5 Agustus 2011

Kado Kecil untuk Pak Sabar


“Pokoknya saya nggak mau tau, proyek ini harus berhasil seperti apa yang saya harapkan. Dalam waktu 2 X 24 jam, kalian semua sudah harus menyerahkan konsep proposal proyek ini pada saya.”

Semua karyawan yang mengikuti meeting siang itu hanya dapat diam sambil menyimpan segala unek-unek mereka di hati. Ya, unek-unek pada seorang bos yang diktator seperti Ferdy Darmawan.

“Ah...sial! Apa-apaan ini?!” Tiba-tiba semua mata tertuju pada seorang office girl yang tengah dihujani omelan pedas oleh sang bos, Ferdy yang diktator. Alasannya mungkin tak seberapa, office girl itu tanpa sengaja menumpahkan secangkir kopi pada lengan baju Ferdy.

“Kalo kerja yang becus dong, gimana sih kamu?” Ferdy terus saja menumpahkan amarahnya pada office girl yang hanya bisa mengucapkan kata “maaf” dari bibirnya yang terus bergetar itu. Semua karyawan yang ada di ruang rapat tampak berbisik-bisik satu sama lain, sementara sang office girl masih tetap berdiri di samping Ferdy sambil menunduk dan tubuh yang menggigil menahan rasa takutnya.

“Meeting hari ini selesai. Saya muak dengan semua kinerja kalian yang nggak becus itu!” Langkah kaki Ferdy kemudian menjadi hal paling akhir yang di dengar semua orang yang ada di ruang rapat. Semuanya menjadi ribut. Sikap Ferdy yang diktator itu menjadi topik utama yang diperbincangkan oleh hampir semua bawahannya.
* * *
“Mau pesan apa pak?” Tanya seorang perempuan muda belia pada Ferdy yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

“Hah? Hmm...soto betawi aja deh.” Jawab Ferdy yang terdengar tak sepenuhnya menginginkan makanan itu. Perempuan muda tadi langsung meluyur ke belakang, tempat mengolah berbagai makanan di rumah makan itu. Sementara Ferdy masih dengan pikirannya sendiri. Ia masih sibuk membersihkan lengan bajunya yang kotor terkena tumpahan kopi tadi, menggulungnya ke atas, lalu menarik sehelai tisu dari tempatnya dan mengelapkannya pada meja yang ada di hadapannya.

“Sendirian aja Nak?” Tanya seorang bapak tua berseragam coklat yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Ferdy. Yang ditanya pun hanya mengangguk lirih. Ia kembali mengelapkan tisu ke meja yang sudah agak bersih.

“Soto betawi disini enak loh. Terkenal dengan ayamnya yang empuk. Hehehe.” Bapak tua itu terkekeh pelan, menyertai kata-katanya yang basa basi tadi. Ferdy sendiri masih diam termangu, tak mengerti dengan sikap bapak tua itu yang tiba-tiba sok akrab dengannya. ia hanya menyunggingkan senyum yang dipaksakan.

Beberapa waktu lamanya bapak tua tadi asyik sendiri menyantap soto betawi miliknya. Tampaknya ia begitu nikmat menyantapnya. Dalam hati Ferdy bertanya, “Sebenarnya siapa bapak tua ini? Seperti nggak ada beban di bahunya. Semuanya begitu nikmat ia rasakan.”

“Soto betawinya pak.” Suara perempuan belia tadi kembali memenuhi rongga telinga Ferdy. Ia datang dengan semangkuk soto betawi, sepiring nasi hangat dengan bawang goreng di atasnya, dan segelas air putih hangat.

“Silahkan pak.” Perempuan belia itu segera mempersilahkan Ferdy untuk makan. Ferdy hanya mengangguk lirih. Tiba-tiba anggukan itu diiringi dengan suara berat bapak tua yang ada di sampingnya, “Makasih ya Nduk.” Perempuan belia yang memang seperti orang Jawa itu langsung mengangguk dan tersenyum. Bapak tua itu pun melemparkan senyumnya pada Ferdy saat ia tahu kalau Ferdy tengah memperhatikan dirinya.

“Ayo dimakan Nak.” Lanjut bapak tua itu, tak lupa dengan senyumnya. Beberapa menit berselang, mengisi kekosongan waktu yang semakin bergulir.

“Kerja di mana Nak?” Tanya bapak tua itu akhirnya mengawali perbincangannya dengan Ferdy. Sontak, Ferdy pun terkejut mendengarnya, “Hmm...di PT. Arsindo Building...” Jawab Ferdy, lirih. Entah mengapa, tiba-tiba ia ingin sekali melemparkan pertanyaan yang sama pada bapak tua itu.

“Nama kamu siapa Nak?” Tanya bapak tua itu lagi, menghentikan sejenak mulut Ferdy yang hendak bertanya hal serupa dengan pertanyaan bapak tua itu sebelumnya.
“Ferdy, Pak.” Kali ini suara Ferdy lebih bersahabat.
“Bapak sendiri, siapa?”
“Saya Sabar.”
“Dilihat dari pakaian yang bapak pakai, sepertinya bapak guru ya?”
Bapak tua yang dikenal dengan nama Pak Sabar itu hanya tersenyum. Senyumnya seolah menjawab pertanyaan Ferdy kalau dia memang seorang guru.
“Mengajar di sekolah mana Pak?”
“SDN 07 Rawamangun.”
Sejurus kemudian, obrolan dua insan beda generasi itu pun mengalir bagai air. Dari membicarakan secara umum kehidupan mereka masing-masing, sampai akhirnya Ferdy seolah merasakan siraman air segar dalam hidupnya.

“Udah berapa lama bapak berprofesi sebagai guru?” Pak Sabar hanya tersenyum simpul. Entah sudah keberapa kalinya pertanyaan ini dilontarkan oleh setiap orang yang diajaknya berbincang. “28 tahun.” Jawab Pak Sabar tiba-tiba terdengar agak serak. Seperti ada isak yang ia tahan di sana. Untuk selanjutnya, tanpa ditanya, Pak Sabar menuturkan setiap pengalamannya selama 28 tahun mengajar.

“Dari sebelum bapak menikah, bapak sudah menjadi guru. Pada saat itu statusnya masih honorer. Setahun setelah menikah, barulah bapak diangkat menjadi guru tetap di SD tempat bapak mengabdi hingga kini.”
“Kenapa memilih menjadi guru Pak?”

Hening sejenak. Pak Sabar mengalihkan pandangannya jauh ke depan. Ia mulai bersuara, “Bapak menjadi guru, sebenarnya bukan karena tak ada pilihan pekerjaan lain, tapi karena memang dari kecil, bapak ingin sekali menjadi guru. Karena jasa seorang guru, seorang presiden bisa memimpin rakyatnya, terlepas dari sifatnya yang baik atau buruk. Karena jasa seorang guru pula, seorang dokter bisa menyembuhkan pasiennya, tanpa terlepas dari takdir bahwa hidup dan mati seseorang adalah hak prerogatif dari Allah.

“Mengajar adalah sebuah kegiatan yang sangat mulia. Meskipun banyak orang yang memandang sebelah mata profesi seorang guru, tapi bapak tetap bangga dengan pekerjaan bapak. Mungkin Nak Ferdy bertanya-tanya, apakah profesi ini memiliki masa depan yang cerah atau tidak...”
Ferdy tersenyum di tengah keseriusannya mendengar penuturan Pak Sabar.

“Selama 28 tahun bapak ngajar, Alhamdulilah bapak masih bisa mencukupi kebutuhan hidup isteri dan dua anak bapak. Ya....meskipun selama ini hanya hidup pas-pasan yang bapak tawarkan kepada mereka, tapi bapak yakin mereka selalu ikhlas menerima semuanya. Sebenarnya asal kita ikhlas dalam melakukan segala hal, semuanya pasti akan terasa mudah.”

Pak Sabar diam sejenak, menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan. Ferdy pun hanya diam tanpa bergeming. Rupanya ia sudah mulai hanyut dalam cerita Pak Sabar.

“Selama bapak mengajar, sebetulnya bukan hanya para murid bapak saja yang belajar, tapi bapak pun juga demikian.”

Ferdy semakin serius mendengarkan. “Karena dengan mengajar, kita akan banyak belajar.” Ferdy langsung mengerutkan keningnya. “Dengan mengajar, bapak belajar mengelola emosi secara bijak, karena karakter murid yang bapak temui semuanya beda-beda. Dengan mengajar pula, bapak belajar cara menghadapi mereka sesuai dengan karakternya. Dengan mengajar, bapak mendapatkan apa yang dari dulu bapak cita-citakan. Bapak sangat senang ketika melihat murid yang bapak ajar dulu, kini sudah sukses dengan kehidupannya. Bukan masalah besar buat bapak saat mereka seolah melupakan bapak, asal melihat mereka sukses dan bahagia dalam hidupnya saja, itu sudah membuat bapak bangga.

“Uang bukan prioritas bagi bapak, meski memang tanpa hal itu, nasib para guru pasti tidak akan sejahtera. Tapi ada satu hal yang lebih penting dari itu, yaitu pahala. Orangtua bapak yang juga seorang guru, dulu pernah berkata pada bapak, ‘mengajar itu ibarat seorang petani. Pekerjaannya adalah yang berkaitan dengan sawah. Sesuatu yang pasti ia dapat adalah beras yang dihasilkan dari padi-padinya, tapi ketika ia menemui ikan atau belut saat ia tengah bersawah, maka itu adalah bonusnya’. Nak Ferdy mengerti apa maksudnya?”

Ferdy menggeleng pelan. Ia tak mengeluarkan suara sama sekali, seperti tersihir oleh kisah hidup Pak Sabar yang semakin lama seolah semakin seru saja.

