18 Januari 2012

Sebuah Cerita di Akhir Pekan

Tampak depan bangunan itu masih sama seperti dua tahun lalu saya kesana. Ornament klasik dan kesan tua yang ditimbulkan oleh bangunan itu membuatku tak ingin berlama-lama tinggal di luar dan ingin segera memasukinya dengan langkah yang pasti. Bangunan yang diberi nama Museum Bank Mandiri itu adalah tempat sebuah acara yang saya hadiri tepat di akhir pekan kemarin dalam acara Studium Generale FLP Jakarta angkatan ke 16.

Dalam acara itu, saya sudah mengetahui bahwa akan hadir dua orang penulis terkenal yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, terutama bagi mereka yang "doyan" baca. Mereka adalah Mas Boim Lebon dan Mbak Asma Nadia. Seiring waktu berlalu, saya yang pada kesempatan itu hanya datang sendirian saja, sudah mulai merasa nyaman berada di tengah-tengah komunitas baru. Bertemu dengan wajah-wajah baru dan berkenalan dengan teman-teman baru.

Sesi pertama diisi oleh Mas Taufan E. Prast selaku moderator dan Mas Boim Lebon sebagai pembicara. Oia, sedikit informasi, Mas Boim Lebon adalah penulis buku serial Lupus bersama temannya Hilman. Beliau mengawali perbincangan saat itu dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Nama asli beliau adalah Sudiyanto bin Pandi bin Karyokromo. Entah karena apa sehingga teman-temannya memanggilnya dengan sebutan “Boim”. Menurut penuturan beliau kala itu, nama Boim merupakan singkatan yang artinya bocah imut. Hehehe…entah filosofi darimana sehingga beliau dijuluki si Bocah Imut. Namun “Imut” nya pun merupakan singkatan yaitu “Item Mutlak”. Hahaha….saat beliau berucap seperti itu, sontak semua peserta yang hadir kala itu tertawa berjamaah. Ya, kalau “Imut” nya memiliki singkatan seperti itu, saya mulai setuju dengan singkatan “Bocah Imut” untuk Mas Boim, karena itu bukan merupakan sebuah fitnah :D

Masih dengan kisah yang sama, Mas Boim menuturkan bahwa yang mempunyai ide membuat buku Lupus adalah Hilman, teman semasa SMA nya dulu. Mas Hilman selalu mengamati tingkah polah teman-temannya hingga akhirnya terbentuklah beberapa tokoh karakter dalam serial Lupus-nya yang memang beliau angkat dari karakter-karakter para sahabatnya. Yaitu Boim dan Gusur.

Mas Boim menjelaskan, bahwa kenapa tokoh Boim dalam kisah Lupus dibuat sedemikian rupa sehingga membuat karakter Boim sangat melegenda di kalangan para cewe-cewe pada masa itu, sebab menurut penjelasan Mas Boim, dulu beliau adalah seorang playboy cap Duren Tiga. Mengapa demikian? Begini menurut penjelasan beliau. Biasanya, seorang playboy itu identik dengan wajah yang tampan, tubuh yang tegap, intelektual yang tinggi, dsb. Namun kala itu, Mas Boim ingin menunjukkan bahwa seorang “Bocah Imut” seperti beliau pun bisa menjadi playboy. Dan ternyata terbukti bahwa beliau bisa!! Ya, bisa kena malu!! Karena setiap kali ‘nembak’ cewe selalu ditolak!! Hahaha…..sekali lagi kami tertawa mendengar Mas Boim bertutur seperti itu. Dan kenapa dikatakan playboy cap Duren Tiga?? Karena pada masa itu, Mas Boim selalu membawa korek api batangan yang bercap Duren Tiga :D

