22 Maret 2012

A Little Letter to Barzah

Assalamu’alaykum. Tante, apa kabar? Ah, rasanya retoris sekali yah kalau saat ini aku masih menanyakan kabarmu di sana. Karena aku yakin kau pasti selalu bahagia di tempatmu sekarang.

Tan, tiada terasa sudah satu tahun lamanya kau pergi meninggalkanku dan keluarga kita. Tanpamu di sisi kami, bilangan hari-hari kemarin rasanya masih sangat kelabu untuk kami jalani. Kalau boleh jujur, rasanya masih sangat tidak percaya kalau kini kau telah berpulang ke pangkuan-Nya. Namun karena kami berusaha beriman dengan segala takdir dan ketentuan-Nya, kami selalu mencoba untuk ikhlas melepas kepergianmu. Dan pada akhirnya kami mampu Tan. Meskipun ikhlas, bukan berarti kami lupa padamu. Bukan berarti kami lupa pada kakek dan Zaenab. Dan bukan berarti kami tak mengirimkan doa tulus untuk kalian bertiga. Sesungguhnya, di setiap hembusan nafasku selalu tercurah doa suci yang selalu kusampaikan pada Allah untuk kalian bertiga.

Ahhh.....Tante, setiap mengingatmu, entah mengapa rasanya aku selalu ingin menangis. Apalagi bila melihat Rizky, dan semua anak-anakmu. Tapi melihat anak-anakmu tumbuh besar dan ceria, ternyata mampu meghapuskan segala sedih dalam hatiku. Selama setahun kepergianmu, mereka tetap baik-baik saja Tan. Alhamdulillah Allah masih memberikan umur panjang dan kesehatan lahir batin padaku dan keluarga yang lain, khususnya Nenek. Aku selalu berharap agar Allah senantiasa memberikan kesehatan pada Nenek. Rasanya tak ada yang lebih berharga selain kesehatan Nenek. Sebab aku sangat membutuhkannya. Neneklah yang selalu ada untukku dalam merawat anak-anakmu. Aku sangat menyayanginya Tan..............
Ah......maafkan aku Tan. Aku tengah sibuk menyeka air mata yang entah mengapa tiba-tiba saja mengalir dari kedua mataku. Aku jadi begitu merindukanmu, hehehe. Oia Tan, aku ingin mengabarkan kalau saat ini, anak terkecilmu, Rizky, sudah semakin pintar. Ia kini semakin besar dan lucu. Sudah bisa bicara dengan fasih, bisa menyebutkan nama-nama binatang, buah-buahan, dan bernyanyi. Beratnya sudah 14 kg Tan. Sudah bisa berlari ke sana ke mari dan sudah bisa bermain bola bersama Azmi. Celoteh dan nyanyiannya setiap hari semakin membuatku bahagia. Rasanya tak ada yang lebih indah selain melihat tumbuh kembangnya dari hari ke hari. Ahh......Tante, andai kau bisa menyaksikan tumbuh kembangnya. Kini ia bahagia bersamaku Tan. Kau tak perlu cemas :-)

Tempo hari aku sudah mendaftarkan asuransi pendidikan untuknya di Takaful, namun ternyata aplikasiku ditolak karena ada kebijakan yang menidak bolehkan hubungan yang tidak sedarah untuk menjadi nasabah. Ah, aku jadi bingung Tan harus kemana lagi untuk mengasuransikan pendidikannya. Kepikiran juga untuk beli celengan, tapi hari gini pakai celengan???? Hehehe....

Biarlah hal itu kupikirkan nanti, sambil aku merajut asaku kembali. Menitikan jejakku langkah demi langkah, dan mengumpulkan kembali harapanku yang sempat hancur terhantam gelombang kekecewaan. Ah Tante, andai kau dapat melihat langsung perkembangan anak-anakmu, terutama Rizky, pasti kau tak kalah bahagianya denganku. Tapi aku yakin kau pun selalu mengamati mereka dari tempatmu sekarang.

Bahagialah selalu ya Tan. Kuharap doa yang kutitipkan pada Allah selalu sampai untukmu, kakek, dan Zaenab. Kusudahi dulu ya surat ini, karena Rizky sudah merengek minta ditemani tidur :-) Wassalamu’alaykum......

Nb: bersama surat ini, kutitipkan beberapa foto, semoga kau melihatnya.... :D








19 Maret 2012

"Angry Birds"

Begitu banyak permainan digital (digital game) yang kini marak digandrungi masyarakat. Salah satunya adalah “Angry Birds” yang belakangan ini menjadi salah satu icon yang menarik untuk dijadikan komoditi pasar. Karakter-karakter dalam permainan “Angry Birds” ini sudah banyak menghiasi pernak pernik sehari-hari seperti baju, tempat pensil, pulpen, sampai sandal. Angry Birds kini sudah memenuhi ruang pasar. Selain karena bentuk karakternya yang sangat unik, permainannya pun juga sangat menarik. Saya dan Rizky termasuk salah seorang yang menggandrungi permainan ini :D.

Setiap ada waktu luang, biasanya saya mencoba setiap level yang ada pada permainan Angry Birds ini, begitu juga dengan Rizky. Kami berdua sangat senang dengan karakter “Burung Bom” yang berwarna hitam.

Sejak menggandrunginya, saya sadari ternyata permainan ini banyak sekali memberikan saya pelajaran. Katakanlah, setiap kali memainkan permainan ini, saya dituntut untuk mengatur strategi dari setiap tantangan yang disuguhkan di setiap levelnya. Begitu juga dengan jumlah burung dan kemampuannya dalam menghancurkan kayu, besi, atau kaca yang melindungi musuh-musuhnya. Begitu juga dengan hidup ini.

Dalam setiap langkah dan pilihan hidup ini, kita pasti juga dituntut untuk mengatur strategi dengan cermat agar setiap kesempatan yang diberikan Allah tidak terbuang dengan sia-sia dan agar setiap tantangan yang kita hadapi bisa kita selesaikan dengan baik dan benar. Setiap tantangan di setiap level kehidupan kita pun juga tergantung dengan kadar kemampuan yang kita miliki.

Angry Birds secara tidak langsung telah mengajarkan saya agar tidak cepat putus asa dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan dalam setiap langkah dan pilihan hidup yang telah saya pilih dan Allah pilihkan. Bagi teman-teman yang juga keranjingan memainkan permainan ini, coba kalian amati dengan seksama, di setiap levelnya pasti permainan ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Begitu juga dengan setiap solusinya (macam-macam burungnya), pasti juga disesuaikan dengan setiap tantangan yang disuguhkan. Demikian pula dengan hidup.

Mustahil kalau kita tidak memiliki masalah atau ujian dalam hidup ini. Pasti tingkat kesulitan cobaan hidup pun juga berbeda-beda di setiap fasenya. Dan Allah pun pasti sudah tahu lebih dulu seberapa kita mampu dan sanggup untuk menyelesaikan masalah itu. Jangan pernah lupa juga bahwa di setiap cobaan yang kita hadapi, Allah pasti juga memberikan satu paket dengan solusi sesuai dengan kadar kemampuan kita.

Dalam menghadapi persoalan hidup pun, kita harus pandai-pandai mencari celah dan peluang, agar setiap langkah yang kita pijakkan tidak bernilai sia-sia. Harus selalu ada hasil yang dicapai agar hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin.

Namun ada satu perbedaan Angry Birds dengan kehidupan ini yang akhirnya saya sadari kembali, bahwa jika di permainan Angry Birds kita bisa mengulangi permainan jika kita mengalami kegagalan di masa sebelumnya, di permainan kehidupan nyata kita hanya bisa memperbaiki setiap kegagalan yang kita alami dan menjadikan kegagalan di masa lalu sebagai pelajaran berharga yang tidak boleh kita ulangi di masa depan. Juga sebagai pengalaman hidup bahwa setiap liku kehidupan ini pasti bisa kita atasi asalkan kita bisa mempelajari setiap medannya, siapkan strategi untuk menghadapinya, pergunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya, cari peluang agar setiap langkah tidak bernilai sia-sia, agar apa yang kita lakukan bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan bisa “naik” ke level berikutnya untuk menyelesaikan tantangan selanjutnya :)

12 Maret 2012

Cerpen : Dialog Asa

Asa masih membisu. Langkahnya yang semakin pelan, berbanding terbalik dengan pikirannya yang dipaksa untuk berpikir cermat. Menurutnya, pernikahan bukanlah hal yang mudah unttuk dibicarakan. Sebab bicara tentang menikah, bukan hanya bicara tentang personality saja, tapi juga tentang perasaan dan keadaan dua insan manusia. Baginya, menikah bukanlah seperti membeli permen di warung. Tidak semudah merogoh uang di kantong dan tidak semudah memakannya. Maka dari itu tidak mudah pula menjawab sebuah pertanyaan “Kapan menikah?” yang membuat hari-harinya semakin kelabu. Jika boleh jujur, wanita mana sih yang tidak ingin segera menikah? Mungkin hanya orang-orang bodoh yang tidak menginginkan pernikahan dalam hidupnya.

“Jadi, bagaimana kalau nanti kamu menikah?”

Kali ini pertanyaannya lain. Hanna yang melontarkan pertanyaan itu padanya. Di kesempatan yang jarang sekali mereka lewatkan bersama ini, Hanna sedang berusaha mengorek informasi dari Asa demi menjalankan sebuah misi rahasianya.