“Maksudnya, ketika kita mengajar secara ikhlas, maka yang pasti kita dapatkan adalah pahala dari Allah, sama seperti petani yang pasti akan mendapatkan beras dari padi-padinya. Nah, gaji kita dari mengajar itu diibaratkan sebagai bonus, sama seperti ikan atau belut yang di dapat petani tadi. Bukan berarti kita ikhlas mengajar tanpa di bayar, karena secara profesionalitas, kita memang berhak menerima gaji dari setiap pekerjaan kita. Hanya saja, jika ditambah embel-embel ikhlas, maka semuanya akan menjadi berkah.”

Ferdy menyelinginya dengan pertanyaan, “Yang dimaksud dengan ikhlas itu sendiri apa Pak?”

“Ikhlas itu, kalau kita ridho dengan semua ketetapan yang sudah Allah gariskan untuk kita. Melaksanakan setiap tanggung jawab dengan sepenuh hati dan tanpa beban. Bukan semata-mata materi yang menjadi barometernya.”

Jawaban Pak Sabar seolah seperti pisau runcing yang tiba-tiba menelusuk ke dalam dada Ferdy. Ia benar-benar merasa amat kecil kala itu. Pak Sabar mulai menghentikan ceritanya. Ia menyeruput sisa teh yang sudah tak hangat lagi dalam gelasnya. Setelahnya, ia seperti menyeka sebuah butiran bening di ujung matanya.
“Bapak kenapa?” Tanya Ferdy ingin tahu. Pak Sabar hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Apa yang sedang bapak pikirkan?” Desak Ferdy seolah memaksa Pak Sabar untuk menjawabnya.
“Bulan depan, anak bapak di wisuda....”
“Bagus dong Pak kalau begitu, selamat ya. Tapi, kenapa bapak jadi murung begitu?”
“Bapak dan isteri bapak memang sangat senang Nak, tapi...” Pak Sabar memutus perkataannya.
“Tapi apa Pak?”
“Ah sudahlah Nak. Sudah menjelang sore, bapak harus segera pulang. Isteri bapak sudah menunggu di rumah.”

Ferdy seperti bingung dibuatnya. Ia sebenarnya sudah mulai menikmati obrolannya dengan Pak Sabar, lebih tepatnya, mendengarkan kisah Pak Sabar. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung merogoh saku celananya, mengambil dompetnya, dan menarik uang selembar lima puluh ribuan, saat ia melihat Pak Sabar mengeluarkan uang dua puluh ribuan lecek, diantara uang leceknya yang lain.

“Biar saya yang bayar pak, saya traktir.” Ucap Ferdy sambil melemparkan senyum.
“Eh...nggak usah Nak, biar bapak bayar sendiri saja. Oia, apa Nak Ferdy sudah menikah?” Ferdy mengangguk, bingung. Apa hubungannya antara membayarkan soto Pak sabar dengan status maritalnya.
“Kalau begitu, simpan saja uang itu untuk keperluan keluarga Nak Ferdy, mereka pasti lebih membutuhkannya. Insya Allah kalau untuk membayar soto betawi, bapak masih sanggup.” Pak Sabar tersenyum. Entah mengapa, kali ini senyum Pak Sabar begitu lain Ferdy rasakan. Tiba-tiba ia menjadi rindu pada kedua orangtuanya yang sudah lama sekali tak ia tengok di kampung halamannya, Medan.

Ia mengikuti langkah kaki Pak Sabar menuju tempat pembayaran. Ia ikuti setiap gerak geriknya dari menyerahkan uang pada si pemilik sampai menerima kembaliannya. Di depan warung makan itu, Pak Sabar langsung memberikan uang kembaliannya tadi pada seorang bocah perempuan dekil yang tengah mengemis di sekitar situ. “Pakai uangnya untuk hal-hal yang bermanfaat ya...” Ucapnya mengiringi uang yang ia serahkan pada bocah tadi. Bocah itu pun mengangguk, tersenyum, dan mengucapkan terima kasih. Ia pun segera berlalu.

Saat Pak Sabar hendak melangkah lagi, Ferdy kembali melontarkan sebuah pertanyaan, “Bapak belum menjawab, kenapa tadi bapak murung sementara bulan depan anak bapak akan di wisuda?” Pak Sabar menghentikan langkahnya sejenak, menghela nafasnya perlahan, lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju kendaraannya. Sambil bersiap-siap untuk pulang, ia menjawab, “Bapak nggak bisa menghadiri acara wisudanya...” Kalimat itu menggantung. Ia memasang helm di kepalanya lalu menstarter motornya.

“Kenapa nggak bisa?” Desak Ferdy sangat ingin tahu.
“Uang bapak masih belum cukup untuk datang kesana....” Lagi-lagi kalimat itu menggantung, membuat Ferdy semakin penasaran dibuatnya.
“Memang di mana anak bapak di wisuda, barangkali saya bisa bantu.” Ferdy terkejut. Dia sendiri tidak tahu mengapa ia bisa bicara seperti itu padahal ia baru saja mengenal Pak Sabar. Yang di ajak bicara pun hanya tersenyum dan segera pamit, sebelum Ferdy mencegahnya untuk segera berlalu.

“Norwegia. Anak bapak mendapat beasiswa di Norwegian University of Science and Technology atau lebih dikenal dengan nama NTNU Trondheim.” Pak Sabar menyahuti pertanyaan Ferdy dengan perasaan yang sangat bangga pada anaknya. Ia segera pamit, mengucapkan terima kasih pada Ferdy, dan segera berlalu dengan vespa bututnya. Meninggalkan Ferdy sendiri di depan rumah makan tadi dengan segala pikiran yang memenuhi otaknya. Baru kali ini ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Kesabaran seorang Pak Sabar telah membuatnya merasa malu pada dirinya sendiri.Tautan
Ia langsung berlari memasuki mobilnya, menyalakan mesinnya, dan mengejar vespa butut Pak Sabar sambil membatin, “Pak Sabar, saya akan membantu bapak, karena bapak sudah banyak membuat anak Indonesia menjadi anak yang berguna bagi bangsanya. Saya rasa bapak pantas mendapatkan hadiah kecil ini karena kau adalah salah satu patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.....”

Roda mobil itu terus menggelinding mengikuti laju motor vespa Pak Sabar yang sudah lebih dari 20 tahun ini menemani langkahnya menjadi seorang pahlawan pemberantas kebodohan.

Ruang Tamu, Pasar Minggu
04.08.11, 23.45

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, Abdul Cholik.
Sponsored By :



1 Agustus 2011

Review : Novel Galaksi Kinanthi

Misteri Bintang yang Hilang

“Galaksi Kinanthi...”

Dua kata di atas adalah sebuah judul novel garapan seorang laki-laki asal Gunung Kidul yang bagiku tidak terlalu tua jika kunilai dari parasnya, Tasaro GK. Mengisahkan tentang dua orang anak manusia bernama ‘Ajuj dan Kinanthi’. Tampaknya sulit jika aku harus menjabarkan isi dari novel tersebut, tapi intisari yang aku tangkap setelah melahap habis novel ini dalam waktu 13 hari, adalah sebuah perjuangan hidup dan cinta yang dilakukan Kinanthi dan Ajuj, demi meraih apa yang mereka harapkan.

Membaca karya Tasaro GK, seolah mengingatkan aku pada sebuah “bintang” yang telah lama hilang dari galaksi peredarannya. Meski mungkin lama yang aku rasakan tak selama apa yang dirasakan Kinanthi kala menanti Ajuj, tapi membaca buku ini sungguh membuatku kembali ke masa lalu yang rasanya ingin sekali aku lupakan. Selain karena kesamaan antara aku dan Kinanthi yang telah kehilangan “bintang” kami, gaya bahasa yang digunakan Tasaro GK pun juga sesekali mengingatkan aku pada “bintang” itu. Bintang, yang telah lama tak kujumpai keberadaannya.

Mengingat hal itu sebenarnya telah menghambat jalanku untuk terus melangkah maju. Sayang dia bukan Ajuj dan aku bukan Kinanthi, yang meskipun jarak dan waktu telah memisahkan mereka sebegitu lamanya - hampir dua puluh tahun - tapi hati mereka tetap terpaut satu sama lain. Bintangku senyatanya tak memiliki rasi yang jelas untuk mencapai ke arahku. Ia justru malah berbelok meninggalkan aku bersama segala rasa dan tanya yang masih utuh membekas di hatiku, hingga saat ini.

Membaca halaman awal dari novel ini rasanya tak cukup sekali saja, setelah itu lanjut ke halaman berikutnya. Meresapi apa yang dituliskan Tasaro GK di bagian itu merupakan kesenangan tersendiri bagiku kala membaca buku ini. Mungkin di situlah letak kenikmatan yang kebanyakan orang akan mengatakan, “Ini baru yang namanya sebuah Mahakarya.”

Selesai membaca novel ini, seolah membuatku tersadar bahwa aku harus kembali lagi ke kehidupan nyataku. Kembali dengan segala aktivitasku disini, dan melupakan semua yang pernah terlewati antara aku dan bintangku di masa itu. Masa lalu.

Aku tak pernah menyebut ini cinta. Bagiku, asal melihat ia ada, itu sudah membuat aku tenang dan aku merasa nyaman karenanya. Asal melihat ia baik-baik saja, aku percaya bahwa Tuhan tengah menjaga dirinya. Apakah ini layak disebut cinta? Aku memang sangat ingin bersamanya, tapi.....bukankah tak selamanya cinta harus memiliki? Bukankah cinta memiliki kekuatannya sendiri untuk bisa bertahan? Bukankah, dengan tetap menyimpan perasaan ini dalam diam, maka seharusnya aku bisa kuat meski tanpa ia disampingku? Bukankah aku masih memiliki cinta Tuhanku yang Maha Besar dibanding perasaanku terhadapnya?

