20 Agustus 2009

Semua Berawal dari Hal-Hal yang Kecil


Dulu, dulu sekali. Saat usia saya masih terbilang anak-anak, orang tua saya memasukkan saya ke sebuah Taman Pendidikan Al Qur’an. Kala itu, ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore, saya begitu semangat untuk pergi mengaji. Namun terkadang, ada saatnya titik kejenuhan itu menghampiri perjalanan masa kanak-kanak saya, dalam menapaki perjalanan usia.


Bila kejenuhan itu tiba, terkadang saya pura-pura tidur agar ibu saya tidak menyuruh saya untuk pergi mengaji, karena pikiran saya kala itu, belajar mengaji setiap hari sangat membosankan. Tapi itu dulu. Saat usia saya masih melewati fase anak-anak.

Sekarang, saya baru menyadari mengapa Ibu saya dulu selalu memarahi saya ketika saya malas untuk mengaji. Ya, karena mengaji adalah salah satu kewajiban bagi setiap muslim. Mengaji bukan hanya bisanya seseorang dalam membaca Al Qur’an, namun ilmu tajwid, tartil, serta pemahaman akan isi Al Qur’an itu sendiripun juga wajib dipelajari. Karena kini saya sadar, mengaji bisa membawa saya pada ketenteraman dan kedamaian. Dan karena memang Al Qur’an itu pun adalah petunjuk bagi kehidupan saya dan juga semua manusia di muka bumi ini.

Di TPA itu pun juga diajarkan tata cara shalat yang baik dan benar. Awalnya saya merasa letih ketika harus berhadapan dengan guru yang mengajarkan saya shalat. Namun kini saya menyadari, kalau saja kala itu saya tidak belajar shalat dari kecil, maka bisa jadi saat ini saya pun tidak bisa shalat. Kalaupun bisa, kemungkinan shalatnya itu tanpa esensi apapun. Hanya sekedar menggugurkan kewajiban, dan mungkin sikap keji dan munkar itu masih terus melekat pada diri saya – meskipun belum ada jaminan juga apa saat ini saya sudah terlepas dari perbuatan keji dan munkar itu – (paling tidak diminimalisirkan). Tapi Alhamdulillah Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar shalat dari kecil dan hal itu memberikan banyak manfaat untuk saya sampai saat ini.

Waktu kecil, setiap kali lebaran tiba, saya masih ingat betul Ibu saya selalu membelikan baju baru untuk saya dengan berbagai macam bentuknya. Tapi yang selalu saya ingat, Ibu tak pernah membelikan saya baju yang mengumbar aurat. Semuanya itu terlihat sopan. Sebagai anak kecil, jelas saya juga ingin memakai baju yang sama seperti anak kecil lainnya pada umumnya. Namun Ibu saya tak menuruti keinginan saya dan pada akhirnya saya “ngambek”.

Namun kini saya sadar, semua itu Ibu lakukan, karena ia hanya ingin menimbulkan rasa malu sebagai perhiasan pribadi saya. Begitu juga busana muslim. Ibu saya juga menyuruh saya mengenakan kerudung setiap kali pergi mengaji. Tapi terkadang saya melepas kerudung itu ketika kegiatan mengaji usai dan menyampirkannya di bahu saya. Namun kini saya sadar, dengan seringnya Ibu saya menyuruh saya berkerudung, itu membuat saya menjadi lebih terjaga saat ini. Dengan berpakaian muslimah, saya merasa lebih aman dan lebih dihargai oleh orang lain. Dan itulah maksud Ibu saya menyuruh semua hal kebaikan itu.

Saya yakin ketika Ibu saya menyekolahkan saya, bukan karena alasan agar kelak ketika saya besar, saya bisa membalas jasa beliau dengan bekerja untuknya. Namun karena memang Ibu saya hanya ingin melihat saya berpendidikan dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman dan era globalisasi. Dan dari semua hal itu, membuat saya menjadi lebih bersemangat dalam mencari berbagai ilmu yang bermanfaat.

Ibu saya juga tak pernah membantu saya melakukan segala hal yang baru, sebelum saya melakukan usaha itu sendiri. Ketika dirasanya saya butuh bantuan, barulah ia membantu saya dengan penuh ketulusan. Awalnya saya sempat kesal ketika Ibu saya hanya diam melihat saya kesulitan dalam melakukan satu hal baru, namun dari semua hal yang Ibu saya lakukan, mengajarkan saya bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu haruslah dengan kerja keras dan tidak dengan cara yang instan. Dan saat ini, pelajaran itu sangatlah berguna untuk saya. Pantang menyerah, penuh kerja keras, dan menjauhi segala cara yang tidak benar, demi mendapatkan sesuatu yang saya inginkan.