Asa tersenyum dalam langkahnya yang terhenti di depan sebuah rak buku-buku novel. Berusaha mengingat-ingat senyuman bocah mungilnya di rumah. “Pertama, sampai saat ini belum ketahuan siapa jodohku,” Ucap Asa tanpa mengarahkan pandangannya pada Hanna, “Kedua, karena aku tidak mau masalah ini terlalu dibawa pusing. Aku tidak mau menjadikan Kania sebagai beban.” Lanjutnya mengambang. Suaranya sedikit pelan namun seperti ada isak di ujung kalimatnya. Sementara di telinga Hanna, kalimat itu terdengar seperti sebuah harapan kalau suatu saat akan ada seorang laki-laki yang bersedia menerima dirinya dan Kania.

Asa hanya seorang wanita muda yang banyak memiliki cita-cita dan harapan. Sama seperti namanya, ia hanya ingin mewujudkan semua harapan-harapannya demi kebahagiaan diri dan keluarganya. Namun satu cobaan berat ternyata dihadiahi Allah padanya setahun yang lalu, saat kakak dan kakak iparnya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan meninggalkan seorang putri mungil yang kini berusia dua tahun. Dialah Kania, yang kini sudah menganggap Asa seperti ibu kandungnya sendiri.

Ratusan buku novel yang kini berjejer di rak-rak buku di hadapannya sedikit menyita perhatian Asa untuk melihat satu per satu isinya. Pikirannya sempat mengangkasa, kalau saja buku karyanya suatu saat nanti bisa menjadi salah satu buku best seller yang juga di pajang bersama buku-buku best seller lainnya, ah itu adalah salah satu impiannya. Masih sambil menggenggam dan membaca sinopsis salah satu novel terjemahan karya Beth Hoffman, ternyata hal itu membuat Hanna mencari cara lagi untuk kembali mengorek berbagai informasi tentang Asa. Sebelum pada akhirnya…..

“Aku tidak ingin menjadikan Kania sebagai kendala dalam hal ini.” Ucap Asa tiba-tiba seolah bisa mengeja pikiran Hanna barusan. “Sebab Kania adalah anugerah terindah almarhumah ibunya yang dititipkan Allah padaku. Kalaupun Allah memberikan izin untukku bertemu jodoh, pasti Allah akan memberiku yang terbaik. Aku hanya ingin memberikan kasih sayang yang utuh kepada Kania. Aku tidak tega jika melihat anak-anak lain mempunyai sosok yang bisa dipanggil ayah dan ibu, sedangkan Kania tidak. Bagi Kania, mungkin hanya aku yang bisa ia anggap sebagai seorang ibu. Hanya aku yang bisa ia cari saat ia bangun tidur, atau saat ia ingin mengadukan hal baru apapun yang ia lihat dalam kesehariannya.”

Asa kembali melangkahkan kakinya menyusuri rak-rak buku sambil jemari tangannya meraba beberapa cover buku lalu sesekali menariknya keluar rak dan membaca sinopsisnya. Hanna masih setia mengikuti aktivitas Asa di rak buku lainnya. Ada sesuatu yang dipikirkannya.

Setelah beberapa buku dibayar Asa di kasir, ia dan Hanna pun langsung menuju ke sebuah rumah makan khas Sunda yang ada di lantai yang sama dengan toko buku yang baru saja mereka tinggalkan. Setelah menemukan posisi yang nyaman mereka pun segera memesan makanan dan minuman. Salah satu buku yang tadi dibeli Asa agak merebut perhatiannya sehingga ia segera membuka plastik yang membungkus buku tersebut dan langsung membolak balikkan lembar demi lembar halamannya.

“Aku mengerti posisi dan keadaanmu Sa….” Ucap Hanna mencoba memberikan empati pada sahabatnya,”Tapi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri….”

Asa langsung melepas pandangannya dari buku yang dibacanya dan melirik Hanna. Tajam. Hanna pun langsung salah tingkah dibuatnya. “Maaf Sa, bukan maksudku menyinggung atau….”

Asa tersenyum dan mengangguk, ”Aku rasa kamu belum benar-benar mengerti keadaanku Han….”

“….”

“Awalnya, Kania mungkin memang menjadi sebuah ‘ganjalan’ untukku memikirkan masa depan. Namun seiring berjalannya waktu, kurasa Kania bukanlah sebuah kendala yang harus aku carikan solusinya. Karena jika memikirkan jodoh, insya Allah jodoh yang kelak dihadirkan Allah adalah jodoh yang terbaik untukku. Jika kelak aku bertemu dengannya namun ia keberatan dengan hadirnya Kania dalam kehidupan kami nantinya, mungkin aku akan lebih memilih untuk tidak melanjutkan lagi hubungan itu. Paling tidak sampai Kania bisa benar-benar mengerti dengan hal apapun yang dapat aku jelaskan padanya. Tapi untuk saat ini, Kanialah yang menjadi prioritas utamaku.

“Kurasa sama halnya seperti perasaanmu terhadap kedua anakmu. Meskipun Kania bukanlah darah dagingku, tapi aku menyayanginya layaknya kamu menyayangi anak-anakmu. Meski mungkin porsinya tidak sebesar yang kamu punya untuk anak-anakmu.”

Hanna kembali terdiam. Tampaknya dia sudah kehabisan kata-kata dan sedang kembali menyusun rangkaian kata berikutya. Sambil berpikir, mungkinkah memang dia tidak bisa mengerti posisi yang dialami Asa saat ini. Sehingga ia sampai melupakan bahwa kondisi Asa pun sama seperti kondisi ia sebagai seorang ibu. Sama-sama ingin memberikan kasih sayang moral dan akhlak yang tulus pada buah hati mereka masing-masing.


“Bukan bermaksud untuk mengesampingkan pentingnya sebuah pernikahan,” Lanjut Asa menutup buku yang dibacanya tadi. “Tapi karena sebelum jodoh datangpun, Kania telah lebih dulu mengisi seluruh ruang hatiku. Dialah yang bisa membuat aku tersenyum setiap waktunya, dialah yang bisa mencintaiku dengan sebegitu tulusnya, dan kami saling mencintai dalam konteks yang berbeda. Sebagai ibu dan anak.

“Menyayangi Kania layaknya anak sendiri memang tidak memberikan keuntungan materi apa-apa padaku, tapi hal itu menimbulkan sebuah rasa bahagia tersendiri di dalam hatiku. Jika aku selalu prihatin dengan kondisi anak-anak yatim piatu di luar sana, bagaimana mungkin aku tidak merasa prihatin dengan keadaan Kania? Terlebih lagi dia adalah keponakanku sendiri. Setidaknya hatiku terpanggil untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar prihatin. Yaitu memberikannya kasih sayang yang tidak sepenuhnya diberikan ibunya dulu.”

Mata Asa mengembun. Hanna melihat seperti ada butiran-butiran kristal halus yang membentuk gumpalan. Tangannya langsung menyodorkan sehelai tisu padanya.

“Aku tidak mengajukan banyak syarat pada ‘ia’ yang kelak akan datang sebagai jodoh untukku,” Lirih Asa sambil mengusapkan tisu tadi ke matanya yang sudah mengembun. “Jika kebanyakan tetangga berkata,’Wah tinggal cari bapaknya aja nih.’ padaku saat mengajak Kania bermain keluar rumah, aku tidak akan membuat ‘ia’ benar-benar menjadi ayah untuk Kania. Aku pun hanya ‘bunda-bundaan’ untuknya. Yang aku minta hanya, ‘ia’ bersedia menyayangi Kania layaknya ‘ia’ menaruh rasa prihatin pada anak-anak yatim piatu pada umumnya. Hanya itu. Kalaupun ‘ia’ tidak bisa menyayangi Kania layaknya anak sendiri, tidak masalah buatku. Asalkan ‘ia’ tetap mengizinkan aku membantu almarhumah Mbak Sanny untuk menjaga dan merawat Kania. Mengizinkan aku membantu beliau mengantarkan Kania sekolah, membantunya membesarkan Kania, paling tidak sampai Kania benar-benar mengerti kalau aku hanyalah tantenya. Aku tidak akan banyak menuntut apapun padanya atas Kania. Sebab Kania adalah tanggung jawabku dan keluargaku.”

Hanna mendengarkan Asa dengan seksama. Pikirannya semakin berkelana entah kemana. Kata demi kata pun sudah sangat baik dirangkainya di kepala untuk sekedar menguatkan dan menyemangati Asa, namun entah kenapa yang terlontar dari mulutnya bukanlah kata-kata yang dirangkainya tadi melainkan, “Lalu bagaimana jika kamu menikah dan punya anak? Bagaimana dengan Kania?”

Asa terdiam sambil melemparkan pandangannya ke luar. Sebelum sempat ia menjawab, seorang pelayan perempuan keburu datang membawakan pesanan mereka. Asa menjawab setelah pelayan itu pergi.

“Hah…” Asa menyandarkan tubuhnya, seolah hal itu dapat melepaskan sedikit kecemasan yang dirasakannya saat ini. “Itu adalah masalah yang tidak harus aku pusingkan sekarang Han. Toh jodoh pun belum aku temukan. Toh aku pun belum ada rencana menikah, meskipun keinginan itu ada. Tapi, jika aku pusingkan hal itu sekarang, bukankah hanya akan membuang-buang waktuku jika ternyata aku belum ditakdirkan menikah pada usia Kania yang baru menginjak 2,5 tahun? Hal itu bisa dipikirkan nanti saat waktunya memang sudah benar-benar tiba. Dan untuk saat ini, biarkan aku tetap fokus pada Kania dan segala macam kegiatan rutinitasku.”

Kembali Hanna hanya bisa terdiam. Selain mencermati setiap kalimat yang dijelaskan Asa, juga menyesali kebodohannya karena telah melontarkan pertanyaan itu pada Asa. Dan demi mencari pembenaran atas tindakannya itu, mungkin juga karena ia diburu-burui oleh misi yang saat ini tengah ia jalankan.

