Pulang kerja yang cukup melelahkan, sampai dirumah jam lima sore lewat beberapa menit. Untuk melepaskan lelah karena telah seharian bekerja, saya hidupkan televise dan mencari channel yang enak untuk ditonton (yang pasti bukan sinetron, infotainment, atau acara-acara musik karena memang saya kurang suka itu). Mata saya tertuju pada sebuah tayangan menarik di Trans TV. Acara itu berjudul “Kado Istimewa”. Dan sub judul acara itu adalah “Kado Terakhir Untuk Bapak”. Pikiran saya mulai menerawang jauh, wah sub judulnya menarik juga nih. Sayapun mulai menikmati tayangan tersebut.
Acara ini mengisahkan seorang bocah perempuan yang saya perkirakan usianya berkisar antara 9 / 10 tahun (saya lupa karena saya tidak terlalu mengingatnya). Bocah perempuan ini bernama Dina (saya lupa nama panjangnya. Hehehe…). Dia anak ke 14 dari 16 bersaudara. Dina masih mempunyai orang tua, namun bapaknya pada saat itu tengah tergeletak sakit akibat komplikasi gula dan ginjal yang sudah di deritanya selama 1 tahun. Dina mempunyai 1 keinginan yang belum bisa terwujud yaitu membelikan baju koko baru untuk sang bapak. Selama masa sehatnya, bapak Dina itu begitu rajin shalat berjamaah di mushala, maka dari itu Dina ingin membelikan baju koko baru untuk bapaknya dan berharap bapaknya bisa cepat sembuh dan bisa shalat bersama-sama dengan keluarganya di mushala dengan menggunakan baju koko itu.
Dina mencoba mencari akal untuk bisa mengumpulkan uang agar bisa mewujudkan keinginannya itu. Walhasil, dia bersama temannya, Novi, berjualan es blewah. Namun uang yang dikumpulkannya belumlah cukup untuk membeli baju koko. Akhirnya keempat kakaknya mencoba membantu Dina. 1 kakaknya mengamen di lampu merah, 1 kakaknya lagi menjadi kuli panggul di pasar, dan 2 kakaknya menjadi buruh cuci dirumah bu RT.
Hasil jerih payah mereka disatukan dan barulah baju koko itu bisa terbeli. Dina memberikan baju koko itu dengan air mata yang berlinang. Berharap agar bapaknya bisa segera memakai baju koko yang dibelikan anak-anaknya untuk bapak. Namun takdir berkata lain. Sesuai dengan sub judulnya, baju koko itu menjadi kado terakhir untuk bapak. Ya, 4 hari setelah Dina memberikan baju koko itu, bapaknya berpulang ke rahmatullah.
Selesai menyaksikan tayangan itu, air mata saya belum berhenti. Teringat akan orang tua saya, kakek saya yang sedang sakit, dan juga nenek. Saya mulai berpikir, kira-kira apa yang bisa saya perbuat agar mereka bisa bahagia dan bangga mempunyai anak seperti saya?
Dan satu pelajaran yang bisa saya ambil dari tayangan itu adalah, selama orang yang kita sayangi dan kita cintai masih ada disamping kita, berusahalah berbuat yang terbaik untuk mereka sebab kematian itu tidak ada yang tahu datangnya. Jangan sampai kita menyesal seumur hidup, karena kita belum bisa membuat orang tua dan keluarga kita bangga dan bahagia sementara ajal telah menjemput mereka.
Azan maghrib menyadarkan saya. Dengan bergegas saya menyejukkan tubuh dan jiwa ini dengan air wudhu dan menunaikan kewajiban shalat maghrib.
Saat melihatnya ada dan dirasa ia baik-baik saja
Maka keberadaannya adalah wajar adanya
Berharga bersamanya akan sangat terasa
Ketika ia telah tiada
Ketika ia tak lagi membuka matanya
(Renungkanlah)
NZ (Sarah)
Jum'at, 100709
13 Juli 2009
3 Juli 2009
:: Kebesaran-Mu Tuhan ::
Rabb,,
Melihat hamparan bumi ciptaan-Mu
Dari gedung berlantai sembilan ini
Sungguh,
Membuat aku merasa kecil dihadapan-Mu
Mungkin aku tak ada seciduk
Dari luasnya laut yang Kau ciptakan
Mungkin aku tak ada segenggam
Dari banyaknya pasir yang Kau tebarkan
Mungkin aku hanya manusia bodoh
Yang masih berusaha
Untuk menjadi apa yang Kau perintahkan
Semakin aku resapi kebesaran-Mu
Semakin pula aku mengerti
Bahwa hidup ini
Sesungguhnya hanyalah atas kuasa-Mu
Tak berhak aku meminta lebih
Atau bahkan mencaci apa yang Kau beri
Aku sungguh tak tahu diri
Ketika diri ini masih belum bisa mensyukuri
Rabb,,
Bimbing aku meniti jalan lurus-Mu
Tuntun langkahku menuju rumah surga-Mu
Bantu diriku saat aku terjatuh
Atau bahkan terinjak karena jiwaku yang rapuh
Rabb,,
Sesungguhnya kemuliaan ini
Hanya Kau saja yang berhak menerimanya
Kuusahakan ‘tuk berbenah diri
Demi sebuah kehormatan yang hakiki
030709
Lt 9 Gd. D Deptan
NZ (Sarah)
2 Juli 2009
:: Nasyid-Nasyid Cinta ::
Malam ini, tak aku dengar lagi suara tv yang menyiarkan berita terkini
Yang aku dengar hanya desahan nafas suci yang berhembus dari setiap jiwa-jiwa yang tengah terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Jakarta, 010709
didalam kamar, 23.30
NZ (Sarah)
Tak aku dengar lagi suara orang yang memberi opini
Tak aku dengar lagi suara aktivitas duniawiYang aku dengar hanya desahan nafas suci yang berhembus dari setiap jiwa-jiwa yang tengah terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Baru saja kuselesaikan bacaanku atas novel nasyid-nasyid cinta. Diakhir ceritanya begitu mengharukan. Ketegaran hati seorang Azka dalam melawan penyakitnya, sehingga ia dapat meninggal dalam keadaan sudah menjadi seorang istri. Meskipun ia belum sempat menjadi seorang istri yang sesungguhnya sebab ijab qabul atas dirinya, telah mengiringi kepergian dirinya untuk selamanya.
