12 Juni 2013

Pelabuhan Rindu

Sampai saat ini Bhirawa tidak mengerti dengan hati kecilnya. Bagaimana mungkin seorang kapten sepertinya bisa memendam sebuah perasaan sampai sebegitu dalamnya? Ia sungguh-sungguh tak menyangka. Waktu sembilan tahun ternyata tak mampu mengusir kenangan masa lalunya saat SMA. Surat cinta yang terbingkai rapi dan terpajang di dinding kamarnya - setelah dulu pernah dikembalikan oleh seseorang yang namanya tertulis di sana – ternyata tak pernah mampu untuk merontokkan sisa-sisa cintanya.

Dan hari ini, ia harus bertemu dengan sosok yang namanya selalu ia tanam di taman hatinya, dalam sebuah acara reuni sekolahnya - SMA 1 Surabaya - yang tak pernah ia datangi sejak sembilan tahun silam. Mulutnya kelu dan jantungnya berdegup kencang seperti tabuhan genderang. Sementara di hadapannya kini ada Kinanthi, seorang wanita yang namanya pernah terukir dalam surat cinta yang dulu dikembalikan olehnya, mungkin – menurut Bhirawa – karena ia lebih memilih laki-laki lain yang kini telah beruntung menjadi suaminya. Bagi Bhirawa, Kinanthi adalah wanita yang sederhana. Tak peduli waktu telah memangkas usianya, namun kesederhanaan itu yang membuat Bhirawa masih setia hidup melajang sampai sekarang. Kesederhanaan yang tak dimiliki oleh wanita manapun selain Kinanthi.

“Suamimu mana, Thi?” Tanya Bhirawa memberanikan diri pada akhirnya. Kinanthi tersenyum simpul sambil menundukkan wajahnya. “Suamiku sudah meninggal.” Jawabnya sambil melempar senyum termanis pada Bhirawa. Entah mengapa senyum itu bagai hantaman gelombang dahsyat yang siap menjatuhkan dirinya dari kapal paling besar sekalipun. Ia hanya meminta maaf tanpa berniat mengucap rasa berbela sungkawanya, karena mungkin ucapan itu sudah sangat terlambat. Suaminya telah meninggal lima tahun yang lalu.


Yang Bhirawa tahu, selepas suaminya meninggal, Kinanthi belum memutuskan untuk menikah lagi. Dan kabar itu sebenarnya sangat membuat hati Bhirawa sedikit sejuk. Keinginan itu pun kembali bersemi: meminta Kinanthi untuk mau menjadi istrinya. Namun tiba-tiba ada satu keraguan yang terlintas di pikirannya, “Bukankah dulu ia pernah menolakku karena laki-laki itu? Bukankah itu artinya dia tidak mencintaiku?” Dan pertanyaan itu terjawab oleh Kinanthi yang tengah membatin, “Andai saja dulu aku tidak mengembalikan surat cintamu, mungkin saat ini kita sudah hidup bahagia bersama anak-anak kita. Namun sayang, saat itu ibuku telah menjodohkanku dengan laki-laki lain. Maafkan aku, Kapten Bhirawa. Tapi aku yakin, seorang kapten sepertimu tidak akan mungkin mau denganku.” Mereka berdua saling melempar senyum. Ada satu rindu yang hadir dari dua hati yang sama-sama tersesat untuk melabuhkan rindu mereka di mana. Walau sejatinya rindu mereka sama, namun rindu itu masih harus merangkak untuk menemukan pelabuhan hati mereka masing-masing.




 

10 komentar:

Shohibul Kontes FF Senandung Cinta mengatakan...

Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Flash Fiction Senandung Cinta.

Ikuti juga Kontes Unggulan Blog Review Saling Berhadapan di BlogCamp (http://abdulcholik.com)

Salam hangat dari Surabaya

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

ayo dong sama-sama terbuka supaya bisa bersatu :)

Orin mengatakan...

Duuuuuh...pdhl sama2 cinta ya :(

.: diah :. mengatakan...

waahh gantung nih ceritanya, akhirnya nanti menikah juga kan jenk?? :D

astin astanti mengatakan...

Iyaaaah, sayang seribu sayang klo pendam memendam begituuuh,

Salam
astin

astin astanti mengatakan...

Iyaaaah, sayang seribu sayang klo pendam memendam begituuuh,

Salam
astin

Santi Dewi mengatakan...

Kalo begitu, cintanya masih bisa disatukan dong :)

Arie Yayank| Warna mengatakan...

hihiih jadi ke ingetm masa lalu. baca nya...

Akhmad Muhaimin Azzet mengatakan...

menuju pelabuhan rindu
semoga berakhir bahagia :)

puteriamirillis mengatakan...

duuh cinta tak saling berbalas yaaa...