28 Juli 2010

Hakikat Cantik


Hmm…kata orang, cantik itu adalah mereka yang mempunyai wajah yang menarik, enak dipandang, hidungnya mancung dan juga nggak ngebosenin. Kata orang juga, cantik itu adalah mereka yang tubuhnya langsing, tinggi, semampai, dan juga putih. Hmm..dari semua itu, kok kenapa yang dikatakan cantik musti melulu identik dengan fisik yah? Lebih tepatnya mereka yang memiliki kesempurnaan fisik ketimbang yang lain. Lalu bagaimana dengan mereka yang memiliki fisik yang kurang menarik? Katakanlah hidungnya tidak mancung, tidak tinggi, lalu kulitnya hitam, bahkan gemuk. Apa bisa dikatakan bahwa mereka yang seperti itu adalah orang-orang yang tidak cantik? Eits…belum tentu.



Nah, disini nih perlunya kita memahami akan hakikat ’Cantik’ yang sebenarnya. Semua hal yang telah disebutkan diatas tadi memang makna cantik yang dilihat dari sudut pandang fisik. Namun sebenarnya, yang dikatakan cantik tidak cukup dengan menyebutkan kelebihan-kelebihan fisik yang para wanita miliki. Ada dua faktor lagi yang dapat mempengaruhi kecantikan seseorang. Yaitu ‘Akal’ dan ‘Akhlak’.

Mari kita coba bahas lebih lanjut.

1. Akhlak

Salah satu faktor penting dimana seseorang bisa dikatakan cantik adalah karena pengaruh akhlak dalam dirinya. Coba kita lihat seorang wanita yang parasnya menarik tapi tidak sopan dan santun kepada orang yang lebih tua, pasti kita pun akan jengkel melihatnya. Atau ada seorang wanita yang wajahnya ayu nan menawan tetapi ketika berbicara suaranya sangat keras dan seolah tak mempunyai tata krama, sudah bisa dipastikan orang yang mendengarnya akan merasa terganggu karenanya. Dan Faktor yang satu ini adalah faktor utama dalam menjaga kecantikan.

2. Akal

Faktor kedua adalah akal. Jika kecantikan diidentikan dengan akal, maka yang terlahir adalah ’Smart’, cerdas. Seorang wanita yang smart, pasti akan menyikapi segala hal yang berkaitan dengannya dengan sikap yang arif dan bijaksana. Smart disini tak hanya mencakup tentang kecerdasan saja, melainkan bagaimana seorang wanita yang cantik bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan cara yang baik dan benar.

3. Fisik

Jujur, hal ini pun juga tak kalah pentingnya dari dua faktor sebelumnya. Namun jangan sekali-kali mengidentikan kecantikan dengan kesempurnaan fisik semata. Fisik memang penting dan harus dijaga keindahannya sebab itu adalah salah satu anugerah Tuhan untuk para wanita, namun jangan sampai hal itu menjadi barometer untuk mengukur kecantikan seseorang. Jadi harus seimbang antara kecantikan akhlak, akal, dan fisik.

Dari ketiga elemen diatas, jika ketiganya sudah dipadu padankan dalam diri dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari maka itulah hakikat cantik yang sesungguhnya. Dan jika semua aspek telah dijalankan dengan benar maka akan membuat sebuah kesimpulan bahwa wanita yang cantik pasti akan membuat orang yang ada di sekitarnya merasa nyaman jika berada di dekatnya.

Ok, selamat menjadi wanita cantik :)

NB : tips untuk mengetahui seberapa cantikkah diri kita, bisa langsung ditanyakan pada orang terdekat kita, ’seberapa nyaman jika mereka berada di dekat kita’

21 Juli 2010

Salah Satu Kekayaan Indonesia : Pulau Tidung


Rasa penat dan lelah, rasanya takkan pernah lepas dari kehidupan yang telah dijalani ini. Ingin rasanya bercengkrama bersama dengan orang-orang yang tersayang untuk berlibur ke suatu tempat yang dapat membuat diri menjadi lebih refresh. Salah satu kekayaan Indonesia, yaitu Pulau Tidung. Pulaunya kecil memanjang dari ujung timur ke ujung barat, pulaunya sepi dan tenang, ada dermaganya, pantainya hijau, ada sekolah, puskesmas dll. Pulau Tidung sendiri didiami lebih dari 6000 penduduk. (itupun kata Lathiful Amri, sebab saya belum pernah kesana). Pernah suatu ketika bilang ke temen kalo saya punya impian pergi kesana, kapan ya?? Nah, tiba-tiba kemaren temen ngajakin kesana bersama temen2nya.


wah, saya jadi kepikiran nih. Katanya biaya yang dikeluarkan cukup murah. hanya dengan mengeluarkan kocek Rp. 300.000,-, bisa menikmati keelokan Pulau Tidung yang indahnya tiada terkira. Hmm....gimana yah? Liat sikond (situasi kondisi) dulu deh, toh ngajakinnya sekitar bulan Oktober. OK, sebelum jalan2 kesana, ada gambar2 Pulau Tidung yang saya search di internet dan saya coba share disini.









Nah, kemaren temen juga sempet ngasih rincian harganya kalo mau pergi kesana.

PAKET WISATA KE PULAU TIDUNG UNTUK 10 ORANG

PAKET I (Rp. 250.000/orang)
Fasilitas:
- Makan 4 kali.
- Penginapan ( 2 Home stay atau satu rumah besar/tentatif)
- Transportasi Muara Angke-Pulau Tidung PP.
- Sepeda.
- Guide

Paket II (Rp. 300.000/orang)
Fasilitas:
- Makan 4 kali.
- Penginapan (2 home stay atau satu rumah besar/tentatif)
- Transportasi Muara Angke-Pulau Tidung.
- Perlengkapan snorkeling: masker, pins, snorkel + life jacket.
- Snorkeling (tanpa kapal kecil)
- Sepeda.
- Guide.

PAKET III (Rp. 350.000/orang)
Fasilitas:
- Makan 4 kali.
- Penginapan (2 home stay atau satu rumah besar/tentatif)
- Transportasi Muara Angke-Pulau Tidung.
- Perlengkapan snorkeling: masker, pins, snorkel + life jacket.
- Snorkeling
- Sepeda
- Tradisional boat (kapal kecil) untuk snorkeling.
- Guide.

Untuk Keterangan lebih jelas Anda bisa menghubungi kami langsung di:
021-77840719 atau 0812 8043941

Prosedur Pemesanan Tempat:
1. Transfer booking fe sebesar 20% dari total harga paket ke rek. Bank Mandiri Cab. Kramat Raya no. rek. 123 000 216 7288 an. Ridwan
atau ke BCA KCP Depok Asri, no. rek. 7650294402 an. Ridwan.
2. Konfirmasi melalui email atau sms ke 08128 0439 41 dengan menyebutkan nama , jumlah transfer, jumlah peserta, tanggal keberangkatan dan harga paket yg diambil.
3. Satu hari sebelum hari H, orang kami akan menghubungi Anda, atau Anda bias menghubungi kami untuk proses keberangkatan.
4.Sisa pembayaran dibayar sesampainya Anda di Pulau Tidung.

Nah, kalo yang ini buat kalian yang gak mau ikutan paket. Ada Info dan Saran. Ini Jangan Dilewatkan :

- Kapal dari Muara angke ke pulau tidung hanya 1 kali itupun pagi sekali jam 7,
jadi harus berangkat extra pagi juga.
- Bawalah obat anti mabok dll, karena naek kapal ke pulau Tidung 3 jam.
- Bawalah kartu UNO dan kartu- kartu lain untuk mengusir mati gaya selama 3 jam
di kapal.

- Contact Person :
* Pemilik Penginapan (Pak Haji Abdul Hamid/alias aji Mid) : 085888742129
* Pak Wardi, yang menyediakan makan, alat snorkeling, penyewaan kapal, sepeda,
perlengkapan barbeque, beli ikan, pokoknya apa saja bisa minta tolong ke pak
Wardi dengan nomor telp : 085693565464
- Laporan Biaya (per orang) :
* Taxi Kuningan - Muara Angke : Rp. 20.000
* Kapal Muara Angke - Tidung PP : Rp. 33.000
* Penginapan (300rb / 8 orang) : Rp. 37.500
* Sewa sepeda (dihitung 1 hari) : Rp. 15.000
* 4 kali makan (@15rb) : Rp. 60.000
* 3 Kg ikan + perlengkapan barbeque : Rp. 12.500/orang, total Rp. 100.000
* Sewa kapal untuk snorkeling (untuk 2 grup): Rp. 31.250/orang, total Rp. 250.000
* Alat snorkeling : Rp. 20.000
* Kapal dari P. Pramuka - Muara Angke : Rp. 30.000
* Angkot dan taxi Muara Angke- Kuningan : Rp. 22.000
**TOTAL = Rp. 281.250
* tanpa taxi : Rp. 250.000 (pembulatan).
- Jangan naik taxi dari muara angke, karena tidak pakai argo,jadi naik angkot
dulu saja menuju tempat yang ada taxi umum seperti Pluit atau Grogol.

