hanya menyunggingkan senyum yang dipaksakan.

Beberapa waktu lamanya bapak tua tadi asyik sendiri menyantap soto betawi miliknya. Tampaknya ia begitu nikmat menyantapnya. Dalam hati Ferdy bertanya, “Sebenarnya siapa bapak tua ini? Seperti nggak ada beban di bahunya. Semuanya begitu nikmat ia rasakan.”

“Soto betawinya pak.” Suara perempuan belia tadi kembali memenuhi rongga telinga Ferdy. Ia datang dengan semangkuk soto betawi, sepiring nasi hangat dengan bawang goreng di atasnya, dan segelas air putih hangat.

“Silahkan pak.” Perempuan belia itu segera mempersilahkan Ferdy untuk makan. Ferdy hanya mengangguk lirih. Tiba-tiba anggukan itu diiringi dengan suara berat bapak tua yang ada di sampingnya, “Makasih ya Nduk.” Perempuan belia yang memang seperti orang Jawa itu langsung mengangguk dan tersenyum. Bapak tua itu pun melemparkan senyumnya pada Ferdy saat ia tahu kalau Ferdy tengah memperhatikan dirinya.

“Ayo dimakan Nak.” Lanjut bapak tua itu, tak lupa dengan senyumnya. Beberapa menit berselang, mengisi kekosongan waktu yang semakin bergulir.

“Kerja di mana Nak?” Tanya bapak tua itu akhirnya mengawali perbincangannya dengan Ferdy. Sontak, Ferdy pun terkejut mendengarnya, “Hmm...di PT. Arsindo Building...” Jawab Ferdy, lirih. Entah mengapa, tiba-tiba ia ingin sekali melemparkan pertanyaan yang sama pada bapak tua itu.

“Nama kamu siapa Nak?” Tanya bapak tua itu lagi, menghentikan sejenak mulut Ferdy yang hendak bertanya hal serupa dengan pertanyaan bapak tua itu sebelumnya.
“Ferdy, Pak.” Kali ini suara Ferdy lebih bersahabat.
“Bapak sendiri, siapa?”
“Saya Sabar.”
“Dilihat dari pakaian yang bapak pakai, sepertinya bapak guru ya?”
Bapak tua yang dikenal dengan nama Pak Sabar itu hanya tersenyum. Senyumnya seolah menjawab pertanyaan Ferdy kalau dia memang seorang guru.
“Mengajar di sekolah mana Pak?”
“SDN 07 Rawamangun.”
Sejurus kemudian, obrolan dua insan beda generasi itu pun mengalir bagai air. Dari membicarakan secara umum kehidupan mereka masing-masing, sampai akhirnya Ferdy seolah merasakan siraman air segar dalam hidupnya.

“Udah berapa lama bapak berprofesi sebagai guru?” Pak Sabar hanya tersenyum simpul. Entah sudah keberapa kalinya pertanyaan ini dilontarkan oleh setiap orang yang diajaknya berbincang. “28 tahun.” Jawab Pak Sabar tiba-tiba terdengar agak serak. Seperti ada isak yang ia tahan di sana. Untuk selanjutnya, tanpa ditanya, Pak Sabar menuturkan setiap pengalamannya selama 28 tahun mengajar.

“Dari sebelum bapak menikah, bapak sudah menjadi guru. Pada saat itu statusnya masih honorer. Setahun setelah menikah, barulah bapak diangkat menjadi guru tetap di SD tempat bapak mengabdi hingga kini.”
“Kenapa memilih menjadi guru Pak?”

Hening sejenak. Pak Sabar mengalihkan pandangannya jauh ke depan. Ia mulai bersuara, “Bapak menjadi guru, sebenarnya bukan karena tak ada pilihan pekerjaan lain, tapi karena memang dari kecil, bapak ingin sekali menjadi guru. Karena jasa seorang guru, seorang presiden bisa memimpin rakyatnya, terlepas dari sifatnya yang baik atau buruk. Karena jasa seorang guru pula, seorang dokter bisa menyembuhkan pasiennya, tanpa terlepas dari takdir bahwa hidup dan mati seseorang adalah hak prerogatif dari Allah.

“Mengajar adalah sebuah kegiatan yang sangat mulia. Meskipun banyak orang yang memandang sebelah mata profesi seorang guru, tapi bapak tetap bangga dengan pekerjaan bapak. Mungkin Nak Ferdy bertanya-tanya, apakah profesi ini memiliki masa depan yang cerah atau tidak...”
Ferdy tersenyum di tengah keseriusannya mendengar penuturan Pak Sabar.