“Tapi pernyataan di atas kembali membuat aku mempunyai sebuah pemikiran Han...” Sambung Asa sambil mengaduk-aduk sedotan dalam gelas ice lemon tea nya, “Karena ternyata, logika kita dengan logika Allah itu sangat jauh berbeda. Perhitungan Allah dengan perhitungan kita itu berbeda. Kalaupun memang benar aku menikah dalam waktu dekat, dan timbul pertanyaan di atas, maka aku yakin hal itu bukanlah menjadi sebuah kendala yang besar. Sebab jika menurut logika manusia hal itu akan menjadi sebuah kendala yang besar, maka tidak bagi Allah. Sebab Allah memberikan kita masalah dan ujian pun pasti sudah melalui tahap perhitungan dan pertimbangan yang sangat matang. Karena sekali lagi, perhitungan Allah dengan perhitungan kita itu tidak sama. Jika Allah sudah memutuskan kita untuk menerima sebuah ujian, pasti Allah juga memberikannya satu paket dengan solusinya.

“Maka sekali lagi, aku tidak mau dipusingkan dengan hal-hal yang belum jelas kapan terjadinya. Karena hal itu hanya akan menghambatku untuk maju. Kalau aku dipusingkan dengan pertanyaan di atas, maka yang timbul adalah sebuah kasih sayang yang tidak tulus kepada Kania karena kekhawatiranku di masa depan. Padahal kapan terjadinya pun aku belum tahu.”

Asa menyelipkan sebuah senyuman di akhir ceritanya. Ia meminum sedikit ice lemon tea nya lalu menyantap makanan yang ada di hadapannya. Sambil menyantap juga makanannya, Hanna berpikir, apakah ia tidak salah memilih Asa? Apakah Asa adalah pilihannya yang tepat untuk Mirza? Adik iparnya yang pernah mendaulatnya untuk mencarikannya pasangan hidup. Seorang laki-laki dewasa yang sudah mapan, yang pernah berkata padanya, “Kalau aku menikah nanti, Insya Allah penghasilanku cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku Mbak.”

Hanna kembali berpikir, andai saja waktu itu Mirza mengatakan, “Kalau aku menikah nanti, Insya Allah penghasilanku cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggaku dan bantu-bantu sedikit keluarga istri Mbak.” Mungkin ia tidak akan seragu ini. Masalahnya bukan pada Asa, tapi apakah Mirza bisa menjadi sosok yang tadi dikatakan Asa? Tapi ia semakin yakin pada keteguhan Mirza mencari seorang istri. Dan semakin yakin kalau Asa adalah orang yang tepat untuk Mirza. Setiap rizki manusia itu sudah ditetapkan oleh Allah. Dan bukankah pernikahan merupakan sebuah jalan pembuka pintu-pintu rizki yang masih tertutup? Ah, semua itu bisa ia bicarakan nanti dengan Mirza.

Hanna masih memikirkan bagaimana caranya mengutarakan keinginannya itu pada Asa. Memperkenalkan Asa dengan Mirza, dan membuat mereka bisa mewujudkan dan menyatukan impian mereka masing-masing dalam bingkai sebuah pernikahan.

“Ah, jodoh itu misterius. Andai saja pernikahan itu layaknya membeli permen di warung. Semudah merogoh uang di kantong dan semudah memakannya, pasti akan mudah juga menjawabnya, ‘Kapan nikah?’”

Pasar Minggu, 2012, 10.44 PM

Silahkan download versi e-book nya di Dialog Asa

24 Februari 2012

Membangun Cinta

Sebenarnya jatuh cinta dengan lawan jenis itu hukumnya apa sih? Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia. Akan tetapi, cinta itu harus dijaga dan dilindungi dari kehinaan dan kekotoran. Cinta pada lawan jenis bukan sesuatu yang kotor. Bahkan ia sesuatu yang suci. Dan pernikahan adalah “bingkai” yang dapat menjaga kesucian itu. Cinta tidak haram dan tetap terjaga kesuciannya selama tidak menimbulkan kemaksiatan pada Allah. Inilah yang harus digarisbawahi karena seringkali dengan dalih cinta, namun menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan.

Pernikahan adalah solusi mutlak bagi dua insan yang tengah jatuh cinta. Tapi hal itu tidak terlepas dari kesiapan fisik, mental, dan materi dalam menuju gerbang pernikahan. Jika kedua belah pihak masing-masing sudah mapan dan siap, sebaiknya jangan pakai ditunda-tunda lagi sebab kebaikan haruslah disegerakan.

Seorang antropolog asal AS, Helen Fischer, menemukan kesimpulan yang amat “berani”. Setelah melakukan penelitian selama beberapa tahun, ia menyatakan bahwa cinta itu tak abadi. Daya tahan cinta hanya 4 tahun saja. Ia menemukan betapa kasus perceraian mencapai puncaknya ketika usia pernikahan mencapai usia 4 tahun. Kalaupun masa 4 tahun itu terlewati, kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kalau mau main hitung2 an, rasanya seru juga. Misal, masa pacaran telah dilalui 3 tahun, berarti kesempatan untuk bisa mempertahankan gelora cinta hanya ada di tahun pertama pernikahan. Lalu apa yang terjadi ketika masa pernikahan menginjak tahun kedua, ketiga, dan seterusnya? Cuma ada sisa-sisa / bahkan punah sama sekali. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengalami masa pacaran lebih dari 6 tahun?

Maka dari itu saya tekankan bagi mereka yang sudah mapan dan siap, bersegeralah untuk menikah dan jangan ditunda-tunda lagi. Hal ini untuk menghindari hilangnya gelora cinta bila yang dilakukan hanya pacaran bertahun-tahun tanpa ada realisasinya dalam wujud pernikahan. Makanya tak jarang orang-orang yang sudah melakukan pacaran selama bertahun-tahun, hubungan mereka kandas ditengah jalan karena mungkin dari masing2 mereka sudah jenuh dengan pasangannya (gelora cintanya sudah hilang) dan memutuskan untuk mencari pasangan yang lain.

Jadi, sebuah hubungan yang kebanyakan orang bilang adalah pacaran, jelas membutuhkan sekali sebuah komitmen. Dalam hal apa? Dalam hal menjaga hubungan itu agar tetap pada jalur yang benar. Hubungan itu sudah harus memiliki tujuan yang jelas dari awal. Bukan hanya untuk menikmati rasa manisnya saja saat bersama, tapi juga lebih memiliki tanggung jawab yang besar diantara kedua belah pihak agar kedua-duanya tidak merasa saling dirugikan.

Ayo, beranilah membangun cinta!!

Jangan hanya berani jatuh cinta!!


Tidaklah perlu kita menguji kedalaman cinta dengan pacaran bertahun-tahun, karena mengenal seseorang bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat dari itu, yaitu dengan cara ta’aruf (berkenalan secara syar’i). Kita juga tidak perlu menilai kecocokan dengan merelakan diri berpacaran bertahun-tahun karena saat ngobrol dalam sesi ta’aruf itu pun sudah bisa dikenali apakah kita cocok dengan si dia / tidak.

Hati yang kotor akan menyebabkan pemiliknya senantiasa berfikir kotor, bertindak kotor, berucap kotor, dan sebagainya yang serba kotor. Karena segala sesuatunya bersumber dari hati, maka apa-apa yang kita lakukan merupakan cerminan dari hati. Begitupun rasa cinta yang tumbuh dari hati. Jika diumbar dan diperturutkan, terlebih lagi bila ditujukan pada seseorang yang belum halal bagi kita, akan menimbulkan titik noda dan benih-benih kekotoran. Wajar jika Allah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan. Dan menjaganya sangatlah dianjurkan agar hati kita tetap terjaga.

Pembahasan ini menemukan kesimpulan yang mungkin sudah ditangkap oleh kita. Bahwa mencintai lawan jenis adalah hal yang wajar. Senang, suka, naksir, jatuh hati, jatuh cinta, atau apalah namanya adalah sebuah kewajaran. Ia akan menjadi ladang pahala bila ditindaklanjuti dan disemai dalam bingkai pernikahan. Namun, ia akan menjadi penghasil dosa yang luar biasa, manakala hanya dibingkai pacaran dan senang-senang saja. Bagi mereka yang sudah siap menikah, maka carilah cinta anda dan menangkan. Namun, bagi anda yang hanya ingin mencicipi rasanya di awal usia, sebaiknya pertimbangkan kembali niat anda. Karena sudah banyak yang capek dan kelelahan karenanya. Llelah, yang tak pernah disadarinya.....

20 Februari 2012

Kita Semua Punya Potensi yang Sama Untuk Sukses

Suatu hari ada seorang pemuda mendatangi seorang ustadz. Pemuda itu mengeluh atas keadaan dirinya yang tidak sempurna menurutnya. Dulu, tuturnya, ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar, ia selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya. Ketika ia memasuki usia remaja, maka kepercayaan dirinya hilang dan kini ia tidak pernah lagi menjadi juara kelas dikelasnya. Dan hal itulah yang ia ceritakan pada sang ustadz.

Ustadz itu bertanya, “Memang apa yang membuatmu tidak percaya diri?” Pemuda itu menjawab, “Ada semacam tompel di wajah saya ustadz. Dan saya malu akan hal ini” Jawab pemuda tadi sambil membuka topi yang ia kenakan dan menyingkapkan sebagian rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Ya, memang benar. Tompel itu ada di sana, tepat berada di pipi kiri sebelah atas wajahnya.