*ps, saat ini sudah ada kapal cepat dari pelabuhan marina seharga 30rb. Pulang dari pulau tidung sendiri ada kapal yang agak siang ( jam 11-an ) tapi hanya sabtu-minggu saja. Untuk mencari alternatif penginapan lain, bisa menghubungi pak Wardi 085693565464. (Lathiful Amri)

OK, met menikmati liburan yah? semoga menyenangkan.... :)

30 Juni 2010

Pengalaman di suatu sore

Sore hari, ketika dikantor lagi gak banyak kerjaan, iseng-iseng coba buka facebook. Gak banyak sih yang bisa dilakuin disana. Palingan koment status temen-temen dah gitu online-in chat deh (biasanya jarang online). Kebetulan lagi gak banyak kerjaan, jadi di on ajah. Biasanya juga sih lebih suka manage blog daripada buka facebook. Tapi gak tau kenapa, lagi pengen buka facebook trus cari temen yang bisa diajak chat deh. Abisan friendlist di YM lagi gak ada yang bisa diajak ngobrol. Ya udah, cari temen yg bisa diajak ngobrol di chat facebook.

Yups!! Ada satu orang yang kukenal. Dia dosenku, namanya Pak Apri. Kebetulan beliau juga lagi online, coba chat ah ama beliau. Alhamdulillah ditanggepin. Udah gitu kita ngobrol deh ngalor ngidul. Dari soal facebook, organisasi, LSM, sampe tiba-tiba beliau ngasih saya sebuah link. Nih dia link nya http://priandoyo.wordpress.com. Setelah ngasih link itu, beliau izin mau shalat Zuhur dulu. Yo wis, saya pun memilih untuk mengklik link yang tadi udah dikasih ama Pak Apri.

Saya liat-liat isinya, hmmm...ternyata bagus juga. Isinya sih hanya catatan-catatan kecil seorang suami dari seorang istri dan ayah dari anaknya. Blum sempet baca semua sih, udah gitu ada satu gambar yang menarik perhatian saya. Seorang perempuan. Ketika kursor saya tujukan kearahnya, eh muncul link nya. Ya udah, tanpa pikir panjang saya klik aja link nya. Nih alamat link nya http://nungqee.wordpress.com.

Dibawalah kedua mata saya ke sebuah blog dari salah seorang ibu muda bernama Nunung Nurul Qomariyah. Blog itu benar-benar membuat saya terpana. Bukan apa-apa, jumlah komentar di setiap postingan artikelnya banyak bener euy. (hehehe jadi ngiri juga sih, kok bisa yahh??) udah gitu saya liat-liat aja apa isinya. Postingannya cukup membuat saya mengacungkan kedua jempol untuknya.

Ya, bagaimana tidak? Dari setiap celoteh-celotehnya saya menangkap sebuah kesederhanaan disana. Udah gitu bahasa yang dipakai juga gak tinggi-tinggi amat (ya maksudnya familiar dah pokoknya). Artikel yang diposting adalah pengalaman keseharian ibu muda itu. Dari pengalaman berkeluarga bersama suaminya sampai berceloteh tentang anaknya yang bernama Azkia.

Hah…setelah sekian menit saya membaca dan berselancar di blognya, eh tiba-tiba saya tertarik nih sama postingan Mbak Nurul yang ini. Gak tau kenapa ya, tulisan ini bisa jadi sebuah pembelajaran dan pengetahuan buat saya pribadi jikalau suatu hari nanti diberi kesempatan ama Allah untuk menjalankan tugas sebagai seorang istri dan ibu.

Udah gitu di blognya juga ada foto anaknya yang bernama Azkia, wah makin ngebayang yang macem-macem (huss....jangan mikir yang macem-macem yah? Maksudnya saya jadi kepikiran gimana kalo suatu hari punya anak semanis Azkia :)). Melihat Mbak Nurul menuliskan hal-hal yang berbau keluarga kok ya perasaan jadi berdesir gitu. Saya langsung bertekad dalam hati, “Pokoknya harus mempersiapkan hal ini dari sekarang”.

Hah....emang yah kalo ngayal gak akan selesai-selesai. Waduh, bener-bener deh, Mbak Nurul dan suaminya ini bener-bener kompak. (indah nemen rek...rek... :D). Ah, tau deh mau nulis apa lagi. Intinya, salut deh sama keluarga muda ini yang bisa kompak. Kompak dari segi pendidikan pun keluarga.

Sore ini bener-bener menjadi sebuah pembelajaran buatku, untuk suatu saat nanti.

by nurlailazahra

28 Juni 2010

Tips Aman Bermain Jejaring Sosial


Saat ini, sudah banyak kita mengenal macam-macam jenis jejaring sosial (social network) di internet, dimana dengan adanya fasilitas tersebut, seseorang bisa dengan mudah berhubungan dengan orang lain, baik kerabat, teman, keluarga, atau orang yang belum dikenal sekalipun. Dengan kecanggihan teknologi yang semakin lama semakin berkembang, anak SD pun sudah mengerti bagaimana caranya agar bisa mempunyai akun di salah satu jenis jejaring sosial tersebut.

Tak perlu berpanjang lebar, katakanlah Facebook, friendster, twitter, flixster, hi5, pencerahanhati, dan masih banyak lagi nama-nama jejaring sosial yang mungkin saat ini sudah kita kenali jenisnya dan marak digandrungi oleh masyarakat di seluruh belahan dunia manapun. Yang mungkin saat ini tengah populer dan banyak diakses dari kalangan anak-anak sampai orang tua adalah Facebook. Sebab untuk saat ini, Facebook begitu user friendly bagi para penggunanya. Dilengkapi dengan berbagai bahasa, sehingga Facebook dapat diakses dimana dan oleh siapapun.

Seiring dengan berkembangnya kecanggihan teknologi, dimana segala sesuatunya pasti ada baik dan buruknya, ada sisi positif, sudah pasti tentu ada sisi negatifnya. Begitu juga dengan jejaring sosial pada umumnya. Mungkin belakangan terakhir ini, sering kita dengar berita-berita yang kurang mengenakkan terkait jejaring sosial ini (Facebook) di berbagai postingan di berbagai blog. Beberapa sumber mengatakan bahwa ada seorang gadis yang katanya telah diculik oleh salah satu teman Facebook nya yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Maka itu disini, saya akan coba berbagi sedikit tentang manfaat bermain jejaring sosial. Mungkin bisa kita rasakan banyak sekali manfaat dari mempunyai akun di salah satu jejaring sosial tersebut. Kita bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman, bisa menambah banyak teman yang sebelumnya tidak pernah kita kenal, atau mungkin bisa mempertemukan kembali hubungan persahabatan yang telah lama terpisah, akhirnya bisa berjumpa dan berkomunikasi kembali melalui jejaring sosial ini. Jika ingin diulas secara keseluruhan, pastinya semua hal itu tidak dapat kita bahas dalam waktu dan tempat yang terbatas ini. Yang pasti, segala manfaat yang timbul akibat adanya jejaring sosial ini akan membuat kita merasa untung dan dapat memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Dibawah ini ada sedikit tips berinternet sehat dan aman bermain jejaring sosial / social network :

1. Pastikan tujuan kita mempunyai akun di salah satu jejaring sosial
Ribuan, bahkan jutaan orang bisa dipastikan telah mempunyai akun, katakanlah di jejaring sosial Facebook. Dari jutaan orang itu, yang mungkin salah satunya adalah kita, pasti mempunyai maksud dan tujuan sendiri mengapa ingin mempunyai akun disana. Nah, untuk itu sebelum kita mempunyai sebuah akun, alangkah baiknya kita pastikan dulu apa tujuan kita membuka akun disana. Apakah hanya untuk mencari teman yang sudah lama tidak bertemu, mencari kenalan baru, atau mempunyai maksud-maksud tersembunyi diluar itu?

2. Liat info orang yang menambahkan kita sebagai temannya
Hal ini pun juga merupakan hal penting dalam aktivitas kita bercengkerama di Facebook. Seringkali ada orang yang menambahkan kita sebagai teman di akun Facebook nya, ”mungkin” hanya karena dia tertarik melihat foto profil yang kita pasang di akun kita. Atau sekedar iseng atau hanya ingin memperbanyak perbendaharaan temannya di Facebook. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, dan kita, tidak ada salahnya mempersiapkan segala kemungkinan toh! Untuk itu kita musti tahu dulu info tentang mereka. Lalu jika kita memutuskan untuk meng’approve’ nya, dan misal terjadi komunikasi yang berlanjut, usahakan untuk jangan terlalu terbuka dan percaya. Dalam hal ini, kita harus menggunakan praduga ”tidak semua orang baik”. Bukan bermaksud untuk berburuk sangka, tetapi lebih kepada sikap waspada.

