16 Januari 2012

Melapangkan Hati dengan Berpikir Positif

(Mencoba mengambil banyak hikmah dari kemacetan)

Sekali lagi perempuan paruh baya itu membasuh peluhnya yang mengalir dari pelipis kanannya. Namun peluhnya kali ini bukanlah peluh yang tak memiliki arti. Ia membasuh peluhnya itu dengan penuh rasa senang di hati. Bukan lain karena hari ini hasil penjualan minuman dinginnya di pertigaan lampu merah melebihi pemasukannya beberapa hari terakhir. Ia cukup bersyukur karena orang-orang yang terjebak macet di jalan banyak yang membeli minuman dingin padanya untuk melepas dahaga di tengah penatnya kemacetan.


* * *

Di dalam mobil Avanza berwarna hitam itulah sepasang suami isteri itu akhirnya memutuskan untuk menghilangkan ego masing-masing yang membuat rumah tangga mereka hampir saja kandas di tengah jalan. Tangisan anak mereka yang memecah di tengah kemacetan telah membuat mereka menyadari bahwa mempertahankan ego itu bukanlah hal yang benar, malah justru akan membuat hidup mereka hancur, terutama mengorbankan kebahagiaan anak mereka.

* * *

Kulit kerutnya memang tidak bisa membohongi kenyataan kalau ia sudah sangat tua. Seorang perempuan muda yang tengah menaiki motor matic di hadapannya ternyata telah terjebak kemacetan selama beberapa menit. Dan ternyata hal itu menggerakan hatinya untuk memberikan sesuatu pada pengemis yang ada di hadapannya. Jelas hal itu sungguh membuat kerut di wajah sang pengemis itu mengembang cukup lebar. Bagaimana tidak, sepagian ia duduk di pinggir jalan, namun baru sore ini ia mendapatkan lembaran rupiah yang ia harapkan sejak mentari terbit. Dan ia bersyukur akan hal itu.

* * *

Ahhh….musim liburan yang belum lama ini berakhir ternyata berdampak kemacetan bagi sebagian jalan-jalan utama di Jakarta, tak terkecuali akses jalan yang melintasi kantor saya yang berujung di Kebun Binatang Ragunan. Alhasil ketika pulang kerja, kemacetan itu sukses membuat saya dan teman saya berjalan kaki sekitar 1 km dalam beberapa hari terakhir liburan untuk menghindari kemacetan dan mendapatkan angkot yang tidak melulu penuh. Ternyata hal itu tidak terlalu menyebalkan untuk saya dan teman. Karena dalam “jalan-jalan sore” itu kami dapat menceritakan banyak hal dan tertawa bersama sambil menikmati udara sore yang jarang kami rasakan secara "utuh" jika kami langsung naik angkot dari depan kantor.

Selain itu, “jalan-jalan sore” itu juga banyak memberikan kami pelajaran, terutama tentang kesabaran dan keikhlasan. Sabar menanti angkot yang kosong, sabar menikmati kemacetan yang tak kunjung hilang, dan ikhlas jika beberapa hari itu kami harus jalan sepulang kerja. Dan ternyata, kemacetan beberapa hari itu telah mengajarkan pada saya, sang teman, dan mungkin kepada kita semua bahwa kemacetan tidak selamanya merugikan semua orang. Kita bisa lihat ketiga contoh di atas yang telah dipaparkan. Dan sebagian contoh itu mungkin saja pernah menghiasi kondisi macet yang kita alami. Sebagian kita mungkin menganggap bahwa macet merugikan banyak pihak. Namun jika kita mau berpikir positif, ternyata kemacetan juga bisa membawa “keuntungan” bagi sebagian yang lain. Namun lain halnya jika yang membuat kemacetan adalah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti supir-supir kopaja atau metromini yang seenaknya mengambil jalur kendaraan lain. Mungkin masing-masing kita punya caranya sendiri untuk membuat hal itu terminimalisir.

