21 April 2011

Surat Bunda untuk Rizky


Nak,
Perjuangan ini bukanlah tanpa arti. Perjuangan ini hanya agar kau mengerti, bahwa hidup ini tak semudah yang kau bayangkan.

Nak,
Bunda tahu kau selalu ingin dekat denganku. Bunda pun mengerti bahwa kau membutuhkanku di tiap waktumu. Bunda pun demikian nak. Namun maafkan bunda....
Mungkin aku belum bisa menjadi bunda yang seutuhnya buatmu. Seringkali kutinggalkan kau dirumah dengan anggota keluarga yang lain, bukan karena apa, melainkan karena bunda pergi untuk memenuhi sebagian kebutuhanmu dan menunaikan kewajibanku demi masa depan kita bersama. Kuharap kau mengerti nak. Baik-baiklah kau dirumah saat bunda jauh darimu. Izinkanlah bunda mengorbankan sedikit kebersamaan kita, untuk suatu hal yang mungkin akan kau pahami suatu saat nanti.

Tak jarang pula, yang seharusnya aku bisa pulang lebih awal, namun lagi-lagi, karena aku masih harus memenuhi sebagian kebutuhanmu, maka terpaksa aku menerima tawaran kerja lain. Yang pada akhirnya membuat waktuku terus mengulur panjang diluar sana, dan hanya menyisakan waktu malamku yang tak banyak, hanya untuk sekedar menemanimu tertawa bersenda gurau, sampai akhirnya kau tertidur lelap.

Nak,
Asal kau tahu, tak jarang aku harus melawan rasa kantukku yang tak tertahankan hingga membuatku sering terlewat saat harus turun di depan kampus. Itu semua tak menjadi masalah buatku, asal aku bisa selalu ada untukmu disaat kau membutuhkanku, itu sudah menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri dihatiku.

Nak,
Apa kau tahu? Kau adalah titipan terindah dari-Nya. Amanah ibumu, yang telah lebih dulu pulang keharibaan-Nya. Sehat-sehat ya sayang? Bunda selalu doakan agar kau senantiasa dalam lindungan Yang Kuasa. Sebab saat melihatmu tengah tak sehat, sebenarnya andai kubisa, ingin sekali rasanya aku menggadaikan kesehatanku demi kesembuhanmu. Apapun akan aku lakukan demi dirimu. Demi kebahagiaanmu, dan demi kehidupan yang layak buatmu.

Kau mungkin sudah tak bisa lagi merasakan kasih sayang ibumu, tapi aku janji nak, aku akan selalu berusaha untuk bisa menjadi seorang bunda yang baik untukmu. Aku akan berusaha untuk mencurahkan seluruh kasih sayangku buatmu, agar kau merasa tak pernah kehilangan kasih sayang seorang ibu.

Nak,
Kaulah yang kini menjadi alasan terkuat mengapa sampai saat ini aku harus tetap bekerja keras. Karena kaulah yang menjadi prioritasku saat ini. Suatu saat nanti kau pun akan mengerti, bahwa hidup ini akan berakhir pada suatu keadaan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, jika kau mau berusaha dengan ikhlas, sabar, dan selalu bersyukur. Jadilah anak yang shalih, cepat besar ya sayang? Bunda akan selalu menyayangimu Rizky :)

23:04, Rabu 20/04/2011
(saat menemani Rizky bobo)

Cerita ini diikutsertakan dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru

1 April 2011

Surat Kecil ke Barzah

Tante, apa kabar?
Aku harap tante selalu baik-baik saja disana, karna kuyakin Allah selalu menjaga tante beserta kakek dan dede Zainab. Tan, kalau boleh aku bercerita, banyak sekali hal yang terjadi dalam kehidupan keluarga kita selepas tante pergi dari dunia ini. Khususnya Rizky. Asal tante tahu, tepat di hari keempat tante dirawat di ICU, Rizky juga sempat dirawat dirumah sakit. Penyakitnya memang tidak terlalu parah, namun rewelnya itu ampun-ampun tan, mungkin karena saking rindunya ia terhadap tante. Alhamdulillah hanya tiga hari saja ia dirawat disana.

Namun takdir berkata lain tan. Tiap malam selepas tante pergi meinggalkan kami, Rizky semakin rewel. Tiap malam jika ia terbangun dari tidurnya, acap kali ia selalu memanggil-manggil tante dengan sebutan ”mama...mama...”. betapa mirisnya hati ini tan, kala mendengar jerit tangisnya yang semakin memilukan hati. Tak pernah ada kata lelah ataupun letih yang menyambangi bibir ini tan karna tiap malam harus terus terjaga karna Rizky yang jarang lelap dalam tidurnya. Meski walau boleh jujur, memang sangat lelah dan ngantuk pastinya, hehehe.

Tan, andai tante bisa melihat dari atas sana, saat ini Rizky tengah sakit lagi. Ia terkena campak sekarang. Keadaannya sangat lemah sekarang tan. Ia enggan makan. Suhu tubuhnya terkadang panas, namun kadang turun. Sudah sepekan berlalu sejak suhu badannya mulai tinggi. Awalnya hanya diminumkan obat penurun panas. Alhamdulillah keadaannya membaik. Namun hari-hari berlalu, suhu tubuhnya kembali meningkat. Hari senin yang lalu ia kubawa ke dokter Suhantoro tan. Obatnya cuma dapat puyer. Setelah diminumkan dua hari, panasnya blum juga mau turun.

Akhirnya hari Rabu sekitar jam dua belas malam, aku dan A Asbi langsung meluncur ke UGD RS. Pasar Rebo tan. Disana Rizky hanya diperiksa dan cek darah. Hasil darahnya negatif tan, ia tak terkena DBD. Namun dokter mengatakan, kemungkinan ia akan campak atau cacar, karena memang di tubuhnya sudah ada bercak-bercak merah disertai bintik-bintik pada awalnya.

Hari kamis kemarin bahkan aku tak masuk kerja tan, lantaran Rizky hanya mau digendong olehku. Tak apalah, yang penting sekarang kesembuhan Rizky yang menjadi prioritasku saat ini.

Tan, andai kau tahu dan bisa mendengar hal ini, sungguh, anak-anakmu sangat merindukanmu. Tak terkecuali aku dan keluarga yang lain. Kalau boleh jujur, sebenarnya kami belum siap untuk kehilanganmu. Namun Allah lebih menyayangimu tan. Sekarang kau tak ada beban lagi di dunia. Tenanglah kau disana, dan doakan kami agar bisa merawat kelima amanahmu itu dengan sabar dan ikhlas.

Sekali-sekali, tengoklah anak-anakmu tan. Seringlah datang dalam mimpi tidur mereka, khususnya Rizky. Sesungguhnya ia amat sangat merindukanmu. Mungkin sakitnya kali ini, pun karna ia juga memendam kerinduan yang mendalam terhadapmu.

Aku janji, aku akan membantu merawat anak-anakmu dengan baik. Aku pun akan menyayangi Rizky layaknya anakku sendiri. Aku tak kuasa bila melihat ia sedih dan terluka tan.

Tan, baik-baiklah kau diatas sana. Doa kami kan selalu mengiringi kepergianmu. Salam ya untuk kakek dan si kecil dede Zainab yang tak sempat menatap dunia, yg tak sempat menatap keluarga besarnya. Tan, kami akan selalu merindukanmu. Mesin jahitmu itu akan selalu menjadi kenangan tersendiri bagi kami. Dapur yang selalu menjadi tempat kau mercaik sayur-sayuran menjadi makanan yang enak, akan menjadi saksi bisu betapa ia kini akan sepi karna kau sudah tak bisa lagi memasak makanan enak untuk keluargamu.

Tan, sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan padamu, namun waktu dan tempat ini pasti tak akan mampu menguraikan apa yang kurasakan saat ini. Galau tan. Galau perasaanku. Hanya kau tempatku mengadu rasa. Hanya kau tempatku bercerita dan mencurahkan segala isi hatiku. Kini aku sudah tak bisa lagi berbincang denganmu. Kini kau sudah tak bisa lagi mendengar suaraku. Ingin sekali rasanya kau hadir dalam mimpiku. Kirimilah Rizky malaikatmu agar ia bisa selalu merasa bahwa kau tak pernah pergi darinya.

Begitu banyak kenangan yang kau tinggalkan untuk kami disini. Rasanya masih belum percaya bahwa kau telah tiada. Kau orang baik, insya Allah, Allah akan menyediakan tempat yang baik disisi-Nya. Tunggu aku ya tan disana, tunggu kami. Kelak kita akan berkumpul kembali di tempat yang paling indah.

Tan, aku merindukanmu........

23 Maret 2011

Ketika Cobaan itu Menjadikanku "Naik Kelas"

Hari itu tepat empat hari tanteku dirawat diruang ICU Rumah Sakit Budhi Asih. Tepat di tanggal 17 Maret 2011, sekitar pukul 02.00 dini hari Rizky terbangun dari tidurnya. Biasa, memang agak rewel sejak ibunya dirawat dirumah sakit. Ketika kugendong tubuhnya, tiba-tiba aku merasakan sekujur tubuhnya panas. Ternyata suhu tubuhnya meningkat drastis. Langsung saja pagi itu nenek segera mencarikan obat sumeng pada saudaraku yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggalku. Rizky langsung kuminumkan obat tersebut. Tak lama setelah itu, suhu badannya agak turun dan kumpulan peluh menyelimuti sekujur tubuhnya. Awalnya hari itu aku berniat masuk ke kantor karena sehari sebelumnya aku sudah izin tidak masuk kerja. Namun karena keadaan yang memaksaku, akhirnya aku izin sehari lagi dari kantor.


Pagi harinya suhu badan Rizky sudah agak normal. Ia pun kutinggal mencuci pakaian, namun lagi-lagi ia maunya main air bersamaku. Awalnya sudah kularang namun ia menangis, alhasil kubiarkan saja ia main air, asalkan tidak membasahi tubuhnya, kupikir tak apalah. Toh ia hanya memasuk-masukkan tangannya saja ke dalam bak. Beberapa waktu berlalu, nenek dan Ulfa pamit padaku pergi kerumah sakit untuk menjenguk tanteku. Tinggal aku dirumah bersama dengan si Rizky dan ketiga sepupuku.