3. Berkomunikasi serta besikaplah yang wajar dan sekedarnya
Mungkin pernah kita dengar berita seorang siswa SMA dikeluarkan dari sekolahnya karena telah menghujat salah satu guru yang tidak disenanginya di status Facebooknya. Guru yang merasa dihina itu tidak terima dan akhirnya membawa kasus itu ke pihak yang berwajib. Hal-hal semacam itu sudah sering kita dengar. Maka itu, alangkah baiknya jika kita bisa bersikap sopan, wajar, dan sekedarnya jika sedang berkomunikasi di Facebook.

Bahkan di sebuah situs blog yang pernah saya baca, bahwa banyak pelamar kerja ditolak lantaran Facebook. Kok bisa? Ya, perusahaan-perusahaan itu mulai mengecek isi Facebook sang pelamar untuk membandingkannya dengan resume curriculum vitae (CV) yang dikirimkan. Ternyata banyak dari mereka yang menguak hal-hal ”kotor” di akun Facebook mereka. Sebuah kutipan yang menarik perhatian saya adalah ”Salah satu perusahaan bernama Big Brother mengakui kesalahan terbesar yang dibuat oleh pencari kerja ialah tak bisa menjaga perilakunya di Facebook. Meski telah memoles sebaik-baiknya CV mereka, namun percuma saja kalau masih memiliki catatan online yang kurang baik dan bisa dilihat semua orang. (detik/untukku.com)”

4. Jangan biasakan mengakses jejaring sosial setiap waktu
Banyaknya para pekerja, karyawan, atau pegawai kantoran yang mengakses situs jejaring sosial pada jam-jam kerja, membuat banyak perusahaan memilih untuk memblokir alamat-alamat situs jejaring sosial itu. Kenapa? Ya karena dengan terlalu seringnya para user mengakses situs tersebut, maka kinerja para pekerja tidak akan produktif, hasilnya pekerjaan akan menjadi terbengkalai dan tidak selesai tepat pada waktunya. Begitu juga dengan mereka yang sering mengakses situs jejaring sosial via web seluler atau ponsel. Itu akan membuat seseorang terus bergantung atau mungkin kecanduan dengan Facebook.

5. Usahakan untuk mengurangi penguploadan foto-foto pribadi
Terkait dengan foto-foto yang sering kali kita upload di album foto virtual milik Facebook, bisa jadi ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang tiba-tiba mengambil foto kita untuk selanjutnya dipergunakan untuk hal-hal yang tidak kita inginkan (red – pencemaran nama baik). Hal itu pun juga musti kita waspadai. Untuk itu pikir-pikirlah dulu jika ingin menaruh foto-foto kita di Facebook.

6. Remove orang-orang yang sekiranya patut kita waspadai
Jika ada teman Facebook kita yang gelagatnya sudah membuat kita tidak nyaman dalam berkomunikasi di Facebook sehingga membuat kita merasa risih, maka jangan segan-segan untuk meremovenya. Atau jika ada teman yang selalu memaksa kita untuk bertemu, atau kita sudah merasa tidak nyaman dengan kata-kata yang ditulisnya, lebih baik kita remove saja. Toh kehilangan satu teman seperti itu tidak akan membuat kita rugi.

Oke, mungkin segitu aja yang bisa kita bahas. Moga bisa diterima dan mudah dipahami. Sungguh segala sesuatunya itu kembali lagi ke pribadi kita masing-masing.

salam blogger sehat !!

25 Mei 2010

Google Documents, Virtual Storage Device yang user friendly

Sama dengan fasilitas-fasilitas lainnya, kali ini google kembali memberikan kemudahan bagi para penggunanya untuk menyimpan berbagai naskah / file. Disini google memperkenalkan salah satu fasilitasnya yaitu “Google Documents” (http://docs.google.com)

Berikut adalah tampilan awal Google Documents:



Masukan alamat email dan password yang Anda punya didalam tanda kotak berwarna merah lalu enter / klik tombol “masuk”. Maka Anda akan dibawa ke sebuah halaman awal seperti ini:



Akun diatas masih kosong dan belum berisi file apapun, sebab memang belum diisi apapun di dalamnya. Anda bisa mengklik tombol ”Buat baru” yang sudah ditandai dalam kotak merah. Dan tampilannya akan seperti ini:



Anda bisa memilih salah satu pilihan yang ada.
1) Documents
Jika Anda klik ”Documents”, maka Anda akan dibawa ke sebuah halaman seperti ini:



Jika Anda sudah menuliskan apa yang Anda inginkan, klik tulisan yang ada disamping tulisan ”Google Documents” untuk mengganti nama file Anda.



Ketik nama file yang Anda inginkan setelah itu klik OK. Kemudian klik icon save. Setelah itu Anda bisa mengklik tulisan ”Google Documents” yang ada di sisi kiri atas. Maka tulisan Anda sudah tersimpan disana.

Untuk pilihan presentasi, spreedsheet, dan yang lainnya, itu sistematika kerjanya hampir sama saja dengan MS. Office. Presentasi bisa diibaratkan sebagai virtual power point dan spreedsheet bisa diibaratkan sebagai virtual excel. Anda pun bisa membagi pakaikan file yang Anda buat di Google Documents ini kepada siapapun dengan fasilitas tombol ”Bagi-pakai” yang ada di sisi kanan atas. Lalu pilih ”Publikasikan sebagai laman web”





Ada dua cara untuk mempublikasikan tulisan Anda. Pertama Anda klik tulisan ”Publikasikan dokumen” yang ada pada kotak merah diatas. Maka setelah itu, Anda akan diberikan alamat link seperti dibawah ini:



Kemudian Anda bisa share ke teman-temen atau orang-orang terdekat Anda dengan memberikan link itu pada mereka. Sedang cara yang kedua adalah dengan mengklik tombol ”kirim ke blog” setelah itu ikuti langkah-langkah selanjutnya di box ”Pengaturan Situs Blog”. Setelah itu klik OK



Mudah bukan? Oke, selamat mencoba ya.........

NZ

21 April 2010

HOAX


“Sebuah virus baru, baru saja ditemukan dan diklarifikasikan oleh Microsoft (www.microsoft.com) dan McAfee (www.mcafee.com) sebagai virus paling merusak yang pernah ada. “Jika ada email dengan subyek ‘A Virtual Card for You’, jangan coba-coba dibuka. Karena begitu email ini dibuka, maka virus akan segera bekerja, akibatnya komputermu akan berhenti beroperasi. Dan saat kamu menyalakan kembali, virus ini akan menghapus sektor 0 harddisk, yang akan menghilangkan semua data dan merusak harddiskmu secara permanent.” Kejadian ini, dalam beberapa jam saja membuat panik para pengguna komputer di New York, sebagaimana berita yang ditulis oleh CNN (www.cnn.com)


Apa reaksi Anda ketika mendapat email tersebut? Mungkin rada kaget dan panik. Biasanya setelah itu kita akan memforward email tersebut ke milis-milis dan teman yang kita kenal.

Sebenarnya email di atas masuk dalam salah satu kategori hoax. Apa sih hoax itu? Hoax adalah berita bohong atau palsu, yang biasanya disebabkan secara berantai melalui email. Biasanya hoax ini berupa berita yang controversial, meyakinkan dan sangat sugestif. Hal ini yang sering membuat orang segera memforward email tersebut kemana-mana.

Tujuan Hoax

Apa sih tujuannya orang membuat hoax? Ada beberapa alasan, diantaranya adalah:
1. Iseng saja untuk kepuasan pribadi. Dia ingin melihat seberapa besar kemampuan dia untuk membuat berita yang bisa membuat heboh. Semakin ramai berita tersebut berkembang semakin senanglah dia.
2. Untuk mengerjai/mengganggu seseorang. Biasanya di email tersebut kita diminta untuk mengirimkan email ke alamat korban. Sehingga si korban akan kebanjiran email.
3. Untuk mendapatkan uang melalui modal piramida surat berantai.
4. Merusak reputasi seseorang atau organisasi melalui berita bohong atau fitnah.

Ciri-Ciri Hoax

Agar tujuannya tercapai, pembuat hoax akan berusaha untuk membuat email yang sangat meyakinkan agar kita tertarik untuk segera memforward email tersebut ke orang yang kita kenal. Jadi kalau menerima email seperti itu, kita perlu mencurigai apakah email tersebut adalah hoax atau bukan.