Jakarta, 010709
didalam kamar, 23.30
NZ (Sarah)
1 Juli 2009
: : Warna Langka : :
Hidup ini penuh dengan warna. Banyak orang yang memilih warna yang sama. Namun tak sedikit pula orang yang memilih warna yang beda dengan orang lain. Warna yang langka. Tak banyak memang yang menyadari, bahwa warna yang langka itu justru membawa banyak keberkahan dan kebaikan. Mungkin karena warna yang langka itu kurang menarik. Namun itulah titik keberhargaannya. Warna yang langka itu sangat mahal. Hanya orang-orang yang memiliki niat yang tulus, yang bisa membelinya. Maka dari itu, tidak semua orang dapat memilikinya. Walaupun harganya mahal, namun jika sudah memilikinya, semua itu takkan terasa mahal.
Untuk bisa memiliki warna langka tersebut, harus ada yang namanya perjuangan dan pengorbanan. Itulah yang aku alami. Namun saat ini, aku tak pernah menganggap bahwa warna langka itu mahal. Karena saat ini, aku sudah memilikinya. Dia seperti intan berlian yang diletakkan didalam tabung berlapis emas dan perak, yang dimasukkan kedalam karung lusuh dan diikat dengan sekuat-kuatnya. Yang tak sembarang orang dapat membuka, melihat, dan menyentuhnya. Aku merasa bangga dapat memilikinya.
Memiliki sebuah "intan berlian yang diletakkan didalam tabung berlapis emas dan perak", yang apabila dilukiskan, hanya orang-orang yang berakal yang dapat melihat dan memprediksikan, apa yang dimaksud dengan "intan berlian yang diletakkan didalam tabung berlapis emas dan perak, yang dimasukkan kedalam karung lusuh dan diikat dengan sekuat-kuatnya".
Renungkanlah....
By Nurlaila Zahra (Sarah)
30 Juni 2009
:: Syairku ::

Terlihat kecemasan hati dari wajah seorang hamba
Tak nampak jelas namun mudah dirasa
Merajut asa ditengah kekosongan jiwa
Merasakan kehidupan yang terlalu sulit dirasakan
Adakah sebongkah hati yang turut serta menghiburnya??
Mungkin jawabannya bisa dicari di dasar hati
Seperti purnama yang tak bisa terlihat
Mengharapkan sebuah harapan yang sulit untuk diharapkan
Atau mungkin, harapan itu tidak bisa diharapkan?
Entahlah...
Tapi semua itu, pasti akan berlalu dengan izin-Nya
Walaupun air surga tak kunjung tiba menyejukkannya
Tapi aku yakin, kecemasan hati itu akan sirna
Dan akan timbul kembali disana
Kesejukan hati dari wajah seorang hamba
Dan semua itu...
Sudah tertulis rapi
Dalam catatan surga dari-Nya..
by NZ (Sarah)
30 Ags 06
Mom, Ibu, Ummi, Mama, Bunda, apapun itu namanya...

Tuhan menciptakan seorang wanita, karena wanita adalah sosok makhluk yang sangat mulia. Bahunya yang kekar berguna untuk menopang semua beban dunia. Di balik tangannya yang lembut, disanalah anak-anaknya di rangkul dan dijaga.
Dibawah naungan wanita shalihah, anak-anak dididik agar menjadi khalifah-khalifah yang bijaksana di dunia. Menjadi jundi di hadapan Tuhannya, dengan segala kelembutan hati dan ketawadhuan.
Wanita,
Perasaannya sangat peka dan sensitif. Ketika dilihat anaknya menentang perkataannya, tak sedikitpun perasaan dendam menggelayuti dirinya. Yang ada hanya doa, doa, dan doa yang terselubung dari balik bibirnya yang selalu menyebut nama-Nya.
Dialah seorang wanita...
NZ (Sarah)
29 Juni 2009
Memandang Masalah dari Sudut P4nd4ng yang Berbeda
Pernah ga sih kita merasa terganggu atau ngerasa ga nyaman gitu sama seseorang yang kesehariannya selalu bersama kita? Yang cerewetlah, yang bikin kesellah, bikin repot, selalu nyusahin, dan beribu-ribu alasan yang membuat kita jadi bete sama mereka. Padahal sejatinya, apa yang mereka lakukan sebenarnya wajar saja. Tapi karena kita sudah kerap kali berinteraksi atau bahkan hidup dengan mereka, jadi sedikit perbuatan mereka yang menurut kita ga wajar, bisa membuat kita kesal atau bete pada mereka.
Tapi pernah ga sih kita berpikir jauh kedepan, bagaimana kalau suatu hari atau suatu saat nanti, mereka yang kita sempat benci atau bete karena kelakuannya yang selalu membuat kita gerah, hilang dari kehidupan kita alias meninggal?? Padahal sejatinya kita menyayangi mereka?
