Masih bicara soal pemilu yang
sebentar lagi akan kita laksanakan pada 9 April 2014 mendatang. Dan perlu
diketahui, pada pemilu pertama nanti, masyarakat akan diajak untuk memilih
lebih dulu anggota legislatif yang sekarang-sekarang ini fotonya tersebar di
mana-mana. Jika pileg (pemilihan anggota legislatif) ini sudah dilaksanakan,
maka dari hasil tersebut akan dipilih lagi beberapa partai yang akan maju dalam
pilpres yang insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014 mendatang. Hal
ini sudah barang tentu harus melibatkan berbagai aspek masyarakat, termasuk
kita.
Setidaknya ada dua langkah yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk memilih:
1. Teliti lebih dulu Partai yang akan dipilih
Hal ini sangat penting, mengingat beberapa partai yang ada pastinya sudah sangat kita kenal, bahkan track record mereka sepatutnya kita pelajari terlebih dahulu. Masih ada waktu loh untuk meneliti, menelaah, dan menimbang partai mana yang pantas kita pilih. Calon-calon yang mereka usung seperti apa kualitasnya, itu sudah sepatutnya menjadi pertimbangan kita. Tak ada istilahnya "membeli kucing dalam karung" karena saat ini waktunyalah kita untuk menyeleksi partai mana yang lebih baik ketimbang partai lain. Tenang, insya Allah masih ada kok partai yang para penggerak dan pemimpinnya bersih, jujur, adil, dan amanah. Kalau saja kita mau membuka hati, pasti kita mampu melihat partai apa itu :) ---> lirik No. 3 :)
2. Jangan lupa memilih pada 9 April 2014 nanti
Setelah dirasa cukup menimbang-nimbang, pada hari H nya jangan lupa memilih. Jangan biarkan keraguan datang menghampiri, karena ragu adalah temennya setan. Biarkan hati kita yang memilih. Mintalah petunjuk dari Sang Maha Pemberi Petunjuk, agar hati kita dikuatkan dan dimantapkan untuk memilih partai yang sudah kita yakini kebaikannya.
Mungkin keliyatannya sedikit "lebay" yah, padahal cuma nyoblos doang, kenapa harus serumit itu sih. Emang iya nyoblosnya lima detik, tapi justru hal itu yang menentukan nasib kita lima tahun ke depan. Maka dari itu sebelum kita lakukan yang lima detik itu, rasa-rasanya gak salah juga ya kalo kita gunakan sedikit waktu dan sedikit ruang di hati kita untuk mau mengenal lebih jauh seperti apa profil partai dan calon yang akan kita pilih nanti.
Setidaknya ada dua langkah yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk memilih:
1. Teliti lebih dulu Partai yang akan dipilih
Hal ini sangat penting, mengingat beberapa partai yang ada pastinya sudah sangat kita kenal, bahkan track record mereka sepatutnya kita pelajari terlebih dahulu. Masih ada waktu loh untuk meneliti, menelaah, dan menimbang partai mana yang pantas kita pilih. Calon-calon yang mereka usung seperti apa kualitasnya, itu sudah sepatutnya menjadi pertimbangan kita. Tak ada istilahnya "membeli kucing dalam karung" karena saat ini waktunyalah kita untuk menyeleksi partai mana yang lebih baik ketimbang partai lain. Tenang, insya Allah masih ada kok partai yang para penggerak dan pemimpinnya bersih, jujur, adil, dan amanah. Kalau saja kita mau membuka hati, pasti kita mampu melihat partai apa itu :) ---> lirik No. 3 :)
2. Jangan lupa memilih pada 9 April 2014 nanti
Setelah dirasa cukup menimbang-nimbang, pada hari H nya jangan lupa memilih. Jangan biarkan keraguan datang menghampiri, karena ragu adalah temennya setan. Biarkan hati kita yang memilih. Mintalah petunjuk dari Sang Maha Pemberi Petunjuk, agar hati kita dikuatkan dan dimantapkan untuk memilih partai yang sudah kita yakini kebaikannya.
Mungkin keliyatannya sedikit "lebay" yah, padahal cuma nyoblos doang, kenapa harus serumit itu sih. Emang iya nyoblosnya lima detik, tapi justru hal itu yang menentukan nasib kita lima tahun ke depan. Maka dari itu sebelum kita lakukan yang lima detik itu, rasa-rasanya gak salah juga ya kalo kita gunakan sedikit waktu dan sedikit ruang di hati kita untuk mau mengenal lebih jauh seperti apa profil partai dan calon yang akan kita pilih nanti.