Berikut ini beberapa contoh tipikal sebuah hoax:
1. Berupa ancaman, seperti informasi tentang adanya bom di suatu tempat. Adanya virus berbahaya, adanya ancaman zat berbahaya dalam makanan, dll.
2. Janji-janji hadiah. Salah satu kasus yang paling terkenal adalah pemberian handphone gratis dari manager Ericsson, dengan syarat memforward email promosi dia ke 10 orang dan si manager tersebut.
3. Kontroversial. Saya pernah mendapat email tentang ditemukannya kerangka Kaum Ad, begitu meyakinkannya dengan ilustrasi berupa foto kerangka tersebut. Ternyata setelah di cek, foto tersebut adalah salah satu foto pemenang lomba manipulasi gambar. Contoh lain hoax adalah tentang adanya meteor yang akan menabrak bumi pada tahun 2019.
4. Menarik simpati, yaitu dengan email berupa penderitaan seseorang untuk mengharap belas kasihan dari kita.

Mereka seringkali berusaha memperdaya dengan menggunakan istilah teknis dan kadang memakai nama institusi tertentu untuk meyakinkan penerima email tersebut. Seperti pada contoh diatas, si pembuat berusaha meyakinkan dengan mengatakan berita tersebut diperoleh dari CNN dan virus tersebut dianggap berbahaya oleh Microsoft dan McAfee.

Bila Menerima Hoax

Bagaimana kita tahu bahwa email yang kita terima itu termasuk hoax atau bukan? Memang agak sulit, karena biasanya sangat meyakinkan dan seolah-olah benar. Untuk itu, pertama kita perlu mengeceknya di search engine, apakah berita tersebut pernah terdokumentasi sebagai hoax atau bukan. Selain itu, sebuah hoax biasanya tidak menyebutkan sumber informasinya secara detail. Pada contoh diatas, kalau kita cek di CNN.com, sebenarnya berita itu tidak pernah ada. Kita juga bisa mencek di situs-situs yang memiliki daftar hoax yang beredar di internet. Salah satunya di http://hoaxbusters.ciac.org/HBOtherHoaxPages.html
Ups, ternyata halaman yang ada di atas itu dah gak bisa dibuka, coba yang ini aja ya http://www.kursiterbalik.com/2010/02/7-kebohongan-terbesar-berita-di.html

(Sumber : Rubrik Internid Majalah Annida Edisi No 02/XIII September 2004)

16 April 2010

Andai Waktu dapat Ku pinjam


Begini tuturku.....
Terkadang aku merasa lelah dengan semua aktivitas yang saat ini kujalani. Jujur, lelah yang kukatan disini bukan berarti aku ingin mengeluh, tapi karena memang aku benar-benar lelah. Wajar saja, karena memang ’lelah’ adalah sebuah kata sifat.




Bagi yang membaca tulisan ini, mungkin bisa sedikit membayangkan apa yang ingin aku ceritakan saat ini. Pagi hari, aku harus bangun tidur sama seperti kalian semua. Melakukan kegiatan yang memang wajar dilakukan orang yang baru bangun tidur. Setiap hari, selalu saja ada cucian kotor yang menumpuk minta dicuci olehku. Jadilah hampir setiap hari sebelum berangkat kerja, aku selalu menyempatkan diri untuk mencuci pakaian. Hanya sebatas mencuci dan membilas, sedangkan yang menjemurnya adalah nenekku. Sebab jika aku juga yang menjemur, maka kemungkinan besar aku akan telat pergi ke kantor.

Biasanya selepas mencuci, aku merasa sangat lelah. Maklum saja, dirumahku belum ada yang namanya mesin cuci. Maka itu, selepas mencuci biasanya aku selalu merebahkan tubuhku dikasur. Rehat sejenak kalau bahasa kerennya. Jika dirasa sudah cukup untuk beristirahat, aku pun memutuskan untuk mandi dan bersiap ke kantor.



Di kantor, aku sudah dibayang-bayangi oleh pekerjaan yang menumpuk. Huft...... tapi inilah tugasku. Kuusahakan untuk menyelesaikan semuanya dengan baik. Jika sore sudah menjelang, aku kembali bersiap-siap untuk berangkat mengajar. Aktivitas mengajarku memang hanya tiga kali dalam sepekan, tapi justru hal tersebut yang membuatku teramat lelah dalam menjalani hari-hari untuk saat ini.



Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, aku harus kembali diburu oleh waktu sebab aktivitas kuliah sudah menungguku. Dari tempat mengajar, dengan jalan yang diburu-buru, aku harus kembali melangkahkan kakiku ini untuk mencari angkot yang bisa membawaku ke kampus di bilangan Margonda, Depok.

Dari kantor, untuk bisa sampai ke tempat mengajar, aku harus berjalan kaki dulu untuk bisa naik angkot berwarna biru muda dan turun di sebuah tempat yang lebih dikenal dengan nama ’kolong’. Setelah itu kusambung lagi dengan angkot apa saja yang bisa membawaku ke Pasar Minggu. Untung saja tempat mengajarku tidak terlalu jauh dari tempat turunnya aku dari angkot.

Karena aku mengajar di dua tempat, maka perjalanannya pun berbeda. Jika yang tadi naik angkot sampai dua kali, yang ini tidak. Aku hanya naik angkot sekali dari kantor, namun setelah turun dari angkot, aku harus berjalan kaki lagi sekitar setengah kilometer untuk bisa sampai ke tempat mengajar.



Setelah selesai mengajar, seperti yang tadi aku katakan, dengan terus diburu oleh waktu, aku terus melangkah dan melangkah, kembali berjalan untuk menemukan angkot yang bisa membawaku ke kampus.

Terkadang, di sela-sela waktu senggangku kala menjalani berbagai macam aktivitas itu, sering kutermenung sendiri. Melamun memikirkan tentang kehidupanku. Ya, memang semua kelelahan ini adalah akibat atau konsekuensi dari jalan hidup yang telah kupilih sejak beberapa waktu belakangan ini.

Tak jarang ketika aku mengajar, disaat anak muridku tengah mengerjakan tugas dariku, ku kembali berpikir. ”Ya Allah, hari ini aku begitu lelah...” Apalagi jika muridku itu sering tidak serius dalam belajar, rasanya ingin saja aku marah padanya, mungkin karena rasa lelah yang teramat sangat kurasa, membuatku jadi ingin marah. Ditambah lagi waktuku yang memang bukan disana saja kuhabiskan, namun setelah itu aku juga harus kuliah lagi. Namun aku selalu berusaha untuk menjaga diri dari amarah itu. Walau terkadang akupun pernah marah. Karena memang aku hanya manusia biasa.



Batinku, ”andai waktu bisa kubeli, minimal kupinjam saja pada orang-orang yang banyak membuang-buang waktunya entah untuk apa, pasti telah lama kupinjam saja waktu itu. Malah kalau boleh aku meminta pada Allah, aku ingin sekali minta ditambahkan beberapa jam saja dari waktu yang ada, agar bisa kugunakan untuk istirahat penuh. Tapi kenyataannya, Allah telah memberikan waktu yang sama pada semua hamba-Nya, yaitu sehari semalam 24 jam. Jatah atau porsi dari masing-masing hamba-Nya pun telah ditetapkan oleh-Nya.”

Aku hanya bisa menjalani semuanya dengan sabar dan ikhlas, sebab ini pun adalah konsekuensi dari jalan hidup yang telah kupilih. Jika tak ingin lelah, maka tak perlu bekerja. Jika tak ingin lelah, maka tak usah mengajar. Jika tak ingin lelah, maka tak usah kuliah. Dan jika memang masih tidak ingin lelah, maka sekalian saja tidak perlu hidup. Sebab jika ingin mendapatkan sesuatu, maka harus ada yang kita korbankan. Dan mungkin untuk saat ini, aku harus banyak mengorbankan apa yang kupunya. Dari segi waktu, materi, pikiran, dan juga tenaga. Sehingga ketika dalam sehari aku telah menyelesaikan semua aktivitasku dan saatnya kembali kerumah, maka sejenak kurebahkan tubuhku dikasur sembari merenung dan menundukkan hati. Dengan maksud agar aku bisa lebih bersyukur atas keadaanku saat ini. Insya Allah.