Sementara si Rizky tidur, ia kutinggal masak sebentar. Ketika aku sudah kelar memasak, tiba-tiba ada saudaraku yang silaturahim kerumah mengatakan kalau suhu tubuh Rizky naik lagi. Tubuhnya memang panas saat kutempelkan telapak tanganku di keningnya. Masya Allah. Aku mulai agak panik. Untungnya ibuku sudah pulang dari pasar dan membawa obat penurun panas dan obat batuk. Langsung saja kuminumkan obat penurun panas tersebut pada Rizky. Alhamdulillah panas tubuhnya sudah agak menurun, meski masih agak hangat bila disentuh tubuhnya. Keringatpun sudah mulai mengucur deras membasahi tubuhnya.

Keesokan harinya panas tubuhnya naik lagi. Aku dan keluarga kembali panik. Pagi sekitar pukul 05.00 WIB aku berniat membawa Rizky periksa darah ke Budhi Asih, tapi kata om ku pergi ke bidan saja yang buka praktek dirumah. Ya sudah, kuikuti saja sarannya. Setelah sarapan dan minum obat, panas tubuhnya kembali turun. Akhirnya aku bisa tenang berangkat ke kantor. Dikantor, aku selalu bertanya keadaan Rizky dirumah pada ibuku. Awalnya aku bisa cukup tenang mengetahui keadaan Rizky dirumah, akupun bisa kuliah dengan tenang di kampus. Namun ketika aku pulang dan mencari-cari Rizky, nenek bilang, ternyata Rizky dibawa periksa darah ke RS. Budhi Asih bersama dengan Om dan ibuku. Oh Rabb, langsung lemas rasanya diriku mendengar pernyataan nenek.

Dirumah, sungguh tak tenang rasanya aku melakukan apapun. Sampai pada akhirnya Om ku mengabarkan bahwa Rizky harus dirawat dirumah sakit karena ada infeksi dalam tubuhnya yang menyebabkan suhu panas tubuhnya turun naik. Lekosit tubuh normal yang seharusnya 10.000, tapi Rizky mencapai hingga 29.000. Oh, aku tak mengerti apa itu, tapi yang pasti aku langsung menyusul Rizky dirumah sakit naik motor dengan adik sepupuku.

Sesampainya di UGD, aku lihat ibuku tengah memegang tubuh Rizky yang hendak di tusukkan jarum infus. Ya Rabb, tak tega rasanya aku menghadapi hal itu. Namun aku harus kuat menghadapinya. Kubantu ibuku memegang tubuh Rizky sambil melihat dua orang perawat menusukkan jarum suntik ke lengan Rizky. Di lengan kiri tak ditemui urat nadinya, lalu pindah ke urat nadi lengan kanannya. Alhamdulillah ketemu. Tangisnya tak henti-henti sampai aku menggendong dan memeluknya. Yang paling menyayat hati, ia selalu memanggil-manggil ibunya, “mama…mama…”. Oh Rabb…

Tak berapa lama, sekitar pukul 22.00 Rizky akhirnya dapat kamar di lantai 5 ruang 510. Suhu badannya masih panas namun sudah agak sedikit tenang. Aku menjaganya malam itu bersama dengan kakak sepupuku. Malam itu Rizky sering sekali menangis sambil menyebut-nyebut “mama…mama…” Aku hanya bisa berdoa semoga Allah menyembuhkan tanteku.

Selama 3 hari 3 malam dirumah sakit, begitu banyak perasaan yang campur aduk dalam hatiku. Ada rasa lelah saat harus menghadapi Rizky yang tak henti-hentinya menangis kala ia ingat ibunya, ada rasa kantuk karena setiap malam aku tak pernah lelap tertidur hingga pagi menjelang, ada perasaan cemas karena khawatir sakitnya parah, ada perasaan sedih dan gelisah saat kurasakan ujian yang kualami begitu berat. Namun ada juga perasaan bahagia saat kulihat nafsu makan Rizky tak pernah menurun, malah cenderung meningkat. Dan mungkin hal itu yang menjadi salah satu faktor Rizky bisa cepat sembuh.

Senin pagi tanggal 21 Maret 2011 sekitar pukul 10.00 WIB, Rizky pulang dari rumah sakit. Aku senang sekali. Aku tak bisa menyaksikan kepulangannya kerumah karena saat itu aku masuk kerja. Aku hanya mengirimkan syukur pada Yang Kuasa karena Rizky sudah sembuh. Namun keesokannya, siang sekitar pukul 11.00 WIB, aku dapat kabar dari ibuku bahwa keadaan tanteku kritis. Langsung saja aku izin kembali dari kantor dan langsung meluncur kerumah sakit menggunakan angkot.

Sesampainya disana, kudapati beberapa keluargaku sudah datang. Aku langsung melihat keadaan tante diruang ICU. Ya Allah, sungguh tak tega rasanya melihat keadaannya kala itu. Kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Nafasnya tersengal-sengal seperti kelelahan. Darah terus saja mengalir dari dalam mulutnya. Tubuhnya menjadi besar. Mungkin lantaran infusan yang tak henti-hentinya masuk dalam tubuhnya. Kulihat kakinya bengkak dan tubunya biru-biru seperti habis dipukuli. Aku hanya bisa beristighfar di depannya. Tak lama setelah itu aku keluar dan bergantian dengan saudaraku yang lain. Air mata tak henti-hentinya mengalir di pipiku.

Diruang tunggu, kuhidupkan murattal Surat Ar Rahman. Berharap agar hatiku bisa cukup tenang. Namun tak lama setelah itu, dokter menyuruhku dan keluarga untuk membacakan Qur’an dihadapannya. Oh Rabbi, apa maksudnya??? Beberapa keluarga masuk kedalam ruang ICU dan mendapati ruangan tanteku sudah ditutupi oleh tirai. Kakiku lemas. Namun kupaksakan untuk masuk kedalam. Disana kulihat nafas tanteku sudah tidak tersengal-sengal lagi. Keadaannya sudah lebih tenang. Namun apa arti dari ketenangannya itu? Aku dan suami tanteku tetap membacakan surat Al Qur’an dihadapannya, sampai tiba di pertengahan surat, dokter menyuruhku untuk minggir sebentar karena ia hendak memeriksa keadaan tante. Tapi sebuah pil pahit yang harus kutelan, tanteku ternyata telah tiada. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Aku dan kakak sepupu perempuanku langsung berpelukan cukup erat. Aku memeluknya dengan sangat erat karena sunguh-sungguh tak kuasa menerima kenyataan itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Namun kakak menyadarkanku bahwa semua itu adalah kehendak Allah swt. Bahwa mungkin Allah lebih sayang pada tante. Dan kata-kata bijak lainnya yang berusaha ia ucapkan untuk tetap menguatkan aku dan dirinya.

Tak lama berselang, aku langsung keluar dan menunggu jenazah tante dikeluarkan dari ruang ICU. Lagi-lagi air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi wajahku. Begitu juga dengan semua keluargaku. Aku langsung mengabarkan ibuku dirumah bahwa tante telah tiada. Anak pertama tante yang memang tak ikut kerumah sakit, sudah pingsan duluan dirumah. Jenazah sudah dikeluarkan dari ruang ICU. Aku sempat membuka kain penutup wajahnya. Kutatapi wajahnya. Begitu tenang dan ikhlas. Seluruh tubuhnya bengkak. Kusentuh lengan kirinya, terasa amat keras. Aku sungguh tak tega melihatnya.

Setelah membacakan surat Yasin sebentar, lalu aku langsung pulang berdua dengan kakak sepupu perempuanku. Sepanjang jalan banyak yang kami kisahkan tentang masa lalu kami bersama tante. Jujur, aku tak pernah sanggup menahan laju air mataku.

Sesampainya dirumah, aku langsung memeluk nenekku. Aku berusaha menguatkan beliau dengan berbagai ucapan yang kumampu. Tak lama setelah itu, kuhampiri anak perempuan pertama tante, Ulfa, yang tadi sempat pingsan. Ia masih terkulai lemas diatas kasur sambil menangis. Kembali ia kupeluk dan kukuatkan dengan sugesti yang kubisa. Bahwa semua yang terjadi ini adalah ketetapan-Nya. Bahwa semua yang teah terlewati, mungkin ada sedikit andil kita sebagai makhluk yang tak pernah luput dari salah dan dosa. Bahwa mungkin, memang kita menyayangi tante, tapi yakinlah, bahwa Allah lebih sayang padanya. Ia kusuruh menangis bila dengan hal itu bisa membuatnya sedikit lega.

Aku mencari Rizky, ternyata tengah tertidur di kamar Om ku. Tak lama jenazah tante tiba dirumah duka. Jerit tangis senantiasa mewarnai suasana duka kala itu. Tak terkecuali aku. Tak lama setelah itu, Rizky bangun dari tidurnya. Ia langsung kugendong dan kutemukan ia dengan jenazah ibunya. Sesaat ia menatap wajah alm. Ibunya, tapi setelahnya ia menangis sejadi-jadinya. Segera saja ia kubawa keluar rumah untuk menenangkan diri.

Prosesi pemandian dan pengkafanan sudah selesai, aku yang tengah menyuapi Rizky, langsung dipanggil oleh ibuku. Dengan maksud untuk mencium jenazah tante untuk yang terakhhir kalinya. Awalnya aku ingin sekali menciumkan Rizky ke ibunya, tapi sebelum sempat ia kudekatkan ke ibunya, ia sudah keburu nangis duluan. Aku pun tak tega melihatnya. Setelah mencium alm. Tante, aku langsung membawa Rizky keluar rumah lagi.

Ba’da Maghrib, jenazah tante langsung dikebumikan di pemakaman Tanjung Barat. Aku dan Rizky mengiringi kepergian tante sampai setelah ia di sholatkan. Orang-orang menyuruh kami untuk melewati kolong keranda sebanyak tiga kali. Dengan maksud agar Rizky tidak selalu ingat dengan alm. Ibunya. Setelah itu, beberapa orang tersebut, siap membawa jenazah tante ke mobil ambulance. Aku dan Rizky menatap mereka membawa keranda dengan perasaan sedih. “Selamat jalan mama….” Kubahasakan hal itu pada Rizky. Kusuruh ia melambaikan tangannya sambil berucap, “Dadah mama…….”. Sesak dalam hati yang kurasa. Aku sengaja tak membawa Rizky ke pemakaman karena sudah malam. Aku kembali ke rumah dengan perasaan yang tak menentu.