Perjalanan cinta Ajuj dan Kinanthi kembali mengingatkan aku pada sepenggal episode kehidupan yang pernah aku alami. Jika seluruh dunia tidak rela Ajuj dan Kinanthi bersatu – bukan karena cinta mereka yang salah – melainkan karena orangtua, kemiskinan, nasib buruk, dan garis takdir, lalu.......apakah bagiku, mencintainya adalah suatu hal yang salah? Apakah aku memang benar-benar tak memiliki hati yang pantas untuk ia cintai?

Ah sudahlah. Toh sekali lagi, ia bukan Ajuj dan aku pun juga bukan Kinanthi. Ajuj dan Kinanthi memiliki jalan mereka masing-masing untuk mencapai tujuan akhir kehidupan mereka. Meskipun tidak bisa bersama, namun hati mereka akan selamanya bersatu di galaksi cinta. Aku pun juga demikian. Aku dan bintangku sama-sama memiliki jalan hidup masing-masing. Namun bedanya, jika Ajuj dan Kinanthi melangkah bersama menuju galaksi cinta mereka dengan jalan yang tidak bersamaan, aku dan bintangku benar-benar berbeda jalan dan tujuan. Kami memang tak pernah bersama, baik jiwa maupun raga.

Bintangku telah hilang, meski sebelumnya aku tak pernah merasa memilikinya. Biarlah begini adanya, karena takdir hidup telah menggariskannya seperti ini. Bertemu, bukan untuk bersatu. Berbincang, hanya untuk sekedarnya. Dan berpisah, hanya karena telah bertemu. Bertemu, merasakan, kehilangan. Hanya itu, dan tak lebih.

Aku enggan untuk kembali ke masa lalu. Kalaupun ingin, mungkin hanya untuk sekedar menghapus jejakku di sana. Bukan karena aku membencinya, tapi karena aku terlalu mencintainya.

Biarlah kepergian “bintang” itu menjadi sebuah misteri tersendiri buatku. Tak perlu ditanya mengapa, karena aku sendiri tak tahu mengapa.

Pojok Kamar, 23.10

* * *

Dorrr!!!!

Hehehe.....cerita diatas merupakan sebuah kisah yang terinspirasi setelah membaca Novel Galaksi Kinanthi yang diberikan oleh Mbak Fanny pada saat saya memenangkan lomba ini. Tak perlu berpanjang kata, langsung aja ya saya review ceritanya.

Novel ini mengisahkan tentang dua orang anak manusia, Ajuj dan Kinanthi. Semasa kecilnya, mereka adalah sepasang insan yang saling bersahabat. Ajuj merupakan anak dari seorang tokoh agama di dusunnya, sedangkan Kinanthi adalah anak perempuan dari seorang penjudi. Diketahui bahwa warga dusun memandang keluarga Kinanthi sebagai keluarga pembawa sial. Hal itu karena lantaran simboknya Kinanthi yang sudah empat kali berganti pasangan dan tiga dari suaminya itu meninggal dunia. Karena hal itu pula, akhirnya semua anak-anak di dusun enggan berteman dengan Kinanthi. Seorang bocah perempuan yang belum mengerti mengapa para warga sangat membenci keluarganya termasuk ayahnya Ajuj, tapi tidak dengan Ajuj nya.

Di tengah sikap para warga yang begitu membenci Kinanthi dan keluarganya, Ajuj malah justru hadir layaknya malaikat bagi Kinanthi. Hanya Ajuj lah yang mau berteman dan berbagi kisah dengannya. Bersama Ajuj, Kinanthi melewati hari-harinya dengan penuh ceria. Meskipun ia tak memiliki teman selain Ajuj, namun asal bersama Ajuj, ia seolah tak membutuhkan teman yang lain lagi. Ajuj selalu menemani dan melindungi Kinanthi, juga seorang bocah kecil bernama Hasto yang sering Kinanthi bawa-bawa dalam kebersamaannya bersama Ajuj. Kala warga tengah memperbincangkan kedekatan mereka, ada seorang nenek tua bernama Mbah Gogoh yang selalu membela dan memberikan mereka perlindungan saat mereka tengah terhimpit oleh keadaan.

Pada suatu malam, Ajuj pernah menunjukkan sebuah rasi bintang yang ada di langit, dan mengatakan pada Kinanthi bahwa di atas langit nun jauh di sana, ada sebuah galaksi yang tak pernah bisa dilihat dengan mata telanjang. Galaksi itu bernama galaksi cinta. Ajuj menamainya dengan nama itu. Galaksi itu hanya Ajuj dan Kinanthi yang tahu.

Seiring berjalannya waktu, pada saat Kinanthi lulus SD, orang tuanya dengan tega menjualnya dengan sepasang suami istri yang tinggal di Bandung. Mereka menukar dirinya hanya dengan 50 kg beras, dengan alasan kalau Kinanthi ikut dan tinggal bersama sepasang suami istri itu, maka kehidupannya akan lebih baik. Dalam janjinya, Kinanthi akan di sekolahkan di sana.

Awalnya Kinanthi menolak hal itu. Ia merasa dibuang oleh orangtua nya sendiri. Ia pun mencari perlindungan ke rumah Mbah Gogoh dan juga Ajuj. Disana ia meminta Ajuj untuk menolongnya agar ia tidak sampai dijual oleh orangtuanya sendiri. Namun Ajuj sendiri juga bingung apa yang bisa ia perbuat? Sedangkan ia juga anak-anak yang perkataannya mungkin tidak akan di dengar oleh orangtua Kinanthi. Sampai pada akhirnya, bapaknya Kinanthi membawa paksa anaknya itu untuk mau ikut bersama sepasang suami istri yang sudah “resmi” membelinya.

Kinanthi dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil. Pada saat yang bersamaan, datanglah Ajuj sambil terengah-engah menghampiri rumah Kinanthi, namun sayang, mobil yang membawa Kinanthi, sudah hendak menjauh dari tempatnya berdiri. Sekuat tenaga ia berlari mengejar mobil itu namun sayang, laju mobil itu terlalu cepat untuk dikejarnya. Sebelum mobil itu menghilang. Ajuj dan Kinanthi sempat beradu pandang dan saling melambaikan tangan, bermaksud agar siapapun orangnya, mereka berharap jangan pernah memisahkan mereka. Mereka juga saling berteriak memanggil nama masing-masing. Namun takdir berkata lain. Pagi itu, adalah pagi terakhir Ajuj melihat Kinanthi, begitu pun sebaliknya, sebelum hampir dua puluh tahun kemudian, takdir kembali mempertemukan mereka dalam suasana yang berbeda.

Kisah Ajuj berhenti sejenak di situ. Sementara nasib hidup Kinanthi, terus berlanjut bak roda yang sengaja diputar di atas pecahan-pecahan beling yang mematikan. Selama bertahun-tahun sejak orangtuanya “menjualnya”, hidup Kinanthi tak pernah sebaik yang diharapkan orang tuanya. Awal “perjalanannya”, ia bermukim di Bandung bersama dengan sepasang suami istri yang tempo hari “membelinya”. Ia sempat disekolahkan disana dan sebagai gantinya, ia harus menjadi pembantu rumah tangga di rumah itu. Dalam waktu yang tak singkat itu, Kinanthi terus saja mengirimi Ajuj surat namun satu pun tak ada yang dibalasnya. Dua tahun berlalu hampir tiga tahun, hanya karena sebuah perkara yang tak pernah dilakukannya, Kinanthi akhirnya memulai hidupnya yang sangat “pahit”.

Ia harus mengalami siksaan demi siksaan yang dilakukan oleh majikannya. Ia pun tak sempat menyelesaikan SMP nya. Majikannya membawanya pergi ke Jakarta untuk disalurkan menjadi TKW di Arab Saudi. Di situlah kepahitan itu bermula. Sampai di Arab, Kinanthi selalu menemukan majikan yang ringan tangan. Memukulnya adalah sebuah hal yang sangat kecil yang dilakukan majikan-majikannya pada dirinya. Ia jadi terbiasa di cakar, di tempeleng, di caci maki, bahkan majikan laki-lakinya hampir semuanya pernah memperkosa dirinya. Ia sempat hamil namun keguguran. Pengembaraannya sudah menempuh Riyadh, Kuwait, dan terakhir adalah Amerika. Tempat yang mengubah dirinya 360 derajat.

Siksaan Kinanthi belum selesai sampai di situ. Awalnya, pada saat ia keluar masuk KBRI lantaran para majikan yang ringan tangan, tiba-tiba ada seorang majikan asal Arab yang hendak bermukim di Amerika dan mencari seorang pembantu. Pihak penampungan di KBRI menawarkan hal itu pada Kinanthi, ia pun langsung menyetujuinya. Meskipun hal itu sama artinya dengan membuat dirinya semakin jauh dengan laki-laki masa kecilnya, Ajuj.

Di Amerika, Kinanthi kembali memulai segalanya. Apa yang diharapkannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Keluarga yang ia ikuti sampai ke Amerika ternyata masih kerabat dari majikannya yang dulu pernah ia pukul kepalanya. Ia kembali mendapat siksaan lebih berat. Sampai akhirnya ia bisa kabur dari rumah majikannya dan bertemu dengan keluarga Arab yang tinggal di Amerika. Bersama keluarga itu, Kinanthi memulai hidup barunya. Kehidupannya mulai dicarikan keadilan. Sampai akhirnya ia menemukan titik terang dari perjalanan hidupnya yang selama bertahun-tahun terombang ambing itu. Pengadilan Amerika memutuskan untuk memberinya beasiswa untuk menuntut ilmu di sana, memberinya jaminan kesehatan seumur hidup, dan diberikan hak untuk tinggal dan bermukim disana.

Tiga belas tahun berlalu sejak saat itu. Meskipun kini ia telah benar-benar menemukan kebaikan dalam hidupnya, bayangan akan sosok Ajuj tak pernah lekang dari ingatannya. Meskipun kini ia telah berhasil menjadi profesor dan seorang penulis terkenal di New York, namun ingatan masa kecilnya selalu ia bawa kemanapun, khususnya Ajuj. Yang telah bersemayam dalam hatinya selama hampir dua puluh tahun.