Malam hari sepulang kuliah, aku kembali beristirahat jika memang tak ada tugas kampus yang memaksa untuk kuselesaikan. Kembali merajut mimpi dan harapan untuk masa depan. Kembali membingkai asa dan cita, kembali mengumpulkan energi dan semangat yang telah seharian penuh kuhabiskan diluar sana. Perlahan kututup kedua mataku sembari mengucap doa sebelum tidur, sambil berharap bahwa hari esok pasti bisa lebih baik lagi dari hari ini. Amiin





Rabb, kalbulkanlah........


nurlailazahra

15 April 2010

Berduka dalam Tenang


Duka ini,
Adalah duka yang tenang:
Sepenuh kesungguhan
Aku menutup sepenggal episode kebersamaan
Sepenuh kesadaran
Aku bangun dari sebuah mimpi kehidupan
Sepenuh jiwa
Aku menguburnya dalam kenangan masa silam
Sepenuh keyakinan
Aku mengantarnya pergi
Dari jalan panjang hidupku ke depan

Aku berduka, dengan duka yang tenang:
Atas keyakinan,
Kehilangan ini adalah wajar adanya
Atas kepastian,
Proses hidup memang demikian jalannya
Atas kepercayaan, esok kan datang yang lainnya
: Aku berduka dalam tenang


Bait-bait puisi itu nyaris tidak terbaca. Seakan bertetes-tetes air mata telah melelehkan tintanya. Bekas remasan tangan – yang tampaknya kemudian berusaha diluruskan lagi – menambah ruwet kertas putih yang telah lusuh itu. Dia, wanita itu, sekali lagi menghapus air matanya. Wajahnya basah. Matanya sembab. Inilah tuturnya…

Aku pernah mengenal seseorang. Dari diskusi-diskusi kami, aku merasakan sebuah kecocokan. Perlahan namun pasti, simpati itu tumbuh. Pada saat yang sama, instingku mengatakan kecenderungan ini tidak bertepuk sebelah tangan.

Sebagai seorang muslimah lajang yang tidak berniat untuk main-main dengan perasaan atau sekadar menikmati kebersamaan, aku berharap simpati ini bermuara dalam sebuah ikatan suci. Oleh karena itu, kukirimkan sinyal agar dia mengerti dan mengambil langkah maju sebagai seorang laki-laki.

Namun, hari demi hari kutunggu, tidak juga ada tindakan itu. Yang kurasakan kemudian, malahan, perhatian, yang semakin lekat. Perbincangan umum itu mulai berganti topic ke hal-hal yang bersifat pribadi. Sudah makan belum? Sehat-sehat saja hari ini? Oh Tuhan, apakah yang terjadi? Tidak mengertikah ia pada sinyal-sinyal harapan yang kukirimkan itu? Lantas, apa arti perhatiannya yang berbeda, bahkan cenderung istimewa?

Pekan kembali berlalu dan aku tenggelam dalam gelisahku. Dalam tafakur panjangku, aku menebak bahwa ada sesuatu yang menghalanginya, ada sesuatu yang membuatnya tidak mencoba. Harga diri dan percaya diri… ya, bagaimanapun, secara kasat mata, orang melihatku lebih segala-galanya dibandingkan dengan dia. Pekerjaanku lebih mantap, penghasilanku lebih besar, pendidikanku lebih tinggi. Mungkinkah dia berpikir bahwa dia tidak cukup layak untukku?

Aku pun berkonsultasi kepada teman-teman dekatku. Mereka menyarankan agar aku menyampaikan secara verbal kesediaanku, keinginanku untuk menjadi pendamping hidupnya. Duhai, berat nian kurasa untuk mengambil langkah itu. Berapa banyak di dunia ini perempuan yang menyatakan dulu minta dilamar? Apalagi pada masyarakat budaya Timur seperti Indonesia, kebiasaan yang berlaku adalah perempuan selalu menunggu? Akankah aku menjadi salah satu diantara mereka yang sedikit itu? Beranikah aku? Bagaimana kalau ternyata aku bertepuk sebelah tangan? Tidakkah itu akan mempermalukanku? Cukup lama aku maju – mundur dirundung gelisah, mencoba menetapkan hati mengenai keputusan yang akan kuambil. Apakah aku akan mundur, diam menunggu, atau melangkah maju?

Namun, akhirnya ketulusan dan niat baiklah yang membuatku mampu menguatkan hati. Bukankah tujuanku mulia? Karena aku ingin menjalin sebuah hubungan suci dalam sebuah pernikahan yang diridhai, aku pun memilih untuk mengambil langkah maju. Dalam sebuah obrolan, secara verbal kukatakan bahwa aku bersedia dan rela menikah dengannya. Aku ingin berbagi hidup dengannya.

Dia tertegun sejenak. Sesungguhnya, aku merasakan aura gembira itu padanya. Wajahnya menjadi berserk-seri. Namun kemudian, seri itu meredup. Terbata dia berkata bahwa saat ini, ia sedang dalam kondisi sibuk dan repot. Pun kondisi keuangannya masih sangat tidak stabil untuk menikah. Namun, satu yang ia tahu dan ia akui: ia memang jatuh cinta padaku. Ohoi, perempuan mana yang tidak berbunga hatinya saat mengetahui bahwa dirinya tidak bertepuk sebelah tangan? Perempuan mana yang tidak melambung ketika mengetahui ia dicintai?

Aku katakana bahwa aku bersedia menunggu dan semua kondisinya itu tidak berarti apa-apa bagiku. Sebagaimana yang kumiliki adalah ketulusan, aku pun hanya berharap ketulusan darinya, yaitu kesediaan untuk saling menerima apa adanya sebagai itikad baik untuk membangun rumah tangga.

Mulailah hari demi hari kembali kulalui dalam penantian. Detik, menit, jam, berlalu. Siang, malam, hari, dan pekan berganti. Namun, bunga itu ternyata harus dipaksa layu. Dia mengatakan bahwa dia tidak yakin dirinya seperti yang kuharapkan. Dia mengatakan bahwa aku akan berkorban terlalu banyak untuknya jika menikah dengannya. Dia katakan bahwa dia takut dan sangat terbebani jika nanti tidak dapat membahagiakanku. Dia bilang dia telah dijodohkan dengan seorang gadis dari kampungnya oleh orang tuanya dan dia mungkin akan memilihnya. Aku ingin mengatakan bahwa semua itu bukanlah apa-apa, selama ada niat baik. Ingin kukatakan bahwa kepercayaannya, kesediaannya menerimaku apa adanya sudah akan lebih dari cukup. Aku tidak hendak menuntut ini itu. Namun sayang, dia tidak memberi kesempatan itu. Sejak awal, dia sudah menutup kesempatan dengan ketakutan dan kekhawatirannya. Dari semula, dia sudah langsung memvonis bahwa aku tidak akan bahagia bersamanya.

Kemudian, dia menawarkan persahabatan. Persahabatan? Tidak! Persahabatan macam apa yang bisa dibangun oleh dua orang yang sedang saling jatuh cinta? Persahabatan macam apa yang dapat dijalani oleh orang yang saling tahu perasaan satu sama lain?

Tiba-tiba, aku teringat kisah cinta seorang gadis basrah dan pemuda kufah yang terhalang oleh restu dari orang tua. Si gadis menawarkan jalan belakang, “Aku akan membuka pintu rumahku dan datanglah engkau padaku atau aku akan menyelinap pergi ke rumahku.”

Namun, si pemuda menolak, “Maaf, aku tak hendak bermaksiat demi mengikuti rasa cintaku.”

Akhirnya, mereka pun memilih kesucian. Sepenuh kekuatan tekad, mereka berusaha berpegang pada tatanan syariat, tidak hendak melanggarnya demi sebuah cinta. Dengan kesungguhan, sang gadis mengekang dendam asmara di dadanya hingga badannya kurus kering oleh derita cinta. Dengan keimanan, si pemuda menahan perasaannya hingga jiwanya merana. Tidak lama, mereka meninggal oleh derita cinta, hanya selang waktu satu minggu antara satu dan lainnya.

Tidak! Sekalipun aku tidak sesuci gadis basrah dan dia mungkin tidak seshalih pemuda kufah, tapi aku tidak berniat untuk memuarakan cinta yang tidak pada lautnya.

Tidak! Sekalipun dia telah mengetahui isi hatiku dan aku mengetahui pula kecenderungannya padaku, aku tidak berniat untuk membiarkan dua hati itu menyatu diluar tamannya.

Tidak! Sekalipun memar dada ini telah lebam membiru, tapi aku tidak berniat untuk mengobatinya dengan morpin asmara yang hanya akan membuatku terlena.

Tidak! Sekalipun tubuhku harus sakit digerogoti cinta, aku tidak akan mencoba menyembuhkannya dengan kasih fatamorgana.

Tidak! Aku tidak berniat untuk menjalin hubungan dekat apa pun dengan seorang yang jelas-jelas tidak akan memilihku. Aku tidak berniat untuk bermain api atas nama persahabatan. Aku tidak ingin menodai ketulusanku dengan sebuah kebersamaan yang tidak sepantasnya.

Perempuan itu menutup kisahnya, dengan sembab yang kian nyata di pelupuk mata. Namun, itu semua sama sekali tidak menghapus sinar ketegaran, kekokohan, dan kesungguhan di wajahnya.