Kemudian sang ustadz tersenyum simpul dan memberikan uang sepuluh ribuan kepadanya. “Untuk apa uang ini ustadz?” Tanya pemuda itu dengan penasaran. “Ambillah uang ini, dan pergilah ke ujung jalan sana. Di sana ada tempat untuk mencukur rambut. Cukurlah rambutmu semuanya.” Jawab sang ustadz dengan tenangnya. Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda tadi segera bertanya, “Maksud ustadz di gundul??” Sang ustadz hanya mengangguk sambil tersenyum. “Saya malu ustadz. Kalau rambut saya digundul, nanti tompel saya akan terlihat oleh semua orang. Saya malu ustadz.” Sahut pemuda tadi sambil menunduk lesu. Sang ustadz pun akhirnya angkat bicara, “Kalau begitu, saya tidak bisa membantumu.” Suara sang ustadz begitu tegasnya. “Kenapa ustadz?” Tanya pemuda tadi, terkejut. “Saya tidak bisa membantumu, karena kamu tidak mau membantu dirimu sendiri.”

Perkataan sang ustadz tadi rupanya begitu mengena di hati pemuda itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera mencukur rambutnya dan setelah itu ia kembali menemui sang ustadz, meskipun bisa diakui bahwa kepercayaan dirinya belum seratus persen tumbuh.

Setelah melihat pemuda tadi telah mencukur rambutnya sampai gundul, sang ustadz pun memutarkan sebuah film yang ada di laptopnya. Film itu berkisah tentang seorang pemuda juga. Namun bedanya, pemuda yang ada di film itu memiliki kekurangan fisik. Ia tak memiliki kedua lengan. Namun karena semangat dan perjuangannya, akhirnya dia bisa menunjukkan pada semua orang bahwa kekurangan yang ia miliki tidak menghalangi dia untuk meraih kesuksesan. Ia bisa menulis dan ia bisa melakukan berbagai hal layaknya orang normal pada umumnya. Namun hanya saja apa-apa yang ia lakukan bukan dengan menggunakan kedua lengannya karena memang ia tak punya itu.

Ya, kita sebagai manusia yang diberikan kesempurnaan fisik oleh Allah swt, terkadang sering melupakan hal itu. Kesempurnaan fisik yang kita peroleh adalah sebuah kelebihan yang kita miliki yang tidak dimiliki oleh mereka yang tidak sempurna fisiknya. Namun mengapa kita terlalu sering mengabaikan kelebihan itu dan lebih sering larut dalam kekurangan yang ada pada diri kita.

Kita sering menangis dan bersedih ketika teman-teman kita mempunyai sepatu baru sementara kita tidak memilikinya. Namun di sisi lain, banyak orang-orang yang menangis atau mungkin menjerit dalam hatinya karena bukan hanya sepatu baru yang tidak mereka miliki, namun kaki pun mereka tidak punya. Lalu siapa kita bila dibandingkan dengan mereka?? Kita masih memiliki tangan, kaki, dan fisik yang sempurna, sementara di bagian bumi Allah yang lain, masih banyak saudara-saudara kita yang tidak memiliki apa yang kita miliki.

Mengapa kita sering fokus pada kekurangan yang kita miliki namun lalai terhadap kelebihan yang dianugerahkan Allah untuk kita. Dan karena kita sibuk dengan kekurangan yang kita miliki, akhirnya potensi kelebihan yang ada pada diri kita pun semakin lama semakin kandas karena kita sudah terlalu lama membiarkan kelebihan itu terpuruk dalam dunianya sendiri.

Seekor burung tidak dapat mengubah arah angin, namun ia bisa mengubah arah sayapnya sehingga ia bisa terbang dengan lincah di langit sana dan bisa mengikuti kemana arah angin membawa serta dirinya. Kita pun sama selaku manusia yang diberi kelebihan akal, pikiran, dan fisik yang sempurna dari kedua makhluk lain ciptaan-Nya yaitu tumbuhan dan hewan. Kita tidak bisa merubah ketentuan dan ketetapan Allah, namun kita bisa merubah nasib kita menjadi lebih baik.

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri”

Sukses bukan hanya diukur dari banyaknya harta yang kita miliki, namun sukses juga bisa dilihat dari segi usaha kita mengendalikan hidup yang kita miliki ke arah yang lebih baik. Mulai sekarang, tanamkan keyakinan pada diri kita bahwa setiap kita adalah penting. Karena dari masing-masing kita mempunyai potensi dan kesempatan yang sama yang Allah berikan kepada seluruh hamba-Nya. Hanya tinggal kemauan kita saja, apakah akan memanfaatkan potensi yang ada, atau malah justru menyibukan diri dengan kekurangan yang kita miliki??

Minimalkan kekurangan diri, dan maksimalkanlah kelebihan diri. Sebab setiap kita, adalah PEMENANG!!!! Orang-orang yang kalah adalah mereka yang sudah merasa tidak mampu terlebih dahulu, sebelum mereka mau mencoba suatu hal. Dan orang-orang yang menang adalah mereka yang selalu yakin bahwa dirinya bisa dan yakin bahwa Allah selalu ada untuk hamba-Nya yang selalu mau berusaha.

6 Februari 2012

Menginstall Cinta

Customer Service (CS): Ya, ada yang bisa saya bantu?

Pelanggan (P): Baik, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstall cintakasih. Bisakah Anda membantu saya menyelesaikan prosesnya?

CS: Ya, saya dapat membantu Anda. Anda siap melakukannya?

P: Baik, saya tidak mengerti secara teknis, tetapi saya siap untuk menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?

CS: Langkah pertama adalah membuka HATI Anda. Tahukah Anda dimana HATI Anda?

P: Ya, tapi ada banyak program yang sedang aktif. Apakah saya tetap bisa menginstalnya sementara program-program tersebut aktif?

CS: Program apa saja yang sedang aktif?

P: Sebentar, saya lihat dulu, program yang sedang aktif adalah SAKITHATI.EXE, MINDER.EXE, DENDAM.EXE, dan BENCI.COM.

CS: Tidak apa-apa. CINTA-KASIH akan menghapus SAKITHATI.EXE dari sistem operasi Anda. Program tersebut akan tetap ada dalam memori Anda, tetapi tidak lama karena akan tertimpa program lain. CINTA-KASIH akan menimpa MINDER.EXE dengan modul yang disebut PERCAYADIRI.EXE. Tetapi Anda harus mematikan BENCI.COM dan DENDAM.EXE. Program tersebut akan menyebabkan CINTA-KASIH tidak terinstal secara sempurna. Dapatkah Anda mematikannya?

P: Saya tidak tahu cara mematikannya. Dapatkah Anda memandu saya?

CS: Dengan senang hati. Gunakan Start menu dan aktifkan MEMAAFKAN.EXE, Aktifkan program ini sesering mungkin sampai BENCI.COM dan DENDAM.EXE terhapus.

P: Ok, sudah. CINTA-KASIH mulai terinstal secara otomatis. Apakah ini wajar?

CS: Ya. Anda akan menerima pesan bahwa CINTA-KASIH akan terus diinstal kembali dalam HATI Anda. Apakah Anda melihat pesan tersebut?

P: Ya. Apakah sudah terinstall?

CS: Ya, tapi ingat bahwa Anda hanya punya program dasarnya saja. Anda perlu mulai menghubungkan HATI yang lain untuk mengupgradenya.

P: Oops. Saya mendapat pesan error. Apa yang harus saya lakukan?

CS: Apa pesannya?

P: ERROR 523 – PROGRAM NOT RUN ON INTERNAL COMPONENT. Apa artinya?

CS: Jangan khawatir, itu masalah biasa. Artinya, program CINTA-KASIH diset untuk aktif di HATI eksternal tetapi belum bisa aktif dalam HATI internal Anda. Ini adalah salah satu kerumitan pemrograman, tetapi dalam istilah non-teknis ini berarti Anda harus men-”CINTA-KASIH”-i mesin Anda sendiri sebelum meni”CINTA-KASIH”-i orang lain.

P: Lalu apa yang harus saya lakukan?

CS: Dapatkah Anda klik pulldown direktori yang disebut ”PASRAH”?

P: Ya, sudah.

CS: Bagus. Pilih file-file berikut dan salin ke direktori ”MYHEART” MEMAAFKAN-DIRI-SENDIRI.DOC, dan MENYADARI KEKURANGAN.TXT, sistem akan menimpa file-file konflik dan mulai memperbaiki program-program yang salah. Anda juga perlu mengosongkan Recycle Bin untuk memastikan program-program yang salah tidak muncul kembali.

P: Sudah. Hei! HATI saya terisi file-file baru. SENYUM.MPG aktif di monitor saya dan menandakan bahwa DAMAI.EXE dan KEPUASAN.COM dicopy ke HATI. Apakah ini wajar?

CS: Kadang-kadang. Orang lain mungkin perlu waktu untuk mendowloadnya. Jadi, CINTA-KASIH telah terinstal dan aktif. Anda harus bisa menanganinya dari sini. Ada satu hal lagi yang penting.

P: Apa?

CS: CINTA-KASIH adalah freeware. Pastikan untuk memberikannya kepada orang lain yang Anda temui. Mereka akan share ke orang lain dan seterusnya sampai Anda akan menerimanya kembali.