Kenapa hanya karena hal-hal sepele, kita bisa sebegitu kesalnya pada mereka? Kenapa hanya karena orang tua kita ingin tahu kemana saja kita seharian ini, lantas membuat kita kesal dan membentak jawabannya dengan alasan ibu kita cerewet? Kenapa hanya karena kakek kita kurang mendengar, lantas ketika dia berulang-ulang bertanya kepada kita, kita menjawabnya dengan nada tinggi seolah membentaknya dengan alasan kalau kita capek ngomong panjang lebar? Kenapa hanya karena suami kita tidur mendengkur, lalu kita merasa terganggu dan mengeluh dengan dengkurannya? Kenapa hanya karena orang tua kita mengambil secuil makanan yang kita makan tanpa izin, lantas kita mencaci maki mereka bagaikan maling yang merampas harta kita?? Padahal sekali lagi, sejatinya kita menyayangi mereka bukan??
Lalu bagaimana jika datang hari dimana mereka harus kembali pada Sang Maha Pencipta? Apa yang akan kita perbuat? Menyesalkah kita atas apa yang telah kita lakukan pada mereka?
Bukankah sebuah pertanyaan dari orang tua kita akan keingintahuan mereka atas kegiatan kita seharian ini, akan menjadi sebuah pertanyaan yang amat sangat kita rindukan tatkala mereka telah tiada? Bukankah pertanyaan yang berulang-ulang yang dilontarkan kakek kita karena mereka kurang mendengar, akan menjadi sebuah kebiasaan yang amat sangat kita kenangkan tatkala mereka telah menutup mata? Bukankah kita akan sangat teramat rela memberikan apa yang kita makan dan kita punya pada orang tua kita, ketika kita hanya ingin melihat mereka bernafas kembali walau hanya sekejap saja, setelah Allah memutuskan untuk memanggil mereka? Bukankah dengkuran sang suami akan menjadi sebuah suara terindah yang akan menjadi sebuah kenangan pada akhirnya, jika ia telah tiada?? Bukankah semau itu hanya akan menjadi sebuah kenangan pada akhirnya???
Lantas mengapa kita tidak pergunakan waktu-waktu itu untuk mensyukuri semuanya? Meskipun kesal karena selalu ditanya kemana kita seharian ini, meskipun kita bete karena harus selalu mengulang-ulang jawaban pada kakek kita yang kurang mendengar, meskipun kita harus selalu berbagi makanan pada orang tua kita, bersyukurlah!!! Karena paling tidak, mereka masih ada dihadapan kita. Bagaimana kalau sudah tidak ada? Bisakah kita menyuruhnya untuk bangun kembali dari tidur panjangnya? Tidak bisa. Dan semua sudah berlalu...
Intinya, kebanyakan dari kita melihat masalah itu dari sudut pandang yang negatif. Cobalah rubah sudut pandang kita terhadap masalah yang kita hadapi. Niscaya, masalah apapun yang kita hadapi, akan menjadi indah pada akhirnya. Karena masalah itu, akan menjadi sesuatu yang akan kita rindukan, saat si pembuat masalah (menurut kita), telah tiada.
Renungkanlah...
NZ (Sarah)
& Yang masih harus banyak belajar dari kehidupan &
Tapi pernah ga sih kita berpikir jauh kedepan, bagaimana kalau suatu hari atau suatu saat nanti, mereka yang kita sempat benci atau bete karena kelakuannya yang selalu membuat kita gerah, hilang dari kehidupan kita alias meninggal?? Padahal sejatinya kita menyayangi mereka?
Kenapa hanya karena hal-hal sepele, kita bisa sebegitu kesalnya pada mereka? Kenapa hanya karena orang tua kita ingin tahu kemana saja kita seharian ini, lantas membuat kita kesal dan membentak jawabannya dengan alasan ibu kita cerewet? Kenapa hanya karena kakek kita kurang mendengar, lantas ketika dia berulang-ulang bertanya kepada kita, kita menjawabnya dengan nada tinggi seolah membentaknya dengan alasan kalau kita capek ngomong panjang lebar? Kenapa hanya karena suami kita tidur mendengkur, lalu kita merasa terganggu dan mengeluh dengan dengkurannya? Kenapa hanya karena orang tua kita mengambil secuil makanan yang kita makan tanpa izin, lantas kita mencaci maki mereka bagaikan maling yang merampas harta kita?? Padahal sekali lagi, sejatinya kita menyayangi mereka bukan??
Lalu bagaimana jika datang hari dimana mereka harus kembali pada Sang Maha Pencipta? Apa yang akan kita perbuat? Menyesalkah kita atas apa yang telah kita lakukan pada mereka?
Bukankah sebuah pertanyaan dari orang tua kita akan keingintahuan mereka atas kegiatan kita seharian ini, akan menjadi sebuah pertanyaan yang amat sangat kita rindukan tatkala mereka telah tiada? Bukankah pertanyaan yang berulang-ulang yang dilontarkan kakek kita karena mereka kurang mendengar, akan menjadi sebuah kebiasaan yang amat sangat kita kenangkan tatkala mereka telah menutup mata? Bukankah kita akan sangat teramat rela memberikan apa yang kita makan dan kita punya pada orang tua kita, ketika kita hanya ingin melihat mereka bernafas kembali walau hanya sekejap saja, setelah Allah memutuskan untuk memanggil mereka? Bukankah dengkuran sang suami akan menjadi sebuah suara terindah yang akan menjadi sebuah kenangan pada akhirnya, jika ia telah tiada?? Bukankah semau itu hanya akan menjadi sebuah kenangan pada akhirnya???
Lantas mengapa kita tidak pergunakan waktu-waktu itu untuk mensyukuri semuanya? Meskipun kesal karena selalu ditanya kemana kita seharian ini, meskipun kita bete karena harus selalu mengulang-ulang jawaban pada kakek kita yang kurang mendengar, meskipun kita harus selalu berbagi makanan pada orang tua kita, bersyukurlah!!! Karena paling tidak, mereka masih ada dihadapan kita. Bagaimana kalau sudah tidak ada? Bisakah kita menyuruhnya untuk bangun kembali dari tidur panjangnya? Tidak bisa. Dan semua sudah berlalu...