Perlahan, dia menggumamkan kembali bait-bait syair itu,

Duka ini,
Adalah duka yang tenang:
Sepenuh kesungguhan
Aku menutup sepenggal episode kebersamaan
Sepenuh kesadaran
Aku bangun dari sebuah mimpi kehidupan
Sepenuh jiwa
Aku menguburnya dalam kenangan masa silam
Sepenuh keyakinan
Aku mengantarnya pergi
Dari jalan panjang hidupku ke depan

Aku berduka, dengan duka yang tenang:
Atas keyakinan,
Kehilangan ini adalah wajar adanya
Atas kepastian,
Proses hidup memang demikian jalannya
Atas kepercayaan, esok kan datang yang lainnya
: Aku berduka dalam tenang

Aku menunduk, bermenung … Allah, pertemukan dia, juga perempuan-perempuan muslimah perkasa lainnya, dengan belahan jiwa mereka. Seseorang yang akan menyambut ketulusan hatinya. (Azi)

(Buku: Catatan Wanita Lajang – Azimah Rahayu)

9 April 2010

23 Maret 2010

Google Translate yang memudahkan


Sekarang belajar bahasa semakin mudah dan menyenangkan. Hal itu telah dibuktikan oleh Google Translate. Fasilitas Google Translate adalah layanan yang dapat memudahkan kita, para pemakainya untuk dapat menterjemahkan segala macam bentuk bahasa ke bahasa lain yang kita inginkan





Bagi anda yang ingin menterjmahkan beberapa kalimat dari satu bahasa ke bahasa yang lainnya, maka anda bisa segera mengakses ke http://translate.google.com/ dan anda akan segera disuguhi tampilan seperti dibawah ini.


Tanda panah no 1 itu menjelaskan bahwa anda bisa menuliskan kalimat apa yang ingin anda terjemahkan di dalam kotak itu. Lalu tanda panah no 2 itu menjelaskan bahwa anda dapat memilih bahasa asal dan bahasa hasil terjemah. Jika kedua langkah tersebut sudah anda jalankan, selanjutnya anda dapat mengklik button Translate.

Selamat mencoba !!


by nurlailazahra

18 Maret 2010

Surat Seorang Gadis Kepada Ayahnya


oleh Isa Alamsyah
Sumber : Bisa!4 The Most Inspiring Group

Belum sempat John meletakkan tas kerjanya sepulang ke rumah, matanya tertegun melihat sebuah surat tergeletak di atas meja. Di sebuah amplop tertulis "Untuk ayah tersayang"

Setelah belasan tahun menjadi single parent, baru kali ini ada surat untuknya dari Lucy, anak gadisnya. Ada apa?

Kalimat pertama pada surat itu sudah mengguncang hatinya;

”Ayah tersayang, jika ayah membaca surat ini maka aku sudah tidak ada di rumah.”

Sekalipun berat John melanjutkan bacaan kata demi kata.



”Ayah, aku telah menemukan pria yang akan mendampingiku selamanya. Memang buat orang lain dia sudah terlalu tua, tapi bagiku pria berusia 45 tahun masih tetap muda.

"Dia sangat energik ayah, kalau ayah mengenal lebih dekat dengannya pasti ayah juga akan menyukainya. Ayah jangan terkecoh dengan tato di seluruh tubuhnya atau janggut dan brewoknya yang panjang atau puluhan tindik di telinga dan hidungnya, karena jauh di dalam hatinya ia adalah orang baik.



”Ia sangat sayang padaku, dan juga ayah dari anak di dalam kandunganku. Istrinya tidak keberatan aku mendampinginya, karena istrinya sudah sibuk mengurus anaknya yang banyak. Oh iya, ayah tidak usah khawatir tentang kehidupanku. Ia menguasai penjualan ekstasi di kota, jadi uang sama sekali bukan masalah buat kehidupan kami. Aku tahu ia sudah mengidap HIV sejak lama, tapi katanya dalam beberapa tahun ke depan obat penyakit AIDS akan ditemukan jadi aku tidak perlu khawatir bukan?

”Ayah jangan bersedih karena aku bahagia. Usiaku sudah 18 tahun ayah, jadi aku bisa memutuskan yang terbaik untuk hidupku.”




Tanpa sadar, air mata sang ayah menetes jatuh ke lembar surat itu. Bagaimana mungkin anaknya yang lucu dan periang bisa menjadi seperti ini? Lembar pertama surat pertama baru saja selesai dibacanya.

Tangan sang ayah bergetar, berat rasanya, tapi ia membuka lembar kedua surat itu. Kali ini isinya jauh berbeda.

”Ayah sayang, Maaf, sebenarnya surat di halaman pertama tadi tidak benar-benar terjadi. Aku hanya ingin menggambarkan betapa kemungkinan terburuk bisa terjadi pada anak-anak gadis, dan syukurlah aku tidak demikian. Ayah bahagia bukan, kalau aku tetap bersama ayah? Ayah bahagia bukan, aku tidak menghancurkan diriku seperti itu? Tentu saja, mempunyai anak yang rapornya jelek, jauh lebih menguntungkan daripada mempunyai anak seperti itu.




”Oh iya Ayah, raporku ada di dalam tas, nilainya jelek, maaf ya. Silahkan ayah lihat, jangan lupa ditandatangani. Besok guru ingin bicara dengan ayah tentang nilai raporku, jangan marah ya. Kalau ayah tidak marah melihat nilai raporku, aku sedang bermain di rumah sebelah, aku tunggu yah? Love you Daddy.”


"Lucy..........!"
John berteriak dan lari ke rumah tetangganya, ia akan mengitik habis anaknya yang 'keterlaluan' itu.

Lega rasanya hati John. Konyol tapi melegakan. Tidak seperti kebanyakan ayah yang sedih melihat rapor anaknya yang buruk, hati John justru berbunga-bunga karena ia tidak kehilangan anaknya. Memang kali ini, keterlaluan sekali becanda anak gadisnya!

(Terinspirasi dari humor yang pernah saya dengar)

Sebenarnya Lucy hanya ingin agar ayahnya tidak marah melihat rapornya yang buruk, untuk membuat masalah rapor buruk terlihat kecil ia membuat gambaran masalah besar yang mungkin terjadi sehingga masalah yang ada jadi terlihat kecil.

Ini sebenarnya adalah seni bersyukur dan seni berkomunikasi dengan diri.

Kalau kita ingin bersyukur atas kesulitan yang kita terima maka kita sebaiknya membayangkan kesulitan lebih besar yang mungkin bisa kita alami. Dengan demikian kita bisa menghindari diri dari stres atau kegalauan yang berkepanjangan.

Masalah kekecewaan hati atau rasa tidak bersyukur biasanya tidak berhubungan dengan uang tapi lebih karena penerimaan hati. Orang yang tidak bersyukur biasanya FOKUS PADA YANG TIDAK DIPUNYAI sedangkan ORANG BERSYUKUR FOKUS PADA YANG DIMILIKI.

Kita bisa melihat anak kampung bahagia main layang layang yang 1 set berharga tidak lebih dari Rp 5000. Tapi anak orang kaya ngambek pada orang tuanya padahal baru dibelikan pesawat remore control seharga 5 juta. Kenapa? Karena anak kaya itu suka dengan yang model baru seharga 15 juta.

Ada anak kaya yang ngambek pada orang tuanya karena link internet putus satu hari karena lupa bayar bulanan, padahal ia sudah beruntung bisa mengakses internet selama 29 hari sebelumnya.




Memang apa yang dilakukan Lucy pada Ayahnya, John agak keterlaluan, tapi itu gambaran dramatis tentang bagaimana bisa membuat diri kita bersyukur apa adanya.

Sudahkan Anda bersyukur hari ini?

Bersyukurlah terhadap apa yang kita miliki dan jagalah dengan baik, karena bisa jadi suatu saat apa yang kita genggam&miliki akan pergi, diambil kembali olehNya_

Warmest regard,
Alma

12 Maret 2010

Kenangan Bersamamu . . .


Lelaki tua itu menatap nanar perempuan yang ada di hadapannya. Ia tak lain adalah kakekku yang kemarin telah dipanggil oleh-Nya berpulang ke rahmatullah. Perempuan yang ditatapnya pun tak lain adalah nenekku yang ketika menghadapi ujian kehidupannya kemarin, ia sangat tabah dan tegar terlihat. Ia telah lama merelakan dan mengikhlaskan bila suatu waktu Allah mengambil suami tercintanya yang sudah 21 tahun menderita berbagai macam penyakit.

Sakit kakekku memang sudah cukup lama. Bahkan sudah menyamai usiaku kini. Tapi memasuki kategori parahnya baru beberapa hari belakangan ini. Yang aku tahu dari cerita tanteku, ia mengidap penyakit komplikasi jantung, paru-paru, liver, ginjal, darah tinggi, dan juga syaraf. Aku sendiri pun bisa membayangkan betapa menderitanya keadaan kakekku saat itu.

