1 Februari 2012

Karena Rejeki tak Pernah Salah Pintu

Di suatu pekan di pertengahan bulan Januari lalu, saya menyempatkan diri pergi ke pasar bersama Rizky untuk berbelanja sayuran. Kebetulan ibu saya juga berjualan sandal di sana, dan saya pun menyempatkan diri pula mampir ke tempat ibu saya berjualan. Jualan ibu saya memang hanya sandal-sandal kualitas kaki lima yang dijual dengan harga yang cukup murah, yang bisa dijangkau oleh semua kalangan. Jualan ibu saya pun tidak dengan jumlah yang sangat banyak, tapi paling tidak dari hasil jualan itu bisa cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan keluarga saya sehari-hari.

Pada kesempatan itu, saya juga melihat seorang penjual laki-laki tidak jauh dari tempat ibu saya berjualan yang juga berjualan sandal yang tidak jauh berbeda dengan ibu saya. Hanya saja yang membedakan ia dan ibu saya adalah barang-barang yang diperjual belikan sangat banyak, sehingga membuat ibu saya berbisik kalau barang dagangannya kalah saing oleh penjual laki-laki yang ada di dekatnya. Lanjutnya lagi, kebanyakan pembeli lebih memilih ke penjual itu ketimbang ibu saya karena mungkin pilihannya yang lebih banyak dan dengar-dengar harganya jauh lebih murah.

Sebagai seorang anak, mendengar ibu saya “mengeluh” seperti itu rasanya tidak tega juga. Sebab dengan melihat langsung ibu saya berjualan, saya jadi lebih tahu dan lebih mengerti bahwa mencari uang - apalagi dengan perjuangan ibu yang berjualan di pasar – sangatlah tidak mudah. Tidak jarang panas dan hujan menjadi pengiring perjuangannya demi menghidupi saya dan keluarga.

Cukup lama saya dan Rizky berdiam diri di tempat ibu saya berjualan. Sekedar menemani waktu senggangnya menunggu calon pembeli datang, meskipun kebanyakan dari mereka datang hanya untuk sekadar melihat, menawar, dan setelah itu pergi. Tidak jadi membeli. Dalam hati saya hanya bisa berdoa, semoga Allah masih berkenan mendatangkan pembeli untuk membeli jualan ibu saya. Meskipun tidak membeli banyak, tidak mengapa, asalkan bisa jadi “penglaris” untuk jualan ibu saya pagi itu. Dan Alhamdulillah doa saya dikabulkan Allah. Tak lama berselang pembeli pun datang. Ya sesuai dengan pinta saya, meskipun tidak membeli banyak, tetapi pembeli yang satu seolah menjadi “pemancing” pembeli yang selanjutnya untuk datang.

Dan setelah itu saya baru menyadari, bahwa setiap manusia memang memiliki rejekinya masing-masing. Rejeki itu pun akan datang sesuai dengan kadar usaha yang telah kita upayakan. Dan tampaknya, rejeki tidak jauh berbeda dengan ujian yang kita terima dari Allah. Karena sejatinya rejeki adalah ujian bagi kita. Apakah kita bisa mempergunakannya dengan baik atau tidak, semua itu tergantung dari penyikapan kita terhadap rejeki itu.

Allah punya alasan sendiri mengapa Ia tidak serta merta memberikan rejeki yang berlimpah ruah kepada kita, salah satunya adalah agar kita mau berusaha dalam setiap pencarian rejeki itu. Dan juga agar Allah bisa tahu seberapa besar kita dapat bersabar jika diberi rejeki sedikit dan seberapa besar kita dapat bersyukur jika diberi rejeki yang banyak. Mengapa Allah hanya menurunkan hujan air pada kita dan tidak pernah menurunkan hujan emas? Karena Ia tahu bahwa air bisa menyuburkan tanah yang gembur, dan ternyata begitu banyak manfaat yang dapat kita rasakan dari turunnya air hujan sehingga hal itu bisa memperpanjang usia rejeki kita.

Seperti halnya cobaan yang Allah berikan kepada kita, yang porsinya pasti berbeda-beda bagi setiap manusia, begitupun dengan rejeki. Allah pasti lebih tahu kadar kemampuan kita atas cobaan dan rejeki yang kita terima selama ini. Apakah yang membedakan gaji seorang staf dengan seorang direktur kalau bukan jabatannya? Sekali lagi, Allah hanya akan memberikan kita rejeki sesuai dengan usaha dan porsi kemampuan kita dalam pencapaian dan penerimaan rejeki itu.