Malam hari Rizky kembali tidur bersamaku. Alhamdulilah tidurnya nyenyak. Hanya saja, ketika Rizky mendusin dari tidurnya sesaat dan kembali tidur, aku malah yang tak bisa tidur. Kulihat jam menunjukkan pukul 01.45. Aku baru menyadari, bahwa ternyata tante telah tiada dalam kehidupan kami. Kutatapi keempat anak tante yang memang sejak tante di ICU, mereka tidur denganku di ruang tengah. Mereka masih teramat kecil dan lugu untuk dipisahkan dengan ibu mereka. Aku tak habis pikir, bahwa ternyata mereka sudah tidak memiliki ibu. Masa depan mereka masih panjang, kehidupan yang harus mereka lalui masih penuh liku. Dan mereka harus melewati aral kehidupan, tanpa adanya sosok seorang ibu. Terlebih lagi Rizky, yang belum mengerti bahwa ternyata ibu yang selalu ia rindukan, ternyata sudah tidak bisa ia temui lagi untuk selamanya.

Banyak pelajaran yang bisa aku dan sekeluarga ambil. Begitu banyak hikmah yang bertaburan dibalik peristiwa ini. Kini, tak ada gunanya meratapi masa yang telah lalu, biarlah yang telah terjadi, menjadi sebuah pembelajaran bagi kami yang masih hidup. Kini tinggal menatap lurus kedepan untuk melanjutkan hidup yang ada. Masih ada 5 anak sebagai amanah tante pada kami sebagai keluarga yang masih hidup. Kami harus bahu membahu membesarkan mereka agr bisa tumbuh menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua dan keluarga mereka.

Ada satu keinginanku saat ini, jika suatu saat aku menemukan jodohku, aku harap ia yang bersedia berbagi sisa hidup denganku, dengan senang hati juga mau menerima Rizky sebagai anaknya. Sebab aku berencana akan menjadikan Rizky sebagai anak asuhku. Itu azzamku sampai kapanpun.

“Selamat jalan tante, tenanglah kau disisi-Nya. Tak perlulah kau cemaskan anak-anakmu. Insya Allah mereka akan baik-baik saja bersama kami disini. Ikhlaskanlah mereka tan, agar mereka pun bisa ikhlas melepas kepergianmu, khususnya Rizky, yang selalu menyebut namamu…..”

Sekali lagi, selamat jalan tante…

16 Maret 2011

Ujian itu Berbuah Kesabaran yang Menguatkanku

Hari itu tanggal 14 Maret 2011. Kuingat, 3 hari lalu adalah tepat setahun kakek pergi meninggalkan aku dan keluarga besarku. Tak lupa pula doa tulus selalu kupanjatkan pada Yang Maha Kuasa untuk ketenangan kakek disisi-Nya sana. Siang itu saat aku tengah berada di kantor, tiba-tiba ada pesan singkat dari ibuku yang memberitahukan Rizky (red-dede), tak henti-hentinya menangis lantaran ditinggal ibunya pergi kerumah sakit. Kupikir ibunya sedang melakukan proses persalinan karena memang ibunya itu tengah mengandung, namun ternyata ibunya itu sedang mengurus proses steril kandungan di Rumah Sakit Budhi Asih. Namun kabar terakhir yang aku dapat dari kakaknya dede (red-Ulfa) dan kakak sepupuku (red-abang Anam), ternyata ibunya dede memang benar-benar tengah melakukan proses persalinan. Sungguh saat itu aku benar-benar dilema, karena aku masih harus mengajar sepulang kerja lanjut kuliah dihari pertamaku masuk di semester 5.


Akhirnya kuhubungi ibuku dan minta pendapatnya apakah baiknya aku kuliah saja atau pulang saja karena si dede masih terus rewel. Akhirnya ibuku bilang bahwa baiknya aku libur kuliah saja pada saat itu. Ok, sepulang kerja aku tak langsung pulang kerumah, namun mengajar sebentar terlebih dahulu. Selesai mengajar aku langsung pulang. Tak lupa mampir ke warung untuk membeli susu dan beberapa makanan kecil kesukaan dede, kalau-kalau malam hari ia mau ngemil.

Sesampainya dirumah ternyata tangis dede sudah mereda. Aku pun agak sedikit tenang. Namun cerita lain kudengar dari saudaraku yang mengantar ibunya dede kerumah sakit. Ternyata ibunya dede mengalami pendarahan ketika ingin shalat Zuhur. Yang mana pendarahan itu terus saja terjadi sampai senja menjelang. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba Ulfa mengirimiku SMS dan mengatakan bahwa keadaan ibunya (red-tante) mulai melemah, begitu juga dengan bayi kecil yang ada dalam kandungannya. Hatiku sudah mulai cemas. Tiba-tiba sekitar pukul tujuh malam menjelang Isya, tiba-tiba Ulfa kembali mengabariku bahwa tanteku ternyata harus masuk keruang ICU karena kondisinya semakin melemah. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bergegas mengganti pakaian dan langsung berangkat ke Budhi Asih dengan abang Anam dan adik sepupuku (Ade), dan meninggalkan si dede dan beberapa kakaknya dengan ibuku dirumah.

Sesampainya di lantai 4 di Budhi Asih, kutemui Ulfa tengah menangis sembari ditemani temannya. Kamipun langsung menuju ke lantai satu untuk menemui bagian administrasi. Disana, mereka menjelaskan bagaimana prosedur untuk memindahkan tante keruang ICU, termasuk biaya-biayanya yang diperkirakan bisa sampai 5-6 juta perharinya. “Ya Allah, dari mana keluargaku bisa mendapatkan uang sebanyak itu??” Hatiku membatin.

Aku tak langsung mengambil keputusan untuk memindahkan tante keruang ICU. Aku hubungi beberapa keluargaku dan kumintai pendapat mereka tentang hal ini. Sampai pada akhirnya nenekku datang bersama pamanku dan diputuskan bahwa tanteku jadi dipindahkan keruang ICU. Masalah biaya itu bisa belakangan, yang terpenting nyawa tanteku bisa tertolong. Sementara itu Ulfa dan temannya pergi ke PMI untuk mencari darah karena tenteku benar-benar banyak kehilangan darah.

Aku dan beberapa keluargaku kembali ke lantai 4 untuk menunggu waktu pemindahan tante keruang ICU. Namun sebelum itu, aku, nenek, dan pamanku sempat menemui suster yang menangani tanteku. Ia memberitahukan sebuah kenyataan yang membuat hatiku bergetar hebat. Bayi dalam kandungan tanteku ternyata sudah tidak bernyawa sejak pukul setengah tujuh malam. Innalillahi wa innailaihi roji’un. Aku tak kuasa mendengarnya.

Kuputar saja murattal Surat Ar Rahman diruang tunggu kamar bersalin untuk menenangkan hatiku. Tak lama kemudian tanteku dipindahkan keruang ICU. Pada saat itu aku melihat kondisinya benar-benar lemah. Wajahnya sangat pucat. Ia tak henti-hentinya berzikir dan beristighfar. Sementara itu ia masih terus saja mengalami pendarahan. Sampai akhirnya tante masuk keruang ICU dan aku dan keluarga hanya boleh menunggunya diruang tunggu.

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mataku sudah benar-benar ngantuk. Akhirnya kuputuskan untuk pulang bersama nenek, abang Anam, dan Ade. Sementara itu aku dapat kabar dari Ulfa bahwa darah di PMI bisa di dapatkan nanti pukul 1 dini hari. Ketika aku dan yang lain sudah ada ditempat parkir motor, tiba-tiba ibuku mengirim SMS yang mengatakan bahwa si dede nangis dan tidak mau berhenti-berhenti.

Sesampainya dirumah, ternyata si dede sudah tidur, namun tak lama aku sampai dirumah, dede terbangun dari tidurnya dan menangis tak henti-henti. Alhasil aku terus menggendongnya sepanjang malam agar ia bisa tertidur pulas dalam gendonganku. Sesekali kuletakkan tubuh mungilnya di kasur, namun ia selalu menangis bila diletakkan dikasur. Akhirnya aku terus menggendongnya sepanjang malam, dan selama itu pula aku memejamkan mataku sambil berdiri. Ya Allah, lelahnya…..ditambah lagi, malam itu aku dapat kabar dari pamanku yang menjaga tante dirumah sakit bahwa ia harus menebus resep seharga 1,1 juta rupiah. Ya Rabb…..

Keesokan harinya aku tetap berangkat ke kantor karena akan ada rapat. Namun aku berangkat agak siangan karena dede masih saja rewel sambil memanggil-manggil ibunya “mama….mama”. Oh Rabb, hatiku benar-benar tersayat mendengar tangisannya itu. Dikantorpun, aku tak pernah bisa konsentrasi. Aku terus saja menanyakan keadaan tante dirumah sakit dan keadaan dede dirumah yang kutinggal bersama ibuku dirumah. Dikantor, tiba-tiba abang Anam mengabarkanku bahwa tanteku harus segera dioperasi untuk mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungannya. Namun tak berapa lama, tiba-tiba abang mengirimiku SMS yang mangatakan bahwa bayi tante sudah keluar secara normal. Alhamdulillah. Namun satu kabar lagi yang mengejutkanku bahwa dokter mendiagnosa tanteku juga terkena DBD. Astaghfirullah.

Hari itu tidak ada jadwal mengajar, jadi sepulang kerja aku bisa langsung pulang kerumah. Ternyata dirumah sudah ada beberapa saudaraku yang datang dari Citayam dan Kali Sari. Mereka mengikuti prosesi pemakaman dede kecil yang diberi nama Zainab. Aku tak sempat melihat jasad bayi mungil itu. Namun doaku selalu menyertainya, dan berpikir positif saja, “Jika memang Allah tidak mengizinkan dede kecil Zainab itu untuk tetap hidup bersama kami, mungkin karena memang Allah lebih menyayanginya….”. Ketika aku sampai dirumah, kudapati dede tertidur pulas. Sampai ketika aku ingin shalat Maghrib, dede bangun. Aku kesulitan untuk mencuri waktu darinya karena ia maunya hanya denganku. Akhirnya dengan sedikit paksaan, nenek mengambilnya dariku agar aku bisa shalat Maghrib. Setelah shalat Maghrib, dede bersamaku lagi. Kuajak ia main keluar rumah. Disana ada beberapa temannya sehingga ia bisa sedikit melupakan rasa rindunya pada ibunya. Ia berlari kesana kemari seolah tak pernah ada beban dalam hidupnya. Aku begitu senang melihatnya tertawa dan bercanda riang dengan temannya meskipun kalau boleh jujur, aku sangat lelah. Karena tidurku semalam hanya sebatas memejamkan mata, tidak sampai terlelap.