(dikutip dari buku "Ya Allah, Aku Jatuh Cinta")

1 Februari 2012

Karena Rejeki tak Pernah Salah Pintu

Di suatu pekan di pertengahan bulan Januari lalu, saya menyempatkan diri pergi ke pasar bersama Rizky untuk berbelanja sayuran. Kebetulan ibu saya juga berjualan sandal di sana, dan saya pun menyempatkan diri pula mampir ke tempat ibu saya berjualan. Jualan ibu saya memang hanya sandal-sandal kualitas kaki lima yang dijual dengan harga yang cukup murah, yang bisa dijangkau oleh semua kalangan. Jualan ibu saya pun tidak dengan jumlah yang sangat banyak, tapi paling tidak dari hasil jualan itu bisa cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan keluarga saya sehari-hari.

Pada kesempatan itu, saya juga melihat seorang penjual laki-laki tidak jauh dari tempat ibu saya berjualan yang juga berjualan sandal yang tidak jauh berbeda dengan ibu saya. Hanya saja yang membedakan ia dan ibu saya adalah barang-barang yang diperjual belikan sangat banyak, sehingga membuat ibu saya berbisik kalau barang dagangannya kalah saing oleh penjual laki-laki yang ada di dekatnya. Lanjutnya lagi, kebanyakan pembeli lebih memilih ke penjual itu ketimbang ibu saya karena mungkin pilihannya yang lebih banyak dan dengar-dengar harganya jauh lebih murah.

Sebagai seorang anak, mendengar ibu saya “mengeluh” seperti itu rasanya tidak tega juga. Sebab dengan melihat langsung ibu saya berjualan, saya jadi lebih tahu dan lebih mengerti bahwa mencari uang - apalagi dengan perjuangan ibu yang berjualan di pasar – sangatlah tidak mudah. Tidak jarang panas dan hujan menjadi pengiring perjuangannya demi menghidupi saya dan keluarga.

Cukup lama saya dan Rizky berdiam diri di tempat ibu saya berjualan. Sekedar menemani waktu senggangnya menunggu calon pembeli datang, meskipun kebanyakan dari mereka datang hanya untuk sekadar melihat, menawar, dan setelah itu pergi. Tidak jadi membeli. Dalam hati saya hanya bisa berdoa, semoga Allah masih berkenan mendatangkan pembeli untuk membeli jualan ibu saya. Meskipun tidak membeli banyak, tidak mengapa, asalkan bisa jadi “penglaris” untuk jualan ibu saya pagi itu. Dan Alhamdulillah doa saya dikabulkan Allah. Tak lama berselang pembeli pun datang. Ya sesuai dengan pinta saya, meskipun tidak membeli banyak, tetapi pembeli yang satu seolah menjadi “pemancing” pembeli yang selanjutnya untuk datang.

Dan setelah itu saya baru menyadari, bahwa setiap manusia memang memiliki rejekinya masing-masing. Rejeki itu pun akan datang sesuai dengan kadar usaha yang telah kita upayakan. Dan tampaknya, rejeki tidak jauh berbeda dengan ujian yang kita terima dari Allah. Karena sejatinya rejeki adalah ujian bagi kita. Apakah kita bisa mempergunakannya dengan baik atau tidak, semua itu tergantung dari penyikapan kita terhadap rejeki itu.

Allah punya alasan sendiri mengapa Ia tidak serta merta memberikan rejeki yang berlimpah ruah kepada kita, salah satunya adalah agar kita mau berusaha dalam setiap pencarian rejeki itu. Dan juga agar Allah bisa tahu seberapa besar kita dapat bersabar jika diberi rejeki sedikit dan seberapa besar kita dapat bersyukur jika diberi rejeki yang banyak. Mengapa Allah hanya menurunkan hujan air pada kita dan tidak pernah menurunkan hujan emas? Karena Ia tahu bahwa air bisa menyuburkan tanah yang gembur, dan ternyata begitu banyak manfaat yang dapat kita rasakan dari turunnya air hujan sehingga hal itu bisa memperpanjang usia rejeki kita.

Seperti halnya cobaan yang Allah berikan kepada kita, yang porsinya pasti berbeda-beda bagi setiap manusia, begitupun dengan rejeki. Allah pasti lebih tahu kadar kemampuan kita atas cobaan dan rejeki yang kita terima selama ini. Apakah yang membedakan gaji seorang staf dengan seorang direktur kalau bukan jabatannya? Sekali lagi, Allah hanya akan memberikan kita rejeki sesuai dengan usaha dan porsi kemampuan kita dalam pencapaian dan penerimaan rejeki itu.

Menilik dari pengalaman saya di atas, betapa saya sangat menyadari bahwa ternyata Allah tak pernah salah dalam memberikan pintu rejeki pada setiap hamba-Nya. Dan karena memang rejeki tak pernah salah pintu, makanya kita tidak boleh berputus asa dalam berusaha. Karena merujuk pada janji-Nya, bahwa manusia pasti akan mendapatkan apa yang diusahakannya sesuai dengan izinNya.

nb: makanan ini, aku buat dengan cinta untukmu Ma :)




26 Januari 2012

Selamat Tinggal Ayah (Mengenang Almarhum Yusuf Sigit (2,5th), Korban Xenia Maut)

Ayah
terimakasih telah mengajakku ke Monas
aku belum pernah lihat Monas
senang sekali hatiku diajak ayah melihat Monas

Pagi itu aku digendong ibu
kita jalan bersama ayah, nenek dan bibi
pagi yang indah
cuaca pun cerah
kita berjalan bersama menuju Monas

Kita semua bahagia
jarang sekali kita bisa jalan-jalan seperti ini
ayah sibuk mencari nafkah
aku sudah lama rindu ayah

Ayah
tiba-tiba kita lihat mobil hitam itu
melayang dari depan
menggelinding menimpa kakak-kakak itu
lalu menimpa kita semua
aku pun terpental
terlepas dari pelukan ibu

Ayah
maafkan aku mendahuluimu
aku masih sangat ingin bersamamu
ingin bermain denganmu
ingin berlama-lama dalam pelukanmu
tapi Allah lebih menyayangiku
Allah menginginkanku pulang...

Ayah
terimakasih sudah berusaha keras menyelamatkanku
terimakasih sudah mencoba memberiku minum
terimakasih sudah memelukku dan menciumku
aku sayang ayah sampai kapanpun

Ayah
kita akan berjumpa kembali di alam yang jauh lebih baik daripada alam dunia

Sumber: http://www.populer.web.id/2012/01/selamat-tinggal-ayah-mengenang-almarhum.html

(Rizky, baik-baik di rumah ya sayang, jadi kangen :'( )

24 Januari 2012

Iri yang Memotivasi Diri

Iri, menurut saya tidak selamanya memiliki konotasi negatif. Karena menurut saya ada dua macam iri, yaitu iri yang melahirkan dengki, dan iri yang melahirkan motivasi. Iri yang melahirkan dengki adalah iri yang menunjukkan seseorang kalau ia memang tidak mampu melakukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang lain. Ia hanya bisa menggerutu melihat orang lain berbahagia dengan kesuksesan mereka. Mungkin sifat iri yang seperti inilah yang banyak melanda kebanyakan masyarakat kita, yang pada akhirnya berujung pada permusuhan, perkelahian, dsb.

Namun ada juga iri yang tidak melahirkan dengki, melainkan motivasi. Untuk saya pribadi, jujur iri yang seperti ini sangat saya butuhkan untuk dapat bergerak maju menjadi sosok yang lebih baik lagi dari hari ke hari.

Jika di postingan sebelumnya saya pernah membahas tentang Mas Boim yang menjadi pengisi acara di Studium Generale FLP Jakarta tanggal 15 Januari 2012 lalu, maka kali ini saya ingin sedikit bercerita kembali, namun kali ini bukan tentang sosok yang lain, melainkan tentang kekaguman saya dengan sosok tersebut. Ya, beliau adalah Mbak Asma Nadia, yang juga menjadi pembicara pada acara tersebut. Ini adalah pengalaman pertama saya bertemu langsung dengan beliau. Kesan pertama yang saya tangkap dari pertemuan pertama kami adalah, beliau orang yang sangat tegas. Tercermin dari gaya bahasa dan cara bertutur yang beliau gunakan dalam acara tersebut.

Yang membuat saya kagum bukan hanya ketegasan beliau dalam menyampaikan materi tentang kepenulisan, tapi juga karena prestasi beliau yang menggunung. Sudah banyak karya yang beliau hasilkan, tidak hanya cerita-cerita fiksi melainkan merambah pula ke non fiksi. Puluhan buku sudah beliau telurkan dan yang paling mencengangkan, karena keputusannya memilih jalan menjadi seorang penulis itu, bisa mengantarkan beliau ke berbagai Negara. Jika tidak semua bisa dikatakan gratis, paling tidak kebanyakan dari perjalanan beliau itu gratis berkat karya-karya yang beliau hasilkan.

Berhenti sampai di sini, jika ingin membahas lebih banyak lagi tentang prestasi-prestasi beliau dari awal beliau merintis menjadi seorang penulis pemula sampai kini menjadi penulis idola, mungkin kita memiliki keterbatasan ruang dan waktu di media ini. Sekedar contoh saja, karya beliau dengan judul Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela yang diangkat ke layar lebar sukses besar di pasaran. Rasanya tak perlu pembahasan lagi, sebab kenyataan sudah memberikan bukti siapa Mbak Asma Nadia itu.

Mengenal sosok beliau, apalagi sampai bisa berbincang dan berpoto langsung dengannya merupakan kebanggaan tersendiri buat saya. Saya mengenal Mbak Asma dulu sekali lewat serial Aisyah Putri-nya yang sampai sekarang laku keras. Namun porsi kekaguman saya terhadap beliau selalu fluktuatif, artinya kagum saya hanya sekedar angin lalu saja, atau bahasa kerennya”angin-anginan”:D

Namun setelah Allah memberikan kesempatan saya bertemu langsung dengan beliau, rasa kagum saya semakin memuncak, apalagi saat saya mengetahui seabreg prestasi yang telah beliau raih, sampai klimaksnya, saya merasa sangat iri terhadapnya. Sampai dalam hati saya membatin, “Kapan ya saya bisa sesukses Mbak Asma?” Rasa iri itu mulai menjalari setiap syaraf dalam tubuh saya. Sejak saat itu saya mulai bertekad, “Suatu saat saya pasti bisa seperti Mbak Asma.” Dan mulai merancang masa depan dengan segala potensi yang saya miliki.