Meskipun demikian, Mas Boim tak pernah patah arang. Beliau selalu ingin menunjukkan bahwa dirinyapun bisa menjadi idaman para cewe-cewe di sekolahnya. Kemarinpun, Mas Boim mengaku bahwa dirinya memang selalu dikejar-kejar wanita. Pada saat itu kami belum bisa menebak mengapa beliau berkata seperti itu. Sampai akhirnya beliau melanjutkan ucapannya, bahwa beliau dikejar-kejar oleh wanita yang matanya somplak, yang agak-agak “miring”, dan tidak waras. Hahaha kami terus saja tertawa dibuatnya. Tidak sampai di situ, Mas Boim juga mengaku, dahulu kala pernah berusaha nembak cewek, tapi Mas Boim tidak pernah merasa aneh jika semua cewek yang ditembak selalu menolaknya. Beliau mencontohkan, "Hai Sinta, aku suka nih sama kamu. Kamu mau ga jadi pacarku?" Sinta menjawab, "Duh, maaf ya…..", "Oh, ga papa, saya udah tau kok jawabannya. Kamu nolak saya kan? Hal yang wajar kok buat saya. Kalo kamu terima saya tuh baru namanya gak wajar." Hahaha….Mas Boim….Mas Boim…

Udah gitu kata Mas Boim, setiap kali beliau berusaha nembak cewe, pasti yang nolak dua orang. Kenapa? Karena setiap kali dia baru mengutarakan keinginannya, pasti teman si cewek udah bilang gini, "Jangan mau sama dia…." Hehehe. Lalu setiap perempuan di sekolahnya yang pernah beliau 'tembak' ujung-ujungnya pasti menjadi wanita shalihah. Kenapa pulak? Karena setiap kali cewek itu di 'tembak' beliau, pasti teman si cewek bilang gini juga, "Makanya, elu sih jarang ngaji, jarang sholat, jadi banyak setan yang deketin tuh." Trus kata si cewek, "Iya deh, mulai besok gw bakal rajin sholat ama ngaji…" :D Mas Boim juga bilang, katanya kalo beliau lewat di depan cewek-cewek, pasti mereka pada berta'awudz dan beristighfar (Hahaha entah ini kisah nyata atau bukan ya? :D)

Jaman dulu, Mas Boim juga pernah buat geng loh, namanya Kabel. Ada singkatannya tuh, yaitu Geng Kelompok Anak Belakang. Senangnya duduk di belakang, karena setiap guru bertanya, yang ditanya adalah anak-anak yang ada di depan dan tengah, jarang si guru bertanya ke anak-anak yang ada di belakang. Baru mengacungkan jari, si anak depan udah jawab, baru mengacungkan jari, si Guru udah nyuruh anak depan menjawab. Selain itu, nama geng beliau adalah Arel Sodik. Maksudnya, Anak Rel Sonoan Dikit :D

Lanjut ke kisah Gusur. Pemuda bertubuh tambun ini sangat suka berpuitis. Kemarin, Mas Boim mencontohkan bagaimana kala si Gusur selalu menerapkan sifat puitisnya setiap saat, kapanpun dan dimanapun.

Teman A : Mau kemana lu Sur?
Gusur : Wahai kawanku, kala matahari sudah nampak di atas sana, sesungguhnya aku ingin ke kantin (hehehe)
Teman : #@%^**(%^%

Teman B : Eh Sur, mau kemana Lu?
Gusur : Wahai sahabatku, bukankah tadi sudah kukatakan bahwa aku ingin ke kantin (guling2 =)))

Mas Boim kembali mencontohkan bagaimana kalau Gusur berinteraksi dengan istrinya,

Gusur : Duhai istriku, apakah gerangan yang akan kau masak? Bisakah kau menyatukan hijau dedaunan itu dengan indahnya warna keemasan dari sinar matahari yang bersinar cerah? Yang bersatu dalam senada beningnya air kesejukan? (intinya mah minta bikinin sayur bayem campur jagung manis, dan kami tak bisa menahan tawa :D)
Istri : Ngomong apaan sih?? @%$^&

Pernah di satu kesempatan, Mas Boim dan Gusur pergi ke kantin bersama. Kala si Gusur menghampiri tukang somay, si tukang berkata, “Maaf, somay udah abis”. Dan kala ia menghampiri tukang mie ayam, si tukang berkata,”Maaf, saya udah mau tutup.” Hehehe para penjual itu hanya tidak ingin si Gusur memesan makanan mereka dengan gayanya yang puitis sebab itu akan memperlama kerjaan mereka :D

Hanya satu yang Mas Boim harap, Gusur tidak memakai sifat kepuitisannya pada saat terjadi bencana. Kemarin, Mas Boim mencontohkan bagaimana kalau misal Gusur berpuitisasi pada saat bencana. “Wahai kalian, ombak bergulung-gulung di lautan, gunung terguncang tidak karuan, petir menggelegar bak rayuan malam, cepatlah menghindar karena….." belum selesai cerita Mas Boim, tapi kami semua sudah dibuat ngakak tingkat nasional.