Waktu terus berjalan, akhirnya dede pun mau tertidur. Ketika ia tidur, aku sempatkan untuk shalat Isya dan bebersih diri. Malam sudah cukup larut, aku pun berusaha untuk tidur disamping dede. Namun sesekali, disepanjang malam, dede sering terbangun sambil memanggil-manggil ibunya, “mama, mama…”. Hatiku benar-benar sedih dan pilu. Sambil menggendong tubuh mungilnya dengan mata yang sayup-sayup menahan kantuk, aku terus berdoa dalam hati pada Allah Sang Maha Pemberi, semoga Ia cepat menyembuhkan tanteku.

Alhamdulillah tidurku semalam agak cukup meskipun memang lebih sering bangunnya ketimbang terlelapnya. Namun tak apalah, aku pun senang. Keesokan harinya aku izin tidak masuk kantor, sebab aku harus menjaga dede dan kakaknya dirumah. Nenek dan abang Anam harus kerumah sakit mengantikan pamanku yang sudah semalaman menginap dirumah sakit. Pagi inipun pamanku tak langsung istirahat dirumah. Ia langsung berangkat ke Suku Dinas untuk mengurus SKTM untuk perawatan tante dirumah sakit. Bayangkan saja, kalau SKTM tidak diurus, bisa jadi biaya dirumah sakit semakin membengkak. Semalam saja, sebelumnya pamanku harus menebus obat rumah sakit sebesar 1,5 juta rupiah, namun tak lama setelah itu, ia mengabarkan lagi kerumah bahwa dokter menyuruhnya lagi untuk menebus obat sebesar 3,7 juta. Masya Allah, benarkah demikian adanya, atau memang hal itu hanya permainan pihak rumah sakit yang memang hanya ingin mengambil keuntungan dari rakyat kecil seperti kami? Astaghfirullah, bukan bermaksud untuk su’udzan, tapi memang hal itu benar-benar tak masuk di akal. Belum lama menebus obat yang jumlahnya tidak sedikit, eh sudah disuruh untuk menebus lagi. Bahkan tidak tanggung-tanggung jumlahnya. Benar-benar mencekik. Akhirnya obat itu tidak langsung ditebus, namun menunggu esok hari ketika SKTM sudah jadi.

Hari ini aku tidak masuk kantor. Tugasku hari ini menjaga dede dan menunggu kabar dirumah. Pagi hari mandi (karena semalam banyak kena ompol dede, hehehe), lalu setelah itu menyuapi dede sarapan di depan rumah, sekalian ngumpul dengan beberapa tetangga disana. Nenek sudah berangkat kerumah sakit bersama abang Anam, siangnya Ade yang menyusul kerumah sakit. Kebetulan hari ini ibuku dagang dipasar. Jadi dirumah hanya ada aku, Ulfa, dan dede, dan anak tante yg keempat, Azmi. Sementara anak tante yang kedua dan ketiga (Tiara dan Intan) sudah berangkat ke sekolah sejak pagi tadi. Ulfa mencuci pakaian sedangkan aku mengajak main dede di depan rumah sembari menyuapinya.

Hari ini benar-benar hari yang special buatku. Hari ini aku seharian bersama dede. Mengajaknya bermain, memandikannya, menyuapinya, bahkan membersihkan kotorannya saat ia tengah buang air. Ah….indahnya bisa merasakan menjadi seorang ibu. Kala si dede tengah bermain dengan tetanggaku yang masih kecil, aku sempatkan berbenah rumah dan mencuci piring. Setelah itu aku ambil kembali dedenya. Ibuku pulang dari pasar. Ia pun segera bergegas untuk pergi juga kerumah sakit. Sebelumnya abang Anam dan Ulfa harus pergi ke PMI untuk kembali mengambil darah. Namun tak lama setelah mereka pergi, tiba-tiba Ulfa meneleponku dan mengatakan bahwa ia dan abang terserempet metromini. Masya Allah, Allah benar-benar tengah menguji keluargaku. Tapi Alhamdulillah mereka tak apa-apa dan bisa terus melanjutkan perjalanan mereka kerumah sakit. Sementara itu Dede nggak mau tetap diam dirumah. Akhirnya dia bermain dengan Azmi dan sepupuku yang lain, Alif, yang rumahnya tak jauh dari rumah nenek. Tak lama setelah itu aku pun berhasil menidurkan dede.

Sekitar pukul dua siang ibuku pulang dari rumah sakit. Alhamdulillah ia mengatakan bahwa keadaan tante sudah membaik. Ia sudah mulai sadar dan sudah tidak terlalu pucat seperti kemarin. Aku lega sekali mendengarnya. Mudah-mudahan saja besok tante sudah bisa dipindahkan keruang rawat inap. Sementara itu jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Sudah waktunya aku pergi mengajar lanjut kuliah. Untungnya nenek dan beberapa keluarga yang lain sudah pulang ketika si dede terbangun dari tidurnya. Jadi aku bisa meninggalkannya dengan tenang bersama mereka dirumah.

Sepulang kuliah, kutemui dede sedang asyik bermain dengan anggota keluarga yang lain. Aku senang melihatnya. Namun lagi-lagi, ketika aku hendak shalat Maghrib, dede kembali menangis dan maunya digendong sama aku. Kugendong sebentar lalu kuserahkan pada Ulfa. Selepas shalat Maghrib, Ade dan Tiara pergi kerumah sakit. Sementara itu si dede masih asyik bercengkerama dengan nenek dan Ulfa sehingga aku masih bisa membuka laptop dan menuliskan artikel ini, hehehe. Tapi selepas Isya, lagi-lagi aku harus menidurkan dede dulu baru bisa kembali bercengkerama dengan laptop :D.

Ini hari ketiga tante berada diruang ICU. Aku selalu berharap agar Allah memudahkan segala urusan keluargaku dan cepat memberi kesembuhan pada tante. “Tante, cepat sembuh ya. Beberapa hari saja tak ada tante dirumah, suasana rumah begitu sepi. Anak-anak tante pasti begitu merindukan hadirmu. Terlebih lagi dede Rizky. Meskipun ia amat dekat denganku, tapi tetap saja, aku tak akan pernah bisa menggantikan posisimu dihatinya. Cepat sembuh tante, dan cepat kembali bersama kami disini. Kami merindukanmu. Doa kami selalu menyertai kesembuhanmu. Amiin.”

Sekarang dede dah tidur. Mudah2an bisa lelap sampai pagi. Bagi para pembaca, mohon doanya ya biar kesehatan tanteku kembali lagi seperti sedia kala. Amiin. Makasih banyak :)



Gambar: Dede Rizky

26 Januari 2011

Karena Aku tak Setegar Batu Karang

Ramadhan tahun lalu (2010), mungkin adalah ramadhan yang penuh ujian bagiku dan keluarga. Bagaimana tidak, tepat di hari ke sebelas ramadhan, adikku terserang penyakit infeksi saluran pencernaan dan musti dirawat di RSUD Budhi Asih selama 12 hari. Di hari pertama adikku sakit, awal mulanya ia diajak oleh teman-temannya untuk menginap dirumah salah satu temannya. Kebetulan pada saat ia pergi waktu itu, hujan turun rintik-rintik. Jadilah ia kehujanan saat tiba di rumah temannya. Sesampainya dirumah temannya, ia langsung disuguhkan semangkok bakso oleh orang tua temannya. Tanpa pikir panjang, ia pun memakannya bersama teman-temannya yang lain. Kemudian setelah makan tiba-tiba saja ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian perutnya. Namun karena ia sangat pendiam, jadilah ia hanya dapat menahan rasa sakitnya itu semalaman dan tidak dapat tidur malam itu.

Sampai di pagi harinya, sekitar jam 10.00 WIB, saat aku tengah menonton tv, tiba-tiba ia pulang dan langsung masuk ke kamar. Ada kecurigaan yang tiba-tiba menyusup dalam diriku. Segera kulihat keadaannya. Dan aku menangkap ada yang aneh pada dirinya. Aku khawatir ia berbuat atau menggunakan yang macam-macam sehingga ia terlihat tidak seperti biasanya.

Setelah melihat keadaannya yang seperti itu, aku langsung memanggil nenekku untuk memberi tahu keadaannya tersebut. Setelah dipegang tubuhnya, ternyata panas. Dan setelah ditanya ternyata ia sakit. Aku langsung menghubungi ibuku yang tengah berdagang di pasar. Sementara itu aku langsung bergegas pergi ke apotik untuk membeli obat maag, obat demam, dan obat penurun panas. Sesampainya dirumah, ibuku pun juga sudah pulang. Ia langsung meminumkan obat yang telah kubeli pada adikku. Kami sudah cukup tenang karena ia sudah meminum obat.

Hari berganti, namun sakit adikku tak kunjung sembuh. Malah justru cenderung lebih parah. Perutnya semakin sakit dan membesar sehingga ia tak bisa berjalan. Keesokannya ia dibawa ke RSUD Budhi Asih sekitar sore hari. Dokter menyarankan adikku untuk segera dirawat disana namun ia kukuh tidak mau. Akhirnya keesokan harinya lagi, ia bersama ibu dan nenekku balik lagi ke Budhi Asih. Dan keputusan akhirnya, ia pun harus tetap dirawat.

Setelah mendapat kabar dari ibuku, aku langsung minta izin dari kantor untuk pergi kerumah sakit. Aku pulang dulu untuk membawa segala keperluan adikku dirumah sakit sekaligus membawa makanan untuk kami berbuka puasa disana. Akhirnya aku pun menginap dirumah sakit bersama ibuku.