“Selama 28 tahun bapak ngajar, Alhamdulilah bapak masih bisa mencukupi kebutuhan hidup isteri dan dua anak bapak. Ya....meskipun selama ini hanya hidup pas-pasan yang bapak tawarkan kepada mereka, tapi bapak yakin mereka selalu ikhlas menerima semuanya. Sebenarnya asal kita ikhlas dalam melakukan segala hal, semuanya pasti akan terasa mudah.”

Pak Sabar diam sejenak, menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan. Ferdy pun hanya diam tanpa bergeming. Rupanya ia sudah mulai hanyut dalam cerita Pak Sabar.

“Selama bapak mengajar, sebetulnya bukan hanya para murid bapak saja yang belajar, tapi bapak pun juga demikian.”

Ferdy semakin serius mendengarkan. “Karena dengan mengajar, kita akan banyak belajar.” Ferdy langsung mengerutkan keningnya. “Dengan mengajar, bapak belajar mengelola emosi secara bijak, karena karakter murid yang bapak temui semuanya beda-beda. Dengan mengajar pula, bapak belajar cara menghadapi mereka sesuai dengan karakternya. Dengan mengajar, bapak mendapatkan apa yang dari dulu bapak cita-citakan. Bapak sangat senang ketika melihat murid yang bapak ajar dulu, kini sudah sukses dengan kehidupannya. Bukan masalah besar buat bapak saat mereka seolah melupakan bapak, asal melihat mereka sukses dan bahagia dalam hidupnya saja, itu sudah membuat bapak bangga.

“Uang bukan prioritas bagi bapak, meski memang tanpa hal itu, nasib para guru pasti tidak akan sejahtera. Tapi ada satu hal yang lebih penting dari itu, yaitu pahala. Orangtua bapak yang juga seorang guru, dulu pernah berkata pada bapak, ‘mengajar itu ibarat seorang petani. Pekerjaannya adalah yang berkaitan dengan sawah. Sesuatu yang pasti ia dapat adalah beras yang dihasilkan dari padi-padinya, tapi ketika ia menemui ikan atau belut saat ia tengah bersawah, maka itu adalah bonusnya’. Nak Ferdy mengerti apa maksudnya?”

Ferdy menggeleng pelan. Ia tak mengeluarkan suara sama sekali, seperti tersihir oleh kisah hidup Pak Sabar yang semakin lama seolah semakin seru saja.

“Maksudnya, ketika kita mengajar secara ikhlas, maka yang pasti kita dapatkan adalah pahala dari Allah, sama seperti petani yang pasti akan mendapatkan beras dari padi-padinya. Nah, gaji kita dari mengajar itu diibaratkan sebagai bonus, sama seperti ikan atau belut yang di dapat petani tadi. Bukan berarti kita ikhlas mengajar tanpa di bayar, karena secara profesionalitas, kita memang berhak menerima gaji dari setiap pekerjaan kita. Hanya saja, jika ditambah embel-embel ikhlas, maka semuanya akan menjadi berkah.”

Ferdy menyelinginya dengan pertanyaan, “Yang dimaksud dengan ikhlas itu sendiri apa Pak?”

“Ikhlas itu, kalau kita ridho dengan semua ketetapan yang sudah Allah gariskan untuk kita. Melaksanakan setiap tanggung jawab dengan sepenuh hati dan tanpa beban. Bukan semata-mata materi yang menjadi barometernya.”

Jawaban Pak Sabar seolah seperti pisau runcing yang tiba-tiba menelusuk ke dalam dada Ferdy. Ia benar-benar merasa amat kecil kala itu. Pak Sabar mulai menghentikan ceritanya. Ia menyeruput sisa teh yang sudah tak hangat lagi dalam gelasnya. Setelahnya, ia seperti menyeka sebuah butiran bening di ujung matanya.
“Bapak kenapa?” Tanya Ferdy ingin tahu. Pak Sabar hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Apa yang sedang bapak pikirkan?” Desak Ferdy seolah memaksa Pak Sabar untuk menjawabnya.
“Bulan depan, anak bapak di wisuda....”
“Bagus dong Pak kalau begitu, selamat ya. Tapi, kenapa bapak jadi murung begitu?”
“Bapak dan isteri bapak memang sangat senang Nak, tapi...” Pak Sabar memutus perkataannya.
“Tapi apa Pak?”
“Ah sudahlah Nak. Sudah menjelang sore, bapak harus segera pulang. Isteri bapak sudah menunggu di rumah.”

Ferdy seperti bingung dibuatnya. Ia sebenarnya sudah mulai menikmati obrolannya dengan Pak Sabar, lebih tepatnya, mendengarkan kisah Pak Sabar. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung merogoh saku celananya, mengambil dompetnya, dan menarik uang selembar lima puluh ribuan, saat ia melihat Pak Sabar mengeluarkan uang dua puluh ribuan lecek, diantara uang leceknya yang lain.

