4 Maret 2013

[BeraniCerita #01] Saksi Bisu

Senja mulai merona. Semilir angin membuatku semakin merasa sepi dan sendiri. Aku yang sudah tua dan rapuh, semakin terbuang dan terlupakan. Hidup di pinggiran kota tidak serta merta membuatku dilirik oleh siapapun yang melintas di depanku. Mereka justru mengasingkanku dan lebih memilih menganggapku tak ada. Pemilikku memang telah lama pergi meninggalkanku, tapi tidak seharusnya aku dibiarkan sepi seperti ini dan tua dalam kesendirian.

Malam sudah mulai merenggut senja dari peraduannya. Aku yakin teman-temanku yang keadaannya jauh lebih baik dari sebuah rumah tua sepertiku, saat ini tengah berbahagia menemani pemiliknya makan malam. Kilauan cahaya mereka yang berpendar dari kejauhan semakin membuatku iri dan rindu akan masa-masa kejayaanku dulu. Kini aku hanya sebuah rumah tua, atau lebih tepatnya lagi bangunan tua yang tidak berguna.

Malam ini sepertinya akan turun hujan, karena sedari tadi angin sibuk menjamah tubuh rentaku hingga membuatku merasa lebih dingin dari malam sebelumnya.

“Ayo cepat!! Anginnya semakin kencang!”

Tiba-tiba aku mendengar suara Devan. Pemuda yang akhir-akhir ini menjadi langganan untuk menghabiskan malam di dalam tubuhku. Kali ini ia membawa wanita cantik bermata sehitam onyx bernama Adel.

Aku menjadi takut….

Adel masuk dengan ragu. Bola matanya berkeliaran menjamah seluruh isi tubuhku. Sesekali tangannya menghalau sarang laba-laba yang mengenai wajahnya. Raut wajahnya sangat cemas.

“Ayo duduk!” Devan meraih tangannya dan ia pun menurut.

“Aku takut, Van.” Serunya tanpa melepas pandangan dari sebuah perapian tua yang gelap.

“Kamu nggak usah takut. Orang tuamu nggak akan tahu kita di sini.”

“Jangan sebut-sebut lagi orang tuaku,” Adel mendengus kesal sambil membalikkan tubuh membelakangi Devan. “Sejak mereka tidak merestui hubungan kita, aku menganggap mereka sudah tidak ada.” Ia memutar kembali tubuhnya.

“Aku akan selalu menjagamu melebihi yang orang tuamu lakukan.” Seru Devan sambil memicingkan mata. Senyum Adel membuat Devan langsung memeluknya. Dan seperti biasa, sejurus kemudian ia merogoh sela-sela sofa butut, mengambil bungkusan berisi serbuk dan butiran pil, lalu menunjukkannya pada Adel.

“Apa itu, Van?” Tanya Adel penuh selidik.

“Ini adalah sesuatu yang akan membuat kita tenang.” Senyum licik Devan mulai bermain. Ia segera mengeluarkan serbuk itu dan menghirupnya. Mata liciknya melirik Adel, memberi isyarat agar ia juga mau mengikutinya. Mulanya Adel menggeleng, namun kemudian ia terjebak juga pada perangkap Devan. Pemuda licik itu tampak tersenyum karena kemenangannya. Dan menit selanjutnya, Adel sudah berada di dunianya sendiri. Ia benar-benar sakau saat ini.

Tak sadarkannya Adel merupakan kesempatan emas untuk Devan. Ia segera melecuti satu per satu pakaian Adel, dan mulai menjamahi tubuhnya. Ya, tubuh gadis muda itu kini jadi santapan hangat untuk Devan.

“Pembuka makan malam yang sangat nikmat,” begitu gumamnya.

Ditemani alunan rintik hujan yang semakin deras, Devan melancarkan aksinya. Adel hanya bisa meronta tanpa tenaga. Ia tahu dirinya kini tengah berada di neraka, namun pil dan serbuk itu benar-benar telah merampas akal sehat Devan dan membawa lari kesadarannya.

Ini adalah keempat kalinya Devan merenggut paksa kehormatan seorang gadis, lalu membiarkannya mengejang untuk beberapa saat akibat barang haram itu, untuk kemudian menanamkannya di salah satu bagian tubuhku yang sangat gelap, kotor, dan berdebu.

Perapianku kini menjadi kuburan massal untuk gadis-gadis malang itu.

=================================================================================

498 kata

*sebelumnya maaf jika ada pembaca yang bernama Devan dan Adel, sebab ini hanyalah cerita fiksi belaka. Jika ada kesamaan cerita dan tokoh, itu hanya kebetulan :D

9 komentar:

Ayu Citraningtias mengatakan...

serem juga ceritanya mbak, ada kuburan massal di rumah hihi

sukses ya :)

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

Astagfirullah kejam banget ya devan

Mimin Berani Cerita mengatakan...

Wah, ceritanya bagus! Makasih udah ikutan Berani Cerita #01 ya! Keep the good work!

vera astanti mengatakan...

merinding bacanya ... >.<

Santi mengatakan...

Ceritanya bagus mba....

Nathalia Diana Pitaloka mengatakan...

sedihnya jadi si rumah :(

Nathalia Diana Pitaloka mengatakan...

sedihnya jadi si rumah :(

the others mengatakan...

Wah... ceritanya serem juga nih tapi keren lo.

noichil mengatakan...

Astaga... seram T.T