Keesokan harinya aku pulang karena harus bekerja. Namun sebelum berangkat kerja, aku harus balik lagi kerumah sakit untuk mengantar beberapa potong pakaian ibuku dan sedikit mengurus surat-surat yang diperlukan dirumah sakit, baru setelah itu aku kembali berangkat kerja. Namun di tempat kerja aku sungguh tak tenang, hingga akhirnya ibuku meneleponku dan aku putuskan untuk kembali izin dari kantor untuk kembali mengurus surat-surat yang dibutuhkan rumah sakit. Setelah itu aku kembali lagi kerumah. Sendiri dalam kegamangan didalam angkot aku menangis bila mengingat rintihan adikku. Aku terus menangis sampai tiba di Pasar Minggu.

Keesokannya aku izin dari kantor selam dua hari untuk menemani ibuku menjaga adikku di rumah sakit. Keadaan adikku semakin parah. Perutnya semakin membesar. Dan ia selalu merintih kesakitan di bagian perutnya. Sungguh aku tak tega melihatnya seperti itu. Sebab yang kukenal selama ini, ia adalah anak yang pendiam dan tak pernah macam-macam. Sehingga melihat ia merintih dan mengerang kesakitan seperti itu, sangat membuat hatiku teriris. Rasanya dadaku sesak dan air mata selalu ingin keluar namun selalu kutahan bila berada di hadapnya agar ia juga tak ikut sedih. Dalam hati aku berucap, andai saja aku bisa menggadaikan kesehatanku demi kesembuhannya.

Saat rasa sakit itu ia rasakan, ia hanya ingin dipeluk oleh ibuku. Melihat pemandangan itu, sungguh sangat membuat hatiku terenyuh. Ia adikku yang amat kusayangi, dan juga ibuku yang amat kucintai dan kukagumi, kini tengah mengalami cobaan yang cukup berat kurasa.

Hari hari berlalu dalam bilangan doa pada Yang Kuasa agar penyakit adikku segera diangkat olehNya, dikurangi rasa sakitnya, dan bisa segera lekas sembuh dan pulih seperti sedia kala. Bila berada di rumah sakit, aku selalu membacakan Al Qur’an di hadapannya sambil mengusap-usap perutnya. Dalam setiap sujud aku selalu berdoa dengan tulus untuk kesembuhannya. Dalam setiap doa pun aku selalu meneteskan air mata kesedihan kala ingat penderitaan yang ia alami karena penyakitnya. Seringkali ia muntah dan dari muntahannya itu keluar cairan berwarna hijau kental.

Dr. bedah yang menangani penyakit adikku mengatakan agar adikku harus diselang. Maksudnya, untuk mengeluarkan cairan dalam perutnya yang semakin membesar itu, adikku harus mau dimasukkan selang melalui hidung untuk mengeluarkan cairan kotor yang ada di dalam lambungnya. Awalnya adikku tidak mau, namun karena ia sudah tak tahan dengan rasa sakit yang ia alami, akhirnya dengan bujukan ibuku dan suster, ia pun mau untuk diselang. Dan pagi harinya ia sempat di USG untuk melihat penyakit dalam perutnya.

Tepat di hari Minggu tanggal 29 Agustus 2010, suster di rumah sakit menyarankan untuk segera mengambil tindakan untuk diselang. Pada saat itu aku dan nenekku tengah berada di rumah sakit. Karena aku tak tega melihat ia diselang, akhirnya aku mengatakan pada suster agar proses penyelangan itu dilakukan setelah aku dan nenekku pulang.

Dirumah pun aku juga tak tenang. Selalu teringat adikku yang saat ini pasti tengah kesakitan menjalani proses penyelangan. Tak lupa aku selalu berdoa untuk kesembuhannya. Keesokan harinya ibuku sempat mengirimkan gambar adikku lewat MMS dengan keadaannya yang sudah diselang. Sungguh aku tak tega melihatnya. Aku jadi teringat, ia yang biasa ceria kini hanya dapat terbaring lemah tak berdaya. Oh Rabb, aku kembali menangis. Tapi aku yakin, hal itu dilakukan demi kesembuhannya.

Hari Senin hasil USG nya sudah keluar. Dokter mengatakan bahwa ada benjolan dalam perutnya yang dikira tumor. Ibuku mengabarkan hal itu padaku lewat SMS. Jujur, seperti ada benda besar yang menghantam dadaku saat kutahu kabar itu. Tapi ibuku bilang itu belum pasti. Aku kembali berdoa semoga perkiraan itu salah. Dokter segera menyarankan untuk melakukan scanning di Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RUSPAU) di daerah Halim. Pada hari Rabu tanggal 1 September 2010 adikku segera di scanning disana setelah semua surat-suratnya selesai diurus.

Perut adikku sudah mulai kempis. Cairan yang keluar melalui selang itu ditampung didalam botol dan warnanya hijau pekat. Selama empat hari empat malam selang itu ada dalam perut adikku. Keadaannya sudah tak nyaman dengan adanya selang dalam hidung dan perutnya. Tapi Alhamdulillah perutnya sudah tak sakit lagi.

Hampir setiap hari jika tak ada jadwal mengajar aku datang kerumah sakit untuk sekedar menemani ibu dan adikku disana. Alhamdulillah selama 12 hari disana, selalu saja ada bantuan doa dan financial dari orang-orang terdekat kami. Baik dari keluarga, sanak saudara, rekan kantor, tetangga, sampai teman-temanku ikut memberi bantuan padaku dan keluarga untuk kesembuhan adikku.

Namun terkadang terlintas dibenakku, rasanya semua ini amat berat kurasa tanpa adanya seorang ayah di sisi kami. Namun aku yakin, Allah menghadirkan om, tante, nenek, kerabat, serta rekan-rekan yang turut membantu, sudah lebih dari cukup untuk menggantikan peran ayah dalam hal ini.

Selama adikku dirawat, selama itu pula ibuku menemaninya dirumah sakit tanpa pernah pulang kerumah. Sebab adikku hanya ingin ditemani oleh ibu. Ibuku sungguh sangat sabar menghadapi adikku kala itu. Ia hampir tak pernah tidur dalam hari-hari itu. Ia selalu berjaga kala adikku membutuhkan bantuannya. Aku semakin yakin, tanpa adanya sosok ayah dalam kehidupan kami, secara tidak langsung ibu sudah berperan juga sebagai ayah bagi kami. Ia kulihat begitu sabar dan tegar dalam menghadapi cobaan ini. Tak pernah ada keluhan yang terucap dari mulutnya. Hanya ucapan sayang yang selalu ia lontarkan padaku dan adikku. Aku begitu menyayanginya. Alhamdulillah Allah senantiasa memberikannya kesehatan selama menjaga adik dirumah sakit, walau terkadang ia juga masuk angin karena terus-terusan ada dalam ruangan ber AC.

Selama 12 hari adik dan ibuku ada di rumah sakit, di rumah begitu sepi. Buka puasa dan sahur pun serasa tak ada gairah. Dan keseringannya aku buka puasa di rumah sakit. Aku ingin selalu ada untuk keluarga kecilku. Dan alhamdulillah, setelah berhari-hari berada di rumah sakit, keadaan adikku berangsur-angsur membaik. Hasil scanning menunjukkan kalau memang ada infeksi dalam ususnya tapi itu juga sudah hampir sembuh, selang dalam perutnya pun sudah dicabut. Alhamdulillah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sangat lega mendengar berita dari ibuku akan hal itu.

Ramadhan tahun ini, benar-benar menjadi ujian bagiku dan keluarga. Aku sudah khawatir saja kalau-kalau adikku tak dapat tertolong. Tapi alhamdulillah, berkali-kali aku mengucap syukur pada Tuhan akan kesembuhan adikku.

Terima kasih kuucapkan pada semua pihak yang telah berkontribusi dalam kesembuhan adikku. Atas bantuan doa dan materinya yang tulus, semoga dibalas oleh Allah swt. Amiin.

23 Januari 2011

Pagi itu masih begitu senyap kurasakan kala kudengar dari kamar sebelah, adikku tengah muntah-muntah mengeluarkan sisa-sisa makanan yang ia makan semalam. Aku langsung bangun dan segera bergegas menghampirinya. Dipunggungnya terdapat garis-garis merah bekas dikerik oleh nenek. Muntah adikku itu berwarna merah. Aku khawatir yang dimuntahkannya itu adalah darah. Hatiku langsung berdegup kencang. Namun segera kutepis pemikiran itu, dan segera kuyakinkan kembali diriku kalau ia hanya masuk angin biasa.

Selang beberapa waktu, aku segera memberitahu ibuku yang tengah berdagang di pasar bahwa adikku sakit. Ibu pulang sebentar untuk melihat keadaan adik lalu kembali lagi ke pasar untuk melanjutkan jualannya.

24 Januari 2011

Awalnya keadaan adikku seperti demam biasa, namun keesokan harinya, perutnya kembali sakit. Aku dan keluarga benar-benar khawatir. Pagi sebelum berangkat ke kantor, aku sempatkan menghubungi ibuku di pasar. Aku bilang padanya bahwa kondisi adikku tak kunjung membaik dan aku menyarankan agar adikku itu dibawa ke Dr. Suhantoro. dokter praktek langganan adik di bilangan Kalibata. Namun ibuku juga sama panik dan cemasnya seperti aku, akhirnya aku coba menghubungi Dr. Suhantoro, bertanya apa sebaiknya adikku itu dibawa ke beliau atau dibawa langsung ke RS. Persahabatan untuk menemui Dr. Fachrial, dokter rujukan Dr. Suhantoro yang tempo hari sempat menangani penyakit adikku. Kami sempat membawanya beberapa hari setelah lebaran ke beliau, dan kali ini kami hendak membawanya kembali kesana. Kata Dr. Suhantoro baiknya dibawa langsung ke Dr. Fachrial di RS. Persahabatan. Setelah tahu kabar tersebut, awalnya ibu mengajakku untuk hari ini juga pergi berobat ke Dr. Fachrial, tapi kubilang bahwa aku tidak bisa seenaknya saja tidak masuk kantor karena aku juga memiliki kewajiban yang tidak bisa aku tinggalkan disana. Akhirnya aku berikan pilihan kalau untuk hari ini baiknya adikku dibawa saja ke Puskesmas, baru keesokan harinya aku izin dikantor untuk bawa adik ke RS. Persahabatan. Merekapun setuju.