Kembali ke kehidupan Mas Boim yang tidak tahu kenapa, akhirnya kini beliau menemukan potensinya pada dunia tulis menulis. Dulu, jauh sebelum mengenal potensi kepenulisannya, beliau sempat mencari-cari di mana potensinya hilang. Mungkinkah digondol kucing garong? Atau dibawa lari tikus got? Atau dimakan tokek belang? Atau disembunyikan oleh kadal buntung? Beliau berusaha mencari ke pantai, hutan, dan lautan, tetap tidak beliau temukan. (lebay :D)

Awal mula beliau mencari potensi dirinya, beliau menuturkan kalau beliau pernah mengikuti ekskul bola basket. Hanya saja hal itu tidak berlangsung lama, dalam penjelasannya, kata beliau, setiap kali beliau bermain basket, "Nggak pernah dapet bola!!" hahaha ya jelas aja, orang yang lain tinggi-tinggi, sedangkan Mas Boim?? Ups… :D "Akhirnya…." Lanjut beliau, "Pada saat bola datang, saya cuekin aja." Dia bilang, "Tadi pas gue kejar-kejar lu gak mau nyamperin, sekarang giliran gue diem, lu kejar-kejar…" Tawa itu lepas kembali dari sangkarnya……

Merasa tidak menemukan potensinya di bidang olahraga, Mas Boim banting setir menjadi anggota pecinta alam. Kebiasaan mereka adalah "Naik Gunung". Namun sayang, belum juga sampai ke puncak, Mas Boim sudah kehabisan nafas dan pada akhirnya gugur di tengah jalan. Kalaupun naik gunung, kata beliau pernah, yaitu Gunung Sahari, hahaha. Kami tak hentinya tertawa.

Setelah merasa buntu menggeluti bidang olahraga dan pecinta alam, akhirnya Mas Boim pindah jalur. Kali ini lebih ekstrim, mencoba peruntungan menjadi model!! Wuisss…..beliaupun akhirnya mengirimkan biodata serta pas foto tampak depan, belakang, dan samping kanan kiri. Setelah menunggu sehari, sepekan, dan beberapa waktu lamanya, akhirnya pihak agen menghubungi Mas Boim. Yang beliau tahu, bagi mereka yang biodatanya tidak diterima, maka pihak agen tidak akan menghubungi, tapi jika diterima, maka pihak agen akan menghubungi. Nah, berhubung Mas Boim dihubungi oleh pihak agen, maka beliau senang bukan main. Itu artinya beliau diterima. Begitu menurutnya.

Namun sayang, siapakah yang bisa menebak takdir?? Ternyata oh ternyata, sesampainya di sana, Mas Boim malah dinasehati untuk tidak melakukan kesalahan di lain hari. Bahkan pihak agen memanggilkan ustadz agar Mas Boim cepat taubat. (hahaha…..kami mulai tertawa kembali. Entah ini kisah nyata beliau atau hanya sekedar kisah lucu yang beliau karang, namun kami hanya bisa tertawa mendengar penuturan beliau). Tidak berhenti sampai di situ, "Sebelum pulang dengan perasaan kecewa, eh pulangnya dikasih kaca." Lanjut Mas Boim sambil mengulum senyumnya. Kamipun ikut tertawa. Kali ini lebih keras :D

Ahhh…jadi pemain basket nggak, pecinta alam juga bukan, apalagi model yang jelas-jelas malah disuruh tobat. Cappek dehhh…..akhirnya pada saat sekolah Mas Boim mengadakan sebuah teater, di sinilah Mas Boim menemukan potensi aslinya. Ternyata naskah drama yang beliau ajukan ke pihak sekolah dan diikutsertakan dalam lomba, akhirnya terpilih menjadi juara 3. Jreng…jreng….jreng….Boim muda akhirnya menemukan jati dirinya yang hilang. Yaitu sebagai seorang penulis dan jurnalis.