Intinya, kebanyakan dari kita melihat masalah itu dari sudut pandang yang negatif. Cobalah rubah sudut pandang kita terhadap masalah yang kita hadapi. Niscaya, masalah apapun yang kita hadapi, akan menjadi indah pada akhirnya. Karena masalah itu, akan menjadi sesuatu yang akan kita rindukan, saat si pembuat masalah (menurut kita), telah tiada.
Renungkanlah...
NZ (Sarah)
& Yang masih harus banyak belajar dari kehidupan &
Pu1s1 4s4L,,,,,,,

Asal melihat dia tersenyum
Itu sudah lebih dari cukup buatku
Asal melihat dia ada
Itu sudah membuat aku tenang
Asal melihat dia terdiam
Itu sudah membuat hatiku tenteram
Asal melihat dia tertawa
Itu sudah membuat aku ceria
Asal melihat dia bahagia
Itu sudah membuat aku bahagia
walau sejatinya...
Aku menangis
Karena kebahagiaannya
Sesungguhnya adalah kepedihan untukku
Asal melihat dia baik-baik saja
Aku percaya,,
Seseorang disana tengah menjaga dirinya...
NZ (Sarah)
% Untuk mereka yang tak tersampaikan cintanya %
CiNt4 T4k H4RuS M3m1L1k1.....

Bila Cinta itu hadir
Biarkanlah ia terukir
Di dalam jiwa
Di dalam dada
Bila cinta itu salah
Biarkanlah ia mengalah
Karena keadaan
Karena kehidupan
Bila cinta itu terlarang
Biarkanlah ia menghilang
Jauh dari hati
Jauh dari sisi
Bila cinta itu terlambat
Biarkanlah ia bermunajat
Pada kekuatan hati
Pada keteguhan nurani
Bila cinta itu pergi
Biarkanlah ia ikhlas menjalani
Karena CiNt4 T4k H4RuS M3m1L1k1.....
NZ (Sarah)
* Bagi mereka yang tengah jatuh cinta *
* Namun terlambat tuk mengungkapkannya *
PuiSi CiNt4.....

Sekalipun aku memaksa cinta itu
untuk datang kepadaku
Namun jika ia telah menemukan peraduannya
Aku takkan sanggup
Mengalihkan ia padaku
Sekalipun aku membuat seindah mungkin hatiku
Namun jika ia telah menaruh hatinya pada bunga lain
Aku takkan mampu
Merampas kebahagiaannya untukku
Cinta itu miliknya
dan bukan milikku
Kasih itu untuknya
dan bukan untukku
Maka dari itu,
Aku akan merelakan kebahagiaannya
Menari diatas penderitaanku
Walau sesungguhnya,
Dia tidak menyadari itu...
NZ (Sarah)
^ Bagi mereka yg tengah jatuh cinta ^
^ namun tidak tersampaikan ^
22 Juni 2009
SeTeLaH iNi......
Setelah ini...
Tak dapat lagi aku melihat dirinya
Setelah ini...
Aku tak dapat lagi mendengar suaranya
Setelah ini...
Hanya akan ada sebuah kenangan
yang selalu terukir dihatiku
bahwa dia pernah ada dalam fase
kehidupanku
Setelah ini...
Tak ada lagi dia
Tak ada lagi kata
Tak ada lagi canda
tak ada lagi tawa
Setelah ini...
Dapatkah kulewati waktu tanpanya?
NZ (Sarah)
Terinspirasi dari seorang istri yang
ditinggal oleh suaminya
Tak dapat lagi aku melihat dirinya
Setelah ini...
Aku tak dapat lagi mendengar suaranya
Setelah ini...
Hanya akan ada sebuah kenangan
yang selalu terukir dihatiku
bahwa dia pernah ada dalam fase
kehidupanku
Setelah ini...
Tak ada lagi dia
Tak ada lagi kata
Tak ada lagi canda
tak ada lagi tawa
Setelah ini...
Dapatkah kulewati waktu tanpanya?
NZ (Sarah)
Terinspirasi dari seorang istri yang
ditinggal oleh suaminya
19 Juni 2009
Ukhti, Hatimu di Jendela Dunia,,,,,

Ukhti,
Jadilah wanita Suci
ditengah ilalang duniawi
Engkau terlahir ke dunia ini
Untuk membangun peradaban suci
Ukhti,
Ketika kau menemui pasangan hati
Tetaplah penuhi hati dengan cinta Ilahi
Ingatkan diri bahwa hari ini
Akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti
Ukhti,
Ketika kau hendak menjemput asamu
Jangan lupa srtakan Allah di setiap langkahmu
Sebab hanya Dia yang bisa dan mampu
Melindungimu di setiap waktu
Ukhti,
Ketika ada kehidupan baru dalam rahimmu
Sertakanlah ia dalam setiap doa malammu
Mintalah pada Sang Maha Pemberi Hidup
Agar kelak ia dapat menjadi Bintang Kecilmu
Yang bisa menerangi gelapnya langit hatimu
Ukhti,
Ketika kehidupan di rahimmu terlahir ke dunia
Sesungguhnya amanah besar tengah menantimu
Dia tak hanya menjadi penyejuk pandanganmu
Tapi juga menjadi penentu kehidupan akhirmu
Ukhti,
Di tanganmu kelak mereka kan kau bina
Kau beri pengetahuan tentang Tuhan mereka
Rasul teladan tercinta mereka
Dan tentang kehidupan yang fana ini
Ukhti,
Baik buruk mereka engkaulah yang mencipta
Pilihkanlah yang terbaik untuknya
Bermohonlah pada-Nya di sepertiga malam
Agar kau bisa memasuki surga-Nya
Bersama mereka dengan tenteram
Ukhti,
Ketika usiamu mendekati senja
Selalulah bekali mereka dengan iman dan taqwa
Agar kelak kau bisa menghadap Ilahi
Dengan senyum dan bangga di hati...