Hal di atas, mungkin sama halnya ketika tahun baru tiba yang belum lama ini kita lalui. Sebagian kita mungkin menganggap bahwa perayaan tahu baru itu tidak penting bahkan sampai ada yang anti dengannya. Mau dirayakan atau tidak, tetap saja tahun akan memasuki usianya yang baru. Sebagian kita mungkin akan merasa terganggu dengan bising dan berisiknya suasana yang diciptakan oleh kemeriahan tahun baru, termasuk juga timbulnya kemacetan di mana-mana. Namun pernahkah kita berpikir bahwa dibalik perasaan terganggu kita itu, ternyata ada sebagian lain yang merasakan keberkahan di tahun baru? Ya, mereka adalah para penjaja kembang api, penjual makanan dan minuman siap saji, penjual arang, penjual jagung, dsb. Mungkin saja momen-momen seperti itulah yang selalu mereka tunggu-tunggu untuk bisa pulang dengan membawa uang yang lebih untuk keluarga mereka.

Sekali lagi, berpikir positif ternyata tidak terlalu membuat kita susah. Tapi malah justru kembali menimbulkan rasa syukur yang terdalam kita karena di tengah ketidaksukaan kita terhadap sesuatu, ternyata hal itu justru memberikan sebuah keberkahan bagi sebagian yang lain. Dan bersyukurlah, karena kita masih bisa menikmati semua itu, meskipun tidak dengan porsi yang sesuai dengan keinginan kita. Yang penting masih bisa menikmati. Itu intinya :) Karena berpikir positif akan melahirkan sebuah kelapangan hati yang tiada terkira.

18 komentar:

Della mengatakan...

Iya Sarah, setuju banget. Yuk, temenin aku berpikir positif ;)

@yankmira mengatakan...

suka sama artikel ini. semoga aku pribadi bisa menjadi pribadi yang lebih positif yaaa. makasih sudah berkunjung di blog ku :)

Aji Prast mengatakan...

ijin baca ya...

Andy mengatakan...

aku tambahin ya mba,berfikir positif + bertindak positif biar lebih selars hidup ini

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

susah susah gampang itu berpikir positif..

Zian mengatakan...

jadi tercerahkan berkat baca postingan ini. :)
thnks...

Ririe Khayan mengatakan...

Berpikir positif akan membawa energi positif dan membawa ketenangan dalam melakukan segala aktifitas tentunya

Fahrie Sadah mengatakan...

Dengan berfikir positif kita bisa terhindar dari sifat dengki.. ^^

Gaphe mengatakan...

gak tau saya yang aneh atau gimana yah, karena terkadang Jakarta tuh justru yang bikin kangen adalah macetnya loh!.

saya selalu ngerasa kangen kalo ngalamin macet di jakarta.. dan kemarin untung bisa ngobatin kangennya karena sempat ke jakarta

yaa. dibalik sesuatu yang mungin kita anggap kurang.. ternyata malah jadi sesuatu yang dinanti oleh banyak orang lain ya?

fitra hart mengatakan...

yuk berpositif ria.....;)

Corat - Coret [Ria Nugroho] mengatakan...

iya sih tp kebanyakan orang lebih mementingkan ego sendiri dgn berpikir negatif ^^

Della mengatakan...

Sarah, ternyata komen kamu yang di sini masuknya ke spam. Baru aja aku keluarin :)
Iya aku pernah menang sayembara cerpen femina 2009.
Aku daerah Jakarta Barat, kamu di mana?

puteriamirillis mengatakan...

waah walo lagi macet tetep dapet hikmah yaaa ahra, ada pr dari aku nih http://puteriamirillis.blogspot.com/2012/01/resolusi-12.html#more

Orin mengatakan...

Sepakat Sarah, kalo kita mau sedikit berempati dg sekeliling, memang pasti ga akan ngeluh ya he he*jitak diri sendiri*

Nufus mengatakan...

Ayo berfikir positif! :) :) nice share..

Salam Sarah. ini aku Haya yg ketemu di Studium Generale kmrn. ^__^

Yunda Hamasah mengatakan...

Ayo selalu berfikir positif, saling ngingetin yok...

anak-jelex mengatakan...

kunjungan hangat.. kunjung balik ya. jangan lupa follow nya.. :D

Pesta ulang tahun mengatakan...

nice post :)