Menilik dari pengalaman saya di atas, betapa saya sangat menyadari bahwa ternyata Allah tak pernah salah dalam memberikan pintu rejeki pada setiap hamba-Nya. Dan karena memang rejeki tak pernah salah pintu, makanya kita tidak boleh berputus asa dalam berusaha. Karena merujuk pada janji-Nya, bahwa manusia pasti akan mendapatkan apa yang diusahakannya sesuai dengan izinNya.

nb: makanan ini, aku buat dengan cinta untukmu Ma :)




22 komentar:

Naya Elbetawi mengatakan...

Yaah...rezeqi orang kaga akan pernah tertuker :) *semangattt kakakk*

.:diah:. mengatakan...

Subhanallah, Allah emang tidak pernah salah dalam memberi. dan rejeki kita itu tidak pernah tertukar
ooh so sweet, sayurannya nyamii nih keknya, diuat dengan penuh cinta pula ;)

Andy mengatakan...

rejeki semua manusia termasuk kita kagak bakal ketuker atau hilang yang penting kita sebagai manusia harus berusaha mengejar rejeki tsb alias jangan males2an

alaika abdullah mengatakan...

Bener banget, Allah telah mengatur rezeki bagi setiap umatNya.. tinggal kita harus berupaya untuk meraih rezeki yang telah diaturNya...

btw, masakannya bikin ngiler lho... yummy...:)

Della mengatakan...

Terima kasih Sarah, lagi-lagi postingan yang menyegarkan qolbu ;)

Btw sarapanku tadi pagi juga tumis wortel-jagung-bakso, hehehe..

putri marulia mengatakan...

Rejeki sudah disiapkan olehNya... kita tinggal berusaha membuat dia dekat dengan kita. Semangat Sarah... ^^

Lyliana Thia mengatakan...

tulisanmu membuat aku merenung, Sarah.. benar rezeki itu tak pernah salah pintu... dan kita jg harus berusaha juga utk menjemputnya...

mudah2an Allah membukakan selalu pintu rezeki utk Ibunda Sarah, Sarah, dan juga kita semua.. amin

Fahrie Sadah mengatakan...

Seperti burung yang selalu keluar pagi hari dan kembali pada malam hari dalam keadaan kenyang.. #Asalmauusaha ^^

uci cigrey mengatakan...

:"> bener yah sar, emang ngga pernah salah, ngga salah alamat :D
Aku mau sambelnya sar.
salam buat rizky

@yankmira mengatakan...

titip salam untuk mamanya yaa... Semoga Allah selalu melancarkan segalanya. Itu ko samblenya bikin ngiler ya, sruup

Yunda Hamasah mengatakan...

Sepakat dek, rezky kita sudah ada yang ngatur, tak akan salah pintu ;)

BlogS of Hariyanto mengatakan...

sesungguhnya ALLAH MAHA MENGETAHUI apa yang dibutuhkan hamba-NYA :-)

Bunda Kanaya mengatakan...

semoga dagangannya makin laris yaa

Haya Nufus mengatakan...

So wise Sarah...ayo kita rajin2 berdoa agar Allah membuka pintu rezeki untuk kita.... btw aku pingin bgt sambelnya tuh....syruppp!! :D capcainya jg keliatan eunak... ^^d

Atma Muthmainna mengatakan...

asalkan kita mau berusaha dan terus berdoa.insyaALLAH rezki itu datang dengan sendirinya...

oia,jadi laper liat ulekan cabenya..berasa udah ada didepanku nih hehee

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

bener. rejeki itu dari Dia. jadi gak usah terlalu cemas. yg penting sudah berusaha sebaik mungkin. btw, itu sambalnya menggoda amat

Elsa mengatakan...

bener bener
rejeki gak akan kesasar

suka banget sama postingan yang ini
karena aku juga sering merasakan apa yang Ibu rasakan tadi

Nia mengatakan...

bener banget... mencari uang itu ternyata ngga mudah...aku juga pernah ngalamin....aku coba2 ikutan bazaar....dalam bayangan aku tempatnya rame dan pengunjungnya bakal membludak...ternyata oh ternyata.....tempatnya sepiii dan alhasil seharian itu aku ngga dapat pembeli satu orangpun....asli baru sekali itu aku ngrasain rasanya berjualan secara langsung...krna selama ini kan biasanya cuma online...tinggal nunggu orang sms...aku bals...uang dtrasnfer...barang dikirim.....

r10 mengatakan...

aku juga yakin dengan rezekiku, jadi tidak perlu iri dengan rezeki orang lain yang terlihat lebih baik

tetap istiqomah dengan Allah

khansa with passion mengatakan...

salam kenal ya mb..
tulisannya bguss..
;)

khansa with passion mengatakan...

salam kenal..
tulisannya bagus mb..
;)

DokterGigiGaul mengatakan...

Like This :)