24 September 2009

Tips Mengelola Virus C 1 N T 4 Yang Baik

Seringkali kita merasa tabu untuk membicarakan ‘Cinta’. Entah karena tak pantas, atau memang persepsi mayoritas orang yang membuat tabu akan hal itu. Tapi kali ini, saya akan coba membahas hal itu dari sudut pandang yang berbeda. Di suatu waktu, pernah seorang sahabat di facebook berkomentar pada saya, “Ukhti, coba anti yang membahas tentang cinta yang terpendam / cinta yang bertepuk sebelah tangan”. Wow !!! menjadi sebuah tantangan nih buat saya. Ok, saat ini saya akan coba membahasnya.


Sebenarnya jatuh cinta dengan lawan jenis itu hukumnya apa sih? Islam tidak mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri manusia. Akan tetapi, cinta itu harus dijaga dan dilindungi dari kehinaan dan kekotoran. Cinta pada lawan jenis bukan sesuatu yang kotor. Bahkan ia sesuatu yang suci. Dan pernikahan adalah “bingkai” yang dapat menjaga kesucian itu. Cinta tidak haram dan tetap terjaga kesuciannya selama tidak menimbulkan kemaksiatan pada Allah. Inilah yang harus digarisbawahi karena seringkali dengan dalih cinta, namun menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan.

Pernikahan adalah solusi mutlak bagi dua insan yang tengah jatuh cinta. Tapi hal itu tidak terlepas dari kesiapan fisik, mental, dan materi dalam menuju gerbang pernikahan. Jika kedua belah pihak masing-masing sudah mapan dan siap, sebaiknya jangan pakai ditunda-tunda lagi sebab kebaikan haruslah disegerakan.

Seorang antropolog asal AS, Helen Fischer, menemukan kesimpulan yang amat “berani”. Setelah melakukan penelitian selama beberapa tahun, ia menyatakan bahwa cinta itu tak abadi. Daya tahan cinta hanya 4 tahun saja. Ia menemukan betapa kasus perceraian mencapai puncaknya ketika usia pernikahan mencapai usia 4 tahun. Kalaupun masa 4 tahun itu terlewati, kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kalau mau main hitung2 an, rasanya seru juga. Misal, masa pacaran telah dilalui 3 tahun, berarti kesempatan untuk bisa mempertahankan gelora cinta hanya ada di tahun pertama pernikahan. Lalu apa yang terjadi ketika masa pernikahan menginjak tahun kedua, ketiga, dan seterusnya? Cuma ada sisa-sisa / bahkan punah sama sekali. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengalami masa pacaran lebih dari 6 tahun?

Maka dari itu saya tekankan bagi mereka yang sudah mapan dan siap, bersegeralah untuk menikah dan jangan ditunda-tunda lagi. Hal ini untuk menghindari hilangnya gelora cinta bila yang dilakukan hanya pacaran bertahun-tahun tanpa ada realisasinya dalam wujud pernikahan. Makanya tak jarang orang-orang yang sudah melakukan pacaran selama bertahun-tahun, hubungan mereka kandas ditengah jalan karena mungkin dari masing2 mereka sudah jenuh dengan pasangannya (gelora cintanya sudah hilang) dan memutuskan untuk mencari pasangan yang lain. Juga karena sesuatu yang belum halal, secara paksa telah mereka rasakan.

Lalu bagaimana bagi mereka yang hanya bisa memendam cintanya dalam diam, dalam hati, cinta terpendam, atau bertepuk sebelah tangan? Mungkin hal ini yang masih belum bisa disikapi secara baik oleh masing2 kita. Banyak yang merealisasikan perasaan cinta itu dengan menjalin hubungan tanpa status alias pacaran. Padahal mungkin masing2 kita tahu bahwa dalam berpacaran, banyak hal-hal haram yang justru dihalalkan dengan cara pemaksaan.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32).

“Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. Sabdanya : "Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti atau tidak mengikuti." (Hadits Shahih Muslim No. 2282)

Lalu, ada tidak sih pacaran yang islami? Jelas tidak. Pacaran itu bid’ah (mengada-ada), jadi tidak ada istilah pacaran islami. Terlepas dari alasan karena Allah / tidak, pacaran tetap diharamkan karena tidak merujuk pada syariat Islam. Khawatir jika pacaran ada embel-embel islaminya, maka judi pun juga bisa ditambahkan embel-embel islami oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Jadi apa yang harus dilakukan bagi mereka yang “katanya” jatuh cinta, namun belum saatnya / tidak bisa memiliki? Hal ini sebenarnya susah-susah gampang, tergantung dari masing-masing kita apakah berniat untuk menjalankannya atau tidak.

Pertama, bila hasrat cintanya sudah menggebu, sebaiknya dia menindaklanjuti ke jenjang pernikahan. Kedua, jika belum mampu, sebaiknya dia berusaha melupakan “pujaan hatinya” itu dan senantiasa menyibukan diri untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Dia harus merahasiakan cintanya, menahan diri, dan tetap bersabar. Bahkan Rasulullah dalam sebuah haditsnya menganjurkan untuk berpuasa.

Belajar dari pengalaman, ada beberapa tips yang bisa dilakukan bagi kalian yang terjebak dalam kasus ini, namun belum mampu untuk merealisasikannya ke jenjang pernikahan.

1) Niatkan dalam diri bahwa kita mampu melupakan si dia. Bukan karena kita tidak boleh jatuh cinta, namun karena adanya dia di hati kita, membuat cinta kepada-Nya menjadi terduakan / terlalaikan. Banyak aktivitas kita yang terganggu karenanya.
2) Sibukkan diri dengan hal-hal positif yang bisa mengalihkan perhatian kita dari hanya memikirkannya.
3) Hindari sebisa mungkin hal-hal yang berhubungan dengannya. Baik interaksi secara langsung dengannya atau hanya sekedar mencari tahu kabarnya dari teman. Bukan bermaksud untuk memutus silaturrahim, tapi lebih kepada menjaga jarak dengannya. Mungkin mengikuti setiap perkembangan kabar dan berita dari si dia bisa membuat kita senang. Tapi ada yang perlu diingat, bila hal itu terus kita lakukan, maka ibarat bermain api, kalau kita tidak hati-hati, maka kita yang akan terbakar oleh api itu. Setiap kali kita mengikuti perkembangan si dia, timbul harapan-harapan yang membuat kita jadi semakin berharap padanya, padahal harapan itu masih semu. Banyak hal yang kita interpretasikan sendiri, yang pada akhirnya membuat kita jadi berpikiran yang macam-macam terhadap dirinya. Kalau sudah begitu, maka kita sendirilah yang jadi tersiksa karena terus memupuk harapan-harapan yang semu.
4) Hindari sebisa mungkin perbincangan yang tidak penting, sebab hal itu hanya akan membuat kita lebih berharap padanya.
5) Jangan pernah memberikan perhatian lebih ataupun memberikan berbagai macam hadiah pada si dia sebab hal itu hanya akan menimbulkan harapan akan sebuah balasan / pamrih darinya. Jika dibalas, alhamdulillah. Namun jika tidak? Maka kecewalah yang kita rasakan. Dan hal itu kita rasakan sendiri tanpa sepengetahuannya.
6) Jangan pernah berprasangka apapun terhadap dirinya. Posisikan dia sama seperti teman-teman kita lainnya. Sebab dengan cara itu, bisa membuat kita lebih nyaman dalam berinteraksi dengan semua teman-teman kita, termasuk dirinya.
7) Jangan pernah merasa cemburu bila kita lihat si dia lebih sering memberikan perhatiannya kepada orang lain / temannya / teman kita, ketimbang pada kita. Sebab sampai saat ini, dia adalah seorang yang single yang tak punya hubungan apa-apa dengan kita. Lagipula dia pun juga tak pernah tahu apa yang kita rasakan terhadapnya. Daripada api cemburu membakar hati kita, lebih baik padamkan kobaran api itu dengan selalu bersikap husnudzon terhadapnya. Toh sampai saat ini, dia bukan siapa-siapa kita.
8) Hindari dari memikirkan dia, termenung, bermimpi / berangan-angan tentang dirinya. Jangan pernah berandai-andai, “Jikalau bisa hidup bersama dengannya….” Sebab hal itu, lagi-lagi hanya akan menimbulkan harapan yang tak pasti dan hanya akan mengotori diri kita dengan zina hati.
9) Bersikaplah yang sewajarnya dan biasa-biasa saja. Tidak terlalu over dan agresif, namun jangan pula terlalu menghindarinya dan menutup diri darinya. Jadi, ‘B’ aja lagi. Hehehe…

Intinya, kalau sedang jatuh cinta tidak perlu malu. Namun kita harus pandai-pandai menempatkan cinta kita sesuai pada tempatnya. Setelah diikat dengan ijab qabul, barulah rasa cinta itu kita ungkapkan kepada suami / istri kita.