Kisah hidupnya ia tulis dalam sebuah novel yang ia beri judul “Galaksi Cinta”. Tak lupa ia menyelipikan sosok Ajuj yang ia ubah namanya menjadi Jati dalam novelnya itu. Selama hampir dua puluh tahun meninggalkan Indonesia, keinginannya untuk bertemu dengan Ajuj mendorongnya untuk pulang ke Tanah Air. Ia ingin menyelesaikan kisahnya bersama Ajuj. Ia masih belum tahu apakah kisahnya itu akan berakhir pada suatu yang indah atau tidak.

Suatu hari ia pulang ke tanah air, tepatnya Gunung Kidul. Setelah perjalanan yang panjang, ia temui orangtuanya yang sudah sangat sepuh, adiknya yang sudah besar, para warga dusun yang dulu selalu mengejeknya dan kini terkagum-kagum melihat keadaan Kinanthi bak ratu sejagad, juga....Ajuj.

Pertemuan mereka pada saat itu bisa dikatakan sangat singkat. Ajuj yang menyampaikan wasiat Mbah Gogoh untuk Kinanthi sebelum ia meninggal, penuturan Hasto tentang Ajuj pada Kinanthi yang selalu mengajarkannya banyak hal, tentang kesalahpahaman Kinanthi terhadap Ajuj soal surat-surat yang dikirim olehnya selama puluhan tahun yang tak pernah dibalas oleh Ajuj, dan tak lupa tentang Galaksi Cinta itu.

Sampai puncaknya, saat Kinanthi hendak menutup kisahnya itu bersama Ajuj, dan balik lagi ke New York, sebuah gempa menghantam Yogyakarta. Semua kawasan rusak parah. Ajuj yang pada saat itu tengah berada di Gunung Gamping pun menjadi salah satu korban. Ia mengalami luka yang cukup parah menurut dokter. Pada waktu yang bersamaan, entah mengapa seolah Kinanthi tak ingin ia kehilangan Ajuj untuk yang kedua kalinya. Ia sangat ingin melihat Ajuj tetap hidup dan mengurungkan niatnya pulang ke New York.

Berbulan-bulan Ajuj koma. Semua biaya rumah sakit, Kinanthi yang menanggung. Sampai pada akhirnya ia memutuskan, untuk kembali ke New York karena ia tak mungkin terus-terusan menunggui Ajuj yang entah sampai kapan akan seperti itu. Namun semua pengobatan masih terus di usahakan olehnya.

Setahun sudah berlalu, namun Ajuj masih tetap koma. Tadinya orang tua Ajuj sudah pasrah dan menyuruh pihak rumah sakit untuk mencabut semua alat yang menempel ditubuh Ajuj. Mereka dan warga dusun juga menganggapnya sudah mati. Namun Hasto dan Kinanthi tetap kukuh bahwa Ajuj masih hidup dan masih harus tetap dirawat. Kinanthi berjanji akan secepatnya pulang ke Yogya jika launching novel Galaksi Cinta nya sudah selesai di New York.

Pada suatu malam, pada saat launching novel itu berlangsung, pada saat yang bersamaan pula seorang laki-laki asal Tibet yang sudah hampir lima tahun menjadi partner Kinanthi dalam bekerja, menyodorkan sebuah cincin padanya. Maksud hal itu adalah, agar Kinanthi mau menerima kenyataan bahwa mengharapkan Ajuj untuk kembali seperti sedia kala itu sangat tidak mungkin, dan agar ia mau mengganti sosok Ajuj dengan dirinya. Namun Kinanthi masih belum bisa menjawab apapun, sampai akhirnya ia mendapat kabar dari Hasto kalau Ajuj sadar dari komanya dan yang pertama dicari adalah dirinya, Kinanthi Hope, nama Amerikanya.

Seketika tubuhnya lunglai dan ia sudah tak dapat berkata-kata lagi. Ia langsung mencari sebuah rasi bintang di langit dan mencari dimana galaksi itu. Galaksi cintanya bersama Ajuj. Ia tersenyum, karena ia dapati Ajuj berada di sana. Wajah Ajuj benar-benar ada di galaksi cinta itu.

* * *
to be continue........

29 Juli 2011

Munajat Ramadhan Terakhir

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka bantulah aku menggoreskan tinta emas
Dalam sejarah panjang perjalanan hidupku
Dalam menyusuri indah ramadhan-Mu
Di setiap tahunnya…

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah setiap waktu yang kulalui di 30 hari ini
Menjadi waktu yang terbaik dari waktu-waktu
Yang pernah kulalui selama hidupku


Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah shaum yang aku laksanakan kali ini
Menjadi shaum yang tak hanya aku tunaikan karena alasan menjalankan kewajiban
Namun juga bisa menjadikanku sebagai insan yang bertaqwa
Dan juga tak hanya perutku yang aku shaumkan
Namun juga menyhaumkan seluruh jiwa dan ragaku
Agar berkah menghampiri segala yang ada pada diriku

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah setiap bilangan rakaat dalam shalat fardhu maupun sunnahku
Menjadi rakaat yang tak hanya aku tunaikan untuk sekedar ingin Kau lihat ibadahku
Namun juga bisa membawaku pada sikap menjauhi larangan-Mu
Serta menjalankan setiap perintah-Mu
Juga bisa menghindarkanku pada sebenar-benar perbuatan keji dan munkar

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah setiap lantunan doa yang aku panjatkan pada-Mu
Menjadi lantunan doa terindah yang pernah aku pintakan pada-Mu
Tak hanya sekedar doa pengharapan dari seorang fakir sepertiku
Namun juga bisa menjadi pintu untuk dapat masuknya aku ke jannah-Mu

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah setiap lembar demi lembar kitab suci-Mu yang aku baca
Menjadi tilawah yang tak hanya sekedar mencapai targetku di bulan berkah-Mu
Namun juga bisa memberikan petunjuk untukku atas jalan cahaya-Mu
Sehingga aku bisa senantiasa istiqomah dijalan lurus-Mu

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah setiap helaan nafas yang aku hembuskan
Menjadi hembusan kesyukuranku pada-Mu
Atas segala nikmat dan anugerah yang selalu Kau berikan padaku

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah tahajud yang aku tunaikan di setiap malamku
Menjadi qiyamullail terindah disepanjang hidupku
Menjadikanku insan yang selalu tawadhu di setiap sujud panjangku
Dan berharap sedikit berkah-Mu untuk ramadhanku

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah tarawihku di bulan mulia-Mu ini
Menjadi tarawih terdahsyat yang pernah aku laksanakan
Sebab bisa aku tunaikan dengan penuh kekhusyukan
Dan bukan berharap pujian dari orang di sekitar

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah sepuluh hari terakhirku di ramadhanku ini
Menjadi sepuluh hari terakhir yang paling indah
Dalam sejarah panjang perjalanan ramadhanku selama ini
Berikanlah kesempatan aku untuk bisa beritikaf dengan khusyuk
Walapun hanya semalam atau dua malam di rumah-Mu
Namun memberikan sebuah kesan yang begitu indah di hatiku

Rabb…
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka jadikanlah setiap infaq dan shodaqoh yang aku amalkan
Menjadi amalan shalih yang terikhlas yang bisa aku lakukan dengan penuh kesungguhan
Tak menjadikanku riya dihadapan orang lain
Namun bisa memberikan sebuah teladan akan keutamaan shodaqoh

Rabb…
Untuk yang terakhir,
Kalaulah ini menjadi ramadhan terakhirku
Maka berkahilah usiaku sampai menuju ajalku
Jadikanlah setiap hembusan nafas, pijakan langkah, tutur kata, dan setiap perbuatanku
Menjadi segala yang terbaik dariku
Untuk semua yang pernah aku lakukan selama ini
Dan tak lupa juga aku meminta
Untuk Kau ampuni juga segala dosa dan noda yang pernah aku perbuat

Bantulah aku mengukir sebuah prestasi di bulan mulia-Mu ini
Sehingga jika memang benar ini adalah ramadhan terakhirku
Maka akan ada secuil kebanggaan yang dapat aku persembahkan
Untuk orang tua, keluarga, dan juga semua sahabat-sahabatku

Rabb…
Kabulkanlah….
Amin

(Tertatih dalam 22 tahun memaknai dan memahami Ramadhan)

Perjalanan Akhir Pekan

Sabtu, 23 Juli 2011

Sore hari selepas Ashar, tiba-tiba Rizky terbangun dari tidur siangnya. Tak tahu mengapa, ia menangis sejadi-jadinya setelah bangun dari tidur itu. Ia memanggil-manggil mamanya diiringi dengan isak yang terus melantang dari mulutnya. Memang pada hari itu aku dan keluargaku berniat untuk berziarah ke makam kakek, tante, dan dede Zaenab. Namun karena terik matahari siang itu begitu menyengat sampai ke ubun-ubun, akhirnya kami memutuskan untuk berziarah ke makam pada pekan berikutnya. Lagipula Rizky juga sudah mulai tertidur pada saat matahari itu mulai menyengatkan teriknya ke seluruh penjuru kawasan Pasar Minggu.

Seribu satu jurus bujukan tetap tak bisa membuat tangisan Rizky yang semakin memecah menjadi diam. Ia masih saja memanggil-manggil mamanya ditengah isaknya yang menggelegar. Ketiga orang yang amat sangat aku kasihi itu dimakamkan di TPU Tanjung Barat. Akhirnya aku memutuskan untuk megajaknya ke makam bersama dengan salah satu Om ku yang baru saja pulang bekerja. Alhamdulillah tangisan Rizky sudah mulai reda. Tak berapa lama di sana, bahkan belum sampai aku menyelesaikan bacaan Surat Yasinku di makam kakek, tahu-tahu Rizky sudah mulai merengek minta bobo dan pulang ke rumah. Aku menurutinya. Namun sebelum pulang, aku mengajaknya untuk berdoa di makam ibu dan adik kecilnya.