“Biar saya yang bayar pak, saya traktir.” Ucap Ferdy sambil melemparkan senyum.
“Eh...nggak usah Nak, biar bapak bayar sendiri saja. Oia, apa Nak Ferdy sudah menikah?” Ferdy mengangguk, bingung. Apa hubungannya antara membayarkan soto Pak sabar dengan status maritalnya.
“Kalau begitu, simpan saja uang itu untuk keperluan keluarga Nak Ferdy, mereka pasti lebih membutuhkannya. Insya Allah kalau untuk membayar soto betawi, bapak masih sanggup.” Pak Sabar tersenyum. Entah mengapa, kali ini senyum Pak Sabar begitu lain Ferdy rasakan. Tiba-tiba ia menjadi rindu pada kedua orangtuanya yang sudah lama sekali tak ia tengok di kampung halamannya, Medan.

Ia mengikuti langkah kaki Pak Sabar menuju tempat pembayaran. Ia ikuti setiap gerak geriknya dari menyerahkan uang pada si pemilik sampai menerima kembaliannya. Di depan warung makan itu, Pak Sabar langsung memberikan uang kembaliannya tadi pada seorang bocah perempuan dekil yang tengah mengemis di sekitar situ. “Pakai uangnya untuk hal-hal yang bermanfaat ya...” Ucapnya mengiringi uang yang ia serahkan pada bocah tadi. Bocah itu pun mengangguk, tersenyum, dan mengucapkan terima kasih. Ia pun segera berlalu.

Saat Pak Sabar hendak melangkah lagi, Ferdy kembali melontarkan sebuah pertanyaan, “Bapak belum menjawab, kenapa tadi bapak murung sementara bulan depan anak bapak akan di wisuda?” Pak Sabar menghentikan langkahnya sejenak, menghela nafasnya perlahan, lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju kendaraannya. Sambil bersiap-siap untuk pulang, ia menjawab, “Bapak nggak bisa menghadiri acara wisudanya...” Kalimat itu menggantung. Ia memasang helm di kepalanya lalu menstarter motornya.

“Kenapa nggak bisa?” Desak Ferdy sangat ingin tahu.
“Uang bapak masih belum cukup untuk datang kesana....” Lagi-lagi kalimat itu menggantung, membuat Ferdy semakin penasaran dibuatnya.
“Memang di mana anak bapak di wisuda, barangkali saya bisa bantu.” Ferdy terkejut. Dia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa bicara seperti itu padahal ia baru saja mengenal Pak Sabar. Yang di ajak bicara pun hanya tersenyum dan segera pamit, sebelum Ferdy mencegahnya untuk segera berlalu.

“Norwegia. Anak bapak mendapat beasiswa di Norwegian University of Science and Technology atau lebih dikenal dengan nama NTNU Trondheim.” Pak Sabar menyahuti pertanyaan Ferdy dengan perasaan yang sangat bangga pada anaknya. Ia segera pamit, mengucapkan terima kasih pada Ferdy, dan segera berlalu dengan vespa bututnya. Meninggalkan Ferdy sendiri di depan rumah makan tadi dengan segala pikiran yang memenuhi otaknya. Baru kali ini ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Kesabaran seorang Pak Sabar telah membuatnya merasa malu pada dirinya sendiri.Tautan
Ia langsung berlari memasuki mobilnya, menyalakan mesinnya, dan mengejar vespa butut Pak Sabar sambil membatin, “Pak Sabar, saya akan membantu bapak, karena bapak sudah banyak membuat anak Indonesia menjadi anak yang berguna bagi bangsanya. Saya rasa bapak pantas mendapatkan hadiah kecil ini karena kau adalah salah satu patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.....”

Roda mobil itu terus menggelinding mengikuti laju motor vespa Pak Sabar yang sudah lebih dari 20 tahun ini menemani langkahnya menjadi seorang pahlawan pemberantas kebodohan.

Ruang Tamu, Pasar Minggu
04.08.11, 23.45

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.
Sponsored By :



15 Juli 2011

Merajut Asa di Tengah Ilalang

. . . .

Seiring dengan berjalannya waktu, aku jadi tersadar bahwa hanya Allah lah yang harusnya menjadi andalan dan tumpuan tempat mengadu rasa. Bahwa seharusnya aku bisa lebih berharap pada diriku sendiri kalau suatu saat nanti aku pasti bisa menghidupi keluargaku dengan jerih payahku sendiri. Aku pasti mampu ‘berdiri’ di atas kakiku sendiri tanpa harus ‘mengemis’ kasih pada orang lain.