NZ (Sarah)
Di Suatu malam sambil mendengarkan nasyid
di radio
Puisi Tanpa Judul...
Saudariku,
Disaat kau memiliih berbelok pada jalan hidupmu
Aku memutuskan untuk tetap lurus menempuh jalanku
Untuk apa kau belokkan dirimu di jalan itu
Kalau dengan lurus saja bisa membawamu pada kebaikan
Saudariku,
Ketika kau memilih untuk menampakkan auratmu
Aku memutuskan untuk terus berhijab suci
Untuk apa kau berpakaian seksi
Kalau dengan berpakaian muslimah bisa membuatmu mulia
Serta bisa membuatmu berharga dan lebih dihargai
Saudariku,
Kala kau memilih kaca mata dunia sebagai hiasan pandanganmu
AKu memutuskan untuk menundukkan pandanganku
Untuk apa kau memakai kaca mata itu
Jika dengan menundukkan pandangan
Bisa membuatmu lebih terjaga
Saudariku,
Disaat kau memilih bermacam-macam kosmetik
Aku memutuskan untuk memoles wajahku dengan rasa malu
Untuk apa kau memakai kosmetik itu
Jika dengan rasa malu bisa mengangkat derajatmu
Saudariku,
Disaat Kau membersihkan diri dengan sabun terwangi
Aku memilih istighfar sebagai pembersih diri
Untuk apa kau pergunakan sabun terwangi
Jika dengan istighfar bisa menghapus semua dosa dan kesalahan diri
Saudariku,
Ketika kau memilih menggerai rambut hitammu
Aku memutuskan untuk mengenakan jilbabku
Untuk apa kau membiarkan orang menikmati indah rambutmu
Jika dengan berjilbab bisa membuatmu menjaga diri
dari pandangan laki-laki asing
Saudariku,
Ketika kau memilih menghabiskan waktu dengan kesibukan duniawi
Aku putuskan untuk menyeimbangkan hariku dengan aktivitas ukhrowi
Untuk apa kau masih berdiam diri tanpa membekali hari
Jika ajal semakin dekat dan aktivitas ukhrowi lebih bermanfaat
Saudariku,
Ketika kau lebih memilih jauh dari fitrah dirimu
Aku putuskan untuk tetap mendo'akanmu
Untuk apa kau memilih jalan yang jauh dari-Nya
Jika bersama-Nya bisa membawamu ke surga-Nya
Amiin
NZ (Sarah)
Yang masih harus banyak belajar dari kehidupan...
Disaat kau memiliih berbelok pada jalan hidupmu
Aku memutuskan untuk tetap lurus menempuh jalanku
Untuk apa kau belokkan dirimu di jalan itu
Kalau dengan lurus saja bisa membawamu pada kebaikan
Saudariku,
Ketika kau memilih untuk menampakkan auratmu
Aku memutuskan untuk terus berhijab suci
Untuk apa kau berpakaian seksi
Kalau dengan berpakaian muslimah bisa membuatmu mulia
Serta bisa membuatmu berharga dan lebih dihargai
Saudariku,
Kala kau memilih kaca mata dunia sebagai hiasan pandanganmu
AKu memutuskan untuk menundukkan pandanganku
Untuk apa kau memakai kaca mata itu
Jika dengan menundukkan pandangan
Bisa membuatmu lebih terjaga
Saudariku,
Disaat kau memilih bermacam-macam kosmetik
Aku memutuskan untuk memoles wajahku dengan rasa malu
Untuk apa kau memakai kosmetik itu
Jika dengan rasa malu bisa mengangkat derajatmu
Saudariku,
Disaat Kau membersihkan diri dengan sabun terwangi
Aku memilih istighfar sebagai pembersih diri
Untuk apa kau pergunakan sabun terwangi
Jika dengan istighfar bisa menghapus semua dosa dan kesalahan diri
Saudariku,
Ketika kau memilih menggerai rambut hitammu
Aku memutuskan untuk mengenakan jilbabku
Untuk apa kau membiarkan orang menikmati indah rambutmu
Jika dengan berjilbab bisa membuatmu menjaga diri
dari pandangan laki-laki asing
Saudariku,
Ketika kau memilih menghabiskan waktu dengan kesibukan duniawi
Aku putuskan untuk menyeimbangkan hariku dengan aktivitas ukhrowi
Untuk apa kau masih berdiam diri tanpa membekali hari
Jika ajal semakin dekat dan aktivitas ukhrowi lebih bermanfaat
Saudariku,
Ketika kau lebih memilih jauh dari fitrah dirimu
Aku putuskan untuk tetap mendo'akanmu
Untuk apa kau memilih jalan yang jauh dari-Nya
Jika bersama-Nya bisa membawamu ke surga-Nya
Amiin
NZ (Sarah)
Yang masih harus banyak belajar dari kehidupan...
18 Juni 2009
17 Juni 2009
OpTiMiS.............