25 Januari 2011

Sekitar pukul 06.30 kami berangkat dari rumah menuju RS. Persahabatan. Perjalanan macet sekali. Sampai disana sekitar pukul 08.30. Aku langsung mencari kursi roda karena adikku tidak kuat berjalan jauh. Kebetulan Dr. Fachrial berada di Gedung Griya Puspa yang posisinya cukup jauh dari tempat kami turun dari taxi. Adikku didorong di kursi roda oleh seorang petugas yang cukup baik hati mengantarkan kami sampai ke tempat tujuan. Aku langsung kebagian informasi untuk membuat kartu pasien lalu membayarnya di kasir. Setelah itu aku langsung menuju ke lantai 3 untuk menemui Dr. Fachrial. Tak lama kami menunggu, kami pun segera bertemu dengan Dr. Fachrial. Setelah cukup lama berobat dan berkonsultasi dengannya, kami langsung cek darah di laboratorium lantai 1. Cukup lama menunggu hasilnya, waktu itupun aku sempatkan untuk menebus obat di apotek. Tak lama setelah itu hasil labnya sudah keluar lalu segera kubawa lagi ke lantai 3 untuk diberitahukan pada Dr. Fachrial. Namun sayangnya lagi-lagi kami harus menunggu selama sekitar 2 jam karena Dr. Fachrialnya tengah makan siang, sementara adikku yang masih terus berada di kursi roda sudah merintih kesakitan dan meminta untuk segera pulang. Bibirnya sudah biru karena kedinginan dan menahan rasa sakit. Aku sungguh tak tega melihatnya. Aku hanya bisa berdoa agar Allah senantiasa mengurangi rasa sakitnya itu.

Setelah Dr. Fachrial datang kami segera bertemu dengannya, dan tak lama setelah itu kami pun pulang. Aku, ibu, dan adikku. Disepanjang perjalanan pulang, aku termenung dalam kegamanganku. Betapa seharusnya aku musti kuat, aku musti tegar, dan aku musti sehat agar aku bisa terus menjaga dan merawat keluargaku. Mereka membutuhkanku. Merekalah yang aku miliki saat ini. Lagi-lagi, meski tanpa figur seorang ayah dalam kehidupan kami, tapi aku harus tunjukkan dan buktikan ke semua, khususnya pada ayahku yang kini tengah hidup bersama keluarganya di kampung halaman, bahwa aku dan keluargakupun bisa tetap hidup dengan kuat dan tegar tanpa kehadirannya dalam kehidupan kami.

Terkadang aku menangis sendiri dalam diam dan sepi mengapa sampai saat ini aku tidak bisa merasakan nikmatnya diberikan kasih sayang dari seorang yang seharusnya kupanggil ayah sejak kecil. Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya dikasih dan disayangi oleh sosok bernama ayah. Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya meminta sesuatu yang aku inginkan padanya, aku juga tak pernah tahu bagaimana kondisi rumah yang didalamnya terdapat sosok seorang ayah. Aku tak pernah tahu akan hal itu. Sebab aku sudah terbiasa hidup tanpa ayah sejak usiaku 2 tahun. Aku tak membencinya, pun juga tak merindukannya. Bagiku ayah hanyalah sosok yang asing buatku.

Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku di dalam taxi. Sudah sampai Kalibata rupanya. Tak lama kami sampai di Pasar Minggu, memasuki asrama Polri dan kami turun disana. Sesampainya dirumah, dan waktu terasa begitu cepat berlalu bagiku, malampun kembali menghampiri. Adik tetap tak mau makan. Ia sebenarnya lapar namun ia takut untuk makan karena khawatir perutnya kembung lagi dan harus dirawat dan diselang lagi. Aku begitu miris melihat keadaannya.

Dikamar sebelah, sembari menunggu azan Isya berkumandang, aku tidur-tiduran sejenak ditempat tidurku. Perlahan air mataku mulai menetes meski tak banyak. Hatiku benar-benar gusar karena adikku masih terus saja merintih kesakitan. Meski aku berusaha tegar dan kuat di depan semua, namun sebenarnya hatiku tak sekuat yang mereka kira dan aku tak setegar batu karang. Adakalanya batinku benar-benar merasa rapuh dan sepi karena semua ini. Jika sudah seperti ini keadaannya, maka aku hanya bisa diam termenung dan berusaha menghilangkan sesak hati yang kurasakan.

Namun dari semua tempaan hidup yang kurasakan dan kualami, aku berusaha untuk tetap kuat dihadapan keluarga dan semua agar merekapun juga tetap kuat. Meski tanpa sosok seorang ayah dalam kehidupanku, tapi aku akan berusaha agar aku bisa tetap kuat, meski aku tak setegar batu karang...........


nurlailazahra

14 Januari 2011

Award dari Tetangga Blogger

Hai semua, mau ngasih tau nih kalo blum lama aku dapet award dari salah seorang teman blogger namanya Mbak Nadia


Katanya sih, kalo dah nerima award harus ngelakuin ini:

1. thank and link to the person who awarded me this award.

Temenan ama Mbak Nadia cuma dari dunia maya, saling komen diblog masing2, eh taunya dapet award segala. Yo wes, ikuti saja permainannya :) makasih Mbak Nadia

2. share 8 things about myself.

Kalo menurutku, aku itu:
1. humoris (iya gak sih?? :D)
2. rajin ngejailin orang (xixixixi….)
3. demen banget cari kenalan baru cewe yg baik hati (buat cari pengalaman)
4. keibuan (cieee……)
5. kata orang sih dewasa (mungkin karena bermutu (bermuka tua) kali yee..)
6. demen banget ngenet n ngeblog
7. rajin mencari hal-hal yg baru
8. demen bereksperimen dg resep2 masakan

3. pay it forward to 8 bloggers that i have recently discovered.

Kalo disuruh mau ngelanjutin kemana nih award,,, hmmm kesini kali ya:
1. Mbak Nurul, semua yg ditulisnya enak buat dibaca
2. Bapak Anjar, suaminya Mbak Nurul, yg inspiratif bgt
4. Mbak Ucil, salam kenal kembali mbak :))
3. bingung, soalnya blum banyak blogger yg aku kunjungi....

4. contact those blogger and tell them about their awards.

Yo wes, bentar tak kabari orgnya…..


Katanya juga, Buat yang namanya diatas jangan lupa Amanatnya ini :
1. thank and link to the person who awarded me this award.
2. share 8 things about myself.
3. pay it forward to 8 bloggers that i have recently discovered.
4. contact those blogger and tell them about their awards.

12 Januari 2011

Belajar Mencintai Hidup

Meski terkadang hidup sering tak memberiku alasan mengapa aku harus menjalani kehidupan seperti ini, tapi aku berusaha untuk mencintai apa yang aku jalani saat ini. Meski kelelahan sering menyapaku di setiap detik-detik langkah perjalanan usiaku, namun aku mencoba untuk terus bertahan dengan semangat yang tak kunjung padam. Meski kenyataan yang ada kadang tak seiring sejalan dengan keinginan yang diharapkan, namun aku terus berpikir positif bahwa ada Yang Lebih Tahu mana yang terbaik untukku. Meski banyak yang berpikiran macam-macam tentangku dan hidup yang kujalani saat ini, namun aku coba ’tuk memahami mereka dengan segala keterbatasan yang kupunya.


Meski cobaan dan ujian tak ubahnya seperti hujan dan badai yang terus menerjang, tetapi dengan penuh ketegaran akan kucoba atasi semuanya. Meski masalah demi masalah terus saja datang menghampiri, namun dengan penuh keyakinan akan kuselesaikan semuanya. Jika dengan kesendirian aku masih bisa mengatasinya, maka akan kuatasi. Namun jika tidak, aku hanya cukup diam mengadu pada-Nya untuk memikirkan jalan keluarnya. Walau terkadang air mata menemani di ujung mata, dan rasa sesak yang tak tertahan terkadang menggores sukma, namun hal itu sudah cukup membuatku lega. Paling tidak, itu artinya aku masih punya hati untuk bisa merasakan gelisah yang kualami. Tak lama, lalu kubasuh ia untuk kembali menguatkan diri. Meski terkadang waktu yang kurasakan teramat sangat kurang bila dibandingkan dengan aktivitas yang kujalani, namun aku berusaha untuk menjalaninya dengan penuh kesenangan. Meski terkadang banyak sekali pertanyaan yang tak juga dapat kutemui jawabannya, namun kucoba ’tuk bersabar sambil memikirkan bagaimana baiknya.

Kehidupan yang kujalani hingga saat ini telah mengajarkanku tentang arti sebuah kekuatan. Bahwa sesungguhnya tanpa kekuatan dari-Nya, aku tak akan mampu menjalaninya. Dengan kondisi keluarga yang kumiliki saat ini, sebenarnya telah menempaku secara tidak langsung untuk dapat setegar batu karang agar dapat sekiranya kujalani hari-hari dan kehidupanku kelak dengan lebih baik. Dengan kondisi jalinan pertemanan yang kujalani saat ini, pun juga sejatinya telah mengasah pola pikir dan sikapku untuk lebih dewasa dan lebih bijak. Lebih sederhana dalam hidup, tutur kata, kepribadian, dan tingkah laku.

Menurutku, hidup ini indah, bahkan teramat sangat indah jika kulalui setiap fasenya dengan senyum kekuatan dan ketegaran. Bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Bahwa selalu ada hikmah yang dapat dipetik dari setiap ujian dan cobaan yang kualami. Ujian dan cobaan ada, pun sejatinya bukan untuk membuatku menderita, meratapi nasib yang ada, dan pasrah begitu saja, tapi juga harus ada usahaku untuk mengatasinya. Musti ada taktik dan strategi yang dibuat agar hidup yang kujalani tak hanya sekedar hidup yang berlalu tanpa arti, namun harus ada perjuangan dan pengorbanan yang kelak bisa menjadi sebuah kekuatan tersendiri untukku.

Dari semua yang pernah kulalui dalam kehidupan ini, kini aku bisa tersenyum sembari mengucapkan, ”Inilah hidup yang pernah Allah titipkan padaku, dan aku senang menjalani hidupku. Aku mencintai hidupku”

Sekali lagi, meski hidup terkadang seperti teka teki yang teramat sulit untuk dipecahkan misterinya, namun pada akhirnya aku menyadari, bahwa inilah seninya dalam menjalani setiap detik dalam hidupku. Yang pada akhirnya aku belajar untuk mencintai hidup, dan mencintai Sang Maha Pemberi Hidup. Itulah syukur yang tidak akan pernah ada tandingannya.


nurlailazahra

4 Januari 2011

Ibu Berkarir atau Berkarir sebagai Ibu..???

