23 Maret 2011

Ketika Cobaan itu Menjadikanku "Naik Kelas"

Hari itu tepat empat hari tanteku dirawat diruang ICU Rumah Sakit Budhi Asih. Tepat di tanggal 17 Maret 2011, sekitar pukul 02.00 dini hari Rizky terbangun dari tidurnya. Biasa, memang agak rewel sejak ibunya dirawat dirumah sakit. Ketika kugendong tubuhnya, tiba-tiba aku merasakan sekujur tubuhnya panas. Ternyata suhu tubuhnya meningkat drastis. Langsung saja pagi itu nenek segera mencarikan obat sumeng pada saudaraku yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggalku. Rizky langsung kuminumkan obat tersebut. Tak lama setelah itu, suhu badannya agak turun dan kumpulan peluh menyelimuti sekujur tubuhnya. Awalnya hari itu aku berniat masuk ke kantor karena sehari sebelumnya aku sudah izin tidak masuk kerja. Namun karena keadaan yang memaksaku, akhirnya aku izin sehari lagi dari kantor.


Pagi harinya suhu badan Rizky sudah agak normal. Ia pun kutinggal mencuci pakaian, namun lagi-lagi ia maunya main air bersamaku. Awalnya sudah kularang namun ia menangis, alhasil kubiarkan saja ia main air, asalkan tidak membasahi tubuhnya, kupikir tak apalah. Toh ia hanya memasuk-masukkan tangannya saja ke dalam bak. Beberapa waktu berlalu, nenek dan Ulfa pamit padaku pergi kerumah sakit untuk menjenguk tanteku. Tinggal aku dirumah bersama dengan si Rizky dan ketiga sepupuku.

Sementara si Rizky tidur, ia kutinggal masak sebentar. Ketika aku sudah kelar memasak, tiba-tiba ada saudaraku yang silaturahim kerumah mengatakan kalau suhu tubuh Rizky naik lagi. Tubuhnya memang panas saat kutempelkan telapak tanganku di keningnya. Masya Allah. Aku mulai agak panik. Untungnya ibuku sudah pulang dari pasar dan membawa obat penurun panas dan obat batuk. Langsung saja kuminumkan obat penurun panas tersebut pada Rizky. Alhamdulillah panas tubuhnya sudah agak menurun, meski masih agak hangat bila disentuh tubuhnya. Keringatpun sudah mulai mengucur deras membasahi tubuhnya.

Keesokan harinya panas tubuhnya naik lagi. Aku dan keluarga kembali panik. Pagi sekitar pukul 05.00 WIB aku berniat membawa Rizky periksa darah ke Budhi Asih, tapi kata om ku pergi ke bidan saja yang buka praktek dirumah. Ya sudah, kuikuti saja sarannya. Setelah sarapan dan minum obat, panas tubuhnya kembali turun. Akhirnya aku bisa tenang berangkat ke kantor. Dikantor, aku selalu bertanya keadaan Rizky dirumah pada ibuku. Awalnya aku bisa cukup tenang mengetahui keadaan Rizky dirumah, akupun bisa kuliah dengan tenang di kampus. Namun ketika aku pulang dan mencari-cari Rizky, nenek bilang, ternyata Rizky dibawa periksa darah ke RS. Budhi Asih bersama dengan Om dan ibuku. Oh Rabb, langsung lemas rasanya diriku mendengar pernyataan nenek.

Dirumah, sungguh tak tenang rasanya aku melakukan apapun. Sampai pada akhirnya Om ku mengabarkan bahwa Rizky harus dirawat dirumah sakit karena ada infeksi dalam tubuhnya yang menyebabkan suhu panas tubuhnya turun naik. Lekosit tubuh normal yang seharusnya 10.000, tapi Rizky mencapai hingga 29.000. Oh, aku tak mengerti apa itu, tapi yang pasti aku langsung menyusul Rizky dirumah sakit naik motor dengan adik sepupuku.