(makam mamah yang ada di depanku loh... :))

Setelah berdoa dan mengajarinya untuk pamit pada mamanya, aku langsung mengajaknya pulang.

Minggu, 24 Juli 2011

Perjalanan yang melelahkan
Antara pasti dan tak pasti
Antara ada dan tiada
Semuanya buram
Semuanya abu-abu
Semuanya tak nampak jelas dihadapku
Aku menyusuri pantai yang berpasir itu
Ada yang tak biasa yang semakin dalam aku rasakan
Itu adalah hatiku
Hati yang diam-diam berbincang dengan pasir yang berbisik
Tentang perjuangan hidup, cinta, dan masa depan
Seiring dengan langkahku,
Kegamanganku tak ubahnya mencair bagai lilin
Sejenak kutatap awan yang seolah berada jiwa dengan sang laut biru
Dan itu terlihat cantik dipandanganku
Senyumku mengembang,
Pasir itu masih terus berbisik padaku
Bisik yang dapat kumengerti namun sulit aku pahami
Kutinggalkan pasir-pasir itu jauh ke depan
Melanjutkan langkahku yang semakin gamang
Dan tak tenang........
(Anyer, Minggu 24-07-2011, 18.38)















27 Juli 2011

Karena Aku Begitu Menyayangimu

Tadi pagi sebelum berangkat kerja, aku sempatkan diri mengantar adikku untuk melaksanakan Orientasi Akademik di kampusnya, yang juga kampus tempatku menuntut ilmu sejak dua setengah tahun lalu (adikku baru akan memasuki semester 1 sedangkan aku hendak memasuki semester 6). Pagi sekitar pukul tujuh lewat beberapa menit kami sudah jalan. Menaiki sebuah angkot yang isinya tak lebih dari tiga orang manusia. Pak supir, aku, dan adikku.

Mungkin karena masih pagi, jadi jalanan masih tampak lengang dari lalu lalang laju kendaraan. Tapi itu jalanan yang menuju ke arah Bogor, lain halnya dengan jalan yang menuju ke arah Kota. Disana bebanding terbalik, alias amat sangat macet. Kuabaikan hal itu. Aku kembali mengisi waktu di dalam angkot dengan membaca Novel Galaksi Kinanthi yang belum tamat-tamat juga membacanya. (untuk hal ini, akan aku review isinya setelah aku selesai membacanya).

Tepat di daerah Lenteng Agung, tepatnya di Gardu - banyak orang menyebutnya dengan sebutan itu - dua orang pemuda berpakaian hitam putih menaiki angkot yang juga kami naiki. Makin menuju ke arah Depok, angkot semakin penuh. Dua orang pemuda tadi tampaknya juga hendak mengikuti Orientasi Akademik, sama dengan adikku. Aku tak menghiraukannya, namun entah dengan adikku. Mungkin ia sudah mengincar dua orang itu untuk ia ajak kenalan. Entahlah, aku kembali asyik dengan Galaksi Kinanthi-ku.

Sampai di kampus, kusodorkan uang lima ribuan pada pak supir sambil berkata, “Dua ya pak.” Lalu aku langsung berlalu dari hadapnya tanpa menunggu ia menyahuti perkataanku tadi. Aku berjalan menyusuri trotoar kampus diikuti dengan langkah adikku. Novel Galaksi Kinanthi sesaat aku masukkan dulu dalam tas. Aku lebih memilih mengamati beberapa calon mahasiswa di berbagai penjuru kampus dengan pakaiannya yang serba hitam putih. Tiba-tiba memoriku berlari ke belakang, menembus ruang dan waktu ke dua setengah tahun silam. Dulu waktu jamannya aku, Orientasi Akademik tidak dilakukan di kampus, melainkan di Tennis Indoor Senayan.

Tak lama pikiranku berkelana, aku segera menyuruhnya kembali ke masa kini. Aku menoleh ke belakang, tapi tak tahunya apa yang aku perkirakan di angkot tadi ternyata benar. Adikku berkenalan dengan dua orang pemuda tadi. Kulihat ia agak berbincang-bincang dengan salah satunya. Kudekatkan wajahku ke arahnya dan kuberbisik, “Gue pulang ya?” Dia menyahut, “Ya udah, gih dah.”.

Siip! Alhamdulillah ia sudah bisa mulai mandiri. Tak sampai aku mengantarkannya ke dalam kampus, aku sudah melepasnya bersama dua orang teman barunya. Dalam langkahku yang semakin jauh darinya, tanpa sepengetahuannya aku memperhatikan langkahnya yang semakin jauh dariku. Dua orang calon mahasiswi yang ada di dekatku tampak memperhatikanku dengan amat seksama. Aku tak memperdulikannya. Kulihat adikku berjalan mengikuti langkah kedua temannya ke arah kantin. Semakin lama, lama, dan hilang diantara calon-calon mahasiswa yang lain.

Aku kembai dengan langkahku yang semakin gontai. Bukan karena takut pulang sendiri, tapi hanya sedikit khawatir dengan adikku. Kupikir ini wajar, bila seorang kakak mengkhawatirkan adiknya yang baru saja memulai langkah hidupnya menjadi seorang calon mahasiswa. Ada ketakutan tersendiri saat aku menyadari bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang mahasiswa dan memiliki teman-teman yang mungkin lebih ”bebas” ketimbang teman-temannya semasa SMA. Mengingat ada salah satu kakak sepupuku yang kuliah di kampus yang sama juga denganku dan adikku namun beda cabang, yang belum lama ini sempat mengalami kekerasan fisik dari rekan-rekan satu kelasnya di kampus sampai ia harus mengalami operasi. Akibat dari hal itu, selain biayanya yang sampai menghabiskan uang hingga 40 juta rupiah, ia juga jadi cacat karena harus kehilangan limpanya karena menurut keterangan dari dokter yang menanganinya, limpa nya itu hancur. Astaghfirullah!!

Mungkin karena hal itu juga yang menyebabkan aku menjadi agak protected pada adikku. Sembari melangkahkan kaki untuk segera pergi kerja, aku langsung mengiriminya sms. Selain memberi tahu dimana ruang ia harus melaksanakan Orientasi Akademik, aku juga sangat mewanti-wanti dirinya untuk tidak merokok. Aku agak cemas ia menjadi terbawa ke arus pergaulan dan memilih teman yang salah. Namun lagi-lagi aku tersadar, kalau ia terlalu aku kekang untuk tidak melakukan ini dan itu dengan alasan demi kebaikan dirinya, aku juga khawatir ia akan melunjak.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku akan berusaha untuk melepasnya ke dunianya yang baru meski aku masih harus memantaunya. Ia akan bertemu dengan orang-orang baru, hal-hal baru yang belum pernah ia temui sebelumnya, merasakan kehidupan luar yang mungkin akan lebih menempa kedewasaan dan kepekaannya dalam bersikap. Semoga saja ia tak salah pilih jalan. Aku akan selalu mendoakannya.

(Jalanan ini adalah jalanan yang sering aku lalui tiap pulang dari kampus. Baru kali ini aku melaluinya di pagi hari, biasanya kan malam hari. Ternyata jalanan ini lebih indah kuamati di pagi hari dibanding malam hari. Jika kau pandai menebak, pasti kau tahu dimana aku dan adikku kuliah :D)

22 Juli 2011

Surat Rizky buat Mama di Surga

Ma,
Tanpa terasa empat bulan sudah kau meninggalkan aku dan kakak-kakak yang lain disini. Tanpa terasa empat bulan sudah kau pergi ke suatu tempat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Empat bulan sudah kau meninggalkanku tapi rasanya sudah sangat lama sekali kau pergi. Tanpamu disisiku, dunia serasa lain kujalani. Aku memang masih teramat kecil saat kau pergi meinggalkanku. Ingin sekali rasanya kuungkapkan segala rasa yang ada, kemarin hingga saat ini, namun rasanya kelu bibirku untuk menyatakan itu semua. Aku hanya bisa menangis saat tiba-tiba saja bayangmu hadir di pelupuk mataku. Ma, aku merindukanmu........

Ma,
Kapankah sekiranya kau kembali lagi untuk memeluk tubuh mungilku dan menemani tidurku dalam hangatnya dekapmu? Ah, rasanya baru kemarin aku mencium aroma tubuhmu, namun kini kau telah tiada. Kau hanya menyisakan sebuah luka, duka, dan lara dalam hatiku yang teramat dalam. Kau hanya meninggalkan sebuah tanda tanya besar dalam hatiku. Kemanakah kau pergi selama ini ma? Aku teramat sangat merindukanmu...

Ma,
Teteh Intan dan Abang Azmi kini tinggal bersama keluarga bapak di kampung. Andaikan aku sudah bisa berucap lantang, ingin rasanya aku adukan rasa rinduku pada mereka juga. Rindu pada dua orang kakak yang begitu sayang padaku. Ma, tak usahlah kau cemaskan keadaanku disini. Insya Allah akan selalu ada keluarga yang menjaga dan menyayangiku dengan sepenuh hati. Merekalah yang kini aku miliki hingga nanti.

Ma,
Sering-seringlah hadir dalam tidur dan terjagaku. Tiadanya dirimu dalam hidupku merupakan kesedihan yang teramat dalam kurasa, begitu juga dengan keluarga yang lain. Kau adalah pelita hidupku. Pelita hidup kami semua. Saat kau ada, semuanya menjadi lebih terang. Namun saat kau tiada, semuanya menjadi gelap Ma. Semua menjadi tak menentu arahnya. Aku selalu bertanya-tanya, pada Bunda Sarah, Nenek, dan semuanya, kemanakah kau pergi selama ini? Mengapa kau pergi tanpa pamit padaku? Kenapa Ma??