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak, mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami. Dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada putri kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.

Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal..

Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.

Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu). Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.

Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka.

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya.

Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan. Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? .

Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya. Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.

Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga. Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami..

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi , setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.

Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! Menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis !

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah. Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren..

Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya. Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama..

Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta. Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.

Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah. Maya menulis :

"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..Ya Tuhan, Maya kangen banget sama bik Inah"

Bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya. Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya.

Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya. Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.
Dan disetiap berdoa saya selalu memohon

"YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu". Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

NN


Best Regards,
Mulyana N
==================
PT.OTICS Indonesia
Production Control Dept.
Marketing & Prod. Control Div.

10 Desember 2010

Budaya Tertib Berkendara di Jalan Raya

Menaiki sebuah angkutan umum or kota atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan angkot, telah menjadi rutinitas harian saya setiap harinya. Berbagai jenis angkot dan tipe supirnya pun mungkin sudah hampir semua saya kenal, karena dalam satu hari bisa empat sampai lima kali saya naik angkot. Karena seringnya saya bercengkerama dengan yang namanya angkot, seolah telah menanamkan sebuah pemikiran dalam diri saya tentang budaya tertib mengendarai kendaraan.


Terakhir, sebelum saya memutuskan untuk menulis artikel ini, saya sempat menaiki angkot berwarna biru jurusan Pasar Minggu – Mekar Sari pada waktu malam. Ketika angkot berjalan perlahan, awalnya tak ada perasaan apapun, namun setelah beberapa lama roda angkot melaju, ada sebuah ketakutan tersendiri dalam hati, entah dengan penumpang yang lain.

Ketakutan itu bukan lantaran di dalam angkot ada seorang yang dicurigai sebagai copet or penjahat, melainkan karena si supir angkot membawa mobilnya secara ugal-ugalan. Hmm…sepanjang jalan saya hanya bisa berdzikir dalam hati semoga angkot yang saya tumpangi tidak mengalami apa-apa lantaran tidak mengindahkan budaya tertib di jalan raya.

Ditengah kondisi yang tegang itu, tiba-tiba saya kembali berfikir, selama ini setiap kali naik angkot, selalu saja hati saya ketar-ketir cemas lantaran kalau-kalau angkot yang saya tumpangi menyerempet mobil atau motor orang lain atau mungkin seorang manusia yang disenggolnya, karena saking cepat lajunya dan seolah tanpa perhitungan dalam menjalaninya.

Astaghfirullah….rasanya kok ya aneh, saya rasa hampir semua supir angkot bertipikal seperti itu. Buru-buru dan tidak sabaran. Padahal kalau boleh jujur dan ingin sekali saya sampaikan pada mereka, bahwa yang mereka bawa adalah sekelompok manusia dan bukan sekumpulan ikan teri. Kalau mereka tidak mengindahkan keselamatan dirinya dan orang lain, maka keselamatan seolah menjadi sebuah barang yang langka karena nyawa manusia lah yang menjadi taruhannya.

Dan semalam pun saya sempat mempunyai pikiran, bahwa kalau begini ceritanya, maka saya pun mungkin harus “menutup mata” jika ingin menaiki sebuah angkot. Yakin saja pada Allah bahwa saya dan penumpang yang lain akan baik-baik saja sampai tiba di tempat tujuan. Bukan apa-apa, tapi mungkin karena supir2 angkot merasa bahwa dirinya sudah handal dalam menyetir sehingga tidak perlu lagi memakai norma-norma budaya tertib dalam berkendara, maka saya pun perlahan sudah harus terbiasa dengan kondisi seperti itu. Pastinya tanpa terlepas dari berserah diri pada Allah bahwa hidup dan mati hanya hak prerogatif dari-Nya.

Artikel ini di ikutsertakan dalam kontes Aduk Pakde Cholik di Blogcamp

Pojok kamar, 22.12

8 Desember 2010

Sikap “Saling” akan Mengeratkan Sebuah Hubungan


Menjalin sebuah hubungan, entah itu hubungan persahabatan, persaudaraan, ataupun hubungan percintaan, sejatinya membutuhkan sikap saling mengerti dan saling memahami antara satu sama lain. Mengapa demikian?


Banyak orang mengatakan bahwa hubungan itu akan terjalin dengan baik jika satu sama lain yang menjalin hubungan itu saling terbuka, saling jujur, saling setia, saling cocok, dan bermacam-macam saling yang lainnya. Kesemuanya itu memang benar dan tidak ada salahnya. Bahkan dengan adanya rasa “saling” tersebut itu, bisa membuat suatu hubungan jadi lebih langgeng dan lebih awet.

Sikap “saling” dalam menjalin sebuah hubungan adalah point utama dalam kehidupan ini. Sebab sifat “saling” adalah memberikan satu sama lain, take and give, plug and play. Dimana jika yang satu sakit, maka yang lain menjenguk. Dimana jika yang satu terpuruk, maka yang lain menguatkan. Dan begitulah seterusnya hingga sebuah hubungan bisa berjalan dengan baik dan harmonis.



Sikap egois, ingin menang sendiri, pendendam, tidak mau mendengarkan masukan atau pendapat dari orang lain, teman, ataupun pasangan kita adalah sebuah sikap yang tidak baik dan bisa menyebabkan jalinan sebuah hubungan menjadi renggang.



Saling mengerti dan memahami adalah kunci dalam menjalin sebuah hubungan. Kedua sikap ini bisa diyakini dapat melahirkan beberapa sikap lainnya yang diperlukan dalam sebuah hubungan seperti saling setia, saling terbuka, saling mempercayai, saling jujur, saling menguatkan dan saling memaafkan jika yang satu merasa memiliki salah pada yang lain.

nurlailazahra

2 November 2010

Weekend in Bandung: antara berpetualang dan berkah silaturahim

30.10.10
Pagi itu matahari masih menyembunyikan dirinya di ufuk timur saat alarmku berbunyi menunjukkan sudah pukul 03.00 WIB. Mataku masih sayup-sayup terbuka saat kumatikan bunyi alarm tadi. Hanya mematikan sesaat setelah itu lanjut tidur lagi beberapa menit (xixixixi……). Setelah dirasa cukup, aku bangun dan mengetik sms pada sahabatku yang mengajakku ke Bandung pagi ini, untuk sholat tahajud. Setelah itu aku bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, witir, plus baca qur’an bentaran. Setelah itu aku mencuci piring dan memasak air untuk mandi, dilanjut masak air buat isi termos. Setelah bebenah diri, gak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima pagi lewat beberapa menit, ada sms dari mama ngingetin untuk bangunin pamanku yang mau nganter ke tempat travel Cipaganti yang ada di Lenteng Agung.


Siip, hematnya aku dah nangkring di atas motor dengan segala perlengkapan yang akan kubawa untuk berpetualang ke Bandung bareng temenku, Rahma yang mau tes ujian PNS di BKKBN, Jawa Barat. Singkat cerita, setelah sampe di travel, aku langsung membayar pesanan tiket yang sudah dipesan Rahma sebelumnya. Gak lama mobilnyapun berangkat. Aku dan Rahma menaikinya sambil berucap doa dalam hati semoga Allah melancarkan perjalanan kami saat ini.

narsis dikit sblum berangkat

view saat diperjalanan

Jalanan gak begitu macet (ya iyalah orang lewat Tol Cipularang gitu lohhhh……) jadi kita sampe di travel Cipaganti Pasteur, Bandung kurang lebih jam 8 setelah kami berangkat dari Jakarta jam 6 pagi. Sesampenya disana masih bingung tuh mau kemana, karena masih blum tahu daerahnya. Tujuannya sih ke gedung BKKBN, tapi gak tahu mau jalannya kemana. Ya udah kita tanya2 aja ama sekuriti disana. Setelah dikasih tahu, ya udah kita naik angkot yang dimaksud menuju tempat yang dituju. Sempet ganti angkot sampe tiga kali sampe akhirnya pengembaraan kita menemukan tempat pemberhentian di gedung BKKBN (horeeeee………). Dah sampe trus kita masuk untuk ngambil kartu ujian Rahma. Setelah kelar, aku langsung sms seorang teman yang blum pernah kutemui seblumnya (loh kok bisa??) ya iyalah, jadi gini ceritanya. (yuuukkk mariiii……)

Seorang teman di Bandung ini bernama Dian, aku biasa memanggilnya Teteh or Teh Dian. Kami bertemu lebih dari setahun lalu melalui jejaring sosial Friendster. Lupa gimana kenalannya sampe akhirnya aku dan dia bertukar no ponsel. Kita sering sms-an dan sempat juga si teteh menghubungi aku dan akhirnya kita ngobrol panjang lebar. Tapi silaturahim kita hanya sebates itu selama ini sampe akhirnya Allah mempertemukan kami dengan cara yang gak pernah diduga seblumnya.

Rahma yang mau ujian PNS di Bandung awalnya ngajak aku nginep di hotel, tapi aku baru inget bahwa aku punya teman disana, dua hari seblum keberangkatan kami ke Bandung, aku sempat teringat dengan Teh Dian dan segera menghubunginya. Singkat cerita, Teh Dian menawarkan kami untuk menginap dirumahnya setelah tahu bahwa tempat yang kami tuju di Bandung cukup dekat dengan rumahnya (wah… asyik nih bisa ketemuan :D).

Kembali ke cerita seblumnya, jadi setelah urusan aku dan Rahma kelar di BKKBN, aku langsung sms si teteh, tapi cukup lama gak dibales, spontan kami pun dah mulai agak cemas. (xixixi…maklum, gak pernah ngebolang selama ini :D). sembari nunggu kabar dari teteh, ya udah kita duduk2 di kursi depan gedung sambil makan2 cemilan yang kita bawa. Sempet juga ngubungin si teteh, eh taunya si teteh lagi kuliah, ya udah kita tunggu aja sampe kelar kuliah, pikirku.

view di depan kantor BKKBN

Sejam, dua jam, sampe akhirnya zuhur pun berkumandang. Gak lama sebelum itu Teh Dian sms aku dengan no yang lain, mengabarkan bahwa ia masih ada kuliah sampe jam 5 sore. (oo..oo…ya sudah lah, nunggu sampe sore jg ga pa2). Kebelutan dibelakang gedung ada musolah yang tempatnya cukup nyaman, jadi kami istirahat dulu disana sembari sholat zuhur lanjut makan siang. Gak lama setelah itu taunya ujan turun, ya udahlah nunggu si teteh di musolah yg cukup nyaman sambil bobo siang (serasa dirumah sendiri dah, hehehe).