Sesampainya di UGD, aku lihat ibuku tengah memegang tubuh Rizky yang hendak di tusukkan jarum infus. Ya Rabb, tak tega rasanya aku menghadapi hal itu. Namun aku harus kuat menghadapinya. Kubantu ibuku memegang tubuh Rizky sambil melihat dua orang perawat menusukkan jarum suntik ke lengan Rizky. Di lengan kiri tak ditemui urat nadinya, lalu pindah ke urat nadi lengan kanannya. Alhamdulillah ketemu. Tangisnya tak henti-henti sampai aku menggendong dan memeluknya. Yang paling menyayat hati, ia selalu memanggil-manggil ibunya, “mama…mama…”. Oh Rabb…

Tak berapa lama, sekitar pukul 22.00 Rizky akhirnya dapat kamar di lantai 5 ruang 510. Suhu badannya masih panas namun sudah agak sedikit tenang. Aku menjaganya malam itu bersama dengan kakak sepupuku. Malam itu Rizky sering sekali menangis sambil menyebut-nyebut “mama…mama…” Aku hanya bisa berdoa semoga Allah menyembuhkan tanteku.

Selama 3 hari 3 malam dirumah sakit, begitu banyak perasaan yang campur aduk dalam hatiku. Ada rasa lelah saat harus menghadapi Rizky yang tak henti-hentinya menangis kala ia ingat ibunya, ada rasa kantuk karena setiap malam aku tak pernah lelap tertidur hingga pagi menjelang, ada perasaan cemas karena khawatir sakitnya parah, ada perasaan sedih dan gelisah saat kurasakan ujian yang kualami begitu berat. Namun ada juga perasaan bahagia saat kulihat nafsu makan Rizky tak pernah menurun, malah cenderung meningkat. Dan mungkin hal itu yang menjadi salah satu faktor Rizky bisa cepat sembuh.

Senin pagi tanggal 21 Maret 2011 sekitar pukul 10.00 WIB, Rizky pulang dari rumah sakit. Aku senang sekali. Aku tak bisa menyaksikan kepulangannya kerumah karena saat itu aku masuk kerja. Aku hanya mengirimkan syukur pada Yang Kuasa karena Rizky sudah sembuh. Namun keesokannya, siang sekitar pukul 11.00 WIB, aku dapat kabar dari ibuku bahwa keadaan tanteku kritis. Langsung saja aku izin kembali dari kantor dan langsung meluncur kerumah sakit menggunakan angkot.

Sesampainya disana, kudapati beberapa keluargaku sudah datang. Aku langsung melihat keadaan tante diruang ICU. Ya Allah, sungguh tak tega rasanya melihat keadaannya kala itu. Kondisinya sudah tidak sadarkan diri. Nafasnya tersengal-sengal seperti kelelahan. Darah terus saja mengalir dari dalam mulutnya. Tubuhnya menjadi besar. Mungkin lantaran infusan yang tak henti-hentinya masuk dalam tubuhnya. Kulihat kakinya bengkak dan tubunya biru-biru seperti habis dipukuli. Aku hanya bisa beristighfar di depannya. Tak lama setelah itu aku keluar dan bergantian dengan saudaraku yang lain. Air mata tak henti-hentinya mengalir di pipiku.