Namun selama bertahun-tahun mengidap berbagai penyakit itu, kakekku tak pernah mengeluh dan merasa kesakitan dengan sakit yang di deritanya. Ia tetap sabar, tabah, dan menerima kondisi yang dialaminya dengan penuh keyakinan di hati bahwa penyakit ini pasti akan sembuh. Maka dari itu ia usahakan penyakitnya supaya sembuh dengan terus melakukan berobat jalan selama bertahun-tahun di rumah sakit Fatmawati.

Selama bertahun-tahun meminum obat dokter, lama kelamaan ia pun mulai jenuh juga. Setiap hari harus menelan berbutir-butir obat yang tidak sedikit jumlahnya. Aku sendiri yang melihatnya setiap hari seperti itu, merasa mual dibuatnya. Aku pun mulai membayangkan bagaimana jika harus aku yang meminum obat itu selama bertahun-tahun. Pasti rasanya sudah jenuh dan mungkin aku tak setabah kakekku itu.

Karena merasa jenuh dengan sakitnya, beliau pun akhirnya pergi ke pengobatan alternatif. Dan sudah beberapa bulan sebelum beliau wafat, beliau sempat menghabiskan waktunya berobat di pengobatan alternatif di bilangan Cijantung.

Namun takdir berkata lain. Penyakitnya semakin memburuk, bahkan yang sebelumnya tak pernah aku dan keluargaku ketahui, beliau punya penyakit liver dan ginjal, ketika dua hari sebelum beliau wafat, dokter memberitahu bahwa kakekku mengidap dua penyakit yang tadi kusebutkan. Aku hanya bisa pasrah kepada-Nya. Aku hanya dapat berharap bahwa Allah senantiasa memberikan beliau yang terbaik.

Sebelum beliau masuk rumah sakit dan akhirnya wafat dua hari setelahnya, kakekku sempat hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur, kira-kira selama hampir sepuluh hari. Sebelum hari-hari itu, beliau masih sempat bangun dari tempat tidur untuk mandi, wudhu, dan sholat, meskipun dengan kondisi yang terhuyung-huyung. Namun hal itu tidak berlangsung lama sebab penyakitnya semakin menggerogoti tubuh ringkih dan rapuhnya yang semakin hari semakin kurus.

Pada akhirnya, nenekku lah yang dengan setia merawatnya. Merawat dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan dihatinya. Nenekku sudah terbilang cukup tua di usianya yang hampir mengawali usia 70 tahun. Namun kondisi tubuh dan keadaan dirinya tidak pernah terlihat berbanding lurus ketimbang usianya kini. Ia masih gagah layaknya seorang perempuan tua yang baru berusia 50 tahunan, meski perawakannya terlihat kecil dan kurus, namun ia sangat gesit dan cekatan dalam beraktivitas.

Ya, perempuan tua yang kusebut nenek lah, yang selama beberapa terakhir ini merawat kakekku dengan setia dan penuh ketulusan. Ia selalu menemani kakek di sisa usianya, menyuapi makannya, membersihkan kotorannya, dan selalu bersikap sabar tatkala ia tak dapat tidur akibat kakekku yang sering membangunkannya untuk bertanya ini dan itu perihal keluarganya, ketika nenekku berusaha untuk istirahat sekedar memejamkan matanya yang terasa berat dirasa. Dan kuharap, nenekku bisa mendapatkan surganya atas kesetiaan dirinya menemani kakekku sampai akhir hayatnya.

Di akhir usianya, kakek dan nenekku tak sempat bertemu. Kakek wafat pada saat di rumah sakit yang hanya ditemani oleh menantunya. Sementara nenek sedang berada dirumah karena seharian telah menjaga kakek di rumah sakit sebelumnya.

Saat itu aku tengah tertidur lelap saat ponselku berbunyi menandakan ada panggilan masuk pada pukul 03.30 dini hari. No yang tidak kukenal. Aku pun tak mempunyai firasat apa-apa sebelumnya. Sebelum pada akhirnya aku mendengar suara dari seberang sana. Om ku !! Ia yang kemarin tengah menjaga kakekku di rumah sakit. Kujawab namun ia menanyakan om ku yang lain. Kebetulan saat itu, ada satu om ku yang tengah tertidur lelap juga. Mereka berdua pun akhirnya berbincang melalui ponselku. Entah apa yang mereka perbincangkan, tiba-tiba om ku yang ada di rumah segera bergegas merapikan dirinya hendak berangkat kerumah sakit menggunakan motornya. Ia tak banyak bicara namun suasana pada saat itu berkata lain. Ada hawa yang tak enak yang dirasakan oleh nenekku yang tidur di sebelah kamarku, yang tiba-tiba saja terbangun seperti ada kontak batin dengan almarhum kakek. Ia pun langsung cemas dengan keadaan kakek.

Tiba-tiba ponselku kembali berbunyi. Kembali satu panggilan masuk, namun kali ini nomornya berbeda dan aku tak mengenalnya. Kuangkat. Kali ini yang berbicara seorang perempuan, yang mengatakan bahwa keadaan kakekku di rumah sakit sudah kritis dan semua keluarganya disuruh kesana. Spontan seperti ada sebuah benda besar yang menghantam jantungku. Suaraku langsung bergetar hebat dan pikiranku berkecamuk entah kemana.

Aku langsung mengatakan hal itu pada nenekku. Ia pun segera bangun dari tidurnya dan segera bergegas merapikan dirinya. Aku pun segera menghubungi om ku yang lain yang tinggalnya tak jauh dari tempat kami tinggal untuk segera datang kerumah dan membawa nenek kerumah sakit sebab keadaan kakek sudah kritis. Setelah itu akupun membangunkan tanteku yang tinggal satu atap denganku. Setelah kuberitahu kabar itu, ia pun segera bangun dari tidurnya, merapikan dirinya, dan bergegas ikut dengan om ku yang tadi ada dirumah. Mereka segera berangkat.

Lalu aku menghubungi ibuku yang tengah berdagang di pasar. Setelah kuberitahu hal itu, ia pun segera menutup dagangannya. Aku segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud plus witir. Setelah itu aku segera merapikan diri untuk berniat pergi kerumah sakit juga.

Dirumah masih ada om ku yang satu lagi. Ia keluar dari kamarnya dan segera memeluk nenekku sambil menangis. Mereka berdua menangis. Sedang adikku juga ikut terbangun dan hanya bisa terduduk lemas di ruang tamu sambil meneteskan air matanya.

Setelah om ku yang tadi kuhubungi datang, nenekku segera meluncur bersamanya ke rumah sakit. Tak lama setelah itu ibuku pulang. Kami berdua pun segera bergegas untuk berangkat juga kesana. Rencana awal memakai kendaraan umum dan aku mengajak adikku namun ia tidak mau. Mungkin karena ia tak sanggup melihat keadaan kakekku disana.

Untunglah aku memiliki tetangga yang juga masih saudara, yang memiliki motor. Ada dua orang jadi pas untuk aku dan ibuku membonceng pada mereka. Sembari menunggu mereka merapikan diri, tiba-tiba ponselku berbunyi lagi. Dari nomor yang sama seperti yang sebelumnya. Kali ini suara om ku terdengar. Mengatakan bahwa kalau bisa semua keluarganya berkumpul saat ini dirumah sakit. Hatiku semakin sakit. Kali ini bukan hanya sebuah benda besar yang menghantam dadaku, tapi seperti ada jarum yang menusuknya kemudian menyayat-nyayatnya. Aku kembali bergetar, namun aku harus mengabarkan hal ini pada semua saudara-saudaraku yang lain.

Aku kembali kerumah untuk mengabarkan pada om ku dan adikku yang masih ada dirumah bahwa om ku yang dirumah sakit sudah mengabarkan hal tadi. Aku pun segera menyuruh mereka berdua untuk juga pergi kerumah sakit. Mereka akhirnya mau.

Kami pun pergi berenam dengan tiga motor. Jalanan masih sangat lengang sehingga kami bisa lebih cepat sampai ke rumah sakit, namun angin yang berhembus saat itu amat sangat membuat tubuhku terasa menggigil. Anginnya seolah masuk ke pori-poriku lalu menembus hingga ke tulangku. Yang aku lakukan saat itu hanya menangis sambil terus berdzikir melafadzkan asma Allah sepanjang jalan. Kilasan masa-masaku bersama kakek pun seolah tereview kembali. Air mataku semakin deras.