Di sinilah iri itu mulai berperan. Saya mulai merindukan aktivitas “menulis” yang belakangan ini saya kesampingkan dulu demi menyelesaikan tugas akhir kampus. Entah mengapa rasa rindu itu semakin menjadi dan rasanya akan segera meledak jika tidak segera direalisasikan. Dan saya kembali teringat dengan rasa iri saya kepada sosok-sosok lain yang juga memotivasi saya untuk bergerak ke arah yang lebih baik.

Saya iri dengan Pakde Cholik yang bisa menjadi seleb di dunia perblogan, saya iri dengan Mbak Fanny yang mempunyai ide-ide kreatif demi menelurkan ratusan cerpen yang berkualitas, saya iri dengan Teh Orin yang juga memiliki ide-ide tema tulisan yang bagus, iri pula dengan Mbak Elsa yang berani memilih menjadi seorang entrepreneur dan juga pandai menjahit, dan ke-iri-iri-an lainnya yang semakin membuat saya tidak betah lama-lama berpangku tangan tanpa menghasilkan sesuatu yang bisa menjadi kebanggaan.

Namun motivasi saja rasanya tidak cukup jika tanpa disertai tindakan yang positif. Sambil menyusun rencana untuk ke depannya, ternyata waktu kembali membawa saya pada sebuah pemikiran, yang semoga saja pemikiran ini bisa selalu memotivasi saya untuk menjadi pribadi yang bisa membanggakan.

“Bukankah mereka semua yang saya iri-kan tidak lantas menjadi sosok yang seperti sekarang ini? Bukankah mereka juga melewati proses yang tidak sebentar dan tidak mudah? Mbak Asma sendiri menghasilkan buku pertamanya di usianya yang ke 27 tahun. Hingga sekarang beliau bisa sesukses ini – paling tidak itu penilaian pribadi saya – memerlukan waktu hampir sepuluh tahun untuk dapat berkarya dan terus berkarya dan menghasilkan tulisan dari yang biasa hingga luar biasa. Bukankah itu merupakan sebuah pencapaian yang tidak mudah? Dan dari situ saya mulai belajar untuk dapat selalu menikmati proses yang ada demi mencapai apa yang saya cita-citakan.

“Jika ingin menghibur diri dan mencari pembenaran – meskipun menurut saya ini adalah pembenaran yang salah :D – bukankah saya masih punya waktu untuk dapat mewujudkan cita-cita saya? Jika Mbak Asma saja mengeluarkan buku pertamanya di usianya 27 tahun, bukankah saya masih punya waktu kurang lebih 4 tahun untuk dapat menuju ke arah sana? Toh usia saya belum sepenuhnya genap 23 tahun :D Ya meski memang tidak ada yang tahu sampai kapan kita bisa bertahan di dunia ini, tapi paling tidak hal itu bisa menjadi sebuah target untuk saya pribadi.

“Bukankah Pakde Cholik bisa menjadi selebblog di usianya yang tidak lagi muda? Bukankah Mbak Asma bisa meraih semua kesuksesannya di usianya yang hampir menginjak kepala empat? Bukankah mereka sudah melewati beberapa generasi hingga sampai di generasi saat ini? Bukankah generasi saat ini adalah generasi - yang menurut mereka - merupakan generasi yang akan datang di masa mereka dulu? :D”

Imam Syahid Hasan Al Bana pernah mengatakan, “Mimpimu hari ini adalah kenyataan esok hari. Kenyataan hari ini adalah mimpimu hari kemarin.” Jadi, “Jika saya tidak bisa menjadi kebanggaan untuk generasi saat ini, paling tidak saya akan berusaha agar bisa menjadi kebanggaan untuk generasi yang akan datang.”

Mbak Asma saat berbicara di hadapan para calon anggota FLP angkatan ke 16

Saya dan Mbak Asma


Buku "Emak Ingin Naik Haji" merupakan kumpulan cerpen Mbak Asma

Tanda tangan Mbak Asma di buku "Emak Ingin Naik Haji" yang saya beli

Teman-teman baru saya di FLP Jakarta

18 Januari 2012

Sebuah Cerita di Akhir Pekan

Tampak depan bangunan itu masih sama seperti dua tahun lalu saya kesana. Ornament klasik dan kesan tua yang ditimbulkan oleh bangunan itu membuatku tak ingin berlama-lama tinggal di luar dan ingin segera memasukinya dengan langkah yang pasti. Bangunan yang diberi nama Museum Bank Mandiri itu adalah tempat sebuah acara yang saya hadiri tepat di akhir pekan kemarin dalam acara Studium Generale FLP Jakarta angkatan ke 16.

Dalam acara itu, saya sudah mengetahui bahwa akan hadir dua orang penulis terkenal yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, terutama bagi mereka yang "doyan" baca. Mereka adalah Mas Boim Lebon dan Mbak Asma Nadia. Seiring waktu berlalu, saya yang pada kesempatan itu hanya datang sendirian saja, sudah mulai merasa nyaman berada di tengah-tengah komunitas baru. Bertemu dengan wajah-wajah baru dan berkenalan dengan teman-teman baru.

Sesi pertama diisi oleh Mas Taufan E. Prast selaku moderator dan Mas Boim Lebon sebagai pembicara. Oia, sedikit informasi, Mas Boim Lebon adalah penulis buku serial Lupus bersama temannya Hilman. Beliau mengawali perbincangan saat itu dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Nama asli beliau adalah Sudiyanto bin Pandi bin Karyokromo. Entah karena apa sehingga teman-temannya memanggilnya dengan sebutan “Boim”. Menurut penuturan beliau kala itu, nama Boim merupakan singkatan yang artinya bocah imut. Hehehe…entah filosofi darimana sehingga beliau dijuluki si Bocah Imut. Namun “Imut” nya pun merupakan singkatan yaitu “Item Mutlak”. Hahaha….saat beliau berucap seperti itu, sontak semua peserta yang hadir kala itu tertawa berjamaah. Ya, kalau “Imut” nya memiliki singkatan seperti itu, saya mulai setuju dengan singkatan “Bocah Imut” untuk Mas Boim, karena itu bukan merupakan sebuah fitnah :D

Masih dengan kisah yang sama, Mas Boim menuturkan bahwa yang mempunyai ide membuat buku Lupus adalah Hilman, teman semasa SMA nya dulu. Mas Hilman selalu mengamati tingkah polah teman-temannya hingga akhirnya terbentuklah beberapa tokoh karakter dalam serial Lupus-nya yang memang beliau angkat dari karakter-karakter para sahabatnya. Yaitu Boim dan Gusur.

Mas Boim menjelaskan, bahwa kenapa tokoh Boim dalam kisah Lupus dibuat sedemikian rupa sehingga membuat karakter Boim sangat melegenda di kalangan para cewe-cewe pada masa itu, sebab menurut penjelasan Mas Boim, dulu beliau adalah seorang playboy cap Duren Tiga. Mengapa demikian? Begini menurut penjelasan beliau. Biasanya, seorang playboy itu identik dengan wajah yang tampan, tubuh yang tegap, intelektual yang tinggi, dsb. Namun kala itu, Mas Boim ingin menunjukkan bahwa seorang “Bocah Imut” seperti beliau pun bisa menjadi playboy. Dan ternyata terbukti bahwa beliau bisa!! Ya, bisa kena malu!! Karena setiap kali ‘nembak’ cewe selalu ditolak!! Hahaha…..sekali lagi kami tertawa mendengar Mas Boim bertutur seperti itu. Dan kenapa dikatakan playboy cap Duren Tiga?? Karena pada masa itu, Mas Boim selalu membawa korek api batangan yang bercap Duren Tiga :D

Meskipun demikian, Mas Boim tak pernah patah arang. Beliau selalu ingin menunjukkan bahwa dirinyapun bisa menjadi idaman para cewe-cewe di sekolahnya. Kemarinpun, Mas Boim mengaku bahwa dirinya memang selalu dikejar-kejar wanita. Pada saat itu kami belum bisa menebak mengapa beliau berkata seperti itu. Sampai akhirnya beliau melanjutkan ucapannya, bahwa beliau dikejar-kejar oleh wanita yang matanya somplak, yang agak-agak “miring”, dan tidak waras. Hahaha kami terus saja tertawa dibuatnya. Tidak sampai di situ, Mas Boim juga mengaku, dahulu kala pernah berusaha nembak cewek, tapi Mas Boim tidak pernah merasa aneh jika semua cewek yang ditembak selalu menolaknya. Beliau mencontohkan, "Hai Sinta, aku suka nih sama kamu. Kamu mau ga jadi pacarku?" Sinta menjawab, "Duh, maaf ya…..", "Oh, ga papa, saya udah tau kok jawabannya. Kamu nolak saya kan? Hal yang wajar kok buat saya. Kalo kamu terima saya tuh baru namanya gak wajar." Hahaha….Mas Boim….Mas Boim…