Diruang tunggu, kuhidupkan murattal Surat Ar Rahman. Berharap agar hatiku bisa cukup tenang. Namun tak lama setelah itu, dokter menyuruhku dan keluarga untuk membacakan Qur’an dihadapannya. Oh Rabbi, apa maksudnya??? Beberapa keluarga masuk kedalam ruang ICU dan mendapati ruangan tanteku sudah ditutupi oleh tirai. Kakiku lemas. Namun kupaksakan untuk masuk kedalam. Disana kulihat nafas tanteku sudah tidak tersengal-sengal lagi. Keadaannya sudah lebih tenang. Namun apa arti dari ketenangannya itu? Aku dan suami tanteku tetap membacakan surat Al Qur’an dihadapannya, sampai tiba di pertengahan surat, dokter menyuruhku untuk minggir sebentar karena ia hendak memeriksa keadaan tante. Tapi sebuah pil pahit yang harus kutelan, tanteku ternyata telah tiada. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Aku dan kakak sepupu perempuanku langsung berpelukan cukup erat. Aku memeluknya dengan sangat erat karena sunguh-sungguh tak kuasa menerima kenyataan itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Namun kakak menyadarkanku bahwa semua itu adalah kehendak Allah swt. Bahwa mungkin Allah lebih sayang pada tante. Dan kata-kata bijak lainnya yang berusaha ia ucapkan untuk tetap menguatkan aku dan dirinya.

Tak lama berselang, aku langsung keluar dan menunggu jenazah tante dikeluarkan dari ruang ICU. Lagi-lagi air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi wajahku. Begitu juga dengan semua keluargaku. Aku langsung mengabarkan ibuku dirumah bahwa tante telah tiada. Anak pertama tante yang memang tak ikut kerumah sakit, sudah pingsan duluan dirumah. Jenazah sudah dikeluarkan dari ruang ICU. Aku sempat membuka kain penutup wajahnya. Kutatapi wajahnya. Begitu tenang dan ikhlas. Seluruh tubuhnya bengkak. Kusentuh lengan kirinya, terasa amat keras. Aku sungguh tak tega melihatnya.

Setelah membacakan surat Yasin sebentar, lalu aku langsung pulang berdua dengan kakak sepupu perempuanku. Sepanjang jalan banyak yang kami kisahkan tentang masa lalu kami bersama tante. Jujur, aku tak pernah sanggup menahan laju air mataku.

Sesampainya dirumah, aku langsung memeluk nenekku. Aku berusaha menguatkan beliau dengan berbagai ucapan yang kumampu. Tak lama setelah itu, kuhampiri anak perempuan pertama tante, Ulfa, yang tadi sempat pingsan. Ia masih terkulai lemas diatas kasur sambil menangis. Kembali ia kupeluk dan kukuatkan dengan sugesti yang kubisa. Bahwa semua yang terjadi ini adalah ketetapan-Nya. Bahwa semua yang teah terlewati, mungkin ada sedikit andil kita sebagai makhluk yang tak pernah luput dari salah dan dosa. Bahwa mungkin, memang kita menyayangi tante, tapi yakinlah, bahwa Allah lebih sayang padanya. Ia kusuruh menangis bila dengan hal itu bisa membuatnya sedikit lega.

Aku mencari Rizky, ternyata tengah tertidur di kamar Om ku. Tak lama jenazah tante tiba dirumah duka. Jerit tangis senantiasa mewarnai suasana duka kala itu. Tak terkecuali aku. Tak lama setelah itu, Rizky bangun dari tidurnya. Ia langsung kugendong dan kutemukan ia dengan jenazah ibunya. Sesaat ia menatap wajah alm. Ibunya, tapi setelahnya ia menangis sejadi-jadinya. Segera saja ia kubawa keluar rumah untuk menenangkan diri.

Prosesi pemandian dan pengkafanan sudah selesai, aku yang tengah menyuapi Rizky, langsung dipanggil oleh ibuku. Dengan maksud untuk mencium jenazah tante untuk yang terakhhir kalinya. Awalnya aku ingin sekali menciumkan Rizky ke ibunya, tapi sebelum sempat ia kudekatkan ke ibunya, ia sudah keburu nangis duluan. Aku pun tak tega melihatnya. Setelah mencium alm. Tante, aku langsung membawa Rizky keluar rumah lagi.