Ma,
Dalam senyum dan tawaku, sejatinya akan selalu terukir wajah manismu. Dalam sedih dan tangisku, sejatinya akan selalu ada namamu dalam hatiku. Kemanapun kau pergi selama ini, aku selalu mendoakanmu semoga kau selalu bahagia di tempatmu sekarang. Semoga Allah selalu menjagamu, menjaga kakek, dan juga dede Zaenab. serta memberikan tempat yang terindah untuk kalian. Baik-baiklah kau disana ma, suatu saat nanti kita pasti akan berjumpa lagi.

Sekali lagi aku berkata, bahwa aku begitu merindukanmu Ma..........






nb: mengenang empat bulan kepergian tante, Ibunda Rizky.......

15 Juli 2011

Merajut Asa di Tengah Ilalang

. . . .

Seiring dengan berjalannya waktu, aku jadi tersadar bahwa hanya Allah lah yang harusnya menjadi andalan dan tumpuan tempat mengadu rasa. Bahwa seharusnya aku bisa lebih berharap pada diriku sendiri kalau suatu saat nanti aku pasti bisa menghidupi keluargaku dengan jerih payahku sendiri. Aku pasti mampu ‘berdiri’ di atas kakiku sendiri tanpa harus ‘mengemis’ kasih pada orang lain.

Perjuangan ini belum selesai. Perjuangan ini baru saja dimulai. Aku masih harus terus melangkah maju merajut asa dan harapan di tengah kerasnya hidup yang harus aku lalui, sampai ajal menjemput. Aku masih punya banyak mimpi, asa, cita-cita, dan harapan. Ingin rasanya aku merajut kesemuanya itu saat ini, meski harus kurajut di tengah ilalang kehidupan.

* * *

“Nak, ikut bunda beli pampers yuk?” Ajakku lembut pada Rizky malam ini. Ia langsung mengangguk dan segera mencari sandal kodoknya. Alhamdulillah masih ada selembar uang lima ribuan di tasku. Uang sisa ongkosku hari ini. Aku berjalan perlahan ke sebuah warung sambil menuntun tangan Rizky. Sembari ditemani cahaya sinar sang rembulan, aku dan Rizky terus melangkah menuju tempat yang kami tuju. Pikiranku masih terus saja melayang-layang di angkasa. Tentang masa depanku, masa depan Rizky, masa depan kami berdua.

Di langit tampak bulan tersenyum indah sekali. Rizky mendaulatku untuk menyanyikan lagu kesenangannya, lagu kami berdua. Kami terus melangkah merajut asa kami sambil melantunkan lagu itu.

Ambilkan bulan bu...
Ambilkan bulan bu...

Yang slalu bersinar di langit, di langit

Bulan benderang...

Cahyanya sampai ke bintang

Ambilkan bulan bu...

Untuk menerangi...

Tidurku yang lelap, di malam gelap


”Rizky, malaikat kecilku, bunda janji, suatu saat nanti, bunda pasti bisa menjadi bulan untukmu. Bulan yang akan selalu menemanimu, tak hanya dalam malam yang gelap, tapi di setiap saat waktumu. Nak, kau adalah anugerah terindah ibumu dari Tuhan untukku. Baik-baik ya sayang.”

Pojok kamar, Pasar Minggu
14 Juli 2011, 22.06 WIB



(gambar diambil dari ngerumpi.com)

nb: artikel ini merupakan penggalan dari cerpenku dengan judul yg sama...

12 Juli 2011

Poetry Hujan : Hanya Ingin Diam

Biarkan sejenak kulantunkan melodi rinduku dalam hati
Sambil menatap derasnya rintik hujan yang berhamburan
Menikmati aroma tanah basah dan tarian ilalang
Dan menatap pelangi yang terlukis indah di alam tenang

Dalam kebisuan aku terdiam...
Aku diam, sebab tak ingin yang lain tahu perasaanku
Aku diam, pun sejatinya hanya ingin meluruskan hatiku
Aku diam, bukan bermaksud untuk memutus silaturahim
Aku diam, hanya sekedar untuk memulihkan hatiku yang sedikit rapuh
Aku diam, bukan berarti aku berhenti berpikir
Sebab dalam diamku, aku tengah berpikir
Bagaimana caranya agar aku bisa mampu kembali untuk berbicara

Diam, itulah pilihanku saat ini
Sebab dengan diam, kubisa mengurai banyak makna yang tersimpan
Sebab dalam diam, kubisa menetralkan suasana hati
Sebab dengan diam, kumampu mengolah kesedihan diri
Dan karena memang hanya diam
Yang hanya dapat kulakukan saat ini


Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

7 Juli 2011

Ikutan Giveaway lagi (Uji Otak)

Kali ini aku ikutan giveaway lagi, awalnya sih cuma blogwalking aja ke blog temen2, nah pas blogwalking ke blognya Mbak Ria, eh taunya mbak cantik ini lagi ikutan giveaway yang diadain ama Mbak Fanny, ya udah langsung aja meluncur kesana. Nah pas liat teka teki giveaway nya kayak apa, sembari kerja juga dikantor, saya cari pola teka teki itu, dan alhamdulillah nggak sampe 2 menit, saya langsung nemuin pola teka teki itu, dan langsung ketemu deh hasilnya (mudah2an bener) hehehe.

Nah hasil dari 7+7+7, merujuk dari contoh penjumlahan yg sebelumnya udah di kasih tau Mbak Fanny dalam blognya, akhirnya aku temukan hasilnya yaitu 494991. ini bukan nyontek juga dari Mbak Ria, tp karena PURE aku hitung sendiri menggunakan otakku :D

cuma mau kasih saran aja sih buat mbak Fanny, mungkin untuk polanya bisa dikirim via email ke mbak. soalnya kalo cuma posting doang, semuanya juga bisa posting tanpa harus memikirkan gimana pola dari teka teki itu, jadi klo menurutku, boleh aja jawaban di posting di blog, tp pola dr jawabannya bs dikirim ke email mbak biar lbh mudah menentukan pemenangnya :D

Dan kalo aku menang, aku pengen Novel Galaksi Kinanthi karya Tasaro GK.

30 Juni 2011

Karena Allah Tak Pernah Ingkar Janji


Setiap manusia yang tinggal di muka bumi ini pasti pernah mengalamai saat-saat yang membuat dirinya tengah rapuh. Kala genjatan ekonomi terus menghimpit, saat keadaan tengah tak berpihak pada kita, dan sebagainya. Perlu kita ketahui, bahwa mengeluhkan keadaan hanya akan menambah masalah baru dalam hidup kita. Sebenarnya postingan kali ini hanya untuk sekedar mengingatkan diri sendiri bahwa nikmat Allah begitu banyak dan sangat banyak bila dibandingkan dengan ujian dan cobaan yang Ia berikan pada kita. Dan aku mengalaminya sendiri.....


Tiga bulan yang lalu, sejak tanteku berpulang ke pangkuan Ilahi, kehidupanku 360 derajat berubah drastis. Almh. Tante meninggalkan lima orang anak padaku dan keluarga besarku. Kami harus bahu membahu mengurus mereka karena ayah (suami almh. Tante) mereka sudah terlalu tua jika harus dibebankan dengan kelima anaknya.

Sejak kepergian tante, kadang sempat terlintas di benakku, apakah aku bisa membantu mereka dengan penghasilanku yang amat sangat pas-pasan? Namun lagi-lagi, judul diatas telah begitu menyadarkanku bahwa sesungguhnya Allah tak pernah mengingkari janjinya. Ia akan selalu ada untuk hamba-hamba-Nya yang selalu percaya akan janji-janji-Nya.

Dulu, selagi masih ada tante, ataupun kini setelah tiga bulan berlalu sejak tante pergi, penghasilanku masih sama saja, malah cenderung berkurang karena aku sudah tak mengajar lagi di salah satu rumah anak muridku. Namun karena judul diatas telah kembali menyadarkanku bahwa Allah itu selalu ada untukku, maka insya Allah aku tak pernah merasa bimbang ataupun cemas dengan keadaanku yang seperti ini. Aku selalu berusaha mensyukuri setiap hembusan nafas dan tiap rupiah demi rupiah yang aku hasilkan meskipun memang tak banyak, yang telah Allah berikan untukku. Semoga semuanya bisa menjadi berkah.

Dan Alhamdulillah, selama aku masih bisa makan meskipun hanya berlaukkan ikan asin, selama aku masih bisa tidur meskipun hanya beralaskan tikar, selama aku masih bisa berpenghasilan meskipun hanya rata-rata, selama aku masih bisa berpakaian meskipun tak pernah punya yang baru, selama aku masih bisa online meskipun itu hanya dilakukan di kantor, selama aku masih bisa melakukan semuanya meskipun memang sangat “struggle” untuk mencapainya, tapi aku syukuri kesemuanya itu. Toh masih ada atau sudah tidak adanya tante dalam kehidupanku, bukan menjadi kendala bagiku selama aku masih bisa melakukan aktivitasku seperti biasa, meski memang “porsinya” tidak sebanyak selagi masih ada tante (karena kebutuhan keluarga menjadi prioritas untukku).

Toh sudah tiga bulan berlalu sejak tante pergi, tapi Alhamdulillah aku masih bisa makan enak, aku masih bisa tidur nyenyak, aku masih bisa naik angkot ketika berangkat kerja dan tidak sampai berjalan kaki, aku masih bisa beli pulsa (meski memang sekarang harus lebih irit), masih bisa jajan dikampus, masih bisa beli makan siang dikantor (kalo lagi nggak bawa bekel dari rumah), ditambah lagi, aku masih bisa memenuhi sebagian kebutuhan anak-anak tante. Membelikan mereka baju baru untuk lebaran nanti, membelikan Rizky susu dan diapers, mengajak Rizky jalan-jalan ke Ragunan dan masih bisa sedikit memenuhi kebutuhan lainnya untuk keluargaku.