Ah, mungkin karena rasa humornya yang selalu meremaja, sehingga Mas Boim tak habis-habisnya memiliki gagasan untuk selalu membuat tulisan-tulisan yang meremaja pula, meski usia semakin termakan senja. Rasanya tak puas jika mengenal Mas Boim hanya sebentar. Semoga di pertemuan yang akan datang, masih banyak cerita dan pengalaman yang akan beliau bagikan pada saya dan anggota FLP Jakarta lainnya.

Bagi yang belum tahu seperti apa Mas Boim Lebon, ini dia:

saat jadi pembicara pada acara Studium Generale FLP Jakarta 15/01/12


“Nurlaila Zahra a.k.a Sarah berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia, disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, dan Kios108

18 komentar:

zone mengatakan...

coba setiap minta sayur begitu dijamin bakal segera cerai...
salah pengertian...
:P

[L]ain mengatakan...

hooo yang ngarang lupus ya

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

oh itu toh yg namanya BOim. lucu juga hehee

Una mengatakan...

Wah aku ga baca lupus :D

Lyliana Thia mengatakan...

hahhaha... kebayang deh kalo hadir disitu juga bisa2 sakit perut pas pulang... tulisannya banyak Sarah, tapi aku baca semua sampe habis.. lucu sih... heheh..

sukses kontesnya ya..

@yankmira mengatakan...

sempet tau tulisan lupus, ternyata beliau ini yaa penulisnya. gutlak buat kontesnya ya :)

Stupid monkey mengatakan...

save bookmark dl ah, buat nanti malam ;)

Mak Cebong 3 mengatakan...

Hi Sarah, Mak Cebong 3 dataaannngg :-)

Huahaha, seru yah si Mas Boim. Jadi pengen ketemuan gw. Pantes ajah LUPUS laku keras pan bukunya, dan ga ada deh yang bisa nyamain kelucuan buku itu (sangta berkarakter menurut gw)

Thanks yah dikau udah ikutan di Sawerannya Mak Cebong. Masih ada 2 kategori tuh Say kalo mo dibungkus semua :-)

Fahrie Sadah mengatakan...

Hahaha.. bener-bener nih bang boim, udah pernah aku ketemu sekali, aseli lucu luar dalam :-)

Della mengatakan...

Semoga ilmu dari FLP segera bisa diaplikasikan dalam novelmu ya, Sarah. Btw kemarin aku "nemu" mini novelmu dan ud aku aplot, tapi masih banyak sidang di kantor jadi nggak sempet-sempet bacanya, nih :)

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

lucu ya si Boim...

Ichsan Afriadi mengatakan...

Hahaha, apes banget nasib mas Boim. Andai aja Mas Boim nembak semua cewek yang dilihatnya, pasti banyak wanita yang masuk surga :D
Pas baca mas Boim jadi model .. Ngakak banget apalagi pulangnya dinasehati ustadz & dikasih pihak agen kaca.
Mudah-mudahan kampusku tahun ini ngundang beliau.

Rio Pratomo mengatakan...

titip salam sma mas boim.. ^_^

Rio Pratomo mengatakan...

titip salam sma mas boim.. ^_^

Gaphe mengatakan...

beruntung bisa ngikut acara yang mendatangkan penulis keren-keren gitu.

Itu Gusur yang di Lupus kan yah?.. kalo bandingin sama di filemnya memang beda.

hahaha ngakak saya baca guyonannya.

semoga menang ngontesnya yaa

Mak Cebong 2 mengatakan...

wahh trnyata orangnya bener2 lucu yach...hahaha seandainya aku ada disana pasti udah ketawa2 juga.....kalo semua pembicara sprti Boim...seharian juga ngga berasa jenuh aych heheh....

Terimakasih sarah atas partisipasinya...sdh tercatat sbg peserta....

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

aku bs bayangin pasti lucu bgt dengerin cerita mab boim lebon hihihi
aku yg baca cerita kamu aja ngakak :))
gud luck ya say kontesnya

anak-jelex mengatakan...

kunjungan hangat.. kunjung balik ya. jangan lupa follownya.. :D