Udah gitu kata Mas Boim, setiap kali beliau berusaha nembak cewe, pasti yang nolak dua orang. Kenapa? Karena setiap kali dia baru mengutarakan keinginannya, pasti teman si cewek udah bilang gini, "Jangan mau sama dia…." Hehehe. Lalu setiap perempuan di sekolahnya yang pernah beliau 'tembak' ujung-ujungnya pasti menjadi wanita shalihah. Kenapa pulak? Karena setiap kali cewek itu di 'tembak' beliau, pasti teman si cewek bilang gini juga, "Makanya, elu sih jarang ngaji, jarang sholat, jadi banyak setan yang deketin tuh." Trus kata si cewek, "Iya deh, mulai besok gw bakal rajin sholat ama ngaji…" :D Mas Boim juga bilang, katanya kalo beliau lewat di depan cewek-cewek, pasti mereka pada berta'awudz dan beristighfar (Hahaha entah ini kisah nyata atau bukan ya? :D)

Jaman dulu, Mas Boim juga pernah buat geng loh, namanya Kabel. Ada singkatannya tuh, yaitu Geng Kelompok Anak Belakang. Senangnya duduk di belakang, karena setiap guru bertanya, yang ditanya adalah anak-anak yang ada di depan dan tengah, jarang si guru bertanya ke anak-anak yang ada di belakang. Baru mengacungkan jari, si anak depan udah jawab, baru mengacungkan jari, si Guru udah nyuruh anak depan menjawab. Selain itu, nama geng beliau adalah Arel Sodik. Maksudnya, Anak Rel Sonoan Dikit :D

Lanjut ke kisah Gusur. Pemuda bertubuh tambun ini sangat suka berpuitis. Kemarin, Mas Boim mencontohkan bagaimana kala si Gusur selalu menerapkan sifat puitisnya setiap saat, kapanpun dan dimanapun.

Teman A : Mau kemana lu Sur?
Gusur : Wahai kawanku, kala matahari sudah nampak di atas sana, sesungguhnya aku ingin ke kantin (hehehe)
Teman : #@%^**(%^%

Teman B : Eh Sur, mau kemana Lu?
Gusur : Wahai sahabatku, bukankah tadi sudah kukatakan bahwa aku ingin ke kantin (guling2 =)))

Mas Boim kembali mencontohkan bagaimana kalau Gusur berinteraksi dengan istrinya,

Gusur : Duhai istriku, apakah gerangan yang akan kau masak? Bisakah kau menyatukan hijau dedaunan itu dengan indahnya warna keemasan dari sinar matahari yang bersinar cerah? Yang bersatu dalam senada beningnya air kesejukan? (intinya mah minta bikinin sayur bayem campur jagung manis, dan kami tak bisa menahan tawa :D)
Istri : Ngomong apaan sih?? @%$^&

Pernah di satu kesempatan, Mas Boim dan Gusur pergi ke kantin bersama. Kala si Gusur menghampiri tukang somay, si tukang berkata, “Maaf, somay udah abis”. Dan kala ia menghampiri tukang mie ayam, si tukang berkata,”Maaf, saya udah mau tutup.” Hehehe para penjual itu hanya tidak ingin si Gusur memesan makanan mereka dengan gayanya yang puitis sebab itu akan memperlama kerjaan mereka :D

Hanya satu yang Mas Boim harap, Gusur tidak memakai sifat kepuitisannya pada saat terjadi bencana. Kemarin, Mas Boim mencontohkan bagaimana kalau misal Gusur berpuitisasi pada saat bencana. “Wahai kalian, ombak bergulung-gulung di lautan, gunung terguncang tidak karuan, petir menggelegar bak rayuan malam, cepatlah menghindar karena….." belum selesai cerita Mas Boim, tapi kami semua sudah dibuat ngakak tingkat nasional.

Kembali ke kehidupan Mas Boim yang tidak tahu kenapa, akhirnya kini beliau menemukan potensinya pada dunia tulis menulis. Dulu, jauh sebelum mengenal potensi kepenulisannya, beliau sempat mencari-cari di mana potensinya hilang. Mungkinkah digondol kucing garong? Atau dibawa lari tikus got? Atau dimakan tokek belang? Atau disembunyikan oleh kadal buntung? Beliau berusaha mencari ke pantai, hutan, dan lautan, tetap tidak beliau temukan. (lebay :D)

Awal mula beliau mencari potensi dirinya, beliau menuturkan kalau beliau pernah mengikuti ekskul bola basket. Hanya saja hal itu tidak berlangsung lama, dalam penjelasannya, kata beliau, setiap kali beliau bermain basket, "Nggak pernah dapet bola!!" hahaha ya jelas aja, orang yang lain tinggi-tinggi, sedangkan Mas Boim?? Ups… :D "Akhirnya…." Lanjut beliau, "Pada saat bola datang, saya cuekin aja." Dia bilang, "Tadi pas gue kejar-kejar lu gak mau nyamperin, sekarang giliran gue diem, lu kejar-kejar…" Tawa itu lepas kembali dari sangkarnya……

Merasa tidak menemukan potensinya di bidang olahraga, Mas Boim banting setir menjadi anggota pecinta alam. Kebiasaan mereka adalah "Naik Gunung". Namun sayang, belum juga sampai ke puncak, Mas Boim sudah kehabisan nafas dan pada akhirnya gugur di tengah jalan. Kalaupun naik gunung, kata beliau pernah, yaitu Gunung Sahari, hahaha. Kami tak hentinya tertawa.

Setelah merasa buntu menggeluti bidang olahraga dan pecinta alam, akhirnya Mas Boim pindah jalur. Kali ini lebih ekstrim, mencoba peruntungan menjadi model!! Wuisss…..beliaupun akhirnya mengirimkan biodata serta pas foto tampak depan, belakang, dan samping kanan kiri. Setelah menunggu sehari, sepekan, dan beberapa waktu lamanya, akhirnya pihak agen menghubungi Mas Boim. Yang beliau tahu, bagi mereka yang biodatanya tidak diterima, maka pihak agen tidak akan menghubungi, tapi jika diterima, maka pihak agen akan menghubungi. Nah, berhubung Mas Boim dihubungi oleh pihak agen, maka beliau senang bukan main. Itu artinya beliau diterima. Begitu menurutnya.

Namun sayang, siapakah yang bisa menebak takdir?? Ternyata oh ternyata, sesampainya di sana, Mas Boim malah dinasehati untuk tidak melakukan kesalahan di lain hari. Bahkan pihak agen memanggilkan ustadz agar Mas Boim cepat taubat. (hahaha…..kami mulai tertawa kembali. Entah ini kisah nyata beliau atau hanya sekedar kisah lucu yang beliau karang, namun kami hanya bisa tertawa mendengar penuturan beliau). Tidak berhenti sampai di situ, "Sebelum pulang dengan perasaan kecewa, eh pulangnya dikasih kaca." Lanjut Mas Boim sambil mengulum senyumnya. Kamipun ikut tertawa. Kali ini lebih keras :D

Ahhh…jadi pemain basket nggak, pecinta alam juga bukan, apalagi model yang jelas-jelas malah disuruh tobat. Cappek dehhh…..akhirnya pada saat sekolah Mas Boim mengadakan sebuah teater, di sinilah Mas Boim menemukan potensi aslinya. Ternyata naskah drama yang beliau ajukan ke pihak sekolah dan diikutsertakan dalam lomba, akhirnya terpilih menjadi juara 3. Jreng…jreng….jreng….Boim muda akhirnya menemukan jati dirinya yang hilang. Yaitu sebagai seorang penulis dan jurnalis.

Ah, mungkin karena rasa humornya yang selalu meremaja, sehingga Mas Boim tak habis-habisnya memiliki gagasan untuk selalu membuat tulisan-tulisan yang meremaja pula, meski usia semakin termakan senja. Rasanya tak puas jika mengenal Mas Boim hanya sebentar. Semoga di pertemuan yang akan datang, masih banyak cerita dan pengalaman yang akan beliau bagikan pada saya dan anggota FLP Jakarta lainnya.

Bagi yang belum tahu seperti apa Mas Boim Lebon, ini dia:

saat jadi pembicara pada acara Studium Generale FLP Jakarta 15/01/12


“Nurlaila Zahra a.k.a Sarah berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia, disponsori oleh Jeng Anggie, Desa Boneka, dan Kios108”

16 Januari 2012

Melapangkan Hati dengan Berpikir Positif

(Mencoba mengambil banyak hikmah dari kemacetan)

Sekali lagi perempuan paruh baya itu membasuh peluhnya yang mengalir dari pelipis kanannya. Namun peluhnya kali ini bukanlah peluh yang tak memiliki arti. Ia membasuh peluhnya itu dengan penuh rasa senang di hati. Bukan lain karena hari ini hasil penjualan minuman dinginnya di pertigaan lampu merah melebihi pemasukannya beberapa hari terakhir. Ia cukup bersyukur karena orang-orang yang terjebak macet di jalan banyak yang membeli minuman dingin padanya untuk melepas dahaga di tengah penatnya kemacetan.


* * *

Di dalam mobil Avanza berwarna hitam itulah sepasang suami isteri itu akhirnya memutuskan untuk menghilangkan ego masing-masing yang membuat rumah tangga mereka hampir saja kandas di tengah jalan. Tangisan anak mereka yang memecah di tengah kemacetan telah membuat mereka menyadari bahwa mempertahankan ego itu bukanlah hal yang benar, malah justru akan membuat hidup mereka hancur, terutama mengorbankan kebahagiaan anak mereka.