Nah, mendekati pesta rakyat ini,
tak jarang saya temui orang-orang yang masih bingung memilih. Entah siapa dan
partai apa yang akan dipilih, hingga ketidakyakinan mereka yang timbul akibat
pengalaman-pengalaman terdahulu, sehingga tak jarang menyebabkan mereka menjadi
golput. Padahal, kalau kita mau menelaah lebih jauh, tindakan golput ini sangat
berdampak tidak baik dalam kelangsungan Negara kita lima tahun ke depan.
Kenapa?
Jika kita bicara pemimpin,
maka kita juga bicara tentang masyarakat yang memilihnya. Artinya, pemimpin
yang terpilih nanti adalah sosok yang juga ikut mewakili bagaimana karakter
jiwa masyarakatnya. Sekarang kalau masih banyak orang-orang yang lebih memilih
untuk tidak memilih alias golput, maka jangan salahkan pemimpin yang terpilih
nanti jikalau suatu saat ada tindakan-tindakan kurang menyenangkan yang
dilakukan pimimpin terpilih tersebut. Padahal mereka yang memilih untuk golput
itu sudah diberikan waktu yang lebih dari cukup untuk sekedar mengenal lebih
jauh seperti apa calon-calon pemimpin yang harus mereka pilih. Visi misi apa
yang mereka usung, untuk kelangsungan hidup Indonesia lima tahun ke depan. Apa saja
yang sudah mereka perbuat untuk Indonesia, sehingga mereka layak untuk dipilih.
Hal-hal itu seharusnya mampu kita lakukan jikalau kita ingin ada perubahan ke arah
yang lebih baik untuk Indonesia.
Menjadi pemilih cerdas sudah
selayaknya kita lakukan untuk kepentingan kita bersama. Maka dari itu “teliti
dulu sebelum membeli” tampaknya perumpamaan yang cukup sesuai untuk permasalahan
yang kita hadapi terkait pemilu saat ini. Sebab sikap golput adalah sikap
pengecut, apatis, dan cuek terhadap apa yang nantinya kita hadapi lima tahun ke
depan.
Selain enggan memilih karena
tak ada partai yang dapat dipercaya, ada juga pendapat seperti “memilih untuk golput
bukan berarti tidak mau memilih, melainkan akan mendukung sepenuhnya siapapun
pemimpin yang akan terpilih nanti.” yang juga sering saya dengar. Pendapat itu
saya rasa adalah pendapat orang yang sangat-sangat apatis terhadap
keberlangsungan Indonesia ke depannya. Apalagi kita adalah orang tua yang juga
memiliki anak. Apakah kita mau generasi penerus bangsa ini mengawali kehidupan
mereka dengan dipimpin oleh seorang pemimpin culas, rakus, tamak, tidak berperi
kemanusiaan, tidak beragama secara baik, dan rentetan keburukan-keburukan
lainnya??? Coba pikirkan kembali hal-hal semacam itu.
Memilih untuk tidak memilih
(golput), hanya akan melahirkan pemimpin-pemimpin tidak bertanggung jawab,
tidak amanah, yang tujuannya memimpin hanya untuk kepentingan pribadi dan
golongan, hingga membuat ‘mereka’ yang lebih memilih untuk tidak memilih, pada
akhirnya hanya dapat mengeluh dan meratap saat keputusannya untuk tidak memilih
hanya melahirkan kenangan buruk untuk anak-anak mereka kelak.
Maka dari itu jangan salahkan
pemerintah yang bobrok, sebab para pemilihnya sudah apatis dan tidak mau membuka
sedikit saja hatinya untuk mencari pemimpin pilihan Allah Swt, tidak mau
meluangkan sedikit waktu mereka untuk mencari tahu seperti apa sosok yang akan
ia pilih. Sudah selayaknya kita menjadi pemilih yang cerdas agar kita mampu
melahirkan pemimpin-pemimpin cerdas yang mengerti dan paham akan kebutuhan
masyarakatnya. Berjuang demi rakyat, dan amanah terhadap tugas yang diembannya.
Pikirkan kembali anak-anak
kita. Jika kita golput, relakah generasi penerus bangsa itu dipimpin oleh
mereka yang tamak, rakus, dan tidak bertanggung jawab?
Memutuskan untuk
memilih, memang tidak ada jaminan apakah Indonesia akan benar-benar berubah
menjadi lebih baik, tapi memilih untuk tidak memilih pemimpin yang beradab,
sejatinya memberi peluang tertutupnya jalan kebaikan untuk bisa maju menyejahterakan negeri
ini.
Jadilah pemilih cerdas, anti
golput, hingga melahirkan pemimpin sejati yang mampu memakmurkan negeri ini.
Bismillah……..
1 komentar:
ya jangan sampe golput. tapi kadang ya gitu ga dpt undangan utk milih.
Posting Komentar