Satu waktu, kini telah aku rasakan
Hidup sebagai seorang mahasiswi
Allah memang selalu menepati janji-Nya
Bahwa Dia akan memberikan yang terbaik
Tirai senja kini hampir setiap hari aku nikmati
Bisingnya jalan raya, terkadang menjadi teman
dalam setiap langkah Tholabul 'ilmu-ku
Pekatnya malam tak ubahnya menjadi selimut
Bagi diriku yang selalu pulang dikegelapan malam
Pohon-pohon bagaikan berlari saat aku didalam mobil
Lampu-lampu tak jarang terlihat menari di mataku
Angin malam seperti malu-malu menyapaku
Untuk buktikan mereka selalu ada dalam fase hidupku
Kini aku baik-baik saja
Allah selalu memudahkan langkahku
Setelah aku merasa menjadi yang termalang di dunia
Aku akan melanjutkan fase ini
Untuk buktikan kalau aku BISA!!!!
NZ (Sarah)
Di awal2 kuliah...
^_^
Hidup sebagai seorang mahasiswi
Allah memang selalu menepati janji-Nya
Bahwa Dia akan memberikan yang terbaik
Tirai senja kini hampir setiap hari aku nikmati
Bisingnya jalan raya, terkadang menjadi teman
dalam setiap langkah Tholabul 'ilmu-ku
Pekatnya malam tak ubahnya menjadi selimut
Bagi diriku yang selalu pulang dikegelapan malam
Pohon-pohon bagaikan berlari saat aku didalam mobil
Lampu-lampu tak jarang terlihat menari di mataku
Angin malam seperti malu-malu menyapaku
Untuk buktikan mereka selalu ada dalam fase hidupku
Kini aku baik-baik saja
Allah selalu memudahkan langkahku
Setelah aku merasa menjadi yang termalang di dunia
Aku akan melanjutkan fase ini
Untuk buktikan kalau aku BISA!!!!
NZ (Sarah)
Di awal2 kuliah...
^_^
Perhiasan Terindah Di Dunia

Saudariku, apakah kau termasuk ia yang disampaikan Rasul tercinta tentang yang terindah di dunia?
Indahnya menjadi seorang wanita. Terlebih lagi jika shalihah. Keberadaannya selalu dinanti oleh setiap insan di segala masa. Ia bagaikan permata terindah yang dimiliki oleh dunia. Semua orang memujinya. Tak ada satu orang pun yang membencinya kecuali orang-orang yang tidak suka pada kebenaran dan kemuliaan.
Orang yang membenci wanita shalihah berarti dia membenci dirinya sendiri. Rasulullah Saw pernah bersabda, "Cintailah saudaramu seperti kamu mencintai diri kamu sendiri". Itu artinya jika kita mencintai orang lain berarti kita mencintai diri kita sendiri. Begitupun sebaliknya.
Wanita shalihah tak hanya mulia hatinya tapi juga raganya. Hatinya senantiasa ia tata dengan perisai keimanan. Dan raganya senantiasa ia jaga dengan balutan pakaian muslimah. Lalu apalagi yang kurang jika semua kebaikan sudah ada padanya. Dunia ia genggam di tangannya, Allah di hatinya, dan suami di sisinya.
Wanita shalihah senantiasa menundukkan pandangan sebagai hiasan kedua matanya. Kedua belah pipinya dipoles dengan rasa malu. Diapun senantiasa membersihkan seluruh tubuhnya dengan istighfar untuk menghapus semua dosa dan kesalahannya. Rambutnya selalu dirawat dari gangguan pandangan laki-laki asing dengan jilbab islami. Kedua belah telinganya senantiasa dihiasi dengan ketawadhuan. Jari-jari tangannya selalu dihiasi dengan rasa persaudaraan. Untaian kesucian tidak pernah terlepas dari tubuhnya sebagai untaian kalung yang terbaik bagi "Wanita Shalihah"
NZ(Sarah)
yang selalu berusaha untuk menjadi yg terbaik
Melangkah diawan

Bagaikan melangkah di awan
semua hanya angan angan
tak mudah meraih bahagia
dua rasa berbeda
bagaikan rembulan dan mentari
tak mungkin seiring sejalan
simfoni ini sebuah elegi
dua irama di satu jalanan
disini kubernyanyi sendu
nuansa biru cinta kasih
tersibak tirai kelam malam
menepis sinar fajar pagi
laguku kan berlalu sendu
menjadi bingkai dua hati
melambai angan yang melayang
kujelang esok .. kan kujelang
Song by Ronnie Sianturi
download
16 Juni 2009
Pesan untuk Saudariku....
Saudariku,
Kala malam telah menjemput kita, Kulihat kau masih asyik dengan ponsel ditanganmu. Kau mainkan seluruh jari tanganmu Diatas tombol-tombol yang dapat membawa kabar dan beritamu Pada orang yang ada di seberang sana. Tanpa sadar azan Isya sudah berkumandang Sejak tiga jam yang lalu. Waktu terus saja bergulir namun kau tak sedikitpun beranjak dari peraduanmu kini, untuk menunaikan kewajibanmu sebagai seorang muslim dan hamba Allah atau sekedar menyentuh surat cinta-Nya yang hanya kau jadikan sebagai hiasan belaka. Menit sudah berganti jam dan matamu kini sudah tak dapat lagi dipaksa untuk menatap layar ponselmu. Kau putuskan untuk beralih pergi ke dunia lain dan berharap malam ini bisa menemukan mimpi-mimpi indah di duniamu itu. Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Isya??
Saudariku,
Kala fajar sudah memancarkan sinarnya, kulihat kau masih asyik berkelana di duniamu yang kau bilang indah. Kau tak lagi menghiraukan sang mentari pagi yang sudah hadir untuk kembali menyambut hari. Kau tak lagi menghiraukan pekerjaan rumah yang tengah menanti uluran tanganmu. Begitu sang mentari menggeser sedikit tubuhnya kearah barat, kau baru tersadar dari mimpi-mimpi indahmu. Setelah sebentar menatap sinar sang mentari, kau segera bergegas dari peraduanmu kini. Membersihkan diri, merapikan raga, menata jiwa, untuk kembali mendulang rizki di hari ini.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Shubuh??