Ibu saya juga mengajarkan saya untuk mempertahankan kejujuran. Karena dengan kejujuran bisa membawa kepercayaan orang lain terhadap saya. Dan juga dengan kejujuran, bisa membuat saya lebih tenteram dan lebih bahagia.

Masih banyak yang Ibu saya ajarkan tentang kebaikan dalam kehidupan ini sejak saya masih kecil. Tentang kesabaran, keikhlasan, kedermawanan, yang semuanya itu membuat saya semakin lebih dewasa dan lebih mengerti akan arti kehidupan yang hanya sesaat saya jalani ini.

Inilah kebaikan yang sudah dimulai sejak kecil. Sebuah kebaikan kecil yang berdampak amat besar untuk saya dan para generasi lainnya.

NZ (sarah)

4 Agustus 2009

Di Suatu Sore, Sepulang Kerja


Tak seperti hari-hari biasanya yang setiap kali pulang kerja aku selalu bareng dengan teman-teman kantorku. Sore ini aku pulang lebih awal, mendahului teman-teman kantorku yang lain karena tugas mengajarku telah menanti. Aku langsung bergegas keluar kantor setelah merapikan ruang kerjaku dan berpamitan pada sebagian teman-teman di ruangan sebelah. Diluar kantor, aku menunggu mobil angkot.

Tak berapa lama, mobil angkot berwarna merah melintas dihadapanku. Tanpa berlama-lama lagi aku langsung menghentikan mobil tersebut kemudian aku menaikinya dengan harapan mobil itu langsung jalan agar aku tidak telat sampai ketempat mengajar.

Ketika aku sudah didalam mobil, aku memilih duduk tepat dibelakang supir angkot sambil membaca sebuah tulisan Mbak Azimah yang aku print di beberapa lembar kertas. Sesekali kuarahkan mataku pada seorang lelaki berjenggot tipis yang wajahnya tak asing lagi buatku. Dia bekerja ditempat yang sama dengan divisi yang berbeda denganku.

Dia berdiri tak jauh dari mobil yang aku tumpangi. Entah mengapa dia tak juga menaiki mobil tersebut. Pikirku mulai berkelana, apa mungkin dia tidak mau naik karena ada aku? Aku berpikiran seperti itu bukan karena su’udzan atau pun ke-GR-an, tapi karena aku melihat aura kealiman pada dirinya sehingga mungkin dia tidak mau naik ke mobil karena risih ada aku disana, yang notabene-nya seorang akhwat.

Tapi tak lama setelah itu, aku lihat dia berjalan mendekati mobil yang aku tumpangi dan dengan segera ia masuk kedalamnya. Awalnya kukira ia akan duduk dipojok mobil karena suasana dimobil saat itu sangat lengang. Hanya ada aku dan seorang lelaki paruh baya yang duduk didekat pintu. Namun yang tak pernah kukira, dia ternyata memillih duduk disebelah kiriku. Lebih tepatnya hanya berjarak beberapa centi dariku.

Bukan rasa senang yang timbul dalam hatiku karena bisa duduk dekat dengan seorang ikhwan alim. Bukan juga rasa gugup yang membuncah dikedalaman relung hati saat mobil perlahan jalan dan menaikan penumpang satu demi satu di setiap putaran rodanya. Tapi justru rasa heran dan sedikit rasa kesal yang menyeruak dihatiku saat tubuhnya semakin lama semakin dekat denganku karena sesaknya penumpang yang terus saja menjejal masuk kedalam mobil.

Tiba-tiba aku merasa risih. Aku heran, kenapa ia memilih duduk disebelahku? Kenapa dari awal ia tak memilih tempat duduk yang jauh dariku? Nasi sudah menjadi bubur. Akupun sudah tak dapat lagi berpindah ke posisi manapun. Sesekali ‘ikhwan’ itu mengalihkan pandangannya keluar kemudian kembali membaca buku yang dipegangnya.

Selama perjalanan, rasa tak nyaman terus saja menemani raga dan perasaanku. Entah mengapa aku jadi sedikit kesal pada ikhwan yang ada disebelahku itu. Kenapa dia harus duduk disebelahku? Apa mungkin dia bukan ikhwan sejati? Tapi, kalaupun dia bukan seperti itu, kenapa dia harus duduk disebelahku? Kenapa dia bukan duduk jauh dariku?

Wajahku memang tidak cantik, tapi aku juga berhak untuk tetap menjaga diriku ini. Apa aku tidak boleh marah dan kesal? Akhirnya aku turun tepat di depan Ramayana Pasar Minggu. Hatiku lega karena akhirnya aku bisa keluar dari kondisi seperti itu.

Sampai sekarang, aku masih sedikit kesal bila mengingat hal itu. Semoga aku, dan kita semua bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menghampiri kehidupan kita. Amiin.

23:13 Kamis 03/07/2008
By NZ (Sarah)