Perjuangan ini belum selesai. Perjuangan ini baru saja dimulai. Aku masih harus terus melangkah maju merajut asa dan harapan di tengah kerasnya hidup yang harus aku lalui, sampai ajal menjemput. Aku masih punya banyak mimpi, asa, cita-cita, dan harapan. Ingin rasanya aku merajut kesemuanya itu saat ini, meski harus kurajut di tengah ilalang kehidupan.

* * *

“Nak, ikut bunda beli pampers yuk?” Ajakku lembut pada Rizky malam ini. Ia langsung mengangguk dan segera mencari sandal kodoknya. Alhamdulillah masih ada selembar uang lima ribuan di tasku. Uang sisa ongkosku hari ini. Aku berjalan perlahan ke sebuah warung sambil menuntun tangan Rizky. Sembari ditemani cahaya sinar sang rembulan, aku dan Rizky terus melangkah menuju tempat yang kami tuju. Pikiranku masih terus saja melayang-layang di angkasa. Tentang masa depanku, masa depan Rizky, masa depan kami berdua.

Di langit tampak bulan tersenyum indah sekali. Rizky mendaulatku untuk menyanyikan lagu kesenangannya, lagu kami berdua. Kami terus melangkah merajut asa kami sambil melantunkan lagu itu.

Ambilkan bulan bu...
Ambilkan bulan bu...

Yang slalu bersinar di langit, di langit

Bulan benderang...

Cahyanya sampai ke bintang

Ambilkan bulan bu...

Untuk menerangi...

Tidurku yang lelap, di malam gelap


”Rizky, malaikat kecilku, bunda janji, suatu saat nanti, bunda pasti bisa menjadi bulan untukmu. Bulan yang akan selalu menemanimu, tak hanya dalam malam yang gelap, tapi di setiap saat waktumu. Nak, kau adalah anugerah terindah ibumu dari Tuhan untukku. Baik-baik ya sayang.”

Pojok kamar, Pasar Minggu
14 Juli 2011, 22.06 WIB



(gambar diambil dari ngerumpi.com)

nb: artikel ini merupakan penggalan dari cerpenku dengan judul yg sama...

2 September 2009

Cerpen : Cinta Dalam Diam

Aku tak mengerti dengan rasa dalam hatiku
Aku hanya bisa merasakannya lewat hati
Hanya dengan hati…
Tak perlu dengan kata-kata
Karena kata hanya akan membuat luka

Aku akan terbang jauh
Bersama anganku yang melayang
Menerawang menembus angkasa
Lalu jatuh bersama derai air mata

Aku tak akan mau mengingatmu
Demi rasa haru sembunyikan cinta
Demi rasa sedih karena tak bisa berbagi cinta
Demi rasa sakit memendam asa
Akan kupendam dalam-dalam cinta ini
Dan akhirnya, demi cinta itu sendiri


Puisi di atas adalah penggalan dari cerpen CINTA DALAM DIAM yang saya tulis. Jika ingin membaca lebih jelasnya, silahkan dowload di
http://www.ziddu.com/download/6318071/CINTADALAMDIAM.pdf.html

Terima kasih....

12 Juni 2009

Ketika Cinta Harus Bersabar



Kata orang, novel mini punyaku ini lebih mirip ke Pudarnya Pesona Cleopatra milik Kang Abik. Mungkin secara garis besar, Ya. Memang saya akui juga. Tapi jujur saja, tema novel ini sudah saya tanamkan dalam otak saya jauuuuuuuuuuuuuuhhh, sebelum saya tahu adasebuah novel Kang Abik dengan tema yang hampir sama dengan yang saya punya.

Ketika Cinta Harus Bersabar...
Novel ini mengisahkan perjalanan cinta seorang akhwat bernama Dinda yang berjuang untuk menemukan cinta sejatinya. Seorang laki-laki sholeh telah bersedia menikahinya namun semua itu hanya sandiwara belaka. Suaminya tidak pernah mencintainya sedikitpun. Alhasil, jadilah Dinda menjadi seorang istri yang tidak pernah merasa dirinya menjadi seorang istri untuk suaminya. Meskipun sikap dan perilaku suaminya tidak pernah membuatnya bahagia, namun perjuangan dan cinta setianya kepada suaminya itu, telah membukakan mata hati suaminya bahwa memang Dinda lah anugerah terindah yang Allah berikan untuknya. Perjalanan Dinda ini juga tidak begitu saja dapat sitempuh olehnya dengan mudah. Ada kerikil-kerikil kecil dan cobaan yang mengharuskan ia memilih. Suaminya atau hidup orang lain??

Penasaran dengan kisahnya? Langsung saja download novel mini saya ini disini

Semoga akan ada banyak hikmah yang terdapat disana...
Ditunggu pendapatnya ya...
Syukron...

Nurlaila Zahra