Sore menjelang, ashar pun tiba. Aku dan Rahma menunaikan sholat ashar berjamaah. Diluar ujan dah cukup reda, aku dan Teh dian kembali sms-an. Kami sih cukup nyaman ada di musolah, tapi karena kami dah di Bandung, pingin rasanya main-main seputaran Bandung, ya udahlah ba’da asharan kami jalan ke Sucore (Surapati Core), tempat dimana kami janjian bertemu dengan Teh Dian. Disana cuma ada ruko2, butik, dan tempat makan, yahh….gak terlalu menarik lah, kalo di Jakarta ya modelnya sama ama di daerah Pondok Gede yang banyak ruko2nya.

Surapati Core

Kami memutuskan untuk makan di sebuah warung makan ayam bakar. Setelah order kami mencari tempat duduk. Pesenan yg ditunggu cukup lama, sampe tiba Teh Dian sms dan kami mengira ia sudah akan sampai di Sucore. Akhirnya kami meutuskan makanan yg sudah dipesan agar dibungkus saja, setelah itu kami langsung menuju Sucore untuk menunggu Teh Dian. Gak lama nunggu di depan Sucore, eeehhhh…. Ujan gerimis aje, hehehe, akhirnya kita nyebrang untuk neduh di depan sebuah toko yang ada tendanya. (untung tokonya tutup, jadi bisa neduh, kalo gak, bisa2 diusir kita :D).

Selama neduh itu, aku dan Teh Dian gak berenti sms-an and telponan. Rumah Teh Dian gak dilalui angkot, jadi musti naik ojek untuk sampe kesana. Ya udah, karena ujan dan Teh Dian juga dah sampe rumahnya naek motor, akhirnya kita naek ojek ajah berbekal alamat yang dah si teteh kasih. Jeng….jeng….akhirnya aku dan Rahma sampe juga di rumah Teh Dian, horreeeee………kami benar2 disambut dengan baik disana, keluarga Teh Dian benar2 memuliakan tamu.

Kami diberikan sebuah kamar yang cukup nyaman disana. Setelah bebersih diri dan sholat maghrib, kami inisiatif memakan ayam bakar yang tadi kami minta bungkus. Makannya buru2 supaya gak ketauan si teteh, hehehe. (gak enak soalnya si teteh pasti nyediain makan buat kita, tapi sayang juga kalo gak dimakan, khawatir basi dan mubazir. Utk Teh dian: maaf yah menyembunyikan hal ini dari teteh :D)

Tuh bener aja kan, gak lama setelah makan dan sholat isya, eh si teteh ngajak makan lagi, ya udah kita makan lagi. (makin gembul aja deh , hehehe). Setelah makan, nyuci piring eh airnya abis, ya udah dilanjut ngobrol2 di kamar deh. Setelah dirasa dah malem dan ngantuk, si teteh balik kemarnya sedangkan aku dan Rahma ngobrol2 sebentar dikamar gak lama setelah itu kami pun tidur.

31.10.10
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00, matiin alarm trus tidur lagi :D. jam 03.40 baru bangun untuk tahajud, witir, dan baca qur’an bareng Rahma. Beuuuhhh….bangun jam segitu rasanya dingiiiiiiiinnnn…..banget. ngambil air wudhu serasa ngambil air dari kulkas, blum berani mandi sebab takut berubah jadi es batu pas airnya disiramin ke tubuh (heheh lebay). Setelah tahajudan, aku dan Rahma ngobrol2 bentar trus tidur lagi. Bangun2 jam setengah enam, baru mandi. Kalo jam segini dah gak begitu dingin, tapi sejuk. Setelah bebenah diri, Teh Dian dateng ke kamar untuk ngajak kami sarapan. Tadinya dah mau pamit dan berencana nyari sarapan diluar, tapi si teteh nyuruh makan, ya udah sarapan dirumah teteh deh :D (emang dasar rejeki yahh…..).

Kelar sarapan kami langsung pamit sebab Rahma ada tes ujian jam 8. Jam 7 kami dah jalan. Pamit sama Teh Dian nya aja, gak sempet pamit ama ibunya coz ibunya lagi busy di toko nya yg ada disebelah rumahnya. (ya mudah2an si ibu ikhlas dan ridho akan kedatangan kami, moga kebaikannya dibalas oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda, amiin). Kami berangkat dan si teteh bilang mau nyusul ke tempat ujian. Oke deh, ditunggu teh………

Suasana pagi di Cicaheum

Ujian diadain di SMPN 14, gak jauh dari rumah Teh Dian. Cuma naik ojek sekali untuk nyampe ke Sucore dah gitu naek angkot ACEH (Abdul Muis – Caheum) untuk nyampe SMPN 14. Sesampenya disana, Rahma ujian dan aku nunggu di depan SMPN nya bareng dua orang ibu yang juga lagi nunggu anaknya ujian. Ada yang dari Bogor dan Surabaya. (wow……)

Lapangan Supratman

tampak dpn SMPN 14

Teh Dian dateng sekitar jam 10 lewat. Setelah teteh dateng, ya udah langsung kuajak jalan sementara nunggu Rahma kelar ujian. Kami pergi ke Gasibu, dekat Gedung Sate dan Museum Geologi. Disana ternyata setiap minggu pagi diadakan pasar kaget. Pasar yang sampe memenuhi ruas jalan sepanjang Gedung Sate dan sekitarnya. Aku melihat-lihat barang-barang disana. Tapi gak banyak yang bisa kubeli, hanya dua potong pakaian buat si kecil Rizky, baju buat abang Azmi (kakaknya Rizky), dan peralatan dapur buat nenek dirumah. Selebihnya waktu yang kupunya hanya kugunakan untuk lihat2 aja, gak sempet beli, sama aja sih barang2nya ama yang ada di Jakarta.

Sekitar jam stgh 12 si teteh dah mulai capek, ya udah, setelah beli lumpia basah, yang kalo di Jakarta mungkin dikenal dengan toge goreng, aku dan si teteh pun beranjak ke Masjid PUSDAI untuk zuhur. Rahma dah kusuruh untuk dateng juga ke masjid tersebut. Setelah kami betiga ketemu, ya udah kita cari tempat makan di sekitar masjid. Disana ada sebuah warung makan yang buat aku penasaran. “Tahu Petis”. Hmm….pengen ah ngerasain. Setelah beli es kelapa muda, kami pun langsung memesan makanan. Aku penasaran ama tahu petis, sementara Rahma beli kupat tahu. Sedangkan Teh Dian gak mau makan karena tadi seblum zuhuran dah makan lumpia basah. Ya sudah hanya minum es kelapa. Tadinya dah khawatir aja gak doyan tahu petis karena blum pernah nyobain, eh ternyata bedanya tahu petis ama kupat tahu, cuma kencur doang. Kalo kupat tahu gak pake kencur, kalo tahu petis pake. Selebihnya sama aja ama makanan ketoprak di Jakarta.

Masjid PUSDAI

Museum Geologi

Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Bandung

Gedung Sate

Setelah makan, si teteh ngajak kami ke sebuah tempat yang ada tulisan DAGO dengan hurufnya yang besar2 berwarna merah di pinggir jalan (lupa nanya nama jalannya…). Aku pun sempat mengabadikan tulisan tersebut.


Diakhir perjalanan kami di Bandung, kami sempat foto2 di pinggir jalan itu, tapi maaf gak bisa di pasang disini sebab kita kan tiga cewe yang keren2, khawatir takut dicari paparazzi ah, (hehehe narsis euy…..). setelah lelah berpetualang di Cicaheum, Bandung, kami memutuskan untuk langsung ke tempat travel di Pasteur sebab aku sudah memesan tiket untuk keberangkatan pulang jam 4. Pada saat itu, ada sebuah kesedihan sih yang terasa, sebab rasanya enggan untuk berpisah dengan Teh Dian yang begitu baik terhadap kami. Sosoknya yang lembut dan mempunyai senyum yang manis telah mempunyai tempat tersendiri di hati kami. Aku dan Rahma pasti akan selalu merindukan sosoknya. Kami tanya, boleh gak kalo suatu saat kami main lagi ke Bandung? Dan ia menjawab dengan senyumnya yang begitu manis, “boleh kok…” :) (jadi kangen deh ama si teteh….)

Kami berpisah tepat di depan Balai Penterjemah ITB


Aku dan Rahma menaiki angkot menuju Pasteur sementara si teteh naik angkot untuk pulang kerumahnya. Ah, ada sebuah kenangan yang kutinggalkan di Bandung. Ada sebuah cerita yang pernah kurangkai disana bersama Rahma sahabatku dan Teh Dian, yang dah kuanggap seperti kakakku sendiri. Orang2 Bandung begitu ramah, logat mereka yang begitu khas, telah membuat sebuah kesan tersendiri dalam hatiku. Sampe2 logat itu masih terbawa olehku sampe sekarang, hehehe……

Selama perjalanan pulang aku selalu mengenang kebersamaanku bersama Teh Dian. Ah, betapa tak pernah kuduga kami dapat dipertemukan Allah dengan cara yang begitu indah. Disaat aku dan Rahma tengah membutuhkan bantuan, ada sosok Teh Dian yang membantu kami, yang sblumnya hanya kukenal lewat dunia maya dan ponsel. Ternyata benar juga, sebuah hadits mengatakan bahwa menyambung silaturahim akan memperpanjang usia dan memperbanyak rejeki. :)

Ah, rasanya berat meninggalkan kota Bandung yang penuh kenangan dihati. Tapi tugas di Jakarta juga telah menanti. Biarlah jarak dan waktu memisahkan kami dan Teh Dian, tapi kuyakin hati kami pasti akan selalu terpaut karena-Nya :). Love u teh………..

lesson of the story:
Teruslah sambung silaturahim, sebab Allah pasti selalu punya rencana yg indah yang tak pernah kita duga2 seblumnya. Untuk selanjutnya, mungkin bisa nyari teman di daerah, Jogja, Surabaya, Semarang, atau mungkin Bali..???? hehehe…………..siap berpetualang ke kota selanjutnyaaaaaaaaa……….. :D