Ternyata Allah memang tak pernah ingkar janji. Ketika Allah sudah memilihku untuk hidup di dunia ini, maka sesungguhnya Allah tak pernah lepas tangan akan kesejahteraanku hidup di muka bumi ini. Dan bukan aku saja, semua manusiapun yang hidup di dunia ini, kehidupan dan kesejahterannya pasti akan dijamin oleh Allah. Walau memang tingkat kesejahteraan dari masing-masing manusia itu berbeda-beda, tapi memang itulah cara Allah dalam menyayangi setiap hamba-Nya. Aku jadi lebih mengerti mengapa Allah tidak menurunkan hujan emas dari langit tapi justru hujan air. Karena dengan air tersebut, kita bisa mempergunakannya untuk mengairi perkebunan, dan masih banyak lagi. Intinya, Allah memberikan kita akal dan kemampuan agar dipergunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, minimal untuk diri kita sendiri.

Karena Allah tak pernah ingkar janji, maka jangan pernah ragukan apa-apa yang telah Allah janjikan. Jika tidak sekarang, mungkin esok, ataupun lusa. Jika tidak dunia, bisa mungkin di akhirat. Jadi berusaha dan bersabarlah, sebab sabar dan syukur adalah kunci utama dalam menjalani kehidupan ini........

Gaya Baru Model Jilbab(ku)

Oktober tahun 2003 merupakan bulan hijrah buatku. Maksudnya hijrah dari pakaian gaul ke pakaian Islami, tepatnya memakai jilbab. Yup, sejak saat itu aku udah berkomitmen dengan diriku sendiri untuk tetap istiqomah memakai pakaian islami sampai akhir hayatku. Pertama kali pake jilbab itu sempet agak rempong juga yah, secara...dulu itu pengen pake jilbab lantaran ada kakak kelas imut banget yang pake jilbab, terus temen-temen di SMK juga kebanyakan pake jilbab, mungkin kebawa juga kali yah.


Singkat cerita, dulu masih cupu banget deh awal-awal pake jilbab. Dari macem jilbab yang pendek sampe yang panjang pernah jadi pedoman aku dalam mengenakan jilbab. Dari yang cuma pake daleman jilbab sampe yang pake topi buat jilbab itu pernah aku pake dalam keseharianku. Cuma yang nempel di hati selama beberapa tahun belakangan ini ya daleman jilbab (ciput) yang berbentuk topi itu yang biasa dipake. Dan make jilbabnya pun juga biasa aja. Pas jilbab udah nempel di daleman topi tadi di kepala (yailah di kepala, masa di kaki, hehehe), langsung aja dibentuk serapi mungkin dah gitu di tusuk ama jarum pentul. Kalo udah, tinggal di tusukin bros ama penitiin sana sini, jadi deh jilbab yang menutupi dada. kayak gambar dibawah ini....
Dan model jilbab seperti itu masih setia aku gunain setiap hari. Tapi hari ini aku coba bereksperimen dengan model jilbab yang lagi ngetrend or jadi trendsetter baik dikalangan anak muda ataupun ibu-ibu, yaitu jilbab Arab.

Pas lagi nyoba sih it’s okeh, ga ada masalah lah karna emang tiap hari kan dah biasa berhadapan dg kain kerudung, daleman jilbab, bros, peniti, ama jarum pentul. Bedanya kali ini, daleman jilbabnya gak ada topinya, cuma daleman TOK!! Awalnya pas dipake sih gak ada masalah yang bikin rempong, paling agak bingung aja gimana cara modif bentuk jilbabnya biar keliatan modis tapi tetep syar’i. Jadinya seperti ini deh....

Pas sampe kantor, yang nggak biasa ngeliat aku seperti itu langsung deh bilang, “cie....model baru nih yeee...” ughh....jadi malu bin nggak pede, tapi cuek ajah. Dari temen kantor sampe mbak-mbak cleaning service nggodain aku lantaran model jilbabku beda dari biasanya. Aku tanggapi semua itu dengan santai aja.

Tapiiiii.......agak rempong juga ternyata pas ngambil wudhu, sebab aku kan masih belum terbiasa dengan model jilbab yang kayak gitu, jadi pas ngambil wudhu ya mau gak mau dibukain dulu penitinya baru dipasang lagi pas udah kelar wudhu. Kalo jilbab yang biasanya kan kalo mau wudhu ya tinggal dibuka keatas, trus tinggal “slep”, masukin lagi ke kepala, rapiin dikit, kelar deh. Gak perlu buka-buka peniti dan jarum pentul.

Dari semua ituuuu......kayaknya aku menemukan sebuah kesimpulan deh, kalo mau pake jilbab dengan model seperti itu, mending dipakenya pas lagi gak sholat ajah, jadi gak rempong buka-buka jilbabnya untuk ngambil wudhu heehehe gubraks banget ya :D

29 Juni 2011

Walking-Walking @Kebun Binatang Ragunan

Dua hari yang lalu ade sepupuku (Azi) ngajakin ke Kebun Binatang Ragunan (KBR). Nah mumpung tanggal 29 Juni kemaren hari libur, kebetulan tuh ngambil momentnya pas banget. Libur kerja, sekaligus libur ngajar and kuliah. Aku pergi nggak cuma ama Azi, tapi ama Rizky, Ulfa, dan Mugi. Seru deh jalan-jalan kemaren.

Jalan sekitar jam sepuluh pagi lewat sedikitlah. Aku boncengan ama Azi, Ulfa boncengan ama Mugi. Berhubung aku dan Ulfa nggak pake (nggak punya juga, hehehe) helm, jadi kita lewat jalan AUP aja, motong jalan disana, terus nembus-nembus di jalan TB. Simatupang lanjut jalan lewat kolong, dan bablas sampe ke Kebagusan, disana masuk lewat pintu kecil dan nembus-nembus di GOR. Sepanjang jalan menuju pintu parkir KBR terdapat semacam pasar kaget yang menjajakan berbagai macam barang. Hmm....paling bikin sakit hati deh kalo cuma bisa ngeliat-ngeliat tapi nggak bisa beli, hehehe. Maklum akhir bulan, jadi dah mulai cekak wkwkwkwkwkwk..........

Sesampainya di area parkir, beeuuuhhhh.....ngantrinya puanjaaaaang banget. Ada kali lima belas menitan kita ngantri cuma buat parkir doang. Tapi Alhamdulillah kita bisa parkir juga akhirnya. Tapiiiii......ada tapinya nih, dodolnya pas mau bayar parkir motor, kudunya kan sekalian bayar tiketnya juga buat aku dan Azi, eh ini malah bayar parkirnya doang, alhasil ba’da markirin motor ngantri lagi deh buat beli tiketnya, hahahahah gubraksssss bangget........

Di dalem KBR, kita liat2 binatanglah pastinya. Dari burung, monyet, rusa, sampe gajah. (ssstttt....emang yang diliat cuma segitu doang, abis kalo ke KBR cuma capeknya doang euy, hehehe). Si Rizky ekspresinya lucu deh pas lagi ngeliat gajah

"bundanya gede ya gajah?
eh, salah, gajahnya gede ya bunda? hehehe"

Horreee.......pas berasa udah cappekk, kita pulang deh. Kasian Rizky dah mulai ngantuk dan ternyataaa,,,,emang bener Rizky tidur diatas motor pas dijalan pulang. Hehehe udah ah laporannya, cappek mau istirahat........






13 Juni 2011

Kalimat Mutiara For GiveAway

Saat ini kembali hadir dengan tampilan yang sama sih, tapi kali ini mau ikutan kontes or lomba yang diadakan oleh Mbak Dey, cuma sekedar ngeramein aja sih, kalo menang Alhamdulillah, tapi kalo nggak ya Ga pa2 juga, namanya juga usaha. Tapi ngarep banget bisa dapetin kain batik Garutan seperti apa yg dijanjiin Mbak Dey, coz lg butuh bgt kain batik nih, hehehe. Ini nih kalimat bijak favorit saya yang saya kutip sendiri dari tiap pengalaman yg saya lewati. Silahkan baca aja ya, moga2 bermanfaat :)

"Menjadi anak-anak adalah sebuah fase kehidupan, menjadi tua adalah sebuah kepastian. Tapi menjadi dewasa adalah sebuah pilihan dan keberanian"

Lupa dari mana dapat kalimat diatas, namun yang saya ingat hanya potongan-potongan dari kalimat diatas yang saya rangkai menjadi satu kalimat, yang menjadi kutipan yang paling saya suka dan saya pajang di blog. Ya, kalimat diatas sebenarnya hanya sekedar mengingatkan diri sendiri, bahwa menjadi anak-anak merupakan fase dalam kehidupan dan memang karena semua orang pasti pernah merasakan masa kanak-kanak. Sedangkan tua itu bukan hanya perkara usia, tapi yang dikatakan tua adalah proses bertambahnya usia dari hari ke hari yang membuat kita menjadi lebih tua dari fase hidup yang sebelumnya. Sementara dewasa, mengapa saya katakan sebuah pilihan dan keberanian? Sebab berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah. Namun lebih tidak mudah lagi jika hidup tanpa berani menjadi dewasa. Bahwa fase demi fase adalah kepastian. Setiap usia punya jenjangnya, ada situasinya, sulit dan mudahnya. Tapi keberanian menjadi dewasa adalah sebuah keniscayaan yang dengannya kita lalui segala fase itu, kita kejar cita-cita akhir kita, di puncak keridhoan Allah swt. Wallahu ‘alam.