Saudariku,
Kala mentari tengah berada di ujung angkasa, kau senantiasa menikmati santap siangmu dengan segala rizki yang kau miliki hari ini. Bersama teman, kawan, sahabat, kerabat. Kau menikmatinya tanpa pernah kau berpikir, ada siapa dibalik semua rizki yang kau miliki kini. Saat kau makan, kau mendengar seruan Tuhanmu tengah memanggilmu untuk bergegas menunaikan kewajiban. Tapi apa yang kau perbuat? Seusai makan siang, kau masih terus berbincang dengan sahabatmu tentang kehidupan yang tak bertujuan. Kau kembali melanjutkan aktivitasmu tanpa menghiraukan seruan Zat penciptamu.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Zuhur??
Saudariku,
Kala senja tengah menaungi langit kita, kau melangkah pulang mendulang banyak uang. Peluh disekujur tubuhmu segera hilang oleh usapan sabun wangi yang baru saja kau beli. Kau kembali membersihkan diri, merapikan raga, menata jiwa. Kau santap hidangan sore sambil menyaksikan tv kita. Kau habiskan kepunyaanmu saat itu, sampai senja kembali meredup di peraduannya. Dari tv kita terdengar lantang azan maghrib berkumandang. Kau beranjak dari tempatmu kini, untuk istirahat barang sejenak.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Ashar dan Maghrib??
saudariku,
Kala malam menjemput kita kembali, Kulihat kau masih asyik berceloteh ria di depan rumah kita dengan beberapa pria. Kau leburkan jiwa ragamu bersama angin malam, tanpa pernah tahu kemana angin itu akan bermuara. Kau terus saja menghabiskan waktu disana tanpa sadar bahwa hari sudah terlalu malam untuk kau berada dibawah naungan langit kelam. Ketika waktu semakin merambat naik, kau tepiskan rasa kantukmu dibawah hangatnya selimut mimpi.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Isya??
Saudariku,
Tak semestinya kau hidup seperti itu. Mengawali hari tanpa doa, dan menutup hari tanpa bekal. Apa kau bisa menjamin bahwa esok masih milikmu? Apa kau bisa menjamin bahwa esok kau masih disini? Hidup tak hanya di dunia. Ada masanya kau mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Disana, di akhirat nanti. Kelak, kau kan menyesali atas apa yang kau lewati dalam mengisi hari-hari. Kau selalu melupakan kewajibanmu, tapi kau selalu menuntut hakmu pada sang pemberi hidup. Kau selalu mengeluh pada-Nya tatkala sulit, namun kau selalu terlupa untuk bersyukur kala bahagia tengah menyambangi hidupmu. Kau selalu tak mau mengingat bahwa kehidupan ini ada akhirnya.
Lalu banyak pertanyaanku untukmu,
Sudahkah kau mengingat Sang Maha Pemberi Hidup??
Sudahkah kau mempunyai bekal untuk menghadap-Nya??
Sudahkah kau bersyukur pada-Nya??
Tak sadarkah kau bahwa nikmat yang kau rasakan selama ini itu datangnya dari zat pencipta Kau dan Aku??
Lantas mengapa kau lupakan Dia dengan kesibukan-kesibukan duniamu??
Tak sadarkah kau bahwa hidup ini akan bermuara pada dua tempat yang rasanya sangat kontras??
Tempat mana yang akan kau pilih saudariku??
Surga yang nikmatnya tiada terkira??
Atau neraka yang panasnya 7000X panas dunia??
Saudariku,
Tak dapatkah aku berharap agar kelak kita bisa memasuki surga-Nya secara beriringan??
Jakarta,
Kamis, Juli 2008, 00:26
(Untuk saudariku yang saat ini entah berada dimana)
Semoga Allah selalu melindungmu. Amin...
NZ (Sarah)
Kala malam telah menjemput kita, Kulihat kau masih asyik dengan ponsel ditanganmu. Kau mainkan seluruh jari tanganmu Diatas tombol-tombol yang dapat membawa kabar dan beritamu Pada orang yang ada di seberang sana. Tanpa sadar azan Isya sudah berkumandang Sejak tiga jam yang lalu. Waktu terus saja bergulir namun kau tak sedikitpun beranjak dari peraduanmu kini, untuk menunaikan kewajibanmu sebagai seorang muslim dan hamba Allah atau sekedar menyentuh surat cinta-Nya yang hanya kau jadikan sebagai hiasan belaka. Menit sudah berganti jam dan matamu kini sudah tak dapat lagi dipaksa untuk menatap layar ponselmu. Kau putuskan untuk beralih pergi ke dunia lain dan berharap malam ini bisa menemukan mimpi-mimpi indah di duniamu itu. Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Isya??
Saudariku,
Kala fajar sudah memancarkan sinarnya, kulihat kau masih asyik berkelana di duniamu yang kau bilang indah. Kau tak lagi menghiraukan sang mentari pagi yang sudah hadir untuk kembali menyambut hari. Kau tak lagi menghiraukan pekerjaan rumah yang tengah menanti uluran tanganmu. Begitu sang mentari menggeser sedikit tubuhnya kearah barat, kau baru tersadar dari mimpi-mimpi indahmu. Setelah sebentar menatap sinar sang mentari, kau segera bergegas dari peraduanmu kini. Membersihkan diri, merapikan raga, menata jiwa, untuk kembali mendulang rizki di hari ini.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Shubuh??