* * *

Kulit kerutnya memang tidak bisa membohongi kenyataan kalau ia sudah sangat tua. Seorang perempuan muda yang tengah menaiki motor matic di hadapannya ternyata telah terjebak kemacetan selama beberapa menit. Dan ternyata hal itu menggerakan hatinya untuk memberikan sesuatu pada pengemis yang ada di hadapannya. Jelas hal itu sungguh membuat kerut di wajah sang pengemis itu mengembang cukup lebar. Bagaimana tidak, sepagian ia duduk di pinggir jalan, namun baru sore ini ia mendapatkan lembaran rupiah yang ia harapkan sejak mentari terbit. Dan ia bersyukur akan hal itu.

* * *

Ahhh….musim liburan yang belum lama ini berakhir ternyata berdampak kemacetan bagi sebagian jalan-jalan utama di Jakarta, tak terkecuali akses jalan yang melintasi kantor saya yang berujung di Kebun Binatang Ragunan. Alhasil ketika pulang kerja, kemacetan itu sukses membuat saya dan teman saya berjalan kaki sekitar 1 km dalam beberapa hari terakhir liburan untuk menghindari kemacetan dan mendapatkan angkot yang tidak melulu penuh. Ternyata hal itu tidak terlalu menyebalkan untuk saya dan teman. Karena dalam “jalan-jalan sore” itu kami dapat menceritakan banyak hal dan tertawa bersama sambil menikmati udara sore yang jarang kami rasakan secara "utuh" jika kami langsung naik angkot dari depan kantor.

Selain itu, “jalan-jalan sore” itu juga banyak memberikan kami pelajaran, terutama tentang kesabaran dan keikhlasan. Sabar menanti angkot yang kosong, sabar menikmati kemacetan yang tak kunjung hilang, dan ikhlas jika beberapa hari itu kami harus jalan sepulang kerja. Dan ternyata, kemacetan beberapa hari itu telah mengajarkan pada saya, sang teman, dan mungkin kepada kita semua bahwa kemacetan tidak selamanya merugikan semua orang. Kita bisa lihat ketiga contoh di atas yang telah dipaparkan. Dan sebagian contoh itu mungkin saja pernah menghiasi kondisi macet yang kita alami. Sebagian kita mungkin menganggap bahwa macet merugikan banyak pihak. Namun jika kita mau berpikir positif, ternyata kemacetan juga bisa membawa “keuntungan” bagi sebagian yang lain. Namun lain halnya jika yang membuat kemacetan adalah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti supir-supir kopaja atau metromini yang seenaknya mengambil jalur kendaraan lain. Mungkin masing-masing kita punya caranya sendiri untuk membuat hal itu terminimalisir.

Hal di atas, mungkin sama halnya ketika tahun baru tiba yang belum lama ini kita lalui. Sebagian kita mungkin menganggap bahwa perayaan tahu baru itu tidak penting bahkan sampai ada yang anti dengannya. Mau dirayakan atau tidak, tetap saja tahun akan memasuki usianya yang baru. Sebagian kita mungkin akan merasa terganggu dengan bising dan berisiknya suasana yang diciptakan oleh kemeriahan tahun baru, termasuk juga timbulnya kemacetan di mana-mana. Namun pernahkah kita berpikir bahwa dibalik perasaan terganggu kita itu, ternyata ada sebagian lain yang merasakan keberkahan di tahun baru? Ya, mereka adalah para penjaja kembang api, penjual makanan dan minuman siap saji, penjual arang, penjual jagung, dsb. Mungkin saja momen-momen seperti itulah yang selalu mereka tunggu-tunggu untuk bisa pulang dengan membawa uang yang lebih untuk keluarga mereka.

Sekali lagi, berpikir positif ternyata tidak terlalu membuat kita susah. Tapi malah justru kembali menimbulkan rasa syukur yang terdalam kita karena di tengah ketidaksukaan kita terhadap sesuatu, ternyata hal itu justru memberikan sebuah keberkahan bagi sebagian yang lain. Dan bersyukurlah, karena kita masih bisa menikmati semua itu, meskipun tidak dengan porsi yang sesuai dengan keinginan kita. Yang penting masih bisa menikmati. Itu intinya :) Karena berpikir positif akan melahirkan sebuah kelapangan hati yang tiada terkira.

4 Januari 2012

Cintailah Apa Adanya

Dikutip dari kisah sebuah buku berjudul "Ya Allah, Aku Jatuh Cinta"

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. ”Mengapa?” dia bertanya dengan terkejut. ”Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan.”

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya. ”Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, ”Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?” Dia termenung dan akhirnya berkata, ”Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...

”Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

”Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.”

”Kamu sering lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.” ”Kamu suka jalan-jalan keluar kota, tapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.”

”Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ’teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.” ”Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu khawatir kamu akan menjadi ’aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.” ”Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”

”Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.”

”Tapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku”

”Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.”

”Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tapi saya tetap berusaha untuk membaca, ”Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawabanmu.”

”Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

27 Desember 2011

Menikmati Proses dan Pengalaman

Akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya beberapa hari ini, saya lebih sering memikirkan tentang proses serta hubungannya dengan pengalaman. Menurut saya, proses merupakan langkah atau cara kita untuk mencapai sebuah tujuan. Belakangan ini, ada beberapa hal yang membuat saya kembali memahami tentang istilah proses ini. Seperti halnya aktivitas yang setiap hari saya lakukan selepas kepergian Tante. Kesibukan saya kini bukan hanya bekerja dan kuliah saja, tapi juga mengurus Rizky dan segudang embel-embel kegiatan yang menyertainya. Di mata orang lain, mungkin mereka punya anggapan sendiri dengan segala aktivitas rutin yang harus saya lakukan. Tapi bagi saya, ini adalah sebuah proses. Proses dalam hal apa? Ya proses dalam menjalani kehidupan demi mencapai sebuah kebaikan hidup. Meskipun tidak semua proses yang ada dapat berjalan dengan baik, namun yang harus dilakukan adalah menikmati proses itu, maka dengan sendirinya kita akan menemukan sebuah pengalaman yang sangat berharga.

Tempo hari sempat blogwalking ke blognya Mbak Reni dan menemukan postingan ini. Di akhir tulisannya Mbak Reni mengungapkan kalau saja beliau yang berada di posisi si tokoh yang beliau ceritakan, mungkin beliau akan merasa ragu menjawab “Ya” ketika ditanya sanggupkah menerima kenyataan tersebut. Tapi saya sempat berkomentar bahwa Allah itu lebih tahu kemampuan hamba-Nya. Dan kenapa Allah memberikan ujian yang berbeda-beda kepada setiap hamba-Nya, karena Ia tahu bahwa kapasitas kemampuan kita pun berbeda-beda. Dan mengapa Allah tidak memberikan ujian itu pada Mbak Reni, karena Allah tahu "mungkin" Mbak Reni tidak akan sanggup menerima ujian itu. Dan mengapa Sari dan suaminya bisa mencintai anaknya tanpa syarat? Karena mereka hanya memiliki dua pilihan. Mengeluhkan keadaan atau ikhlas menerima kenyataan. Dan pada akhirnya Sari memilih untuk ikhlas, makanya Sari terlihat mampu menghadapi ujian yang diberikan Allah padanya. Dan patut diingat, bahwa memilih untuk ikhlas itu bukanlah hal yang mudah untuk diputuskan dan dilaksanakan, Keikhlasan itu harus terus dijaga agar tidak berubah di kemudian hari. Dan hal itu merupakan bagian dari proses menuju kebaikan hidup di hadapan Sang Khaliq.

Kembali ke masalah proses dan pengalaman tadi, jujur, dua hal yang paling saya senangi adalah menikmati proses dan mencari pengalaman. Mengapa demikian? Karena dengan kedua hal itu bisa membuat kita lebih dewasa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Satu quote yang saya simpulkan dalam hal ini adalah,

“Kita tidak akan pernah merasa mampu jika kita tidak dihadapkan dengan sebuah ujian hidup”

Analoginya begini, kita selalu merasa tidak akan pernah bisa merasa sanggup atas sebuah ujian yang diberikan Allah pada orang lain. Padahal, yang mengetahui sanggup atau tidaknya kita atas ujian itu hanyalah Allah semata. Kalaupun kita merasa tidak sanggup, tapi jika Allah memilih kita untuk menerima ujian itu, maka itu artinya Allah lebih tahu kalau kita sanggup. Dan jika kita sudah dihadapkan dengan kenyataan tersebut, mau tidak mau kita "dipaksa" untuk merasa sanggup menerima ujian hidup tersebut. Disinilah proses itu mulai memainkan perannya. Maksudnya?

Ketika kita mendapat ujian dari Allah, hanya ada dua jalan yang harus kita pilih. Yang tadi sudah saya katakana: mengeluhkan keadaan atau ikhlas menerima kenyataan. Jika kita mengeluhkan keadaan, maka yang ada hanya perasaan tidak sanggup yang terus menghantui kita, yang pada akhirnya akan membuat kita menyalahkan takdir yang ditetapkan Allah. Tapi jika kita lebih memilih untuk ikhlas menerima kenyataan, maka yang ada dalam benak kita hanyalah pikiran positif bahwa Allah pasti akan memberikan derajat yang lebih tinggi bagi hamba-Nya yang mau ikhlas dan berusaha menghadapi kenyataan yang ada. Dan lagi-lagi, keikhlasan ini jelas membutuhkan sebuah proses yang tidak sederhana. Namun jika kita mau menikmati prosesnya, maka semuanya akan terasa mudah. Karena apa? Karena Allah akan selalu ada untuk hamba-Nya yang mempercayai janji-Nya. Dan dengan menikmati proses ini, maka kita akan diajarkan untuk memilih hal-hal yang terbaik dalam kehidupan kita. Menikmati proses pun akan membuat kita memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Yaitu pengalaman menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijaksana dalam memandang setiap masalah dan ujian yang Allah berikan.