Kami tiba dirumah sakit. Aku, ibu, dan adikku segera menyusuri lorong yang bisa menghantarkanku bertemu dengan kakekku yang dirawat di sebuah gedung di rumah sakit itu bernama teratai. Om ku dan kedua orang tetanggaku menaruh motor di parkiran. Jalan itu terasa amat jauh kurasa. Kaki ini rasanya sudah ingin berlari sekuat tenaga untuk bisa segera sampai di tempat kakek. Tiba-tiba dipersimpangan lorong, aku berpapasan dengan om ku yang tadi membawa nenekku. Ia mengatakan bahwa kakek telah tiada. Oh Tuhan, bagai tersambar petir dada ini rasanya. Air mata segera mengalir dari kedua mataku.

Gedung itu sudah terlihat. Ada dua gedung disana. Aku, ibu, dan adikku memasuki gedung pertama. Sudah sempat menekan tombol lift untuk naik ke atas, tiba-tiba ada yang bertanya kemana tujuan kami. Setelah kami sebutkan, ternyata orang itu mengatakan bahwa kami salah gedung. Gedung yang dimaksud ada di sebelah gedung yang kami masuki.

Kami pun keluar dengan mengucapkan terimakasih dulu padanya. Kami masuki gedung yang dimaksud, menekan tombol lift naik ke lantai lima, dan kami temui keluarga kami disana. Aku segera berlari menuju kamar kakek. Disana, kudapati wajahnya sudah ditutup oleh selimut rumah sakit. Oh, betapa hancurnya hatiku ini. Aku tak sempat meminta maaf padanya. Ia sudah keburu dipanggil oleh-Nya.

Aku menangis didepan jasad kakek. Meminta maaf padanya yang sudah tak dapat lagi mendengar suaraku. Kutatapi wajahnya yang penuh dengan kepasrahan. Penyakit itu sudah tak ada lagi di dalam tubuhnya, namun kini ruh nya pun juga sudah tak ada lagi di jasadnya. Semua keluargaku yang hadir saat itu sudah tak dapat lagi membendung air matanya. Suasana saat itu sudah dibanjiri oleh lautan air mata.

Tiba-tiba adzan Subuh berkumandang. Aku dan sebagian dari kami melaksanakan sholat Subuh dan berdoa agar Allah berkenan menempatkan almarhum kakekku di sisi-Nya yang terbaik, sebab sepanjang aku hidup bersamanya, aku tahu bahwa almarhum beliau adalah orang baik yang rendah hati.

Setelah sholat Subuh, aku duduk di sebelah jasad kakek. Kubacakan surat Yasin dengan suaraku yang bergetar. Tiba-tiba suaraku terhenti dengan sebuah tangisan. Ada sesuatu ganjalan yang menghambat suaraku. Ya, sesuatu itu adalah sebuah penyesalanku karena sebelum meninggal, saat kakek masih berada di rumah, ia pernah menanyakan pada nenek kenapa aku tak pernah membaca Al Qur’an dihadapannya. Sebab selama ini jika aku baca Qur’an, aku selalu membacanya di kamarku.

Dan kini, ketika aku mempunyai kesempatan untuk membacakan Al Qur’an dihadapannya, ia sudah tak dapat lagi mendengar suaraku. Aku sungguh-sungguh menyesal. Mungkin ini adalah penyesalan terbesar sepanjang hidupku. Kembali kubacakan surat Yasin sambil terus menahan tangisku dan dengan suara bergetar. Penyesalan itu belum bisa aku hilangkan sampai sekarang. Dan mungkin takkan bisa hilang untuk selamanya, sebab kakek takkan bisa kembali lagi untuk selamanya.

Selesai membaca surat Yasin, kubuka selimut yang menutupi wajah kakek. Kupandangi lekat-lekat wajahnya dan kubelai. Sesekali aku mengusap tubuhnya yang tertutup selimut. Masih hangat. Kemudian kuciumi wajahnya yang sudah pucat. Lamaaa sekali. Sebagai tanda penyesalanku yang tidak sempat membacakan Al Qur’an dihadapannya. Lalu kembali kubelai wajahnya dan kututup kembali. Seketika air mataku jatuh deras.

Waktu berselang, jenazah kakek akhirnya bisa dipulangkan dengan ambulance. Aku, om, tante, dan kakak sepupuku ikut di dalam ambulance. Aku ingin terus menemaninya hingga peristirahatannya yang terakhir.

Sesampainya dirumah, tangisan kembali memecah. Dari sanak keluarga, saudara, dan tetangga. Jenazah kakek diletakkan diatas kasur yang sudah disediakan di ruang tamu. Waktu berlalu, para tetangga pun berdatangan untuk berta’ziyah dan mengucap bela sungkawa padaku dan keluarga yang ditinggalkan.

Sekitar pukul 09.30, ketika jenazah sudah ingin dimandikan, aku sempatkan kembali mencium wajah almarhum kakek. Kali ini pun cukup lama. Sampai salah seorang keluarga mengusap-usap bahuku dan mengisyaratkan untuk menyudahinya. Bibirku bergetar, tanganku bergetar, seluruh tubuhku bergetar saat aku harus menyudahi mencium wajah kakek untuk yang terakhir kalinya.

Tak berapa lama, jenazah kakekpun dimandikan. Pada saat itu, anak bungsu kakek yang juga om ku yang tadi membawa nenekku kerumah sakit, tak kuasa menahan laju air matanya. Ia sesenggukan dan menangis sangat keras. Aku dan keluarga yang lain pun ikut menangis. Tak kuasa rasanya melihat tubuh ringkih kakek dimandikan. Ia sudah tidak lagi berdaya atas dirinya sendiri.

Setelah dimandikan lalu dikafankan. Aku menyaksikan hal itu bersama keluarga yang lain dan para tetangga. Lagi-lagi aku dan keluargaku tak dapat menahan lajunya air mata yang mengalir deras. Bayang-bayang kakek yang selalu tersenyum, yang selalu menasehati anak cucunya untuk sholat, tiba-tiba saja hadir di depan mata. Ada sesak yang kurasa di dada. Saat kain kafan menutupi seluruh tubuhnya. Saat hanya tinggal wajahnya saja yang belum ditutup dan para petugas yang mengkafankan jenazah kakek menyuruh siapa yang ingin mencium almarhum untuk yang terakhir kalinya, aku tak kuasa menahan tangis. Om ku yang tadi berangkat kerumah sakit bersama adikku, menghapus air matanya dan menciumi pipinya dengan cukup lama. Kemudian disusul keluarga lain yang turut mencium almarhum untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya dapat memandangi hal itu dengan hati yang semakin dibasahi oleh kesedihan yang cukup mendalam.

Waktunya jenazah almarhum disholatkan di mushola dekat rumah untuk selanjutnya di kebumikan di TPU Tanjung Barat. Aku pun ikut ke pemakaman. Setelah prosesi pemakaman selesai, kami menaburi bunga dan air mawar di atas tumpukan tanah yang menimbun jasad kakek. Adzan Zuhur berkumandang, kami pun segera pulang meninggalkan kakek sendiri di TPU. Aku hanya menangis dalam hati.

Kakek, adalah sosok yang sangat aku sayangi di dunia ini. Ia selalu mengajarkan kepada kami, para anak dan cucunya untuk selalu sabar, tersenyum, dan rendah hati. Di lingkungan sekitar rumah kami, kakek adalah salah satu sosok yang cukup dikagumi karena kemurahan hatinya. Biasanya, setiap pagi almarhum selalu membersihkan selokan yang ada di depan rumah kami. Menyapu pelatarannya dan membuang sampah. Setiap kali ada orang yang lewat dihadapannya selalu disapanya sambil tersenyum. Ia begitu ramah pada siapapun, tak terkecuali anak kecil.

Ia begitu sayang pada cucu-cucunya, termasuk aku. Sebelum beliau meninggal, beliau pernah berkata padaku bahwa ingin membelikan aku motor. Namun aku menolaknya lantaran aku tak bisa mengendarai motor. Ketika sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidurpun, almarhum beliau selalu menanyakan aku. Itu juga kata nenek.

Kakek sudah seperti sosok ayah dalam kehidupanku. Ia berperan ganda sebagai kakek dan ayah bagiku sejak ayah kandungku berpisah dengan ibu dan meninggalkanku. Selama hampir seluruh usiaku kuhabiskan hidup bersama dengan nenek dan almarhum kakek. Maka itu, aku sangat merasa kehilangan akan kepergiannya. Namun kuyakin, inilah yang dinamakan takdir. Sudah tercatat dalam lauwh mahfudz-Nya bahwa usia, jodoh, dan kematian setiap orang sudah ditetapkan oleh-Nya, hanya tinggal menunggu waktu.

Dan kakek, memang sudah waktunya ia harus pulang ke pangkuan-Nya. Dan kami sekeluarga disini sudah ikhlas menerima takdir itu dan melepasnya pergi dari kehidupan kami.











Selamat jalan kakek !!
Doa kami akan selalu menyertaimu....


Cucumu,
Sarah...