Jadi pacaran itu tidak boleh? Kita lihat QS. Ar Rum: 21

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (AR-RUUM (BANGSA RUMAWI) ayat 21)

Pada ayat diatas, Allah menjelaskan terlebih dahulu bahwa Dia menciptakan pasangan supaya kita merasa cenderung dan tenteram (menikah), barulah Dia menjadikan diantara kita rasa cinta dan kasih sayang. Itu artinya bahwa tidak ada cinta dan kasih sayang sebelum kita merasa cenderung dan tenteram terhadap pasangan kita, yaitu dengan jalan pernikahan dulu, barulah Allah menghadirkan rasa cinta dan kasih sayang itu.

Tidaklah perlu kita menguji kedalaman cinta dengan pacaran bertahun-tahun, karena mengenal seseorang bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat dari itu, yaitu dengan cara ta’aruf (berkenalan secara syar’i). Kita juga tidak perlu menilai kecocokan dengan merelakan diri berpacaran bertahun-tahun karena saat ngobrol dalam sesi ta’aruf itu pun sudah bisa dikenali apakah kita cocok dengan si dia / tidak.

Hati yang kotor akan menyebabkan pemiliknya senantiasa berfikir kotor, bertindak kotor, berucap kotor, dan sebagainya yang serba kotor. Karena segala sesuatunya bersumber dari hati, maka apa-apa yang kita lakukan merupakan cerminan dari hati. Begitupun rasa cinta yang tumbuh dari hati. Jika diumbar dan diperturutkan, terlebih lagi bila ditujukan pada seseorang yang belum halal bagi kita, akan menimbulkan titik noda dan benih-benih kekotoran. Wajar jika Allah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan. Dan menjaganya sangatlah dianjurkan agar hati kita tetap terjaga. Wallahu’alam.

Pembahasan ini menemukan kesimpulan yang mungkin sudah ditangkap oleh kita. Bahwa mencintai lawan jenis adalah hal yang wajar. Senang, suka, naksir, jatuh hati, jatuh cinta, atau apalah namanya adalah sebuah kewajaran. Ia akan menjadi ladang pahala bila ditindaklanjuti dan disemai dalam bingkai pernikahan. Namun, ia akan menjadi penghasil dosa yang luar biasa, manakala hanya dibingkai pacaran dan senang-senang saja. Bagi mereka yang sudah siap menikah, maka carilah cinta anda dan menangkan. Namun, bagi anda yang hanya ingin mencicipi rasanya di awal usia, sebaiknya pertimbangkan kembali niat anda. Karena sudah banyak yang capek dan kelelahan karenanya.

Seorang pemenang bukan dilahirkan, namun harus diciptakan. Note ini hanya sebagian kecil dari banyaknya ilmu yang ada di dunia ini. Semoga bermanfaat bagi saya, sebagai hamba yang masih harus banyak belajar dari apa yang belum saya ketahui, dan juga anda tentunya.
(Dari berbagai sumber)

NB:
Ayo, segera hubungi murrabinya jika anda cenderung dengan seseorang

5 komentar:

beck mengatakan...

MasyaAlloh.... Bgus bgt postingannya ya ukhty-l kariimah..... Salam kenal dariku yo... Bocah cililk asal Trenggalek-JATIM =beckT!=

Sarah mengatakan...

Jazakumullah...
Semoga bermanfaat...

beck mengatakan...

Amin......

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

jadi inget saudaraku yg pacaran 10 tahun akhirnya putus. mungkin krn gelora cintanya udah lenyap ya.

nobita mengatakan...

bingung mw comment apa ?
blog na mbak sarah bagus kugh,,,,
berkunjung ke blog juga donk mbak
nobitasmk.blogspot.com