"Menguatkan disaat yang lain rapuh, itulah gunanya sahabat"

Sebenarnya kalimat diatas juga merupakan kutipan dari pengalaman pribadi. Ketika saya rapuh, banyak teman-teman yang berkata pada saya, “yang sabar ya?”. Mungkin bagi yang tidak mengalami kerapuhan, mereka bisa saja mengucapkan hal itu dengan santai dan berharap kata-katanya itu dapat berpengaruh besar pada saya agar bisa lebih sabar dalam menghadapi cobaan. Tapi terkadang saya berpikir, mereka tidak merasakan apa yang saya rasakan ketika saya rapuh. Mereka menyuruh saya untuk sabar, karena mungkin hanya kata-kata itu yang bisa mereka ucapkan pada orang-orang yang berada disekitar mereka saat orang-orang itu tengah rapuh. Namun sekali lagi saya berpikir, toh saya pun juga akan melakukan hal yang sama jika saya berada di posisi mereka. Dari itu saya menarik sebuah kesimpulan dari arti sebuah persahabatan, bahwa adanya sahabat adalah untuk menguatkan kita disaat kita rapuh, begitupun sebaliknya, meski hanya ucapan “sabar ya” yang terlontar dari bibir, namun itulah bentuk perhatian mereka terhadap saya.

"Rubahlah kebutuhan menjadi hal-hal yang diinginkan"

kalau kutipan diatas, lagi-lagi saya buat untuk diri saya sendiri saat saya tengah mengalami kebingungan dalam mendidik sepupu-sepupu kecil dirumah. Awalnya pingin banget mengajak adik-adik kecil jalan-jalan keluar, entah ke mall, ke kebun binatang, atau hanya sekedar makan di restoran. Tapi saya langsung berpikir, sejak ibu mereka meninggal, biaya untuk memenuhi kebutuhan mereka mulai membengkak. Dari beli susu untuk sepupu yang paling kecil, sampai harus memikirkan kebutuhan-kebutuhan sekolah mereka (meskipun hal itu bukan sepenuhnya kewajiban saya). Maka berangkat dari pemikiran itu, saya langsung mengambil keputusan, bahwa anak-anak tidak harus melulu saya kenalkan pada sifat konsumtif. Saya rasa lebih bijak jika harus memenuhi kebutuhan mereka dulu ketimbang hal-hal yang mereka inginkan namun hanya bersifat semu. Dan tampaknya bukan suatu hal yang mustahil, jika saya tengah berusaha membangun prinsip “merubah kebutuhan mereka menjadi hal-hal yang mereka inginkan” agar mereka lebih terbiasa hemat dan disiplin dengan segala keterbatasan yang keluarganya miliki.

"Dengan mengajarkan, kita akan banyak belajar"

Kalau kutipan ini saya ambil, ketika saya tengah menjalani profesi saya sebagai seorang pengajar (guru privat). Sudah lebih dari empat tahun saya menjalani pekerjaan ini. Selain ngantor dan kuliah, saya juga mengambil side job sebagai guru privat. Awalnya hal ini hanya menjadi batu loncatan saja waktu saya belum mendapat pekerjaan yang tetap, namun saat saya sudah mendapat pekerjaan, profesi ini tak lantas saya tinggalkan. Selain hal ini dapat memberikan penghasilan tambahan, ternyata seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa dengan mengajarkan, kita akan banyak belajar. Sebab saat kita hendak mengajarkan sebuah materi pada anak, maka sebelumnya kita harus kembali mempelajari materi tersebut agar kita bisa lebih memahami apa yang kita sampaikan. Sebab kita mempunyai tanggung jawab juga dalam hal ini atas kemajuan ilmu sang anak. Dan hal itulah yang akan membuat kita semakin banyak belajar. Bukan hanya belajar ilmu akademik dan ilmu-ilmu pelajaran lainnya, namun juga ilmu sabar, ikhlas, dan tata cara mendidik yang baik.

"Tahu, dari apa yang diberitahu, tapi jangan mencari tahu"

Mungkin kutipan diatas akan terlihat atau terdengar aneh jika diucapkan dengan kesepenuh hatian. Namun disini saya hanya ingin menegaskan, bahwa kutipan diatas mungkin akan lebih berguna jika kita berada pada situasi “terhimpit”. Maksudnya begini, saya sering mendengar banyak orang yang menumpahkan masalah rumah tangganya pada keluarga, kerabat, atau orang lain. Sebab saya pun sering mengalami menjadi “orang” yang menjadi tempat aduan. Sang istri mengatakan kalau suaminya begini-begitu-begini-begitu yang menyebabkan hubungan rumah tangga mereka tak seharmonis dulu. Kalau sudah begini keadaannya, yang saya bisa lakukan hanya mendengarkan keluh sang istri tanpa banyak berkomentar. Sebab saya ingin belajar untuk tidak mengetahui dan mencampuri urusan dan aib rumah tangga orang lain, termasuk kerabat sendiri. Jadi saya hanya cukup tahu dari apa yang diberitahu oleh si “pencurhat” namun saya lebih memilih untuk diam dan tidak mencari tahu lebih banyak lagi tentang keretakan rumah tangga mereka. Saya hanya takut jika saya memulai perbincangan itu, saya khawatir kelak ketika saya sudah berumah tangga dan saya memiliki masalah dengan suami, maka kebiasaan ini akan menulari saya. Nauzubilla himindzalik.

"Bukan karena pintar, melainkan yakin"

Orang yang bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik, bukanlah orang yang pintar menyelesaikan masalah. Tetapi ia yang yakin bahwa dirinya mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya, lalu keyakinan itu akan menjadi sebuah motivator terbesar dalam dirinya, sehingga semangatnya untuk berusaha terus berkobar dan sanggup membuat dirinya mampu menyelesaikan masalahnya dengan baik tanpa mengeluh. Dan pastinya, usahanya itu selalu diiringi dengan doa dan tawakal kepada Allah swt. Dan tercerminlah dalam dirinya bahwa ia sosok pribadi yang pintar menyelesaikan masalah. Padahal kalau mau disadari, semuanya berawal dari keyakinannya, yang membuat dirinya mampu keluar dari masalah yang mungkin menurut sebagian orang sangat sulit, tapi tidak bagi dia yang merasa yakin bahwa masalah itu akan bisa ia selesaikan.

8 Juni 2011

Totalitas Sebuah Kualitas

Ketika melihat judul diatas, mungkin kita langsung teringat pada sebuah iklan rokok di televisi, namun saya sendiri tidak ingat, rokok apa itu. Tapi yang pasti, jargon iklan rokok tersebut spontan menyadarkan saya akan peran dalam kehidupan setiap anak manusia, including me :)

Setiap orang pasti memiliki perannya masing-masing dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Ada ia yang berperan sebagai seorang ibu, ada yang berperan sebagai seorang wanita karir, ada yang berperan sebagai seorang pengajar, ada juga yang berperan sebagai mahasiswi, bahkan ada pula yang memiliki keempat peran itu dalam kehidupannya :) kesemua peran itu sesungguhnya harus dilaksanakan secara maksimal agar bisa menghasilkan sebuah totalitas dalam setiap pencapaian kualitas dirinya.

Banyak orang yang tidak hanya memiliki satu peran dalam hidupnya. Ia bisa saja memiliki banyak peran seperti apa yang saya sebutkan diatas. Seharusnya satu peran yang satu dengan peran yang lainnya tidak boleh menjadi sebuah beban satu sama lain. Sebab setiap peran yang kita jalani adalah sebuah amanah dari Allah Azza Wajalla yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Tak jarang kita temui seorang anak manusia – entah ia masih muda atau sudah berusia – yang dengan total menunaikan amanah perannya dengan baik dan benar. Jika dikatakan lelah, mungkin iya. Namun karena kesetiaan dia terhadap kebaikan hidupnya, membuat ia jadi lebih bersemangat dalam mengemban setiap peran dalam hidupnya. Sumbernya adalah sebuah keikhlasan dan kesabaran yang terpatri dalam diri.

Total dalam menunaikan setiap kewajiban kehidupan merupakan wujud kesetiaan seorang hamba kepada Tuhannya. Betapa mulianya seseorang jika bisa maksimal dalam mendedikasikan dirinya untuk total dalam menjalankan setiap peran dalam hidupnya. Seorang ibu yang juga memilih berperan sebagai wanita karir, sejatinya harus mampu memaksimalkan masing-masing perannya sesuai porsinya. Ia boleh saja bekerja diluar rumah guna membantu suaminya memaksimalkan perekonomian keluarga mereka untuk sebuah tujuan yang baik, namun jangan sampai melalaikan perannya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya dirumah. Ia masih harus tetap melayani suaminya dengan cara yang baik, mengurus anak-anak dan rumah tangganya dengan benar, disamping dia juga memiliki tanggung jawab yang tidak kecil sebagai pelayan masyarakat atau wanita karir.

Seseorang yang bijaksana biasanya bisa menempatkan dirinya sesuai dengan kadar porsi yang dibutuhkan dalam setiap kegiatannya. Dan biasanya juga, orang yang memiliki peran kehidupannya lebih dari satu, akan mudah belajar dari setiap langkah yang ia pijakkan guna mencapai kualitas terbaik dalam dirinya. Pola pikirnya lebih matang dan bisa lebih cepat mencerna setiap permasalahan yang ada dan menukarnya dengan solusi yang bijak.

Substansinya, total dalam melaksanakan setiap amanah peran dalam hidup merupakan langkah awal mencapai kesuksesan. Dan jangan lupa pula peran kita sebagai khalifah di muka bumi juga harus tetap dilaksanakan agar kesuksesan tak hanya diraih di dunia namun juga di akhirat. Amiin. Barometer kesuksesan bukan hanya materi semata, namun totalitas dalam kualitas setiap peran kehidupan juga merupakan faktor penting dalam mencapai kebahagiaan dalam hidup.

Bahagia bukan hanya karna banyaknya harta yang dimiliki, namun bahagia terwujud dari rasa nyaman dan tenteram dalam menjalani kehidupan. Nikmati setiap fasenya, syukuri setiap anugerahnya, sabar dalam menghadapi cobaan, dan ikhlaslah dalam menerima jalan kehidupan.

nurlailazahra











sembari nonton Pesantren & Rock 'N Roll, dan bolak balik kasur-laptop karna mesti nemenin Rizky bobo dan ngerjain tugas :D