Saudariku,
Kala mentari tengah berada di ujung angkasa, kau senantiasa menikmati santap siangmu dengan segala rizki yang kau miliki hari ini. Bersama teman, kawan, sahabat, kerabat. Kau menikmatinya tanpa pernah kau berpikir, ada siapa dibalik semua rizki yang kau miliki kini. Saat kau makan, kau mendengar seruan Tuhanmu tengah memanggilmu untuk bergegas menunaikan kewajiban. Tapi apa yang kau perbuat? Seusai makan siang, kau masih terus berbincang dengan sahabatmu tentang kehidupan yang tak bertujuan. Kau kembali melanjutkan aktivitasmu tanpa menghiraukan seruan Zat penciptamu.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Zuhur??
Saudariku,
Kala senja tengah menaungi langit kita, kau melangkah pulang mendulang banyak uang. Peluh disekujur tubuhmu segera hilang oleh usapan sabun wangi yang baru saja kau beli. Kau kembali membersihkan diri, merapikan raga, menata jiwa. Kau santap hidangan sore sambil menyaksikan tv kita. Kau habiskan kepunyaanmu saat itu, sampai senja kembali meredup di peraduannya. Dari tv kita terdengar lantang azan maghrib berkumandang. Kau beranjak dari tempatmu kini, untuk istirahat barang sejenak.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Ashar dan Maghrib??
saudariku,
Kala malam menjemput kita kembali, Kulihat kau masih asyik berceloteh ria di depan rumah kita dengan beberapa pria. Kau leburkan jiwa ragamu bersama angin malam, tanpa pernah tahu kemana angin itu akan bermuara. Kau terus saja menghabiskan waktu disana tanpa sadar bahwa hari sudah terlalu malam untuk kau berada dibawah naungan langit kelam. Ketika waktu semakin merambat naik, kau tepiskan rasa kantukmu dibawah hangatnya selimut mimpi.
Namun satu pertanyaanku, Sudahkah kau shalat Isya??
Saudariku,
Tak semestinya kau hidup seperti itu. Mengawali hari tanpa doa, dan menutup hari tanpa bekal. Apa kau bisa menjamin bahwa esok masih milikmu? Apa kau bisa menjamin bahwa esok kau masih disini? Hidup tak hanya di dunia. Ada masanya kau mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Disana, di akhirat nanti. Kelak, kau kan menyesali atas apa yang kau lewati dalam mengisi hari-hari. Kau selalu melupakan kewajibanmu, tapi kau selalu menuntut hakmu pada sang pemberi hidup. Kau selalu mengeluh pada-Nya tatkala sulit, namun kau selalu terlupa untuk bersyukur kala bahagia tengah menyambangi hidupmu. Kau selalu tak mau mengingat bahwa kehidupan ini ada akhirnya.
Lalu banyak pertanyaanku untukmu,
Sudahkah kau mengingat Sang Maha Pemberi Hidup??
Sudahkah kau mempunyai bekal untuk menghadap-Nya??
Sudahkah kau bersyukur pada-Nya??
Tak sadarkah kau bahwa nikmat yang kau rasakan selama ini itu datangnya dari zat pencipta Kau dan Aku??
Lantas mengapa kau lupakan Dia dengan kesibukan-kesibukan duniamu??
Tak sadarkah kau bahwa hidup ini akan bermuara pada dua tempat yang rasanya sangat kontras??
Tempat mana yang akan kau pilih saudariku??
Surga yang nikmatnya tiada terkira??
Atau neraka yang panasnya 7000X panas dunia??
Saudariku,
Tak dapatkah aku berharap agar kelak kita bisa memasuki surga-Nya secara beriringan??
Jakarta,
Kamis, Juli 2008, 00:26
(Untuk saudariku yang saat ini entah berada dimana)
Semoga Allah selalu melindungmu. Amin...
NZ (Sarah)
Yang Menguatkanku

Bunda,
Hanya cintamu
yang dapat menguatkanku
dalam galau pikirku
Dalam rapuh jiwaku
Bunda,
Hanya kasihmu
Yang dapat menguatkanku
Dalam bimbang hatiku
Dalam gontai langkahku
Bunda,
Hanya sayangmu
Yang dapat menguatkanku
Dalam jenuh hariku
Dalam sepi waktuku
Bunda,
Hanya senyummu
Yang dapat menguatkanku
Dalam binar mataku
Dalam ketenangan batinku
Hanya ada kau dihatiku
Setelah Allah dan Rasul-Nya
Bunda,
Aku mencintaimu..
(Dalam harap cemasku)
NZ (Sarah)
Munajatku

Kuadukan kegundahanku hanya pada-Mu
Agar Kau pun tahu
Betapa berartinya Engkau
di dalam relung hatiku...
Kuceritakan semua keluh kesahku
Lagi-lagi hanya Pada-Mu
Agar Kau pun mengerti
Beningnya hati dengan cinta-Mu yang suci
Kubersimpuh di hadapan-Mu
Memohon dengan sangat
Belaian lembut kasih-Mu
Kecupan hangat cinta-Mu
dan dekapan erat tangan agung-Mu
Yang membentang melanglang buana
Ke seluruh pelosok dunia
Kuberanikan diri untuk menengadahkan kepalaku
Melihat indah penuh cahaya Kasih-Mu
Disini...
Disana...
Dimana-mana....
Kubuncahkan segala isi hatiku hanya untuk-Mu
dan kini....
Aku pun menyadari
Di kedalaman samudera indah di lautan jiwaku
Di kerlipan cahaya bintang di langit hatiku
Cinta tertinggi hanya untuk-Mu
Disini...
Di dalam hatiku...
NZ (Sarah)
Jakarta, 14 Okt 2007
Puisi untuk-Mu, dengan
segenap rasa syukurku
bermunajat Kepada-Mu
Langganan:
Postingan (Atom)