Ba’da Maghrib, jenazah tante langsung dikebumikan di pemakaman Tanjung Barat. Aku dan Rizky mengiringi kepergian tante sampai setelah ia di sholatkan. Orang-orang menyuruh kami untuk melewati kolong keranda sebanyak tiga kali. Dengan maksud agar Rizky tidak selalu ingat dengan alm. Ibunya. Setelah itu, beberapa orang tersebut, siap membawa jenazah tante ke mobil ambulance. Aku dan Rizky menatap mereka membawa keranda dengan perasaan sedih. “Selamat jalan mama….” Kubahasakan hal itu pada Rizky. Kusuruh ia melambaikan tangannya sambil berucap, “Dadah mama…….”. Sesak dalam hati yang kurasa. Aku sengaja tak membawa Rizky ke pemakaman karena sudah malam. Aku kembali ke rumah dengan perasaan yang tak menentu.

Malam hari Rizky kembali tidur bersamaku. Alhamdulilah tidurnya nyenyak. Hanya saja, ketika Rizky mendusin dari tidurnya sesaat dan kembali tidur, aku malah yang tak bisa tidur. Kulihat jam menunjukkan pukul 01.45. Aku baru menyadari, bahwa ternyata tante telah tiada dalam kehidupan kami. Kutatapi keempat anak tante yang memang sejak tante di ICU, mereka tidur denganku di ruang tengah. Mereka masih teramat kecil dan lugu untuk dipisahkan dengan ibu mereka. Aku tak habis pikir, bahwa ternyata mereka sudah tidak memiliki ibu. Masa depan mereka masih panjang, kehidupan yang harus mereka lalui masih penuh liku. Dan mereka harus melewati aral kehidupan, tanpa adanya sosok seorang ibu. Terlebih lagi Rizky, yang belum mengerti bahwa ternyata ibu yang selalu ia rindukan, ternyata sudah tidak bisa ia temui lagi untuk selamanya.

Banyak pelajaran yang bisa aku dan sekeluarga ambil. Begitu banyak hikmah yang bertaburan dibalik peristiwa ini. Kini, tak ada gunanya meratapi masa yang telah lalu, biarlah yang telah terjadi, menjadi sebuah pembelajaran bagi kami yang masih hidup. Kini tinggal menatap lurus kedepan untuk melanjutkan hidup yang ada. Masih ada 5 anak sebagai amanah tante pada kami sebagai keluarga yang masih hidup. Kami harus bahu membahu membesarkan mereka agr bisa tumbuh menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua dan keluarga mereka.

Ada satu keinginanku saat ini, jika suatu saat aku menemukan jodohku, aku harap ia yang bersedia berbagi sisa hidup denganku, dengan senang hati juga mau menerima Rizky sebagai anaknya. Sebab aku berencana akan menjadikan Rizky sebagai anak asuhku. Itu azzamku sampai kapanpun.

“Selamat jalan tante, tenanglah kau disisi-Nya. Tak perlulah kau cemaskan anak-anakmu. Insya Allah mereka akan baik-baik saja bersama kami disini. Ikhlaskanlah mereka tan, agar mereka pun bisa ikhlas melepas kepergianmu, khususnya Rizky, yang selalu menyebut namamu…..”

Sekali lagi, selamat jalan tante…

4 komentar:

Anonim mengatakan...

terharu, semoga apa yang diinginkan tercapai, dan Allah selalu melindungi keluarga yang ditinggalkan

nurlailazahra mengatakan...

amiin ya Rabb, mksh ya

uci cigrey mengatakan...

amin, tetep semangat
kenangan menjadi pelajaran

Nia mengatakan...

duhh aku ngga bisa membendung air mata....sedih sekali karena tante meninggalkan ke 5 anak2nya yang masih kecil. Tapi beruntung masih ada orangtua dan saudara yang bisa menggantikan posisi sbg ibu.

Smoga Tante tenang dialam sana, smoga segala amal ibadahnya diterima dan segala dosa2nya dihapuskan. aamiin....

Mudah2an yach nanti nurlaila dapat suami yang mau menerima rizki sbg anaknya juga. aamiin...